Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Bakat Langka Lainnya


__ADS_3

Setelah pesta kecil-kecilan para anggota perampok dan mantan budak kini di suruh untuk istirahat dan mulai besok latihan mereka akan berbeda dari biasanya.


Saat ini yang tersisa hanya Bai An, Bai Luan, Pixiu, Huang Feng, Bondan dan para ketua. Sedangkan untuk Yue'er dan Lin'er mereka berkeliling mengenal tempat ini bersama wanita-wanita yang pernah menjadi budak.


"Apakah kau menyelidiki mereka kapan akan sampai Saudara Huang?" Bai An secara tiba-tiba bertanya saat mereka baru berkumpul kembali.


Huang Feng kini beralih melirik Bon Dan, Bon Dan langsung mengangguk, "Tuan Muda saat ini mata-mata yang kami kirim mengabarkan, kalau para pangeran beserta beberapa ketua sekte kecil, menengah tiba-tiba menghentikan pergerakan. Mata-mata saya belum menginformasi kenapa mereka tiba-tiba berhenti selama satu hari ini."


Mendengar itu Bai An mengangguk, jika dugaannya ini benar maka orang-orang berjubah hitam ini pasti lebih berhati-hati karena takut kejadian saat mereka bertarung melawan saudara Hei Long dan yang lainnya di daratan tengah.


Saat menyimpulkan itu, Bai An semakin yakin jika mereka orang dunia luar. Tapi bagaimana cara mereka bisa masuk kesini? Itulah yang menjadi pertanyaan Bai An kali ini.


Mereka semua menatap dalam diam saat melihat Bai An sedang berpikir, tidak ada yang berani membuka suara karena takut akan menganggu konsentrasi Bai An dalam memikirkan beberapa rencana.


Setelah berpikir beberapa saat Bai An melirik mereka yang kini sedang menatap Bai An. "Kalian tidak perlu khawatir jika mereka berhenti tiba-tiba, karena orang-orang berjubah hitamlah yang meminpin mereka dan mereka kali ini pasti lebih berhati-hati." Ucap Bai An yang membuat mereka semua bingung kecuali Bai Luan.


"Tuan Muda mengapa mereka harus berhati-hati? karena dari mata-mata mereka semua sangat agresif dan ingin sekali menguasai daratan timur ini!" tanya Pixiu dan Huang Feng secara bersamaan.


"Aah aku lupa memberitahu kalian kalau Saudara Hei Long, Saudara Xiong Zai dan Saudara baru kalian yang bernama Xin Feng berhasil memukul mundur mereka bersama Kaisar daratan tengah yaitu Kaisar Tang. Mereka semua pernah melawan orang berjubah hitam berjumlah lima orang yang setara dengan Hei Long, tapi Hei Long berhasil memukul mundur musuh, jadi dari itu orang-orang berjubah hitam kini menjadi lebih berhati-hati."

__ADS_1


Mendengar itu kini mereka paham mengapa pasukan pangeran pertama tiba-tiba menghentikan infasi mereka.


"Terus kapan kita akan berkumpul lagi bersama yang lain Tuan Muda?" tanya Pixiu.


Mendengar itu Bai An menjawab, "Setelah kita menyetabilkan daratan timur dari pemberontakan yang dipimpin orang berjubah hitam!"


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? apakah kita akan membiarkan pangeran pertama bersama pasukannya begitu saja?" tanya Huang Feng. "Kalau itu kalian tenang saja, lebih baik kalian berdua melatih mereka semua agar bisa menjaga benua ini dari orang-orang yang ingin menghancurkan tempat tinggal kita." Jawab Bai An sambil melirik Bai Luan yang dari tadi diam.


Bai Luan yang ditatap langsung bersemangat karena ia mengerti arti tatapan dari Bai An, sedangkan Pixiu dan Huang Feng tersenyum kecut karena mereka juga paham saat Bai An melirik Bai Luan.


Sedangkan untuk Bon Dan dan yang lain hanya menganga saja karena tidak terlalu paham apa yang mereka bicarakan, mereka ikut berkumpul itu karena perintah dari Bai An.


Saat Bai An mekirik ke arah lain ia tak sengaja melihat seorang anak kecil sekitar berumur 9 10 tahun sedang berlatih sendiri jauh dari teman-temannya, dengan pakaian kumal anak tersebut memukul-mukul udara dengan penuh tekad.


"Ambil anak itu An'er, bakatnya tidak biasa. Anak itu mempunyai bakat langka sama seperti murid mu," ucap Shen Bai yang tahu kalau ada sebuah segel di dantian anak tersebut. Namun Bai An tidak dapat melihatnya jadi Bai An mengira itu anak biasa.


Mendengar kata-kata Shen Bai membuat Bai An langsung menjadi sangat bersemangat, namun ia menyimpannya dalam hati agar tidak diketahui orang disekitarnya.


Saat anak tersebut sedang berlatih sendiri, anak-anak sebaya dan ada juga yang lebih tua menghampiri anak kumal tersebut. "Hei anak cacat, kau jauh-jauh jangan berlatih terlalu dekat, nanti kami kurang fokus dalam berlatih. Kami takut bakat-bakat langka seperti kami nanti kurang berkembang gara-gara kau yang terlalu dekat, dan itu membuat kami dimarah oleh Tuan penolong dan mengecewakan Tuan Muda karena tidak bisa berkembang hanya karena gara-gara kau."

__ADS_1


Saat mendengar itu Bai An terasa bernostalgia karena ia juga sering di ejek anak cacat, namun kakaknya selalu menyemangati Bai An kalau ia tidak cacat, tapi kekurangan sumberdaya, jadi lebih baik giat berlatih. Itulah kata-kata Cen Tian yang selalu ada untuknya dulu yang membuat Bai An selalu bertekad dan hasilnya inilah Bai An sekarang.


Sedangkan Huang Feng yang ikut mendengar menjadi malu karena ia tak pernah mengajar anak-anak seperti itu begitupun yang lain dan saat salah satu ketua bandit ingin memarahi anak yang menyuruh anak kumal itu menjauh tidak jadi karena dihentikan Bai An.


"Jangan marahi mereka, karena pikiran mereka masih anak-anak, dan tolong panggil anak yang berlatih sendirian tadi."


Mendengar ucapan dari Bai An, dengan cepat ketua bandit itu melesat kesana, lalu membubarkan dan menyuruh anak-anak yang ingin mengusir itu berlatih kembali.


Saat kembali bersama anak kumal tersebut ketua bandit kembali ketempatnya. Kini anak tersebut berdiri menunduk dihadapan Bai An.


"Siapa namamu adik kecil?" tanya Bai An yang dapat melihat jika anak tersebut agak takut kepadanya. "Jangan takut, aku tidak akan memarahi atau mengusirmu seperti teman-temanmu yang disana," ucap Bai An menambahkan.


Anak tersebut langsung melihat Bai An, ia agak terpana karena ketampanan Bai An, ia juga tahu jika pemuda didepannya ini adalah pemimpin Tuan penolongnya. Ia tahu saat melihat Tuan penolongnya itu sangat menghormati pemuda didepannya ini. Anak kecil ini belum menyadari jika Huang Feng Tuan penolongnya kini berada dibelakang Bai An.


"Fang Liu, nama ku Fang Liu Tuan!" ucap anak tersebut.


Bai An mengangguk sambil tersenyum, "ulurkan tanganmu adik kecil."


Anak tersebut heran, begitupun yang lain, hanya Bai Luan seperti menyadari sesuatu, ini seperti dirinya dulu sebelum ia menjadi murid Bai An.

__ADS_1


Walaupun Anak tersebut bingung ia tetap mengulurkan tangannya ke arah Bai An, Bai An langsung mengalirkan energinya untuk mengcek tubuh anak tersebut.


Tak lama Bai An terkejut, "Tubuh Dewa Perang!" gumam Bai An dalam hati.


__ADS_2