Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Percakapan Ling Mei dengan Mu Xia'er


__ADS_3

Walaupun bingung, semua orang tetap menagngguk.


Karena saat ini mereka semua dalam suasana kebahagian. Jadi, mereka tidak terlalu memikirkan kata-kata dari permintaan Bai An.


“Iya, ayo kita pulang. Kau ikut ibu,” kata Ling Mei , terlihat wajah Ling Mei di penuhi oleh senyum kebahagian.


Bai An yang melihat itu menjadi luluh dan merada semakin tidak tega untuk membuat ibunya sedih lagi.


Dengan cepat Bai An mengangguk. “Iya, kemanapun kau mau membawa ku. An'er tetap akan ikut.” Balas Bai An ikut tersenyum.


Semua orang ikut tersenyum lagi sambil menatap Ling Mei dqn Bai An.


“Baru kali ini aku melihat Ling Mei tersenyum seperti itu lagi,” gumam Bai Chen ikut bahagia, ia tak pernah membayangkan bisa melihat Ling Mei ceria seperti masa mudanya.


Mendengar jawaban Bai An. Ling Mei lebih dulu melihat ke arah Bai Chen dan yang lainnya lalu berkata. “Kalian bisa kembali lebih dulu, 10 menit lagi aku akan menyusul.”


Wajah Ling Mei tersenyum lembut saat ia meminta semua orang kembali. Mereka semua langsung menurut begitu saja tanpa pikir panjang.


Setelah merasa semua orang pergi dan Ling Mei merasa mereka tidak mengintip. Barulah Ling Mei menatap Bai An kembali dengan senyum lembut.


“Apakah kau tetap akan menyembunyikan calon Istrimu nak? Atau kau memang tidak ingin memperkenalkannya kepada ibu.”


Bai An langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan. “Dari mana ibu tahu?” Tanya Bai An.


“Tentu saja, bahkan ibu tahu siapa dia. Ibu juga tahu dia dimana sekarang, ibu juga bisa kesana tanpa bantuanmu,” jawab Ling Mei tersenyum sambil mencubit pipi Bai An dengan gemas.


“Memang ada di tingkat apa ibu sebenarnya?” Tanya Bai An penasaran.


“Itu rahasia nak, sekarang apakah kau ingin mempertemukan ibu dan membawa ibu kesana atau ibu memaksa kesana.” Ling Mei tersenyum, tapi di balik senyum itu ada hal sedikit menyeramkan yang mana langsung membuat Bai An merinding.


Dengan cepat Bai An mengangguk. “Apa kau ingin aku di pukuli oleh ibu. Kenapa kau tidak mau keluar Xia'er,” gumam Bai An dalam hati.


Mu Xia'er langsung cekikikan di dalam dunia jiwa. Tak lama ia menghilang.


Wush..!!


Mu Xia'er muncul di hadapan Bai An dan Ling Mei dengan menunduk malu.


“Baru kali ini aku melihat kau malu Dewi Cahaya,” sapa Ling Mei tersenyum.

__ADS_1


Bai An yang melihat seperti ada pembicaraan khusus wanita langsung masuk ke dunia jiwanya setelah ia meminta izin kepada ibu dan Mu Xai'er.


“Mu Xia, apakah kau serius bersama putraku? Atau sekedar hanya sesaat saja untuk kepentingan pribadimu. Lalu saat kepentingan pribadimu selesai kamu langsung meninggalkannya.” Tatapan Ling Mei kini semakin dingin, lebih dingin dari yang pernah ia lakukan.


Mu Xia'er yang mendengar itu semakin gugup. Dulu awalnya memang dia ingin memanfaatkan Bai An untuk kebebasannya. Tapi setelah bersamanya dalam waktu cukup lama, Mu Xia'er benar-benar jatuh hati walau belum sepenuhnya.


“I..itu aku benar-benar serius Bibi Ling,” jawab Mu Xia'er agak gugup.


“Aku tahu masih ada sedikit kebohongan dari kata-katamu. Tapi aku merasa kau memang menyukai putra sedikit demi sedikit. Tidak apa-apa menurutku.”


“Tapi satu hal yang kau tahu aku paling benci bukan.”


Mu Xia'er langsung mengangguk sambil melihat Ling Mei.


“Tentu, sebuah pengkhianatan,” jawab Mu Xia'er, kemudian menambahkan. “Tapi Bibi Ling percayalah aku tidak akan mengkhianati An Gege. Aku bahkan rela bersumpah atas nama Hukum Semesta, jika aku mengkhianati An Gege. Aku akan langsung mati detik itu juga.”


Ling Mei meneliti wajah Mu Xia'er. Tak lama ia mengangguk dengan senyum indah lalu menarik Mu Xia'er ke pelukannya.


“Aku cukup lama mengenalmu, aku takut karena kau dulu sangat nakal dan sangat membenci laki-laki apalagi para Dewa, jadi aku takut kau akan menyakiti An'er. Dan juga, ia tidak tahu apa-apa. Jangan libatkan ia dengan dendam mu.” Kata Ling Mei yang kini memegang pipi Mu Xai'er.


“I..itu,” kata Mu Xia'er sedikit ragu-ragu.


“Sudah aku duga, jika kau ingin meminta bantuan. Mintalah dengan baik-baik, jangan paksa atau buat ia terlibat masalahmu dengan cara licik, hanya itu pesanku. Jika aku mengetahui itu. Aku akan mencarimu kemanapun kau sembunyi,” ancam Ling Mei.


“Jika kamu ingin berlindung di balik punggungnya. Buatlah ia memiliki tekad untuk melindungi mu, aku tahu kau sedang berusaha membuatnya kuat.”


Seakan mengerti apa yang di ucapkan oleh Ling Mei, wajah Mu Xai'er langsung merah merona.


“Baru kali ini aku melihat Sang Pengacau malu,” kekeh Ling Mei.


“Bibi Ling,”


Sstttt..!!


“Mulai sekarang panggil juga aku ibu, paham.”


Mu Xia'er mengangguk patuh, lalu memeluk Ling Mei dengan perasaan bahagia.


“Sudah, jangan menangis. Apa kau ingin di ejek oleh An'er karena cengeng,” bisik Ling Mei mencoba membuat Mu Xia'er berhenti menangis.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. An Gege pasti akan menghiburku jika melihat aku sedih,” jawab Mu Xia'er dengan kepala tertunduk.


“Huuff..!! Terus rencananya kapan kau akan pergi lagi dengannya?,” tanya Ling Mei dengan suara agak serak.


“Ibu..!! Jika kau ingin An Gege cukup lama di sini aku tidak apa-apa,” kata Mu Xai'er menangis.


“Jadi An'er akan pergi sebentar lagi,” gumam Ling Mei menebak-nebak dengan perasaan sedih. Ling Mei dapat menebak itu jika Bai An hanya sesaat di sini.


“Ayo kita ke dunia jiwa An'er,” ajak Ling Mei.


Mu Xia'er mengangguk, ia memegang tangan Ling Mei kemudian mereka berdua menghilang.


Di tempat Bai An kini ia sedang bersama Tu Long. Saat Bai An ingin meneguk araknya, dengan cepat ia memasukkan arak tersebut kedalam cincin penyimpanannya.


Wush..!!


Ling Mei dan Mu Xia'er muncul di depan Bai An dan Tu Long.


Ling Mei langsung maju lalu mencium bau arak yang sangat kuat. “Apa kau minum nak?”


“I..itu hanya mencicipi bu, benarkan Tu Long.” Tu Long langsung mengangguk dengan cepat.


Ling Mei langsung menghela nafas dengan berat.


“Kau boleh minum karena umurmu sekarang sudah 18 tahun, tapi jangan sampai berlebihan seperti ayahmu itu,” kata Ling Mei sambil tersenyum.


Bai An langsung tersentuh, dengan cepat ia berlari memeluk ibunya.


“Ibu kau adalah ibu terbaik,” kata Bai An.


Tentu saja ibunya langsung bahagia mendengar itu dari mulut putra kesayangannya.


“Bisakah kau mengubah waktu disini lebih lama, karena ibu ingin bersamamu sebelum kau pergi lagi.”


Bai An mengangguk lalu mengubah waktu di dunia jiwanya 1 tahun, di dunia nyata 1 hari.


Bai An sekarang tidak bisa mengubah waktu cukup lama. Karena ia takut energinya terkuras habis hingga melukai jiwanya. Dulu ia bisa mengubah waktu cukup lama itu karena bantuan Mu Xia'er.


Setelah itu mereka bertiga pergi ke kediaman yang di bangun oleh para monster.

__ADS_1


Entah mengapa semua monster seperti ketakutan saat melihat Ling Mei. Itulah yang di rasakan oleh Bai An, tapi ia tidak bertanya karena ingin bersama ibunya dan lebih mementingkan ibunya dari rasa penasarannya.


'


__ADS_2