Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Pergi Ke Alam Dewa Emas


__ADS_3

Di kejauhan, Bai An, Duan Du, Tu Long dan Hong Ti melihat itu. Hanya Bai An dan Duan Du mengeluarkan senyum tulus.


Duan Du dapat mengartikan semua tujuan Bai An, sementara Tu Long memang tidak mau tahu tentang apa tujuan Bai An, yang ia lakukan hanyalah menjalankan perintah Bai An.


“Ayo kita pergi ke Alam Dewa Emas, untuk Alam Dewa Rendah aku yakin Fanghu dan kakak ku dapat membereskan mereka, sementara di sini sudah beres dan Yu Fan sudah menjalankan beberapa intruksi kecil dariku.” Kata Bai An merasa di sini sudah selesai.


Saat Bai An ingin melesat, Duan Du langsung menghentikannya.


“Tunggu dulu kak, bagaimana dengan Paman Lang dan Chu Tang? Apa mereka tidak di ajak?” Tanya Duan Du, ia terdiam sesaat lalu melanjutkan. “ Terlebih Jing Ling dan juga Lin'er masih disini.”


Bai An langsung berhenti sambil melirik ke arah Duan Du dengan senyum licik yang terang-terangan di lihat Duan Du.


Duan Du yang melihat itu langsung berkeringat dingin sambil melambaikan tangannya berkali-kali.


“Lebih baik jika kita berangkat lebih dulu dan mereka akan menyusul, karena aku yakin para wanita itu akan sangat merepotkan,” kata Duan Du mencoba mencari alasan.


Bai An seketika mengangguk kecil sambil berkata. “Untuk saudara Lang Zai dan Chu Tang, aku sudah memesan mereka jika akan langsung menyusul saat selesai berkultivasi saat akan mulai berkultivasi kemarin melalui telepati, jadi kau bisa tenang.”


Setelah itu Bai An langsung melesat ke arah utara.


Tu Long langsung mengikuti bersama Hong Ti, sementara Duan Du yang terdiam langsung melesat mengikuti.


Wuss..!!


Wuss..!!


Dalam waktu satu hari penuh yang mengikuti kecepatan Hong Ti, kini Bai An, Duan Du dan Tu Long terlihat muncul di atas kota yang cukup megah.


“Tuan Muda Besar, di kota besar inilah tempat altar dimensi untuk pergi ke Alam Dewa Emas, kota ini juga yang terbesar di Alam Dewa Perunggu ini,” kata Hong Ti dengan hormat.


Bai An mengangguk santai tanpa ada rasa kagum sedikitpun, sama halnya dengan Duan Du dan Tu Long.

__ADS_1


“Hmm..!! Kota yang di bilang paling besar ini ukurannya terlihat sama dengan Kota kecil di Daratan Naga Besi, terlebih aku merasa kota kecil disana sedikit lebih besar dari kota ini,” kata Tu Long seolah tidak tertarik.


Hong Ti yang mendengar itu mengerutkan keningnya, ia tidak terlalu paham apa yang Tu Long ucapkan, apalagi saat mendengar nama Daratan Naga Besi, itu terdengar sangat asing menurutnya.


Sementara Bai An dan Duan Du terlihat tak peduli, mereka langsung turun setelah merasakan ada beberapa kelompok pembantai datang.


Tap tap..!!


Bertepatan dengan Bai An menginjakkan kakinya di tanah, tiga pria cukup berumur langsung menyapa.


“Salam Tuan Besar, salam Tuan muda, mari saya antar ke altar pintu dimensi,” kata ketiganya menyapa, lalu salah satu yang paling kuat ingin mengantar Bai An dan yang lainnya, karena ia tahu tujuan Bai An datang kesini.


Bai An tanpa basa basi langsung berjalan mengikuti ketiga kelompok pembantai yang menjadi petunjuk jalan.


Saat berjalan santai, Bai An melihat jika ketiga kelompok pembantai ini merupakan tiga saudara kembar yang mempunyai keunikan masing-masing.


Walau ketiganya bukan anggota inti kelompok pembantai, namun kekuatan mereka cukup besar.


“Hmm..!! Apa yang membuat kalian bertiga tidak menjadi anggota inti kelompok pembantai?” Tanya Bai An cukup penasaran.


“I.. Itu Tuan Besar, sebenarnya aku dan dia telah lulus bahkan akan di berikan nomer anggota, tapi karena dia yang paling muda tidak lolos seleksi, jadi kami memutuskan diri untuk menunggu sampai ia memiliki kekuatan yang cukup saat seleksi kembali di buka,” kata yang paling tua dengan sedikit terbata-bata.


Bai An yang mendengar itu mengangguk dan ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi karena Duan Du.


“Hoho,, ikatan yang sangat kuat, aku suka itu,” kata Duan Du bertepuk tangan layaknya anak kecil. Duan Du kembali berkata. “Karena kalian bertiga sangat terikat erat, maka aku akan memberikan kalian sedikit kekuasaan dan menjadi petinggi di kelompok pembantai, yang artinya kalian saat ini bukan anggota biasa, kalian juga memiliki beberapa pengikut anggota kelompok pembantai yang akan ikut menjalankan kekuasaan maupun bisnis.”


Duan Du tersenyum sambil melirik ke arah Bai An. “Bagaimana kak? Bukan hal yang buruk bukan, ini juga meringankan tugas Paman Yu Fan dan Paman Fanghu,” kata Duan Du.


Bai An sebenarnya cukup kesal karena Duan Du sudah lebih dulu mengambil apa yang akan ia ucapkan, tapi Bai An hanya mengangguk sambil melirik ke arah tiga orang bersaudara.


“Kau akan mengurus kota ini beserta setengah wilayah Alam Dewa Perunggu ini, untuk masalah kelompok pembantai yang akan mengikutimu, aku akan memberitahukan ini kepada Yu Fan agar ia menugaskan kelompok pembantai kesini,” kata Bai An.

__ADS_1


“Benar, terlebih kau juga bisa mengrekrut beberapa kelompok pembantai yang ada di alam dewa ini dengan cara yang sama saat kau di uji untuk masuk kelompok pembantai,” sambung Duan Du.


Dahi Bai An berkerut cukup kesal karena Duan Du selalu memotong ucapannya.


Tu Long yang menyadari itu hanya bisa menutup mulutnya agar tawanya tidak keluar.


Sementara ketiga bersaudara kelompok pembantai kini diam.


Mereka diam karena sangat terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba ini.


Tentu saja mereka sangat bahagia dan tidak bisa mengungkapkan kebahagian ini dengan bagaimana.


“Tu.. Tuan Besar, apakah yang anda ucapkan ini benar?” Tanya yang paling tua dengan terbata-bata sambil melirik kedua adiknya. “Coba kau pukul aku, apakah ini hanya ilusi,” perintah yang paling tua kepada kedua adiknya.


“Biarkan aku yang mencoba, apakah ini nyata atau ilusi,” kekeh Tu Long yang ingin melayangkan tinjunya ke mulut tiga bersaudara yang paling tua.


Bam..!!


Tubuh Tu Long seketika melayang dan langsung menabrak tembok kota hingga hancur.


“Heng..!! Lihat-lihat dulu saat bertindak,” dengus Bai An lalu berkata lagi dengan nada kesal. “Apakah kau ingin membunuhnya, walaupun kau meninju dengan biasa, ia bisa saja mati.”


Tu Long yang baru bangun mendengar suara Bai An yang marah-marah langsung tersenyum kecut.


Tu Long tahu jika Bai An melampiaskan kekesalannya akibat ulah Duan Du, tapi kenapa harus ia yang menjadi tumbal, bukan langsung ke orangnya saja ia lampiaskan? Itulah yang ada di dalam pikiran Tu Long saat ini.


“Iya-iya,, aku mengaku salah Tuan muda,” kata Tu Long dengan nada sedikit jengkel juga.


Bai An langsung tersenyum kecil melihat jika Tu Long menyadari jika ia melampiaskan rasa kesalnya terhadap Tu Long.


Sementara Duan Du mundur sedikit demi sedikit karena sadar, bisa saja ia akan menjadi sasaran berikutnya. Tapi di dalam hatinya saat ini Duan Du tertawa bahagia melihat kakaknya kesal.

__ADS_1


Duan Du sengaja membalas dengan cara ini karena ia tidak di izinkan ikut bermain-main kemarin.


Bai An kini menatap ke arah tiga bersaudara sambil tersenyum hangat.


__ADS_2