
Bai An melirik ke arah Duan Du yang bengong dari tadi lalu melirik Mu Xia'er.
“Baiklah, tentukan dimana tempatnya.”
Mu Xia'er langsung melambaikan tangannya, dalam sekejap Bai An, Duan Du dan Mu Xia'er menghilang dari tempat mereka melayang.
Wuss..!!
Mu Xia'er muncul bersama Bai An dan Duan Du di tempat yang sangat megah, namun sayang. Bai An yang melihat sekelilingnya terlihat tidak ada tanda-tanda kehidupan.
“Hmm..!! Apakah kau tinggal sendiri di sini Xia'er?” Tanya Bai An melirik ke arah Mu Xia'er.
Mu Xia'er mengangguk santai sambil memegang erat lengan Bai An.
“Hmm..!! Tapi suatu saat tempat ini pasti akan ramai,” kata Mu Xia'er sedikit malu-malu dengan wajah memerah menunduk malu.
Bai An langsung tersenyum canggung saat mrndengar itu, sementara Duan Du menatap Bai An dan Mu Xia'er bergantian dengan wajah bodoh.
“Apa yang mereka bicarakan ya? Mengapa aku sama sekali tidak mengerti?” Gumam Duan Du dalam hati.
Duan Du memang cerdas dalam hal lain, namun jika masalah cinta, ia adalah orang terbodoh di dunia.
Tap tap..!!
Setelah bicara sambil berjalan santai, Bai An, Duan Du dan Mu Xia'er kini duduk.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Mu Xia'er mau tak mau mengatakan sejujurnya kepada Bai An tentang semuanya.
Sebenarnya Mu Xia'er ragu mengatakan semuanya karena ada Duan Du. Namun Bai An memberikan kode untuk Mu Xia'er agar mengatakannya karena percaya terhadap adiknya.
Setelah menceritakan semuanya selama 6 jam penuh.
Bai An kini merenung antara mau membantu Mu Xia'er atau tidak. Tapi karena Bai An kini sudah menikah dan punya tanggung jawab sebagai seorang suami.
Bai An mengangkat dagunya lalu tersenyum lembut kepada Mu Xia'er.
“Musuhmu adalah musuhku juga, jika mereka semua, atau bahkan seluruh alam semesta ini mengganggumu atau keluargaku, maka aku akan menghancurkan semuanya tanpa terkecuali, bagaimanapun caranya, walau dengan cara yang salahpun akan aku lakukan,” kata Bai An dengan nada serius.
__ADS_1
Duan Du yang mendengar langsung menambahkan. “Benar kakak ipar, siapapun dia, aku pasti akan membuat mereka menyesal seumur hidup dan membuat mereka menderita,” kata Duan Du percaya diri.
Hati Mu Xia'er langsung tenang dan wajahnya kini memerah, bukan karena malu, melainkan menahan haru.
Bai An langsung mendekap Mu Xia'er ke pangkuannya.
“Menangislah, jangan menahan diri, karena semakin kau menahannya maka belenggu yang jauh di dalam hatimu akan semakin kotor yang menyebabkan kau salah jalan,” kata Bai An.
Seketika tangis langsung pecah, dan yang selama ini Mu Xia'er tahan langsung keluar sepenuhnya, semua bebannya kini terasa lebih ringan.
Hati Mu Xia'er merasa semakin nyaman dalam dekapan Bai An. Mu Xia'er merasa seolah Bai An adalah tembok yang kokoh melindungi dirinya.
Harapan Mu Xia'er kini seolah terwujud dalam mencari orang yang benar-benar tulus melindunginya.
Perlahan tapi pasti Mu Xia'er terlelap dalam dekapan Bai An.
Sementara Duan Du merasa seperti nyamuk, langsung pergi dari sana.
Bai An kini terlihat membelai rambut Mu Xia'er dan melihat wajah Mu Xia'er yang terlelap mengeluarkan senyum yang selama ini tak pernah di lihat semua orang.
Tak tanggung-tanggung, entah karena nyaman atau memang tidak pernah tidur. Mu Xia'er tidur sebulan penuh.
Bai An dengan sabar menemani Mu Xia'er, Bai An sama sekali tidak mengeluh dengan hal ini, melainkan ia semakin bahagia karena bisa melihat wajah Mu Xia'er terus menerus.
Tak menunggu lama Mu Xia'er perlahan membuka matanya.
“Emm..!! An Gege,, apakah sudah pagi,” kata Mu Xia'er sambil mengucek matanya berulang kali.
“Hmm..!! Ini sudah siang,” jawab Bai An.
“Apa?” Tanya Mu Xia'er terkejut. “Mengapa An Gege tidak membangunkanku,” kata Mu Xia'er cemberut.
Mu Xia'er tidak sadar jika ia sudah tertidur selama satu bulan.
“Bangunkan apanya kakak ipar, kau tahu? Kau itu sudah tidur,” belum selesai Duan Du berkata kepada Mu Xia'er.
Bai An melempar sebuah roti untuk menutup mulut Duan Du.
__ADS_1
“An Gege,, mengapa kau begitu kepada adikmu,” kata Mu Xia'er bingung.
Bai An langsung melambaikan tangannya santai. “Anak nakal ini memang harus di begitukan, kau tahu sendiri mulut anak ini tidak pernah benar,” kata Bai An.
Mu Xia'er langsung mengangguk membenarkan ucapan Bai An karena memang dulu sewaktu di klan Bai. Duan Du selalu berbohong dan melebih-lebihkan jika ingin di hukum saat ketahuan membuat ulah.
Wajah Duan Du langsung jelek, tapi tak lama ia langsung tersenyum bersemangat sambil melirik ke arah Bai An.
“Kakak,, aku tadi sempat pergi ke dunia tempat dimana kita terdampar pertama kali dan mendapat banyak informasi dari Pin Cang dan Pin Sang, terlebih lagi kini Xian Wei dan Dhe Chi Yuan kini sudah menguasai Daratan Naga Besi,” kata Duan Du bersemangat.
Bai An yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
“Katakanlah yang sepenuhnya, jangan setengah-setengah,” kata Bai An.
Duan Du langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hehe,, saat ini Xian Wei, Pin Cang, Dhe Chi Yuan terlihat menunggu kedatangan kita, karena mereka akan berperang melawan klan-klan besar yang ada di daratan Naga Besi, klan-klan besar tersebut bergabung dengan sekte Naga Hitam yang ada di Daratan Api.” Kekeh Duan Du sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hmm..!! Terus mengapa kau tidak langsung turun tangan saja Du'er, aku melihat kekuatanmi cukup kuat untuk meluluh lantahkan klan besar,” kata Mu Xia'er cukup bingung, Mu Xia'er bingung karena menurutnya masalah kecil seperti ini mengapa harus di laporkan ke Bai An. Jika masalah besar mungkin itu harus di laporkan karena perlu di bicarakan secara matang.
Duan Du mendengar pertanyaan Mu Xia'er terkekeh kecil.
Saat Duan Du ingin menjawab. Bai An yang melihat kekehan Duan Du merasa tidak enak langsung berkata.
“Kau tahu anak ini sangat licik, aku tahu maksud ia memberitahuku,” kata Bai An dengan nada sedikit tergesa-gesa.
Duan Du semakin terkekeh dalam hati melihat kakaknya sedikit panik.
“Hehe,, apa kakak takut, mmmm,, mmm.” Mulut Duan Du langsung di sumpal oleh tangan Bai An.
“Xia'er jangan dengarkan anak ini karena ia ingin membuat kau terlibat masalah sepele dan ingin kau ikut mengacau yang tidak jelas,” kata Bai An.
Mu Xia'er mengangguk tanpa curiga. “Aku tidak akan ikut campur An Gege, karena semakin sering aku keluar maka aku takut mereka akan curiga atau sadar jika aku kembali. Jadi aku akan tetap di sini lebih dulu sampai waktunya tiba,” kata Mu Xia'er tersenyum lembut.
Bai An mengangguk sambil menghela nafas lega.
'
__ADS_1