
“Hmm,, Apakah di antara kalian ada yang tahu tempat itu? Aku minta tolong antar aku kesana.”
“Biar aku saja,” secara bersamaan Tang Rou dan Tang De berseru.
Bai An dan yang lainnya langsung menggelengkan kepala. Padahal mereka sudah tua. Tapi tingkah mereka seperti anak kecil.
5 menit berlalu, karena Tang Rou dan Tang De berdebat siapa yang bertugas menemani Bai An. Jadi Bai An sudah menunggu selama 5 menit.
Sekarang Tang Rou mengenakan jubah untuk menutupi identitasnya.
Bai An mengangguk sambil menghela nafas. Lalu berkata. “Saudara Pixiu, kau temani lah saudara Yuan di kamarnya. Aku pergi hanya sebentar.”
Tanpa menunggu jabawan Pixiu. Bai An langsung melesat pergi keluar bersama dengan Tang Rou.
Saat di jalan Bai An langsung berjalan santai lalu bertanya kepada Tang Rou. “Tang Rou, dimana tempatnya?”
“Kesini Tuan muda Bai, biarkan aku yang menuntun jalan.” Kata Tang Rou lalu melesat duluan.
Bai An kemudian mengikuti dari belakang.
10 menit berlalu.
“Hmm Kota Han ini cukup besar juga,” gumam Bai An dalam hati. Karena menuju kesini saja dengan 20% tenaganya membutuhkan waktu 10 menit.
Tang Rou kini berdiri dengan nafas tersengal sengal. Tentu saja energinya cukup banyak terkuras karena perintah Bai An yang menyuruhnya untuk tidak beristirahat.
Saat Bai An melihat tulisan di gerbang yang cukup besar. ‘Pasar Budak Tang’.
Bai An dan Tang Rou berjalan santai, saat ia melewati gerbang. Bai An sudah melihat banyak sekali budak budak yang terlihat sangat beringas. Mereka seperti tidak takut untuk di perbudak.
Bai An terus berjalan hingga pusat pasar budak. “Hmm,, dimana ya tempat?” Gumam Bai An cukup bingung.
Saat Bai An ingin melangkah, matanya tak sengaja tertuju ke arah anak kecil yang masih berumur 9 tahun berada di dalam kerangkeng besi.
Hal itu tentu saja membuat Bai An mengerutkan keningnya.
Tang Rou yang ikut melihat ke arah mata Bai An juga ikut terkejut saat melihat ada anak kecil di sini. Hal ini membuat Tang Rou marah.
“Tenangkan dirimu,” kata Bai An melalui telepati. Ia cukup mengerti hal tersebut. Karena Tang Rou sudah menceritakan tentang pasar budak ini kepada Bai An. Tentu saja ini mencoreng nama baik Tang Rou dimata Bai An karena melihat anak kecil di perbudak.
Tap tap..!!
Saat Bai An telah sampai, ia tiba tiba tersenyum. Orang yang selama ini ia cari ternyata seorang anak kecil. Bai An juga melihat anak ini cukup cerdik. Lebih baik di perbudak oleh segel budak oleh seorang rumahan untuk membersihkan rumahnya daripada kultivator haus akan harta atau arak.
__ADS_1
Tap tap..!!
“Apakah ada yang saya bisa bantu Tuan muda?” Tanya seorang pria tidak terlalu tua.
“Hmm aku hanya penasaran, kenapa anak kecil kalian peebudak? Apa kalian tidak takut dengan Walikota Tang jika ia mengetahui ini. Maka kalian yang akan mengalami nasip lebih buruk dari anak ini.”
Kata kata Bai An cukup untuk membuat pria tua tersebut sedikit merinding. Pria tua itu dengan cepat menjawab.
“Maaf Tuan muda, sebenarnya kami tidak ingin melakukan ini. Kami juga sudah 20 kali menangkap anak ini mencuri dan melepaskan lalu memberikannya pekerjaan yang layak. Tapi anak ini dengan sengaja berhenti dan melakukan pencurian lagi.”
Bai An mengangguk lalu bertanya. “Kenapa kau tidak mengurungnya dalam waktu tertentu agar bisa membuatnya sadar mungkin?”
“Sebenarnya anak ini sendiri memberitahu kami ia lebih baik dipenjara budak dari pada di perjara kota.” Jawab pria tersebut agak takut.
“Apakah kau sudah mendengarnya sendiri Tang Rou?” Tanya Bai An.
“Tentu tuan muda, tadinya aku ingin mengumpulkan dan menghukum mereka jika mereka semena-mena memperbudak orang. Tapi setelah mendengar jawabannya aku jadi agak tenang. Tapi tetap saja aku akan menghukum orang orang yang telah terlibat menaruh anak tersebut disini.” Jawab Tang Rou penuh pendirian.
Bai An hanya mengangguk dan tidak ingin terlibat masalah ini.
“Hei kau? Kenapa kau diam saja dan menatapku seperti tidak suka?” Kata Bai An bertanya sambil tersenyum.
“Pergilah, aku benci seorang Tuan muda sepertimu. Kau palingan anak manja yang hanya mengandalkan latar belakangmu. Aku sangat membenci itu.”
“Cuihh..!!”
“I ini. Maafkan kami tuan muda. Anak ini memang kasar seperti. Berapa kali pun kami mengajarinya. Ia tetap tidak mau berubah.” Kata pria tersebut gelagapan, takut ini akan menyinggung Bai An.
Tapi Bai An langsung tersenyum.
“Aku suka gayamu, anak kecil sepertimu harus menjadi temanku atau saudaraku.” Kata Bai An mencoba untuk menarik anak tersebut menjadi pengikutnya.
Tapi anak tersebut mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Bai An semakin tersenyum saat melihat tingkahnya lalu berkata melalui telepati.
“Apa kau takut aku akan tahu bahwa kau itu orang yang terahir hidup dari klan Duan.”
Wajah anak tersebut langsung buruk, ia mundur sampai ujung kerangkeng ketakutan.
“Apa mau mu?” Teriak anak kecil tersebut dengan wajah memerah.
“Ooh,, ternyata dugaanku benar.” Bukannya menjawab Bai An semakin tersenyum.
__ADS_1
“Buka kerangkengnya, aku ingin anak ini,” kata Bai An sambil melempar 1 kristal tingkat tinggi.
Tubuh pria tersebut langsung bergetar saat menangkap kristal tingkat tinggi tersebut. Padahal harga anak tersebut paling mahal 500 koin emas. Tapi ini?
“Hei..!! Kenapa kau melamun, cepat buka.” Kata Bai An dengan tenang.
“Baiklah,”
Cklek.
“Lepas,, aku tidak ingin pergi dari sini. Lepaskan aku,” teriak anak tersebut meronta ronta.
Matanya semakin memerah, ia menatap Bai An dengan tatapan ingin membunuh, benci kesal campur aduk.
Saat anak kecil tersebut sudah sampai di hadapan Bai An. Bai An dengan santai menepuk pundaknya.
“Apa kau tidak ingin menjadi kuat, lalu membalaskan dendam keluargamu yang di hancurkan oleh beberapa pihak?” Bisik Bai An sambil tersenyum.
Tubuh anak tersebut langsung diam. Ia menatap tajam ke arah Bai An yang kini tersenyum dengan tenang.
Saat melihat tidak ada tatapan kebohongan dari perkataan Bai An.
Anak tersebut langsung bertanya. “Apakah kau yakin bisa membuatku kuat? Aku lihat kau saja belum tentu kuat.”
Blusshh..!!
Bai An mengeluarkan auranya yang hanya sampai tingkat Dewa Alam Puncak, ia tidak mengeluarkan keseluruhannya.
“Ukkhh...!! Sangat kuat,” gumam anak kecil tersebut.
“Aku akan menjadi budak mu asal kau bisa membuatku menjadi kuat agar bisa membalaskan dendam ku. Apapun yang kau perintahkan akan aku turuti. Walaupun kau memintaku untuk bunuh diri, tapi setelah aku membalaskan dendamku.”
Mata anak tersebut menyala merah tanda mempunyai tekad yang besar. Tentu saja ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini walaupun ia masih belum mengenal Bai An terlalu jelas.
Bai An mengangguk sambil bertanya. “Siapa namamu?”
Anak tersebut agak ragu, ia takut di dengar oleh kedua orang di sekeliling Bai An. Tapi ia tetap berbisik.
“Namaku Duan Du Tuan muda.”
Setelah Duan Du selesai berbisik pria penjual budak menghampiri Bai An dan Duan Du dengan hati hati. Karena tadi ia dapat merasakan ada sedikit kebocoran aura dari Bai An.
“Tuan muda, apakah anda ingin langsung memasang segel budak?” Tanya pria tersebut dengan hati hati.
__ADS_1
“Tidak perlu,” jawab Bai An lalu menambahkan sambil melirik Tang Rou dan Duan Du tersebut ayo kita pergi.”
Tang Rou dan Duan Du hanya mengangguk sebagai jawaban.