
“Tidak ada imbalan apapun, tapi..!” Kata Long Yuan kini melirik ke arah Bai An.
“Hmm..!! Cukup satu kata, 'Kekeluargaan' hanya itulah yang aku katakan, kalian bisa mencari msksud dari kata-kataku,” kata Bai An kemudian berdiri, di ikuti oleh para saudara.
Bai An kembali berkata. “Jika kalian sudah memahami maksud kata-kataku dan ingin mencariku, cukup kalian ke kota Li saja, maka aku akan menjemput kalian.”
Saat Bai An melangkah melewati pintu, sebuah suara langsung menghentikannya.
“Tunggu,, bagaimana aku tahu itu kau nanti saat kami kesana, aku ingin melihat wajahmu terlebih duhulu baru kami akan mempertimbangkan apa yang kau minta tadi,” kata Gi Lian.
Bai An membalikkan badannya lalu menjawab. “Kata-kata manismu tidak akan terpengaruh oleh ku.”
Gi Lian seketika cemberut.
“Apakah wajahmu itu sangat tua sehingga kau malu memperlihatkan wajahmu, hmm aku kira kau semuda suaramu. Tapi ternyata tidak,” ejek Gi Lian.
Tapi Bai An tetap berjalan setelah ia membalikkan badannya.
Gi Lian mulai kesal.
“Aku serius, agar kami tahu jika kami tunduk siapa Tuan kami dan siapa namanya,” kata Gi Lian kembali mencoba berbagaicara.
“Hei,, jika Tuan muda ku tidak mau, kau jangan memaksa,” dengus Tu Long secara tidak sengaja membuka tudungnya.
Gi Lian langsung termenung saat melihat wajah Tu Long yang terbilang tampan. Lalu ia terkikik kecil.
“Heh,, apa kau menyuruh bawahanmu yang tampan ini untuk mengalihkan agar aku tidak bisa melihat wajah tuamu yang kusut itu.”
Kata-kata provokasi Gi Lian langsung membuat Bai An membalikkan badannya.
“Hmm.. Hanya kau seorang yang bisa melihat wajahku, jika kau tidak mau. Aku akan langsung pergi, apapun yang kau ucapkan itu tak akan mengubah ucapanku,” kata Bai An dengan dingin.
Gi Lian langsung melirik ke arah para leluhur, patriark dan tetua agung.
Mereka semua langsung keluar dari ruangan tersebut.
Setelah dirasa benar-benar sepi. Bai An langsung membuka tudungnya selama 3 detik, setelah itu dengan cepat Bai An memakai tudungnya lagi.
__ADS_1
“Apakah kau sudah puas?” Kata Bai An bertanya.
Namun tidak ada respon dari Gi Lian yang kini mematung, wajahnya memerah dan pikirannya terlihat berpikir liar entah kemana. Itu dapat terlihat dari wajahnya yang kini semakin memerah hingga mengeluarkan asap dari kepalanya.
Bai An dan para saudaranya langsung jijik saat melihat Gi Lian.
“Hei, otak mesum, apakah kau tidak bisa berpikir lurus,” kata Bai An.
Gi Lian langsung tersadar. Wajahnya berubah menjadi dingin.
“Apa kau bilang? Siapa yang mesum hah,” dengus Gi Lian.
Bai An tidak menjawab, melainkan ia langsung melesat bersama para saudaranya.
Melihat Bai An pergi, kini Gi Lian merasa jantungnya tadi berdetak kencang.
“Heh,, kenapa jantungku berdetak kencang.” Gumam Gi Lian.
“Tidak-tidak, aku tidak mengenal siapa laki-laki acuh tadi, aku juga tidak mungkin jatuh cinta hanya karena jantungku bertedak lebih kencang,” pikir Gi Lian kembali.
Setelah itu Gi Lian memanggil para leluhur, patriark dan tetua agung.
“Bagaimana menurut kalian? Aku rasa yang mereka maksud adalah kita menjadi bagian keluarganya dan saling melindungi, itu cukup menguntungkan kita.”
“Tidak bisa Dewi Mawar, siapa tahu mereka memanfaatkan kita sebagai poin seperti yang Dewi Mawar katakan tadi,” kata leluhur kurus tersebut.
“Hmm.. Itu benar, siapa tahu setelah ia memakai kita dan setelah kita tidak penting atau menjadi ancaman di masa depan mereka akan membunuh kita semua.” Lanjut leluhur berbadan kekar.
“Kalau aku apa yang menurut Dewi Mawar baik saja,” kata Gi Ten.
“Hmm aku juga,” kata leluhur terlihat muda menuruti perkataan Gi Ten.
Patriark dan tetua agung bingung mau mengatakan apa? Jadi mereka lebih baik diam terlebih dahulu.
“Hmm..!! Utarakan saja pendapat kalian masing-masing, tidak ada yang memarahi kalian,” kata Gi Lian terhadap patriark dan tetua agung.
“I.. Itu, kalau kami menurut apa yang para leluhur dan Dewi katakan benar saja,” jawab Gi Fin sedikit gugup.
__ADS_1
“Hmmm..!! Aku merasa orang-orang tadi terlihat jujur dan yang mereka musuhi juga sepertinya sama dengan musuh kita,” kata Gi Lian kini terdengar serius.
Gi Lian kemudian menambahkan. “Kalian tahu benar bukan asal usul klan kita ini awalnya dari Alam Dewa yang telah jatuh hingga aku dan beberapa seniorku dulu berhasil melarikan diri ke Dunia Setengah Dewa ini, dan yang memusnshkan klan kita adalah Kaisar Dewa Jahat bersama Kaisar Dewa Jahat, gara-gara klan kita tidak mau tunduk kepada mereka.”
Semua orang yang ada di ruangan tersebut mengangguk.
“Benar Dewi, kami tahu akan hal tersebut. Tapi apa masalahnya dengan mereka?” Tanya Gi Ten sedikit tidak mengerti.
“Hmm.. Apa kalian tidak mengerti jika ini kesempatan kita untuk bangkit dengan adanya bantuan mereka, kita pasti bisa membalaskan dendam keluarga kita yang dulu telah gugur saat melindungi keturunannya.” Kata Gi Lian kini memamcarkan sebuah dendam.
Mendengar itu, para tetua langsung mengeluarkan kebencian mereka.
Mereka juga tahu betul siapa oang-orang di balik 3 klan Besar yang selalu menekan mereka, itu tidak lain dari para pengikut Kaisar Dewa Jahat, Kaisar Dewa Sesat dan Kaisar Dewa Kegelapan.
“Tapi yang aku takutkan adalah kita di bunuh setelah,” belum selesai leluhur berbadan kekar itu bicara.
Gi Lian sudah memotongnya dengan berkata. “Aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.”
Semua orang yang ada di ruangan tersebut mengangguk patuh.
Dapat terlihat dari kepatuhan mereka jika Dewi Mawar sebenarnya bukan wanita sembarangan. Walaupun ia leluhur sekalipun, para leluhur lain tidak mungkin sepatuh ini dan pasti akan ada cekcok saat mengutarakan pendapat mereka masing-masing, tapi ini tidak.
“Baiklah jika kalian setuju, kalau begitu siapa yang ingin mengikutiku ke Kota Li?” Kata Gi Lian bertanya.
“Biar aku saja,” kata Gi Ten mengangkat tangannya.
“Itu tidak bisa, bagaimana jika aku saja, aku takut terjadi sesuatu di klan nanti dan para leluhur akan kerepotan jika kekurangan satu leluhur,” kata patriark klan Gi.
“Seorang Patriark juga tidak bisa, siapa yang nanti akan mengatur klan jika patriark pergi, jika kau menyuruhku maka itu akan sia-sia.” Kata tetua agung dengan jujur, ia lalu menambahkan. “Aku saja yang pergi, itu karena jabatanku sebagai tetua agung di klan juga tidak terlalu di butuhkan. Bagaimana?”
“Tidak bisa, kau akan tetap membantuku mengurus klan jika aku tidak pergi maka kau juga tidak boleh ikut,” dengus patriark Klan Gi.
Gi Lian yang mendengar perdebatan mereka langsung mendengus kesal.
“Aku sendiri saja yang akan pergi, kalian semua jagalah klan,” kata Gi Lian kemudian menghilang.
Melihat kepergian Gi Lian, salah satu dari leluhur tersebut langsung terkekeh kecil, ia adalah leluhur yang paling jarang biacara.
__ADS_1
Mereka semua bubar, leluhur, kurus, badan kekar dan Gi Ten langsung curiga saat melihat senyum licik Gi Lan.
“Hmm..!! Apa kau merasakan ada yang tidak beres dari leluhur Gi Lan?” Tanya Gi Ten dengam sedikit berbisik.