
"Ada apa Lin'er, kenapa kau tidak membunuhnya?" ucap Bai Luan penasaran, ia berpikir apakah mungkin Lin'er ingin menyiksanya terlebih dulu, namun ia sadar pasti Lin'er mendapat pesan juga dari Gurunya.
Sedangkan tetua ke tiga heran kenapa ia tidak di bunuh, ia berpikir liar membuatnya tiba-tiba bergidik ngeri saat melihat gadis tersebut seperti seorang iblis berwujud manusia.
Tetua ke tiga berpikir akan disiksa, di kuliti, di bakar hidup-hidup.
"Paman Guru meminta jangan membunuhnya dan menyuruh kita untuk membawanya Luan Gege!" jawab Lin'er lembut.
Mendengar itu Bai Luan mengangguk, sedangkan tetua ke tiga semakin berpikir liar saat mendengar kata paman guru yang bisa memerintah kedua iblis didepannya ini, pasti paman guru tersebut lebih mengerikan pikirnya, tak lama ia berteriak.
"Bunuh aku Tuan Muda"
"Bunuh aku, aku mohon jangan bawa aku ketempat kalian bunuh aku!"
Mendengar tetua itu berteriak memohon dan menangis membuat Lin'er tertawa terbahak-bahak, sedangkan Bai Luan hanya tersenyum menyeramkan.
"Kau cengeng sekali untuk posisi seorang tetua!" ucap Lin'er yang masih tertawa, lalu Bai Luan menyeret tetua tersebut masuk kedalam penginapan yang berada di atas.
Kini penginapan tersebut sepi tidak ada orang lain disana selain, Bai An, Yue'er, Luan'er, Lin'er, Han Chi dan tetua tersebut.
Sejak menyaksikan pembantaian berdarah itu mereka semua pada lari ketakutan.
***
Kini di sebuah yang terlihat seperti Istana, Patrick Shi mengamuk saat melihat batu bewarna biru pecah dan batu itu milik putranya, itu tandanya putranya sudah tewas.
"Aaaccckkk"
"Siapa, siapa, siapa yang berani membunuh putra ku satu-satunya!" teriak Patrick Shi.
"Cepat cari tahu siapa yang berani melawan Bangsawan Shi, jika kalian semua tidak dapat menemukannya, kalian yang akan ku siksa!"
__ADS_1
Patrick Shi terlihat sangat marah, ia sudah seperti tidak peduli dengan wibawanya sekarang, ia hanya ingin tahu siapa orang yang berani membunuh putra satu-satunya.
Ia terlihat sangat kacau, dan melampiaskan amarahnya kepada banyak sekali prajurit-prajurit yang ada disana.
"Hentikan kelakuanmu ini Shi Huan," tiba-tiba sebuah suara datang menghentikan kekacauan yang Patrick Shi Huan lakukan.
"Bagaimana aku berhenti mereka semua tidak becus dalam menjaga putraku kakak!" teriak Shi Huan kepada kakaknya.
"Tenanglah, aku mendapat kabar kalau Wan'er datang ke penginapan Bunga Mawar tadi bersama tetua ke tiga, dan aku juga melihat kalau batu kehidupan tetua ke tiga tidak pecah!"
"Apaaa.. berarti ini ulah tetua ke tiga Aaaaccckkkk akan kubunuh dia!"
"Kau tenang sedikit, kalau kau tenang kau bisa berpikir jernih, jangan seperti ini sehingga pikiranmu kacau!"
Mendengar teriakan dan amarah Shi Huan, Kakaknya membalas dengan suara tenang.
"Bagaimana aku bisa tenang Kakak, jika itu putramu aku yakin kau akan melakukan hal yang sama sepertiku."
"Kau ini, tidak mungkin tetua ke tiga berhianat dan membunuh Wan'er, coba kau pikir ulang terlebih dahulu, mungkin ada terjadi sesuatu di penginapan Bunga Mawar."
Mendengar kata-kata kakaknya, Shi Huan menjadi agak tenang mencoba berpikir dan ia tiba-tiba sadar tidak mungkin tetua ke tiga akan membunuh putranya, karena ia tahu betapa sayangnya tetua ke tiga kepada putranya dan apapun yang dilakukan putranya pasti tetua ke tiga akan membela mati-matian walaupun nyawanya menjadi taruhan.
Shi Huan kini semakin tenang dan ia berpikir apakah putranya salah menyinggung orang sehingga ia dibunuh dan tetua ke tiga dijadikan tawanan, tapi ia berpikir lagi, apa untungnya mereka menawan tetua ke tiga karena ia tahu tetua ke tiga sampai mati pun akan menutup mulutnya.
Banyak sekali pikiran-pikiran liar dikepala Shi Huan sekarang.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?"
Melihat Shi Huang sudah kembali tenang dan kini bertanya kepadanya ia tersenyum.
"Hmmm kita selidiki dulu, aku berpikir ini ulah orang-orang Kaisar Xiao karena ia tahu kita berhianat dan berusaha menjatuhkannya berkat bantuan Tuan berjubah hitam!" ucap kakak Shi Huang dengan tenang.
__ADS_1
"Jadi?" tanya Shi Huan lagi penasaran karena Shi Huan tahu kakaknya ini pintar dalam membuat rencana.
"Tanya saja kepada orang-orang yang menonton di penginapan, mereka pasti tahu ciri-ciri orang yang membunuh Wan'er dan menahan tetua ke tiga."
Mendengar itu membuat Shi Huan kini seperti orang bodoh, kenapa ia tidak berpikir ke arah sana dari tadi, tapi ia heran kenapa tidak langsung menyerang kesana karena ia berpikir mungkin orang-orang yang membunuh putranya masih disana jadi ia lang bertanya.
"Kenapa kita tidak langsung menyerang mereka dengan kekuatan penuh saja kak? aku yakin mereka belum pergi dari sana jadi kita bisa langsung membunuhnya."
Mendengar pertanyaan Shi Huan yang sangat bodoh kini membuat kakaknya tersebut menjadi kesal karena betapa bodohnya adiknya ini.
"Apa kau bodoh, pikir pakai otak, jika mereka tahu yang mereka bunuh itu Tuan Muda Shi dan mereka tidak takut sama membunuh putramu jadi mereka juga mempunyai persiapan!"
"Atau jika mereka tidak mengetahui Tuan Muda Shi yang mereka bunuh, berarti mereka orang-orang kuat, jadi kita selidiki dulu kebenarannya, kalau ternyata mereka mempunyai persiapan dan jebakan kita yang akan binasa, atau jika kita tahu mereka lebih kuat dari kita, kita bisa meminta bantuan dari Tuan berjubah hitam karena kita tidak bisa mengatasi mereka."
Mendengar jawaban Kakaknya yang begitu kesal membuat Shi Huan malu, lalu ia bertanya lagi.
"Apakah Tuan berjubah hitam benar-benar akan membantu kita, karena mereka sangat sulit untuk turun tangan?"
"Tentu saja mereka mau, karena bila mereka benar-benar kuat, itu bisa menjadi penghalang untuk Tuan berjubah hitam. Jadi mereka pasti akan turun tangan," balas kakaknya kini yang suaranya sudah tenang seperti biasa.
Shi Huan mengangguk lalu menatap para tetua yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka, Shi Huan menatap mereka dengan tajam lalu berkata dengan arogan, "Apa kalian tidak mendengar pembicaraanku dengan kakakku tadi?"
"Kami dengar Patrick!" jawab mereka serempak dengan tubuh bergetar.
Mendengar jawaban mereka semakin menyulut emosi Shi Huan, "Jika kalian dengar, mengapa kalian hanya diam saja seperti patung. Cepat selidiki mereka, apa kalian harus membuatku marah dulu baru kalian bertindak!" teriak Shi Huan dengan muka merah, ia terlihat ingin memakan mereka semua.
Mendengar teriakan dan amarah Patrick Shi Huan tanpa berlama-lama mereka semua langsung bergerak keluar dengan cepat, mereka terlihat berlomba-lomba untuk keluar.
Tak lama setelah mereka keluar, Kakaknya Shi Huan langsung berkata, "Aku akan kembali berkultivasi dulu untuk meningkatkan kekuatanku, jika ada apa-apa yang tidak bisa kau hadapi, hubungi langsung aku dan ingat jangan bertindak sebelum berpikir karena kau satu-satunya adikku dan aku tidak ingin kau kenapa-kenapa!"
Mendengar suara kakaknya yang tegas, Shi Huan langsung menjawab, "Baik Kakak aku pasti akan berpikir dulu sebelum bertindak dan akan menghubungimu kalau aku tidak bisa menghadapi masalah ini seorang diri."
__ADS_1
Mendengar jawaban tegas dari Shi Huan, ia langsung melesat pergi, melihat kakaknya pergi Shi Huan langsung masuk ke dalam.