
“An'Gege,” teriak Mu Xia'er langsung berlari memeluk Bai An.
“Eeh,,”
Bai An yang masih setengah tersadar tentu saja kaget, karena tumben Mu Xia'er keluar ke dunia jiwanya.
“Xia'er apa yang kau lakukan di sini?” tanya Bai An dengan wajah bingung.
“Hmm,, tentu saja menunggu mu sadar,” jawab Mu Xia'er dengan cembrut, namun Bai An melihat wajah Mu Xia'er seperti itu sangatlah imut.
Bai An langsung mencubit pipi Mu Xia'er, “Imutnya istri Gege,” kata Bai An.
“Um,, Um,, ini sakit An Gege,” kata Mu Xia'er mendorong tangan Bai An, dan langsung mengelus-elus pipinya dengan wajah cemberut.
Bai An langsung tersenyum, “Mimpi apa aku semalam?” gumam Bai An dalam benak nya bertanya-tanya.
“Ehem,, ehem,, Tuan Muda, apa kau tidak ingin makan?”
Saat sedang mersa-mersanya Mu Xia'er dengan Bai An, Lang Zai langsung menganggu.
“Eeh, aku lupa jika disini masih ada saudara Lang Zai, Pixiu dan Luan'er,” ucap Bai An tersenyum malu.
“Guru, ayo makan dulu, ntar kehabisan soal ini tinggal satu,” seru Bai Luan.
Bai An langsung memandang ke arah asal suara dan mengangguk kepada Bai Luan.
“Xia'er kau sudah makan?” tanya Bai An yang menarik tangan Mu Xia'er sambil berjalan ke tempat Lang Zai, Pixiu dan Bai Luan.
“Sudah Gege, aku sudah makan 2 ayam bakar tadi,” kata Mu Xia'er cengengesan.
__ADS_1
Bai An yang mendengar itu tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Setelah sampai, Bai An dan Mu Xia'er langsung duduk bersama yang lain dan mulai makan ayam bakarnya.
“Ehem, saudara Lang Zai, apa yang terjadi saat aku pingsan?” tanya Bai An sambil memakan paha ayam goreng.
“Makan dulu baru bertanya Gege, itu di mulutmu masih penuh ayam bakar,” kata Mu Xia'er sambil mencubit pinggang Bai An.
“Aw,, Aw,, geli Xia'er.” Bai An langsung menggaruk-garuk pinggangnya.
Bai Luan, Lang Zai, Pixiu dan terutama Mu Xia'er langsung tertawa melihat kelakuan Bai An.
Bai An yang di tertawakan malah ikut tertawa lebih keras, mereka semua langsung ikut tertawa, mereka semua tidak pernah merasa sebahagia ini, terutama Mu Xia'er yang kehidupannya sangat menyedihkan.
Setelah selesai makan dan bercanda ria, Bai An langsung mengulang pertanyaannya kembali karena ia cukup penasaran apa yang terjadi.
“Xia'er kau pasti yang paling tahu dari kita semua. Apa yang terjadi saat aku pingsan dan berapa lama aku pingsan?” tanya Bai An yang kini sedang di peluk lengannya oleh Mu Xia'er.
Bai An langsung mengacak-acak rambut Mu Xia'er, “Kau imut sekali saat cembrut," kata Bai An gemas dan ingin memegang pipi Mu Xia'er.
“Gege, saat kamu pingsan kita semua langsung membawamu pergi dan kita semua tidak tahu apa yang telah terjadi disana,” kata Mu Xia'er lalu membahkan, “Tapi entah mengapa orang yang Gege lawan tadi termasuk dua orang yang melawan Lang Zai dan Pixiu tiba-tiba pergi, aku curiga ada maksut mereka.”
Mu Xia'er sengaja berbohong kepada Bai An, agar ia tidak terlalu terlena karena ada orang-orang kuat di sekelilingnya, jika Bai An tahu. Maka, ia takut Bai An akan malas berlatih nanti.
Bai An yang mendengar hal tersebut langsung mengangguk dan matanya kini membara, “Aku akan membalas kekealahan ini,” gumam Bai An dalam benaknya.
Sedangkan Lang Zai, Pixiu, dan Bai Luan yang mengetahui jika Mu Xia'er berbohong hanya tersenyum pahit melihat kepolosan Bai An yang percaya saja tanpa banyak tanya.
Setelah itu mereka berbincang-bincang dan bercanda tawa hingga Mu Xia'er meminta izin masuk ke dalam dunia jiwa, karena hanya itu batasannya.
__ADS_1
“Gege, ini sudah 5 jam aku berada di dunia nyata dan hanya inilah batas wujud ku di dunia nyata saat menjadi manusia, aku akan masuk dulu,” kata Mu Xia'er melalui pikiran Bai An.
Bai An menjadi sedih saat mendengar itu, ia sangat senang dan bahagia bersama Mu Xia'er saat ini dan dengan terpaksa Bai An mengangguk.
Melihat kelakuan Bai An, Mu Xia'er langsung memeluknya, “Ada kalanya kita bisa bersama selamanya, tunggulah saat dimana itu akan terjadi,” bisik Mu Xia'er lalu menghilang dari pelukan Bai An.
Bai Luan, Lang Zai dan Pixiu yang melihat kedekatan Mu Xia'er dan Bai An cukup terharu, tapi mereka tetap diam saja, karena tidak ingin mencampuri urusan sepasang kekasih tersebut.
Bai An langsung menggemgang erat tangannya lalu menghela nafas, kemudian ia melirik Bai Luan, Lang Zai dan Pixiu.
“Kita akan berangkat pagi hari, aku ingin mencari kota lebih dulu dan membeli beberapa sumberdaya untuk meningkatkan kekuatanku,” kata Bai An kepada ketiga orang di depannya, sambil melihat isi cincin penyimpanannya, ia melihat harta pemberian ayah dan kristal hasil rampasan Cen Tian dulu hanya ad beberapa, ia berpikir apakah ini cukup untuk membeli beberapa pil.
Melihat wajah Bai An yang terlihat agak pahit, dengan cepat Lang Zai berkata, “Ehem,, Tuan Muda, kalau sumberdaya kami ada beberapa dan juga beberapa harta rampasan dari markas Teratai Hitam.”
Mata Bai An langsung menyala saat mendengar itu, “Mana?” kata Bai An langsung menyodorkan tangannya.
Lang Zai langsung menyodorkan cincin penyimpanan bewarna putih kemerahan, Bai An langsung mengambilnya dan melihat isinya.
Betapa senangnya Bai An melihat tumpukan kristal tingkat tinggi, kristal tingkat menengah yang bertumpuk sebesar bukit dan kristal tingkat rendah yang bertumpuk sebesar gunung.
Bai An juga melihat beberapa sumberdaya yang jarang ia lihat, dan saat ingin membuat sebuah pil ia langsung tersenyum pahit, karena ia hanya bisa membuat pil pil tingkat rendah sebatas Alam Fana saja, untuk pil pil tingkat tinggi ia masih belum bisa karena elemen apinya masih berada di tingkat 1.
Namun Bai An langsung tersenyum, “Jika aku masih belum mampu membuat pil tingkat tinggi, ya aku tinggal membelinya saja di kota, apa gunanya harta rampasan ini,” gumam Bai An semangat dan tidak sabar mencapai kota.
Kemudian Bai An melirik Lang Zai, “Saudara Lang, terimakasih telah merampas harta ini, ini sangat berguna bagi kita untuk membeli pil untuk berkultivasi meningkatkan kekuatan kita,” kata Bai An.
“Tuan Muda tidak perlu berterimakasih, ini juga atas saran junior Luan,” kata Lang Zai sambil tersenyum.
Bai An kemudian melirik Bai Luan, “Terimakasih Luan'er,”
__ADS_1
“Guru tidak perlu berterimakasih, ini juga untuk kebaikan kita juga, kan kita tidak ada uang untuk membeli apa-apa jika di kota nanti, jadi aku menyuruh senior Lang Zai untuk menjarah harta musuh kita saja,” seru Bai Luan dengan semangat.
Melihat semangat Bai Luan, Bai An langsung tersenyum, tak lama kemudian, sinar matahari tiba-tiba terbit menyinari tempat mereka berkumpul.