
Sore hari,,
Bai An kini akan melanjutkan perjalanan lebih dulu dan meninggalkan Yu Fen bersama para prnduduk.
“Kek,, kami akan lebih dulu berangkat untuk mencarikan beberapa rumah untuk kalian semua nanti. Yu Fen dan Kakek Chu yang akan menjaga kalian selama di perjalanan nanti,” kata Bai An tersenyum hangat.
“Benar kek,, beritahu aku jika dia menyakiti para penduduk, maka aku akan mematahkan tulang-tulangnya.” Li Xue ikut menambahkan sambil menunjuk Yu Fen yang kini berkeringat dingin.
“Yakin lah Xue'er, aku akan menjaga mereka dengan sepenuh hati.” Yu Fen langsung mencoba meyakinkan.
“Eeh,, siapa yang memberimu izin memanggil ku dengan panggilan akrab? Haah,,”
Mendengar itu semua penduduk kembali tersenyum penuh hari melihat kebaikan mereka semua.
“Terimakasih Tuan Muda, Nona.” Kepala desa maju lalu memeluk Bai An dengan tangis haru.
Para penduduk juga ikut semua berterimakasih. Lang Zai dan Pixiu ikut terharu juga melihat kejadian di depan mereka.
Sedangkan Chu Jia kini memeluk Kakeknya dengn mata berkaca-kaca, ia seperti enggn untuk berpisah. Namun terlihat kakeknya mencoba untuk meykinkan.
Beberapa saat kemudian.
Bai An telah memberikan salam perpisahan dengan para penduduk, kini Bai An, Lang Zai, Pixiu, Lin Xue dan Chu Jia yang di gendong oleh Pixiu sedang melesat di kesunyian hutan.
Wuss,,
Wuss,,
Bai An dan yang lainnya terus melesat dengan santai, walau mereka terlihat berlari, namun jika di lihat dengan teliti. Maka, mereka terlihat tidak menginjak tanah.
Lin Xue terlihat memimpin di depan karena ia lah yang mengetahui arah.
Matahari terlihat terbenam, saat melihat malam akan tiba. Lin Xue tiba-tiba berhenti.
“An'er ini sudah mau malam, kita istirahat dan cari makan dulu aku sudah lapar,” kata Lin Xue sedikit mengeluh.
Bai An langsung menggelengkan kepala. “Bukankah tadi kita telah makan di desa?, apakah secepat itu kau lapar Bibi?, dan juga apakah Bibi tidak takut gemut?”
Bai An cukup heran dengan perut Lin Xue yang selalu lapar.
“Kau ini mendoakan Bibi mu gemuk ya?” Lin Xue kesal saat mendengar kata gemuk, ia langsung berdecak pinggang.
Bai An langsung tersenyum kecut, ia sadar salah bicara, karena wanita sangat sensitif dengan kata-kata gemuk.
__ADS_1
“Ya sudah, kau menyiapkan bumbu, kami bertiga akan mencari kayu bakar dan hewan buruan,” kata Bai An langsung melesat pergi bersama Lang Zai dan Pixiu, untuk menghindari Lin Xue yang sedang marah.
Lin Xue langsung mendengus, ia melirik Chu Jia yang terlihat kelelahan dan bersandar di tepi pohon.
“Jia'er apa kau kelelahan, jika kau lelah maka tidurlah, Bibi Xue akan menyiapkan bumbu dulu. Nanti jika makanan telah siap Bibi akan membangunkanmu.”
Chu Jia mengangguk lemah dan tak lama tertidur.
Saat ini Bai An mencari beberapa ayam hutan atau hewan apa saja yang penting bisa untuk di makan.
Bai An tiba-tiba berhenti, ia langsung mencari tempat yang nyaman untuknya melihat semua isi cincin penyimpanan yang ia jarah saat di restaurant.
Untuk harta jarahan yang di markas musuh kemarin malam, Lang Zai masih memegangnya.
Bai An kemudian mengeluarkan total 40 cincin penyimpanan. “Eeh,, aku tak tahu jika ada sebanyak ini,” gumam Bai An cukup bingung.
Karena tak ingin terlalu memikirkannya, ia langsung mengeluarkan isi cincin penyimpanan tersebut.
Harta yang Bai An dapat cukup banyak, ia kini sedang tersenyum-senyum sendiri.
Saat Bai An memasukkan kristal tingkat tinggi, menegah dan rendah, ia melihat masih banyak beberapa sumberdaya yang cukup ia kenal.
Walaupun ini petama kalinya Bai An melihat sumberdaya ini secara langsung, namun ia tahu dari Mu Xia'er yang memberikannya beberapa pengetahuan tentang sumberdaya di dunia ini. Namun tidak semua sumberdaya yang di beritahu oleh Mu Xia'er.
Ada juga beberapa sumberdaya tingkat tinggi yang Bai An tidak mampu buat menjadi pil, karena elemen Apinya hanya tingkat 2, ia sebenarnya bisa menggunakan Api Emas atau Xia'er, namun Bai An tidak akan tega menggunakan Mu Xia'er.
Bai An memisahkan beberapa yang akan ia jual dan tidak, rencananya Bai An juga akan membuat beberapa Pil level 6 menengah untuk meningkatkan kekuatannya.
Di dunia ini berbeda dengan Dunia Bai An tempati dulu.
Disini Pil 10 adalah yang terendah dan pil level 1 adalah yang tertinggi.
Pil Level 10 disini sama dengan pil tingkat kuno di dunia Bai An.
dan tingkatannya yaitu, Awal, Menengah, Ahir, Sempurna.
Setelah memisahkan, mata Bai An tak sengaja melihat sebuah panah yang terlihat mengkilat. Walaupun semua senjata terlihat bagus namun mata Bai An tetap tertarik dengan panah bewarna kuning emas tersebut.
Bai An langsung mengalihkan semua pedang yang bertumpukan, karena panah tersebut berada di paling bawah.
Wuss,,
Mu Xia'er tiba-tiba muncul dengan mata bersinar.
__ADS_1
Baru saja Bai An memegang panah tersebut, panah tersebut langsung di rebut oleh Mu Xia'er.
Bai An langsung tersenyum kecut. Tapi saat melihat wajah bahagia Mu Xia'er, ia langsung bingung.
“Xia'er apa kau tahu panah ini? sehingga kau sebahagia ini.”
Mendengar pertanyaan Bai An. Mu Xia'er langsung mengangguk, ini panah pertama ku dan panah yang paling aku sayangi.” Mu Xia'er menjawab namun tidak melirik Bai An sama sekali.
Kini Mu Xia'er sedang fokus dengan panahnya.
Bai An langsung mengangguk, kemudian mencari beberapa senjata tingkat tinggi yang tidak berguna untuk ia jual di pelelangan nanti.
Setelah itu Bai An langsung melirik Mu Xia'er dan berkata, “Xia'er aku akan berburu sebentar.”
Mu Xia'er mengangguk dan melirik Bai An.
Mu Xia'er langsung mengerutkan keningnya saat melihat panah tingkat 9 awal yang ia pegang.
“An'Gege, perasaan kau tidak bisa menggunakan panah, terus kenapa kau masih membawanya?”, tanya Mu Xia'er sedikit penasaran karena Mu Xia'er tidak bisa membaca pikiran Bai An.
Bai An langsung terkekeh kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku ingin belajar memanah dan langsung mencobanya saat berburu.”
“Memanah tidak segampang yang kau pikirkan An'Gege, kuncinya bukan hanya fokus saja tapi juga keyakinan dan masih banyak lagi, coba saja kalau kau tidak percaya,” kata Mu Xia'er langsung masuk ke dalam dunia jiwa.
Bai An langsung tersenyum kecut, “Apakah kau bisa mengirimkan buku dasar tentang cara memanah? Xia'er,” kata Bai An melalui pikiran.
“Coba saja dulu memanah, aku ingin melihat cara Gege memegang panah nanti.”
Bai An langsung melesat dan tidak bicara lagi, ia terlihat semangat.
Wuss,,
Jlep,,!
Wuss,,
Jlep,,!
Saat ini Bai An sudah 300 kali lebih melesatkan anak panahnya namun apa yang terjadi? Bai An pertama kali memanah ia terlihat percaya diri, dan saat ia yakin akan mengenai kelinci tersebut dari jarak 100 meter.
Panah Bai An langsung membengkok jauh berjarak 30 meter dari buruannya.
Hal itu membuat Bai An langsung melesatkan anak panahnya lagi karena merasa tidak percaya hingga panah ke 300, panahnya tidak bisa mendekati buruannya dalam jarak 20 meter.
__ADS_1