
Setelah cukup lama berada di hutan yang Bai An dan para saudaranya tidak mengetahui nama hutan tersebut.
Kini mereka sedang asik berbincang-bincang sambil menunggu Assasint tersebut selesai memulihkan dirinya.
Saat Bai An ingin mengatakan sesuatu, ia langsung diam sambil mengangkat tangan untuk isyarat agar mereka tidak ribut.
Srek srek..!!
Pixiu dan Lang Zai juga dapat mendengarnya. Walau lokasi bunyi itu cukup jauh dari mereka, tapi pendengaran mereka sangat tajam.
“Hmm..!! Arah sana,” tunjuk Pixiu dan Lang Zai bersamaan.
Mereka semua lalu saling melirik satu sama lain. “Siapa yang menjaga Saudara Tu Long dan Assasint ini?” Tanya Bai An.
“Hmm..!! Bagaimana jika Tuan muda saja yang tinggal, kami berdua yang kesana,” usul Labg Zai.
“Tidak bisa, Tuan muda harus ikut, siapa tahu itu adalah saudara kita atau musuh, jadi lebih baik kau yang tinggal, aku bersama Tuan muda yang pergi,” kata Pixiu mengutarakan niatnya.
“Heh,, daripada kalian ribut, lebih baik aku sendiri yang kesana,” kata Tu Long yang terlihat masih mabuk.
Bai An yang mendengar perdebatan mereka langsung berkata. “Bagaimana jika kita undi, siapa yang namanya keluar lebih dulu dia yang berjaga.”
Mendengar usulan Bai An, Lang Zai dan Pixiu mengangguk setuju.
Setelah mengeluarkan tinta dan pena, lalu menulis nama masing-masing di daun.
Mereka langsung mengundinya.
“Haha,, benar dugaanku jika kau yang akan berjaga saudara Lang Zai,” kata Pixiu tertawa mengejek.
Lang Zai langsung mendengus kesal.
Setelah itu, Bai An dan Pixiu langsung menghilang dari tempatnya.
Wuss..!!
Tak jauh dari lokasi asal suara, Bai An dan Pixiu muncul.
“Hmm..!! Siapa yang mengejar Gi Lian?” Gumam Bai An heran.
Setelah merasakan 10 aura Dewa Abadi Tingkat Dewa Merah ⭐ 3 Puncak. Bai An langsung merobek ruang.
“Ayo masuk, uang saku kita sedang datang kesini,” ajak Bai An.
“Tapi,, aku takut ini jebakan,” kata Pixiu ragu.
“Mau jebakan atau tidak aku tidak peduli, selagi kita kuat dan mampu melawan mereka, mengapa harus takut,” kata Bai An langsung masuk, di susul Pixiu.
Wuss..!!
Bai An langsung menarik 4 busur anak panahnya.
Wuss..!!
Jlep..!!
Trank trank..!!
__ADS_1
Tak berhenti sampai di sana, Bai An kembali menarik busuh panahnya ke arah orang yang paling dekat dengan Gi Lian.
Wuss..!!
Orang berjubah hitam tersebut langsung mundur sambil mengayunkan pedangnya.
Trank..!!
“Siapa kalian? Kalian tidak usah ikut campur urusan kami atau,” belum sempat orang berjubah hitam dengan topeng merah selesai bicara, ia langsung merasakan krisis hidup.
Dengan cepat orang berjubah topeng merah mengayunkan pedangnya ke arah belakang.
Terlihat energi berbentuk cakar melesat ke arahnya.
Bam..!!
Orang berjubah hitam topeng merah langsung terpental, Gi Lian yang melihat adanya kesempatan langsung mengayunkan pedangnya.
Seketika tercipta bunga mawar lalu melesat ke arah orang berjubah hitam topeng merah.
Bam..!!
Orang bertopeng merah langsung terpental, Pixiu langsung mengayunkan cakarnya.
Crash..!!
Tubuh orang bertopeng merah langsung terbelah.
Sementara di tempat Bai An kini musuhnya tersisa hanya satu orang saja.
Bai An langsung muncul di samping orang bertopeng hitam.
Wuss..!!
Jlep..!!
Bam..!!
Kepala orang bertopeng hitam langsung hancur menjadi bubur.
Setelah itu Bai An menembakkan anak panahnya kembali ke arah hewan kecil yang cukup unik.
Wuss..!!
Jlep..!!
Bam..!!
Tubuh hewan berjenis burung tersebut tidak dapat menghindar.
Sementara jauh di Kota Li,, orang-orang berkumpul termasuk leluhur klan Gi berbadan kekar.
Saat layar terbuat dari batu mulia untuk melihat kejadian dari jarak jauh langsung gelap.
Semua orang marah.
“Akhh,, burung peliharaanku, aku akan membunuh orang tersebut karena berani membunuh burung peliharaanku,” kata patriark Du menggeram marah dengan sombong.
__ADS_1
Patriark Mu dan patriark Qin hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat melihat sifat keras dan semberono dari patriark Du.
“Siapkan pasukan, hancurkan klan Gi beserta anggotanya tanpa sisa,” kata Patriark Du melirik ke arah Gi Bang.
“Leluhur Gi Bang, kaulah yang akan memimpin pasukan, sementara aku dan para patriark akan mencari Gi Lian dan orang-orang yang membantunya,” kata Patriark Du.
“Heh,, siapa kau mengaturku dengan sesukamu, jika ingin kau pergi saja sendiri dengus patriark Qin dan Patriark Mu secara serempak.
Patriark Du langsung mengerutkan keningnya. “Apakah kau melupakan perjanjian kita?” Kata Patriark Du mencoba menahan amarah.
“Kau sendiri saja, kami bukan tikus yang kau atur sesuka hati, jika kau ingin berperang ayo,” tantang Patriark Qin mengeluarkan auranya.
Patriark Du langsung ciut, di antara semua patriark, ia adalah yang terlemah walau kekuatan tingkatan mereka setara.
Terlebih lagi leluhur klan Qin dan klan Mu lebih banyak dari klannya, jika ia berperang dapat di pastikan ia akan mati mengenaskan.
Namun karena kesombongan dan ke angkuhannya ia selalu mengatur kedua patriark karena menurutnya ia paling berkuasa, itu karena wilayah klan Du lebih luas dari kedua klan sekutunya.
“I.. Itu maafkan aku patriark Qi, patriark Mu, aku terbawa suasana sehingg lepas kendali,” kata patriark Du berpura-pura minta maaf.
Tapi di dalam hatinya, jika klan Gi hancur, rencananya ia akan menghancurkan klan Qin dan klan Mu.
Tuannya juga Kaisar Dewa Sesat telah menyuruhnya mengkambing hitamkan kelompok Bai An lah yang menhancur kedua klan dari pengikut Kaisar Dewa Jahat dan Kaisar Dewa Kegelapan.
Patriark Qin dan patriark Mu mendengus kesal. “Baiklah, untuk kali ini kami akan memaafkanmu, tapi jika kau mengulangnya lagi, tunggu saja kehancuran klan mu,” ancam patriark Qin.
Patriark Du hanya bisa mengangguk untuk saat ini, tapi dalam hatinya ia mengatakan. “Akulah yang akan menghancurkan kalian berdua.”
Setelah itu ketiga patriark sepakat akan menyerang Bai An dan saudaranya di Hutan Tanpa Nama sambil menangkap Gi Lian.
Untuk Gi Bang, ia di suruh menyerang Klan Gi.
Mereka langsung berangkat sore itu juga. Tapi mereka tak tahu jika mereka pergi mengantarkan nyawa dan harta mereka saja.
..._______________...
Di tempat Bai An, ia kini sedang mengumpulkan hasil jarahannya sambil membakar kesepuluh mayat berjubah hitam yang menggunakan topeng.
Sementara Gi Lian langsung maju dengan malu-malu.
“Tu.. Tuan, terimakasih telah menyelamatkanku,” kata Gi Lian menunduk hormat.
Rasa hormat Gi Lian kepada Bai An kini bertambah, jika Bai An dan saudaranya tidak datang, ia yakin akan langsung mati atau tertangkap.
Bai An melambaikan tangannya santai. “Tidak perlu minta maaf, aku sudah bilang kepadamu kemarin sekarang bagaimana? Apakah kau setuju dengan syarat yang aku ajukan,” kata Bai An langsung ke intinya.
Gi Lian mengangguk setuju. “Iya tentu saja kami semua setuju, karena kami juga lebih mementingkan persaudaraan,” jawab Gi Lian malu-malu.
Bai An langsung terkekeh. “Walau umurmu lbih tua dariku, mulai sekarang aku adalah kakakmu, panggil saja aku An Gege, karena namaku Bai An,” kata Bai An mengusap rambut Gi Lian.
Wajah Gi Lian langsung cemberut.
..._________...
Mulai besok Author mungkin tidak bisa update 3 chapter lagi selama beberapa hari, karena kondisi Author saat ini kurang fit.
Tapi Author akan tetap berusaha update minimal 2 chapter.
__ADS_1
Jika Author sehat, author janji akan menggantinya dengan crazy up minimal 4 chapter sehari.
Terimakasih 🙏🙏🙏