Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Ketakutan Energi Semesta Bai An


__ADS_3

Tubuh keempat orang berjubah putih seketika terpotong-potong menjadi ratusan daging cincang.


Bai An yang melihat itu tertegun.


Tapi bukan cara membunuhnya yang membuat Bai An tertegun, tapi ia dapat melihat sekilas energi yang berbentuk sama dengan Hu Qia.


“Apakah?” Gumam Bai An terhenti saat merasakan energi semestanya meminta ia pergi secepat mungkin dari sini.


Bai An tidak langsung pergi, ia langsung melesat ke arah keempat mayat orang berjubah putih.


Saat melihat cincin penyimpanan tergeletak di tanah, dengan cepat Bai An memungutnya dengan bahagia.


“Haha,, aku kaya, isinya pasti harta tak terhingga,” kata Bai An dengan cukup keras.


Setelah itu ia melirik ke arah orang yang membantunya.


“Terimakasih senior karena telah membantu orang lemah dan miskin ini,” kata Bai An lalu melangkah pergi ke arah timur.


Wuss..!!


Tap tap..!!


Bai An langsung di hadang oleh Hu Qia.


“Siapa yang mengizinkanmu pergi,” kata Hu Qia dengan nada dingin.


Glek..!!


Bai An menelan ludahnya dan mundur secara perlahan.


“A.. Apa maksud senior?” Kata Bai An bertanya.


“Heng,, tidak usah berpura-pura, aku tahu kau menyembunyikan kekuatanmu dan sengaja memancing mereka ke tempatku agar aku membantumu,” kata Hu Qia maju secara perlahan.


Sementara Bai An mundur.


“Aku tidak mengerti maksud anda senior, merasakan kehadiran seniorpun aku tidak bisa,” kilah Bai An.


“Terus kenapa kau langsung pergi setelah mendapat harta itu, apa kau kira itu milikmu,” dengus Hu Qia.


“Heh,, tentu saja ini milikku, apa kau tidak lihat aku memegangnya, itu berarti milikku, tapi saat mereka memegangnya tadi sebelum jadi milikku, tentu saja itu milik mereka.” Kata Bai An dengan polos.


“Heng,, berikan, itu punyaku karena akulah yang membunuhnya,” kata Hu Qia menyodorkan tangannya.


“Enak saja, siapa cepat dia yang dapat,” kata Bai An langsung menggenggam erat keempat cincin yang ia dapat.


Dahi Hu Qia langsung berkerut.


“Aku bilang berikan, jika tidak aku akan menghajarmu,” dengus Hu Qia dengan nada dingin.

__ADS_1


Bai An tersenyum tipis, ia langsung membuka jubahnya lalu memasang wajah serius.


“Apa maksud kedatanganmu ke dunia ini?” Kata Bai An dengan nada dingin lalu menambahkan. “Aku yakin orang sekuat dirimu tidak mungkin datang ke dunia atau alam semesta terendah ini.”


Raut wajah Hu Qia langsung berubah.


“Kau akhirnya mau menjadi serius juga,” kata Hu Qia tersenyum tipis di balik tudung dan cadarnya, suara aslinya pun ia keluarkan.


Bai An yang mendengar suara lembut tersebut sempat tertegun hanya beberapa detik kemudian kembali normal.


Namun Hu Qia melihat jelas ekspresi Bai An yang tertegun, hal itu membuat Hu Qia sedikit senang dan bangga.


Lalu Hu Qia perlahan membuka tudungnya.


Wuss..!!


Angin entah datang dari mana menerpa wajah Bai An saat Hu Qia membuka tudungnya.


Pandangan mata Bai An langsung tertuju ke arah wajah di balik cadar Hu Qia.


“Sangat cantik,” gumam Bai An secara spontan.


“Cantik apanya?” Kata Hu Qia dengan nada dingin.


“Tentu saja wajahmu itu sangat cantik dan alami, tapi sayang bukan milikku,” kekeh Bai An secara terang-terangan.


Wajah Hu Qia sedikit memerah saat mendengar sebuah pujian dari Bai An. Tapi ekspresinya langsung berubah saat mendengar kata bukan milikku.


“Kenapa?”


Tanpa sadar Hu Qia bertanya.


“Karena aku yakin kau datang kesini untuk membunuhku, aku tidak tahu siapa yang mengirim mu, tapi kembalilah dan beritahu orang itu jika ia tidak perlu mengirim pembunuh, itu akan membuat ia kekurangan banyak pasukan nantinya, karena aku akan membunuh setiap orang yang datang kepadaku dengan niat jahat.” Kata Bai An dengan nada dingin.


Hu Qia langsung terdiam, bukan masalah membunuhnya yang membuat Hu Qia terdiam, tapi karena ia di sini memang musuh Bai An, hal itu membuat ia agak canggung.


“A.. Apakah aku bisa mengikutimu?” Tanya Hu Qia tiba-tiba dengan nada canggung.


Dahi Bai An berkerut. “Berikan alasan yang logis kenapa kau ingin mengikutiku?” Tanya Bai An dengan nada penasaran.


“I.. Itu karena aku menyukaimu, tapi aku tak tahu apakah itu suka atau cinta, karena hatiku selalu berdetak kencang saat di dekatmu,” jawab Hu Qia canggung.


Bai An yang mendengar itu langsung menghela nafas panjang.


“Pulanglah dan cari laki-laki lain, karena aku sudah mempunyai istri dan itriku sudah menungguku di rumah,” kata Bai An langsung membalikkan badannya melesat ke arah timur.


Namun saat Bai An baru bergerak seratus meter, sebuah serangan datang dari belakangnya.


Bai An langsung melompat lebih tinggi, saat menghindar, Bai An melihat sebuah pedang energi yang sangat indah menabrak tanah.

__ADS_1


Bom..!!


Seketika hutan tempat Bai An dan Hu Qia langsung berguncang hebat.


Pandangan mata Bai An langsung tajam menatap ke arah Hu Qia.


“Jika aku tidak bisa bersamamu, maka aku juga tidak memberikanmu izin untuk bersamanya,” kata Hu Qia dengan nada dingin.


“Sungguh egois mementingkan dirimu sendiri,” dengus Bai An langsung mengeluarkan pedangnya saat melihat Hu Qia sudah di depan matanya sambil mengayunkan pedangnya.


Bai An dengan santai mengayunkan pedangnya.


Trank..!!


Bai An dan Hu Qia langsung mundur.


“Aku sudah menduga jika kekuatanmu tidak sesederhana yang terlihat,” kata Hu Qia, lalu menambahkan. “Aku mengira kekuatanmu tadi saat bertukar ayunan, kau ada di ranah Kaisar Immortal.”


Bai An yang mendengar itu hanya diam, karena energi semesta Bai An tetap menyuruhnya untuk pergi dan jangan menggunakan energinya untuk bertarung.


“Jika seperti ini aku pasti akan di tangkap, karena saat ini aku belum bisa menggunakan energi semesta, entah mengapa energi semestaku begini, tapi ini untuk kebaikanku juga,” gumam Bai An dalam hati.


Bai An berusaha berpikir licik sehingga ia mengeluarkan senyum mesum sambil melirik ke arah dua gunung Hu Qia.


Hu Qia yang menyadari itu langsung berteriak. “Apa yang kau lihat mesum,” kata Hu Qia sambil menutupi kedua gunungnya menggunakan kedua tangannya.


Saat melihat ada kesempatan, Bai An melesat dengan cepat ke arah Hu Qia.


Wuss..!!


Bai An muncul di depan Hu Qia hanya beberapa Cm.


Dengan cepat Hu Qia mencoba mundur, namun tangan Bai An lebih cepat memegang erat pinggang Hu Qia.


Wajah Hu Qia langsung memerah, dan ia merasakan tenaganya seolah tidak ada untuk melawan dekapan Bai An.


“A.. Apa yang kau lakukan mesum, cepat lepaskan,” teriak Hu Qia dengan nada kecil sambil menepuk dada Bai An berusaha lepas.


Bai An langsung mendekatkan kepalanya ke leher Hu Qia sambil menjilatnya lehernya.


Ah..!!


Suara erangan Hu Qia langsung terdengar.


Padahal Bai An hanya menjilat sekali terus berbisik.


“Katanya kau menyukaiku dan ingin bersamaku, jadi tidak apa-apa bukan jika aku ingin menikmati tubuhmu sayang,” bisik Bai An.


Tubuh Hu Qia langsung bergetar keras, tak lama ia mengeluarkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2