
“Baiklah, lebih baik kita saling mengenal lebih dulu, namaku adalah Bai An.” Kata Bai An dengan nada santai.
Hu Qia terdiam, ia menatap ke wajah Bai An lekat-lekat.
“Hmm..!! Jika di perhatikan dengan teliti kau ternyata sangat jelek,” dengus Hu Qia tiba-tiba.
Bai An mengangkat alis sambil tersenyum lebar. ”Terus kenapa kau mau dengan pemuda jelek ini?” Kekeh Bai An.
Hu Qia mendengus sambil mengalihkan wajahnya ia menjawab. “Itu karena kau merengut kesucian ku.” Nada suara Hu Qia sangat dingin.
Bai An semakin terkekeh, ia tahu Hu Qia berkilah karena malu jika seorang wanita lebih dulu mengungkapkan perasaannya.
Jadi Bai An kini mulai diam karena tak ingin memperpanjang masalah, ia tahu wanita jenis Hu Qia ini sangat sulit mengalah.
Melihat Bai An diam, Hu Qia diam-diam tersenyum senang karena merasa menang.
“Nama ku Hu Qia, klan ku adalah Hu,” kata Hu Qia kini merasa agak baikan.
Bai An mengangguk-angguk, sambil melirik ke arah Hu Qia.
Awalnya Bai An ingin bertanya mengapa ia di incar, tapi karena merasa waktunya kurang cocok. Bai An kini bertanya ke hal lain.
“Dari umurmu, kita memiliki usia yang sama, tapi tingkat kultivasimu jauh lebih tinggi dariku, sungguh jenius,” kata Bai An memuji dengan tulus.
Hu Qia hanya diam, karena tahu arti pujian Bai An.
“Heng..!! Jika kau ingin, kau harus menikahiku lebih dulu, aku tak ingin melakukan hal tadi lagi sebelum menikah, dan juga pujianmu itu sungguh tak berarti bagiku,” dengus Hu Qia.
Bai An mengangkat alisnya sambil bergumam. “Wanita ini sungguh jeli juga, ia tahu jika aku ingin lagi, dan juga entah mengapa aku jadi ketagihan? Apa karena ini pertama kalinya bagiku ya?” Bai An bertanya-tanya dalam hatinya.
Jika Hu Qia tahu hal ini, maka ia akan memukul kepala Bai An.
Karena ia tadi malam melayani Bai An sudah berkali-kali, ia sungguh tidak kuat, ia ingin berhenti tapi ia tidak punya tenaga untuk bicara.
Saat ini Hu Qia berpikir, apakah bertanya atau tidak masalahnya ini, Hu Qia tahu siapa istri Bai An, walau Hu Qia jarang keluar dari alam semesta atau dunianya. Hu Qia memiliki banyak sekali bawahan bagian informasi.
Termasuk sifat Mu Xia'er istri Bai An ini.
__ADS_1
“I.. Itu, apakah istrimu tidak akan marah jika ketahuan melakukan seperti ini?” Tanya Hu Qia memberanikan dirinya.
Mendengar itu, Bai An sedikit tegang. Tapi tak lama ia kembali normal lalu menjawab. “Untuk masalah itu bisa aku urus, tapi yang menjadi masalahnya adalah apa ia ingin menerimamu atau tidak.”
Hu Qia terdiam, saat Hu Qia ingin menjawab, tiba-tiba ia dan Bai An merasakan ada orang bertarung yang memiliki kekuatan jauh lebih kuat dari mereka.
“Ini,” kata Hu Qia dapat merasakan aura dari salah satu di antara kedua orang yang bertarung di langit.
Melihat Hu Qia berdiri, Bai An langsung berdiri sambil bertanya.
“Apakah kau tahu siapa mereka?” Tanya Bai An penasaran.
“Hmm..!! Aku hanya tahu salah satu dari mereka, ia adalah jendral terkuat milik klan Hu, tapi untuk yang satunya lagi aku tak tahu.” Jawab Hu Qia.
Bai An terdiam sambil berpikir. “Apakah mereka melihat kami melakukan hal semalam terus jendral dari klan Hu tidak terima lalu ingin turun membantumu?” Kata Bai An melirik ke arah Hu Qia.
Hu Qia mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu, jika ia ingin membantuku maka itu bisa dari semalam, tapi jika itu benar terjadi juga, maka siapa orang yang menghentikannya?” Jawab Mu Xia'er sambil melirik ke arah Bai An dengan pandangan tajam.
“Apakah itu pengikutmu?” Tanya Hu Qia curiga terhadap Bai An.
“Lantas mengapa ia bisa menghentikan jendral Hu?” Tanya Hu Qia kini sudah berada di depan Bai An sambil menatap tajam mata biru Bai An.
“Aku sudah bilang jika aku tak tahu, jika kau tak percaya kita lebih baik kesana untuk membuktikan, jika ia benar pengikutku maka kau bisa menikmati tubuhku dan jika ia benar-benar bukan pengikutku maka aku akan menikmati tubuhmu, bagaimana?” Kekeh Bai An.
“Enak saja, untungnya hanya di kamu, aku tidak mau,” kata Hu Qia menutup tubuhnya menggunakan kedua tangannya.
“Ya sudah jika kau tak mau maka kau harus melayaniku karena aku yang menang,” kata Bai An menyeringai kecil.
Hu Qia mendengus sambil mundur menjaga jarak saat Bai An ingin menarik pinggangnya.
“Baik jika aku yang benar maka aku akan mengulitimu hidup-hidup,” dengus Hu Qia.
“Baiklah, berarti kau menerima taruhanku,” kekeh Bai An.
Melihat senyum mesum Bai An, Hu Qia langsung jijik sambil bergumam. “Mengapa aku suka sama orang sepertinya?” Tanya Hu Qia dalam hati.
Saat melihat Bai An melesat, Hu Qia langsung mengejar dengan cepat.
__ADS_1
Wuss..!!
“Hei,, kenapa kau pegang begini, terlebih kau memegang lenganku terlalu erat, seolah kau takut aku kabur saja,” kata Bai An dengan kesal.
“Heng,, tentu saja aku takut, jika kau kabur, lalu apa kata anakku jika ia bertanya dimana ayahku,” dengus Hu Qia tak kalah kesal.
Bai An langsung menggelengkan kepalanya. “Wanita memang merepotkan,” gumam Bai An.
“Apa kau bilang? Coba ulangi,” dengus Hu Qia yang mendengar gumaman Bai An.
Bai An terkekeh ingin menjawab, namun Hu Qia langsung menutup mulut Bai An karena merasa tak enak.
Sambil melesat, Bai An dan Hu Qia kini tak sadar sudah akan sampai.
Mereka berdua kini berhenti lalu melirik dari kejauhan.
“Hmm..!! Yang mana orang yang kau maksud jendral klan Hu?” Tanya Bai An melirik ke arah dua orang yang sedang bertarung, terlihat pria berjubah merah dan rambut merah sedang tertekan oleh pria berambut biru berjubah hitam.
“Itu, orang yang berambut merah,” tunjuk Hu Qia.
Bai An melihat itu langsung melirik ke arah orang berambut biru.
“Hm..!! Rambutku sangat mirip dengannya, tapi aku tak mengenalnya,” kata Bai An dengan santai.
Hu Qia mengangguk sekilas karena tahu Bai An berkata jujur.
“Terus apakah kau ingin membantu jendralmu, aku merasa ia akan kalah jika terus seperti ini,” kata Bai An melirik ke arah Hu Qia.
Hu Qia langsung menggelengkan kepalanya. “Itu akan membuatnya semakin terbeban karena kita bukan lawan dari mereka,” jawab Hu Qia.
Bai An tersenyum lalu berbisik. “Jika begitu kita pergi saja, karena hutang taruhanmu belum kau lunasi.”
Wajah Hu Qia langsung memerah, lalu mendorong Bai An.
“Kau ini sangat mesum,” kata Hu Qia berteriak. Teriakan Hu Qia langsung di dengar oleh kedua orang yang sedang bertarung.
Seketika tatapan mata jendral Hu langsung mengarah ke arah Hu Qia dan Bai An.
__ADS_1