Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Rencana Manis Jing Ling


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu. Saat ini Bai An, Tu Long, Hei Niu, Jing Ling dan Fu Chen sedang duduk di bebatuan.


“Tuan muda, kenapa kita harus selalu lari dari kejaran mereka? Bukankah lebih baik kita langsung saja membunuh mereka semua,” tanya Tu Long sedikit heran.


Bai An langsung melirik Jing Ling. Jing Ling yang cukup pintar langsung mengangguk.


“Kita tidak perlu menghadapi mereka, walaupun aku tidak terlalu kenal seluruh daerah Gurun Kematian ini. Tapi aku cukup mengenal wilayah utara ini dengan baik. Kau akan mengetahuinya sebentar lagi, jadi tidak perlu bertanya,” kata Jing Ling santai.


Tu Long langsung mengangguk. Tentu ia tahu siapa Jing Ling sebenarnya sekarang. Ia tahu dari Hei Niu yang tidak sengaja mendengar nama Jing Ling di panggil Bai An. Untuk Bai An, ia memang telah mengetahuinya dari awal. Terlihat dari kekuatannya yang tidak bisa Bai An lihat.


Jing Ling juga selama di perjalanan ia cukup terbuka. Orangnya cukup periang dan sedikit nakal. Setelah Jing Ling terbuka kepada Bai An. Bai An cukup senang. Hanya karena sebuah arak ia bisa menarik Elf Suci yang di segani. Walau saat ini ia masih belum berguna dalam hal kekuatan. Tapi dalam hal kecerdasan Bai An mengakuinya. Bahkan ia bisa saja kalah.


Sementara untuk Fu Chen. Lukanya kini telah sembuh dan menjadi pelayan, Bai An juga telah memasang segel budak di tubuhnya. Pada awalnya Fu Chen selalu melawan, tapi lama-lama ia tunduk karena tidak kuat menahan rasa sakit yang selalu menggerogoti tubuhnya.


Terlihat Fu Chen menelan ludahnya sendiri, saat menuangkan arak kepada Jing Ling. Fu Chen pernah mencicipi sisa arak yang telah habis, dan rasanya membuatnya ingin meminumnya lagi, tapi sayang arak tersebut sudah habis.


Bai An yang melihat itu tersenyum tipis. Ia sengaja tidak pernah memberikan Fu Chen sedikitpun arak walau Fu Chen tidak pernah meminta. Tapi dapat terlihat dari raut wajahnya ia sangat ingin minum arak tersebut walau satu gelas.


“Fu Chen, kesini.” Panggil Bai An.


Dengan cepat Fu Chen menuju ke arah Bai An seperti kucing patuh.


“Jika kau bicara jujur. Aku akan memberikanmu satu tong arak kecil. Isinya 3 kali lebih banyak dari botol ini,” tunjuk Bai An.


Fu Chen seketika ragu. Jika ia memberitahu semuanya, ia pasti akan merasa bersalah. Walau sekarang ia telah menjadi pengkhianat dan menjadi budak Bai An. Tapi ia tidak pernah mau bercerita tentang Nona Yao Jing.


Bai An langsung menghela nafas. Ia cukup kagum dengan kesetian Fu Chen, hanya mati satu-satunya jalan kalau ia di paksa bicara.


“Baiklah, tidak usah bicara tentang yang aku tanyakan dulu. Cukup kau katakan apa maksud wanita itu mengirimmu?” Tanya Bai An mencoba meringankan beban Fu Chen.


“Aku hanya di suruh untuk melihat Tuan saja, aku di tugaskan hanya untuk memantau dan jangan bertarung melawan Tuan. Jika Tuan terluka, aku akan mendapatkan hukuman.” Kata Fu Chen jujur.


Bai An melirik Jing Ling yang matanya masih bersinar. Tak lama Jing Ling mengangguk. “Ia berkata dengan jujur,” ucap Jing Ling.

__ADS_1


Bai An langsung melemparkan tong berisi arak ke arah Fu Chen. Dengan sigap Fu Chen menangkap arak tersebut dengan senyum bahagia.


Tu Long, Hei Niu dan Jing Ling langsung maju ke arah Fu Chen.


“Apa?” Tanya Fu Chen mendengus kesal.


“Sebagai saudara harus saling berbagi,” kata Tu Long santai sambil menodongkan gelas besarnya ke arah Fu Chen.


Fu Chen langsung memasang wajah jelek. “Saat aku meminta kalian bertiga sangat pelit.” Kata Fu Chen menyembunyikan araknya di dekapan tangannya.


“Itu karena Tuan muda melarang kita memberikanmu,” jawab Jing Ling menaik-naikkan kedua alisnya secara bergantian.


“Benar, dulu aku kenal kau orang yang suka berbagi, apalagi kepada Monster tingkat rendah. Tapi kenapa sekarang kau begitu pelit,” Hei Niu ikut menekan Fu Chen.


Mereka bertiga terus memdesak Fu Chen untuk berbagi. Hingga dengan perasaan berat Fu Chen langsung membagikannya kepada mereka bertiga.


Sedangkan Bai An langsung terkekeh kecil. “Korban arak, memang mengerikan.” Gumam Bai An.


Malam harinya..!!


Bai An langsung menghentikan langkahnya saat Jing Ling menyuruhnya berhenti. Bai An juga melihat tembok yang sangat tinggi tidak jauh dari tempatnya.


“Wuaahh..!! Inikah yang di maksud Kota Netral, temboknya sangat tinggi,” teriak Tu Long bersemangat.


Bai An mengabaikan tindakan Tu Long. Ia melirik ke arah Jing Ling.


“Markas para Binatang Spiritual ada di sana. Mereka di pimpin oleh Binatang Primordial Surgawi yang cukup benci dengan Monster. Kekuatannya pun cukup tinggi.” Kata Jing Ling menunjuk di luar tembok.


Tentu Bai An heran.


Menyadari hal tersebut Jing Ling langsung menjelaskan jika mereka sengaja membuat markas tersembunyi disana karena tidak ingin terlibat masalah yang telah di tetapkan di Kota Netral. Jika mereka membunuh di luar kota Netral, maka pihak Kota Netral akan lepas tangan. Dan juga Jing Ling pernah menjelaskan saat di perjalanan saat mereka keluar dari hutan. Untuk memancing para monster tersebut ke markas musuh bebuyutan mereka.


Tentu Bai An menanggapi dengan senang, karena tanpa perlu bertarung ia bisa menikmati hasilnya. Maka dari itu mereka meninggalkan jejak di arah berbeda, agar mereka di kejar melalui jalan berbeda yang lebih dekat.

__ADS_1


Beberapa saat Bai An langsung merasakan aura segerombolan monster sekitar berjarak 2 Km.


Bai An langsung melirik Tu Long, Hei Niu dan Fu Chen. “Jika kalian bisa membuat onar di markas Binatang Surgawi ini, dan tugas kalian sukses. Maka aku akan memberikan masing-masing 1 Kendi arak besar.” Kata Bai An.


Dengan wajah membara mereka bertiga langsung bergegas ke arah yang telah di tunjuk oleh Jing Ling tadi tanpa menunggu intruksi dari Bai An terlebih dahulu.


Tentu Bai An cukup kesal melihat tingkah mereka. Tapi apa boleh buat.


“Jing Ling, apa kau tahu di tingkat berapa pemimpin Binatang Surgawi ini?” Tanya Bai An sambil menembak energi ke tubuh Jing Ling kemudian ikut mengejar Tu Long dan dua saudaranya.


“Jika aku tidak salah, Kesatria Dewa Emas Bintang 2 Puncak, itu dulu. Tapi sekarang aku tidak tahu.” Jawab Jing Ling santai.


Bai An tentu langsung tersenyum saat mendengar hal tersebut. “Kau memang yang terbaik Jing Ling,” kata Bai An.


Mendengar kata-kata sanjungan itu, Jing Ling tidak berbangga diri. Melainkan matanya melotot seperti memelas meminta sesuatu ke arah Bai An.


“Bagianmu sudah ku berikan. Tapi jika kita mendapat hasil yang memuaskan dari hasil jarahan nanti. Aku akan memberikan kau bagian paling banyak dari mereka bertiga,” kata Bai An.


Wajah Jing Ling langsung tersenyum bahagia. Dengan cepat Jing Ling berkata. “Kau tenang saja, rencanaku ini pasti akan berhasil.” Kata Jing Ling dengan percaya diri.


Saat Bai An melihat markas yang cukup tersembunyi ini. Ia langsung mendengar suara ledakan.


Bom..!!


Bom..!!


Duar..!!


Tak berapa lama Tu Long, Hei Niu dan Fu Chen kembali dengan senyum bahagia.


Baru saja mereka kembali. Sebuah aura beserta teriakan terdengar keras.


“Monster sialan, berani sekali kau menyerang markasku. Akan ku bunuh kau.”

__ADS_1


Dengan cepat Bai An Menyuruh Tu Long, Hei Niu, Fu Chen mengikutinya ke arah segerombolan monster yang kini.


Bersambung


__ADS_2