Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Kelicikan Bai An


__ADS_3

Dalam sekejap Dhu San muncul di atas musuhnya dengan wajah menyeringai lebar.


Dengan cepat Dhu San mengayunkan pedangnya.


“Teknik Pedang Dunia.”


“Tebasan Alam,” teriakan Dhu San langsung menggema.


Sebuah pedang energi muncul dari berbagai arah, lebih tepatnya pedang-pedang tersebut muncul dari pohon maupun tumbuhan lain yang ada di alam sekitar yang memiliki area jangkauan dari kekuatan Dhu San sendiri.


Musuhnya yang merasakan kehadiran Dhu San dan mendengar teriakannya bersamaan dengan munculnya pedang energi di sekelilingnya yang mengarah kepadanya langsung berkeringat dingin.


Dengan cepat ia juga mengeluarkan teknik terkuat yang ia miliki.


Namun saat ia ingin mengayunkan pedangnya, sebuah pedang energi dari bawah kakinya langsung melesat.


Jlep..!!


Akhh..!!


Teriakan kesakitan langsung terdengar keras, tak lama setelah itu, sekumpulan pedang energi langsung menyambar tubuh orang tersebut.


Crash..!!


Crash..!!


Suara teriakan dalam sekejap menjadi hening, Dhu San yang masih melayang di udara langsung terjatuh akibat kehabisan energi.


To Gel yang baru saja selesai membunuh semua musuhnya langsung melesat untuk menangkap Dhu San.


Tap tap..!!


Bai An, Duan Du, Tu Long, dan Bo Long yang melihat teknik tersebut langsung bersinar cerah di mata mereka.


Setelah saling menatap, mereka semua tersenyum licik.


“Hehe,, teknik yang bagus, aku juga ingin mencobanya nanti saat melawan musuh-musuh yang ku temui nanti,” kekeh Tu Long terlihat bersemangat, terlihat jelas di mata Tu Long menampilkan sedikit keserakahan.


Bai An, Duan Du dan Bi Long hanya bisa menggelengkan kepala, karena Tu Long tidak bisa menyembunyikan niat sekarahnya.


Tap tap..!!

__ADS_1


“Tuan muda, terimakasih atas bantuannya karena menekan mereka semua hingga aku mampu melawan mereka satu persatu,” kata To Gel memberikan hormat tulus.


Bai An melambaikan tangannya, lalu pandangannya mengarah ke Dhu San dengan sebuah senyum lembut.


“Hmm..!! Teknikmu sangat bagus dan cukup kuat, namun masih memiliki banyak kekurangan, area jangkauanmu sungguh pendek, itu sama saja bisa membunuhmu jika musuh mampu menghindar, apalagi masalahnya teknik mu itu sangat menguras energi,” kata Bai An dengan kata bijak seakan ingin memberikan masukan.


Mendengar itu, Dhu San mengangguk karena apa yang di katakan Bai An benar dan cukup logis.


“Terus apa yang bisa saya lakukan agar tidak langsung menguras energi saya dan bisa meluaskan jangkauan serangan saya Tuan muda?” Tanya Dhu San penuh harap.


Dhu Yan juga terlihat berharap mendapat jawaban dari Bai An, karena teknik ini adalah teknik terkuat milik klan Dhu turun temurun.


“Hmm..!! Itu gampang saja, aku ingin melihat dan harus membaca maupun mempraktikannya dengan teliti agar aku bisa mengubahnya sedikit atau bisa menemukan apa kekurangannya, jika aku tidak mempelajarinya lebih dulu, maka aku akan kesulitan melihat kekurangan teknikmu itu,” kata Bai An sedikit mengeluarkan senyum licik.


Duan Du, Tu Long dan Bo Long hanya bisa tertegun melihat Bai An yang sangat pintar bermain kata-kata.


Sementara Dhu San langsung mengangguk semangat, dengan cepat ia mengeluarkan sebuah buku kuno dari cincin penyimpanannya lalu memberikannya kepada Bai An.


Bai An tersenyum lalu mengulurkan tangannya, setelah mendapat teknik Pedang Dunia ini, Bai An berencana akan menggunakannya sebagai teknik kedua terkuatnya setelah Teknik Ashura yang ia pelajari.


“Baiklah, aku akan mengajari kalian jika aku telah mempelajarinya nanti, karena saat ini kita harus segera sampai menuju kota di daratan Timur terlebih dahulu untuk beristirahat, kalian juga sudah terlihat kelelahan sehingga aku lebih mementingkan kondisi kalian terlebih dahulu daripada mempelajari teknik ini,” kata Bai An dengan tulus.


Namun Duan Du, Tu Long dan Bo Long sudah tahu jika Bai An sangat licik memanfaatkan keadaan.


Untuk To Gel, ia hanya diam saja di samping Dhu Lan dan Dhu Qian yang masih pingsan.


Setelah Dhu Lan dan Dhu Qian tersadar, mereka langsung melanjutkan perjalanan menggunakan kapal musuh.


Tak lupa juga Duan Du menjarah harta semua musuhnya lalu di berikan kepada Bai An.


1 Hari berlalu, saat ini mereka sudah berada di penginapan kenalan Dhu San.


Dhu San bilang ini penginapan sabahat baiknya dan akan aman jika berada di sini.


Tapi Bai An dan Duan Du yang melihat wajah sahabat Dhu San ini langsung tahu jika sahabat Dhu San ini tidak baik, namun mereka hanya diam saja karena berpikir akan ada sesuatu yang menarik.


Walau Tu Long dan Bo Long tidak terlalu cerdas, namun mereka juga sadar akan ada kejadian menarik saat melihat senyum Bai An dan Duan Du.


Terlihat Tu Long tidak sabar ingin bertarung melawan musuh-musuh dari Daratan Timur ini.


Tap tap..!!

__ADS_1


Saat ini Bai An dan para saudaranya berjalan untuk di arahkan ke kamar mereka masing-masing.


“Silahkan Tuan-tuan, ini kamar pesanan kalian, kamar ini yang paling besar,” kata pemilik penginapan dengan senyum ramah.


Bai An hanya mengangguk bersama Duan Du dan Bo Long, sementara Tu Long hanya terkekeh.


Hanya Tu Long sendiri yang tidak menggunakan tudung, jadi pemilik penginapan yang melihat Tu Long terkekeh langsung merasa Tu Long ini adalah orang gila.


Dengan sebuah senyum, pemilik penginapan berkata. “Istirahatlah dengan damai Tuan-tuan.”


Setelah itu, pemilik penginapan yang bernama Rha Chun langsung pergi.


“Heh,, bukan kami yang istirahat dengan damai, namun dirimulah yang akan istirahat dengan damai di neraka nanti,” dengus Tu Long setelah melihat kepergian Rha Chun.


Seandainya Tu Long tidak di larang untuk membunuh, maka Tu Long sudah pasti mencincang tubuh Rha Chun tadi, namun sayangnya ia di larang karena ingin melihat sesuatu yang menarik setelah ini.


Sementara To Gel, bersama Dhu San dan Dhu Yan, untuk Dhu Lan dan Dhu Qian bersebelahan kamar.


Malam harinya, kelompok Bai An di undang oleh Rha Chun untuk ikut hidangan makan malam.


Tap tap..!!


Saat Bai An dan para saudaranya sampai, Bai An sudah melihat To Gel bersama keempat anggota klan Dhu sudah duduk bersama Rha Chun.


Bai An langsung di siapkan meja makan bersama para saudaranya, mereka langsung makan dengan lahap.


Sementara wajah Rha Chun selalu mengembangkan senyum setiap melihat mereka melahap makanan dengan nikmat.


10 menit berlalu.


“Ukhh..!! Kenapa kepalaku sangat pusing?” Kata Duan Du sambil memegangi kepalanya, tak lama ia langsung jatuh pingsan.


Bai An, Tu Long dan Bo Long juga melakukan hal yang sama.


Sementara To Gel, Dhu San dan Dhu Yan langsung bangun sambil melirik ke arah Rha Chun dengan pandangan penuh tanya.


Namun Rha Chun memasang wajah bingung juga, ia terlihat sangat pandai menipu Dhu San, To Gel dan Dhu Yan sehingga mencoba membantu Bai An dan para saudaranya.


Saat To Gel ingin menyentuh Bai An.


Dengan cepat Rha Chun berkata. “Biarkan para pelayanku saja yang membantu mereka kembali beristirahat ke kamar mereka,” Rha Chun terlihat meyakinkan To Gel.

__ADS_1


Walau To Gel tahu ini tipuan, karena ia sempat mendapat pesan dari Bai An untuk tidak bertindak berlebihan, jadi ia hanya bisa mengangguk ke arah Rha Chun.


“Baikalah, mohon bantuannya Tuan,” kata To Gel dengan serius.


__ADS_2