
“Semua bersiap, tunggu aba-aba dari pangeran ke 8,” teriak permaisuri dengan lantang.
Semuanya langsung memegang senjata masing-masing menunggu untuk di perintahkan menyerang.
Sementara Raja Kerajaan Air Keruh kini memasang wajah yang sangat jelek, mereka tidak memiliki persiapan apapun sehingga ia tak tahu harus melakukan apa, sama halnya dengan pangerah mahkota.
“Semuanya langsung serang saja, lihat, mereka semuanya lemah dan tidak memiliki kekuatan yang tinggi,” teriak Raja dengan sedikit licik.
Mendengar perintah Raja, semuanya maju termasuk para pangeran, hanya Raja dan Pangeran Mahkota yang diam-diam mundur sambil memikirkan cara untuk melarikan diri.
Duan Du yang melihat itu langsung mengangkat tangannya dan memberikan koda tiga jari.
“Tembak,” teriak Duan Du dengan semangat.
Wuss..!!
Ratusan anak panah langsung melesat di aula istana yang luasnya bisa menampung ribuan orang.
Trank trank..!!
Jlep jlep..!!
Ada yang bisa menghindari maupun menangkis, ada juga yang terlambat menghindari hingga langsung mati seketika.
Duan Du yang melihat masih banyak para prajurit elit maupun biasa yang masih hidup langsung mengangkat tangannya menunjukkan 4 jari.
“Pasang tameng sambil keluarkan tombak untuk membunuh yang maju,” teriak Duan Du.
Seketika barisan depan langsung menaikkan tameng mereka, terlihat tameng berjejeran menutupi jalan bagi musuh untuk menyerang, dan terlihat di setiap tameng ada lubang kecil tempat memunculkan tombak.
Tap tap..!!
Para prajurit musuh yang sudah sampai langsung mengayunkan senjata mereka untuk menghancurkan tameng tersebut, namun itu sia-sia saja, dengan cepat tombak para prajurit Duan Du langsung muncul dari lubang kecil guna membunuh mereka semua.
Crash..!!
Akhh..!!
Akhh..!!
Suara jeritan terdengar dari para prajurit.
Setelah banyak dari para prajurit yang mati, beberapa dari prajurit tersebut langsung menjatuhkan senjata mereka lalu mengangkat tangan tanda menyerah.
Untuk para komandan dan jendral dari pihak Raja yang melihat itu langsung menggeram marah.
“Apa yang kalian lakukan, cepat ambil senjata kalian lalu bertarung sampai mati, jika tidak, maka aku sendiri yang akan membunuh kalian,” teriak salah satu jendral dengan mata memerah.
“Jangan dengarkan para pengecut itu, jika kalian menyerah maka aku tidak akan membunuh kalian,” kata Duan Du menyeringai kecil sambil sambil melirik ke arah para jendral.
Seketika mereka semua langsung berlari ke arah Duan Du karena sudah tidak tahan oleh provokasi Duan Du.
__ADS_1
Sementara para jendral dari pengikut permaisuri langsung tersenyum senang, karena rencana Duan Du telah berhasil memancing mereka.
Ini sudah di rencanakan 3 hari yang lalu, jika para jendral atau petinggi kerajaan menyerangnya, maka di situlah tempat kemenangan kita.
Duan Du juga mengajari cara membunuh para jendral musuh dengan berbagai trik kecil.
Wuss..!!
Trank..!!
Saat salah satu jendral ingin menebas Duan Du yang berdiri santai, sebuah pedang langsung menghalanginya.
Wuss..!!
Crash..!!
Tak lama sebuah pedang lagi datang menebas jendral tersebut.
Jendral tersebut langsung mati dengan mata melotot saat melihat siapa yang membunuhnya, ia mengira jendral yang membunuhnya masih pengikut Raja karena jendral tersebut ikut berdiri di kelompok Raja.
Sama halnya dengan para jendral dan petinggi yang mengikuti Raja, mereka semua mati dengan mata melotot karena tak menyangka mereka telah di tipu.
Saat mereka bersorak karena berhasil menang, Ibu Permaisuri langsung berteriak.
“Jangan senang dulu, karena saat ini Raja dan Putra Mahkota tidak ada di sini, aku tidak menduga ia berhasil melarikan diri.”
Ibu Permaisuri saat ini melirik ke arah Duan Du untuk meminta apa langkah selanjutnya yang akan di ambil.
“Untuk mereka berdua, serahkan saja kepadaku Bu,” kata Duan Du dengan lembut.
Setelah semua bubar, Duan Du langsung meminta izin pergi untuk menjalankan rencana selanjutnya.
Dengan langkah santai Duan Du berjalan mencari tempat sepi.
Wuss..!!
Duan Du langsung menghilang lalu muncul di samping Bai An yang terlihat sedang santai meminum araknya.
“Eh, kau sudah selesai rupanya,” kata Bai An dengan nada biasa.
Duan Du langsung cemberut.
“Kakak,, kau mabuk berat, coba kau alirkan energimu untuk menghilangkan rasa mabukmu,” dengus Duan Du.
Namun Bai An dengan santai menuangkan arak ke gelas lalu meminumnya.
Ah..!!
“Baru kali ini aku bisa menikmati arak dengan tenang lagi,” kata Bai An dengan nada suara berat.
Duan Du semakin jengkel melihat kelakuan kakaknya, ia tahu walau kakaknya mabuk berat, namun kakanya ini masih sadar dan berpura-pura mabuk berat.
__ADS_1
“Kak, aku ingin menyelesaikan masalah disini dulu hingga tuntas baru kita ke tempat paman Tu Long, karena aku merasakan sedikit tidak enak,” kata Duan Du kemudian menghilang dari tempatnya.
Wuss..!!
Duan Du muncul di depan pemuda yang mirip dengan wajah palsunya saat ini, tidak lebih tepatnya adalah pemuda di depan Duan Du ini adalah pangeran ke 8.
“Guru,” kata pangeran ke 8 langsung bangun membungkuk sedikit.
Duan Du melambaikan tangannya santai.
“Kekuatanmu saat ini sudah cukup untuk menjadi Raja di Kerajaan ini, setidaknya tidak ada yang mampu melawanmu dengan tingkat puncak Alam Fana dan umurmu juga akan bertambah,” kata Duan Du.
“Terimakasih selama 3 hari ini guru telah membimbingku, aku sangat beruntung di pertemukan oleh guru 3 hari lalu, jika aku tidak bertemu guru mungkin nasip ku akan tetap sama seperti dulu,” kata pangeran 8 sedikit mengeluarkan air matanya.
“Jangan cengeng, kau sudah dewasa, lebih baik kau selesaikan masalahmu dengan dua orang ini,” kata Duan Du melambaikan tangannya.
Wuss..!!
Brukk..!!
Raja dan Pangeran Mahkota langsung muncul.
“Ehh..!! Kenapa kita disini? Bukan kah kita tadi melarikan diri ke arah hutan?” Kata Raja dengan suara terkejut.
Duan Du terkekeh, karena saat mereka melarikan diri di Istana tadi, Duan Du sempat menembakkan benang energinya agar bisa menarik mereka berdua kapan saja.
“Baiklah, aku pergi dulu, jika kita di pertemukan lagi, aku ingin kau lebih kuat dan bisa membanggakanku sebagai gurumu,” kata Duan Du langsung menghilang.
Pangeran ke 8 yang bernama Bao Tang itu langsung mengangkat tangannya ingin mengatakan sesuatu, tapi Duan Du sudah lebih dulu menghilang.
“Kau tenang saja Guru, aku akan membanggakanmu selamanya hingga aku mati dan di rainkarnasi sekalipun aku tetap akan memiliki satu guru, yaitu dirimu seorang,” kata Bao Tang menggenggam erat tangannya dengan erat.
Setelah itu Bao Tang melirik ke arah Raja dan Pangeran Mahkota.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Bao Tang langsung mengayunkan pedangnya yang telah ia keluarkan.
Crash..!!
Mereka berdua yang masih belum sadar langsung mati dengan mata melotot, terlihat seperti tidak ingin mati tanpa mengetahui siapa yang membunuh mereka berdua.
“Kalian pantas mati, karena kalian adalah parasit bagi rakyat Kerajaan ini,” kata Bao Tang dengan dingin.
Setelah itu Bao Tang langsung melesat pergi ke kediaman Ibu Permaisurinya.
***
Tap tap..!!
Saat ini Duan Du muncul di samping Bai An yang masih asik minum.
“Apa sudah selesai?” Tanya Bai An santai.
__ADS_1
Duan Du langsung mengangguk.
“Kalau begitu ayo kita pergi,” ajak Bai An langsung menghilang dari tempatnya.