
Pixiu melihat sekelilingnya dengan hati-hati, ia kemudian bergerak menuju tempat para prajurit tingkat rendah lainnya untuk menyebar isu.
1 jam kemudian Pixiu kini mendengar beberapa keributan terjadi antara kelompok Teratai Hitam dengan pengikut Penguasa Liu Wang.
“Sepertinya berhasil,” gumam Pixiu kemudian menghilang.
Di tengah hutan, ada sebuah gubuk kecil saat Bai An kini sedang minum bersama Lang Zai.
“Apakah menurutmu saudara Pixiu akan berhasil?”, tanya Bai An sambil meneguk arak yang baru di tuang oleh Lang Zai.
Lang Zai tidak langsung menjawab, ia menuang kembali arak ke gelas Bai An, kemudian ke gelasnya dan meneguk arak tersebut.
“Ahh,, arak ini sangat enak Tuan Muda,” kata Bai An kemudian menambahkan, “Pixiu sangat cerdas, ia tidak akan berhenti sebelum merasuki pikiran semua orang.”
Bai An langsung mengangguk.
Bai An memberitahu Lang Zai rencananya karena desakan Lang Zai yang tidak pernah berhenti bertanya, jadi ia dengan cepat memberitahukan rencananya kepada Lang Zai agar ia bisa diam.
Wuss,,
Pixiu langsung muncul di depan Bai An dan Lang Zai.
“Cepat sekali, baru 2 jam kau pergi,” kata Lang Zai curiga.
“Kau tenang saja, rencana yang Tuan Muda berikan berhasil dan tinggal menunggu hasilnya,” kata Pixiu percaya diri sambil menepuk dadanya.
Lang Zai langsung mendengus kemudian meminum araknya.
Pixiu yang melihat Bai An asik menikmati araknya tersenyum kecut.
“Tuan Muda, apakah ini tidak berlebihan? kau sudah terlalu banyak minum.”
Mendengar suara Pixiu yang sedikit khawatir, Bai An melirik Pixiu dan tersenyum, “Kau tenanglah saudara Pixiu, aku tinggal menggunakan energi ku untuk menghilangkan efeknya,” kata Bai An.
Pixiu langsung sadar dengan hal tersebut sehingga ia dengan cepat ikut minum arak.
“Tuan Muda,, ini kurang keluarkan lagi arak-arak yang kau dapat cincin penyimpanan orang-orang yang di restaurant tadi.”
Nada suara Pixiu kini terdengar berat, ia sudah mabuk.
Bai An tersenyum, ia langsung mengeluarkan beberapa cincin yang masih ada jari jarinya. Bai An langsung melepasnya kemudian mengeluarkan semua isinya.
Bai An melihat beberapa dan hanya mengambil arak tersebut yang di tempatkan di beberapa kendi lumayan besar.
Saat sedang asik-asiknya minum, Bai An, Lang Zai dan Pixiu langsung terdiam beberapa saat untuk memusatkan pendengarannya, setelah itu mereka bertiga tersenyum.
__ADS_1
“Tuan Muda, apakah kita tidak menyaksikan pertunjukan yang sangat seru ini?”, tanya Lang Zai dan Pixiu dengan semangat secara bersamaan.
Bai An mengangguk kemudian berkata, “Kita menyaksikannya dari kejauhan agar tidak ketahuan dan mereka tidak curiga ini perbuatan kita, karena aku yakin pasti akan ada orang yang cukup pintar di kelompok mereka.”
Lang Zai dan Pixiu mengangguk, rasa mabuk mereka hilang seketika berganti dengan rasa semangat.
Bai An kemudian berdiri kemudian keluar dari gubuk, yang di susul Lang Zai dan Pixiu lalu melesat ke markas musuh.
Saat ini Bai An, Lang Zai dan Pixiu sedang asik menonton pertarungan yang sangat kacau di depan mereka.
Salah satu Jendral Teratai Hitam sedang melawan 2 Jendral Penguasa Liu Wang, satunya lagi melawan satu Jendral Penguasa Liu Wang di bantu 2 Komandannya.
Untuk para Komandan Teratai Hitam juga sedang di kepung oleh beberapa Komandan Penguasa Liu Wang , begitu juga para prajuritnya.
Bai An melihat walau pengikut Penguasa Liu Wang lebih banyak, tapi mereka tetap kesulitan melawan Kelompok Teratai Hitam.
“Jendral Di walaupun kita bersatu tetap saja kita tidak akan bisa menang, kau kembalilah bawa bala bantuan dan berikan informasi ini kepada Penguasa.”
Mendengar ucapan Jendral Li. Jendral dari Teratai Hitam mendengus, “Aku sudah beritahu kalian ini adalah kesalah pahaman, namun kalian tetap menyerang dan sekarang kalian ingin melarikan diri untuk meminta bantuan, aku tidak akan membiarkan semua pengikut Liu Wang lari dari sini, kalian semua harus mati.”
Mendengar itu, Jendral Di dan Jendral Li mendengus dingin, “Seorang penghianat harus mati,” raung Jendral Di marah kemudian menyerang Jendral Teratai Hitam.
Jendral Di mengayunkan pedangnya di sertai elemen angin yang ia kuasai membuat kecepatan serangannya sulit di baca.
Jendral Teratai Hitam yang melihat itu tersenyum sinis, ia mengayunkan tombaknya disertai energi yang sangat besar.
Bom,,
Saat ia melihat ke arah depan, ia langsung meraung marah karena Jendral Di hanya pengalihan agar Jendral Li dapat melarikan diri.
“Kurang ajar,” teriak Jendral Terati Hitam langsung melesat dengan kecepatan penuh mencoba untuk mengejar, tapi Jendral Di langsung menghalanginya dengan menyerang Jendral Teratai Hitam.
Trank,,
Jendral Tertai Hitam langsung menangkis, kini ia benar-benar marah, ia langsung serius aura kegelapan langsung keluar dari tubuhnya.
Jendral Teratai hitam yang di kepung langsung berhenti, kemudian melihat temannya yang menngeluarkan energi hitam.
Melihat hal tersebut ia bergumam, “Sangat mudah terpancing, aku mengira ini adalah jebakan lawan agar kita bertarung satu sama lain. Tapi melihat hal ini lebih baik memikirkan bagaimana cara membunuh mereka, aku tidak peduli siapa yang menyebabkan hal ini.” Kemudian auranya juga keluar tekanan aura kegelapan di sertai energi hitam yang meningkatkan kekuatan Jendral Teratai Hitam mampu membuat lawan merinding.
Melihat hal tersebut, Jendral dari penguasa Liu Wang langsung berkumpul bersama para komandan dan prajuritnya.
“Kita serang bersama-sama, ikuti aba-aba ku.” Teriak Jendral Di.
“Siap,” teriak semua prajurit dan komandan.
__ADS_1
Bai An, Lang Zai dan Pixiu yang melihat itu tertawa bahagia. Bai An kini melihat mereka seperti harta bertumpukan.
Bai An, Lang Zai dan Pixiu langsung mengangguk bersamaan, Lang Zai langsung menghilang untuk membunuh Jendral Li yang melarikan diri.
Bom,,
Bom,,
Duar,,
Bai An dan Pixiu langsung melihat ke asal suara ledakan, ia kini melihat banyak mayat berserakan, ada yang terluka parah dan ada juga yang terluka ringan.
“Eeh sudah mau selesai, dan kelompok Teratai Hitam yang akan keluar jadi pemenang,” gumam Bai An cukup terkejut karena ini berlalu cukup cepat.
“Tuan Muda, apa kita hanya menonton saja?”, tanya Pixiu dengan nada mengeluh.
“Tunggu sebentar lagi, agar tenaga kita tidak banyak terkuras dan membuang-buang waktu,” jawab Bai An kemudian mengeluarkan arak.
Melihat Bai An yang mengeluarkan arak, mata Pixiu langsung cerah karena arak tersebut sangat enak.
Bai An langsung melempar satu kendi kecil kepada Pixiu. Pixiu dengan sigap menangkapnya.
Mereka kemudian duduk minum sambil menonton pertunjukan yang hampir selesai.
Bom,,
Bom,,
“Akhh,,”
Teriakan Jendral Di langsung menggema, kini tangan kanannya telah hilang, tubuhnya banyak sekali luka sayatan.
Jendral Di melihat semua komandan, prajuritnya telah gugur dan ia melihat ke arah samping tempat temannya yang menjadi Jendral telah mati.
“Apakah ada kata-kata terahir?” tanya Jendral Teratai Hitam tersenyum sinis.
Jendral Di tertawa.
“Ha,, ha,, ha,, ku tunggu kalian di neraka,” teriak Jendral Di.
Slash,,
Kepala Jendral Di langsung terbang.
Setelah membunuh Jendral Di. Jendral Teratai Hitam tersebut langsung melihat temannya yang bersiaga penuh, hal tersebut membuatnya ingin bertanya.
__ADS_1
Namun,,
Bom,,