
“Tunggu dulu Tuan muda,, kami yakin kamu mengenal Nona kami, karena Nona kami adalah?”
Belum selesai Mu San menyelesaikan ucapannya, sebuah pedang energi muncul dari bawahnya.
Wuss..!!
Dengan cepat Mu San menggerakkan badannya kesamping sehingga pedang energi lewat begitu saja.
Namun Bai An tersenyum dingin saat melihat Mu San terkena perangkapnya.
“Kena kau,” gumam Bai An.
Sebuah benang energi yang sangat tipis melekat di jari Bai An, dengan cepat Bai An menggerakkan jarinya.
Pedang energi Bai An dengan cepat mengubah haluannya langsung mengejar Mu San.
Mu San yang melihat pedang kini di depan matanya berjarak satu meter, mau tak mau mengayunkan tangannya.
Bomm..!!
Pedang energi Bai An dan sebuah pisau kecil berbenturan yang menyebabkan ledakan cukup keras.
Akibat ledakan tersebut Bai An dan Mu San mundur.
Setelah ledakan terjadi dan asap dari hasil ledakan menghilang.
Bai An melirik ke arah Mu San.
“Sangat kuat, terlebih saat ini kita berada di atas awan, jika bertarung di tanah maka aku bisa menggunakan Teknik Pedang Dunia,” gumam Bai An.
Sementara Duan Du kini kembali muncul di samping Bai An sambil berkata. “Kakak orang ini adalah Dewa Immortal, apakah kakak bisa melawannya?”
Mendengar pertanyaan adiknya, Bai An langsung berkata. “Jika melawan satu, mungkin aku bisa melawannya walau harus terluka dan bisa jadi mati, tapi melawan mereka berdua maka aku yakin kita tidak memiliki kesempatan untuk menang, tapi.”
Bai An tersenyum saat mengatakan kata tapi di ahir kalimatnya.
Duan Du yang mendengar itu langsung penasaran. “Tapi apa kakak?”
“Hehehe,, Tapi jika kita kabur dari sini maka tidak ada yang mati ataupun terluka, meski begitu aku takut akan muncul masalah yang lebih besar lagi,” kata Bai An kini mulai dengan nada serius.
Duan Du mengangguk.
“Jangan lupa hitung aku juga kakak, walau aku tidak bisa membantu banyak, tapi aku yakin bisa membuat orang itu terluka,” kata Duan Du dengan yakin menunjuk ke arah Mu Wen.
__ADS_1
Bai An sama sekali tidak menjawab, melainkan menatap ke arah Mu San yang terlihat berkomunikasi dengan seseorang.
“Gawat, ia seperti memanggil seseorang,” kata Bai An langsung mengayunkan pedang kayu hitam.
“Tebasan Ashura tingkat kedua,” gumam Bai An langsung mengeksekusi teknik pedang Ashura.
Seketika ratusan pedang energi yang setiap pedangnya memiliki tekanan mengerikan, bahkan satu pedang tersebut mampu meluluh lantahkan kota sedang yang di huni oleh sekte maupun klan menengah.
Wuss..!!
Ratusan energi pedang langsung melesat dengan kecepatan tinggi.
Mu San dan Mu Wen yang melihat itu hanya diam saja.
Saat pedang energi Bai An akan mencapai Mu San dan Mu Wen dalam jarak 1 meter.
Tiba-tiba pedang energi Bai An langsung lenyap.
Mata Bai An dan Duan Du langsung melotot. “Gawat kak, aku merasakan ada aura mengerikan akan muncul dari ruang hampa,” teriak Duan Du kini mulai panik.
Bai An terlihat sama sekali tidak panik, ia hanya terkejut saat merasa serangannya dengan mudah di hilangkan oleh aura yang sangat familiar baginya.
“Hmm..!! Apa kau tidak merasa aneh dengan aura ini Du'er,” kata Bai An melirik ke arah Duan Du sambil terkekeh kecil saat melihat raut wajah adiknya ini sungguh lucu jika panik.
Terlebih ia baru kali ini melihat adiknya panik seperti ini selama ia bersama.
“Eehh..!! Bukan kah aura ini sangat mirip dengan kakak Xia?” Kata Duan Du bingung.
“Hmm..!! Kau benar, tapi kita pergi saja dari sini, karena mungkin saja hanya mirip aura saja,” kata Bai An merobek ruang.
Saat Bai An ingin kabur, ruang yang ia sobek menutup sendiri.
“Heh,, saat aku kesini kau malah ingin melarikan diri An'Gege, apa kau kecewa karena ini ulahku,” kata Mu Xia'er sedikit cemberut.
Bai An dan Duan Du langsung tertegun saat melihat orang yang ia kenal kini muncul di depan matanya.
“Kakak Xia, bukankah kau di tangkap oleh wanita ****** itu,” teriak Duan Du langsung melesat ke arah Mu Xia'er.
Namun dengan cepat Bai An menarik jubah belakang Duan Du.
“Hati-hati, jangan percaya dengan apa yang ada di depan matamu, siapa tahu ia bukan orang yang kita kenal,” kata Bai An dengan nada dingin.
Duan Du langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil terkekeh kecil.
__ADS_1
Mu Xia'er langsung tertegun saat mendengar Bai An dengan nada dingin.
Kini tatapan Mu Xia'er mengarah ke Mu San dan Mu Wen untuk meminta penjelasan.
Mu San dan Mu Wen tidak tahu harus menjelaskan dari mana, pasalnya mereka tidak tahu apakah ini akal-akalan Bai An atau tidak, Bai An ini sungguh cerdik dan mereka sendiri tidak bisa membedakan mana putih mana hitam.
Bai An kini tersenyum dalam hati, sementara Duan Du yang tahu kakaknya pura-pura ikut memasang wajah bodoh.
Mu Xia'er menunggu penjelasan kini tidak ada yang berani bicara membuat ia semakin kesal dan berdecak pinggang.
“Baiklah aku pulang saja, dan kau An'Gege,” tunjuk Mu Xia'er tak tahu harus mengatakan apa, ia langsung melayang.
Tapi sebuah suara dingin menghentikan langkahnya.
“Siapa yang mengizinkan kau pergi,” kata Bai An dengan nada sangat dingin.
“Apa..!!” Dengus Mu Xia'er lalu menambahkan. “Aku mau pergi atau datang itu adalah hak ku.”
“Oohh..!! Baiklah jika kau tidak ingin menjelaskan maksudmu mengirimku kesini bersama Du'er, terlebih aku yakin jika kau membiarkan keluargaku tersiksa disana,” balas Bai An mendengus.
Lalu Bai An menarik Duan Du seakan-akan ingin pergi.
Namun sebuah tekanan menghentikannya dengan suara panik.
“Tunggu dulu An'Gege, aku bisa menjelaskannya,” teriak Mu Xia'er dengan nada panik.
Sementara Mu San dan Mu Wen kini bingung melihat tingkah mereka bertiga.
Mu San dan Mu Wen langsung pergi dari sana karena mereka tak mengerti sipat mereka yang seperti bermusuhan, kadang berteman, kadang seperti sepasang suami istri.
Mu Xia'er langsung memegang tangan kanan Bai An seperti dulu saat ia sering memegang tangan kanan Bai An.
Bai An yang melihat itu langsung tersenyum kecil, namun tak di lihat oleh Mu Xia'er.
“Sungguh nostalgia,” gumam Bai An dalam hati.
“Apa yang ingin kau jelaskan?” Kata Bai An dengan nada dingin dan pura-pura marah. “Jika kau tidak memberikan penjelasan yang memuaskan, maka aku akan meninggalkanmu pergi.”
Mu Xia'er sama sekali tidak marah atau kecewa, karena ia sadar salah jika selama ini telah membohongi dan mempermainkan Bai An.
Terlebih Mu Xia'er tahu jika Bai An sadar selama ini di manfaatkan, namun Bai An diam saja.
Mu Xia'er kini mendongak menatap Bai An dengan penuh ketulusan dan kerinduan. “Apakah bisa aku menjelaskannya sambil duduk An'Gege, akan merasa tidak enak jika di tempat seperti ini.” Kata Mu Xia'er.
__ADS_1
Bai An melirik ke arah Duan Du yang bengong dari dari lalu melirik Mu Xia'er.
“Baiklah, tentukan dimana tempatnya.”