Nillaku

Nillaku
Nillaku 9


__ADS_3

"Mama bawa anakmu ke mansion ya? bersama Senata juga. Karena Vanilla merindukan mereka,"


Rena datang bersama Raihan untuk melihat keadaan Lovi dan bayinya yang hari ini sudah diperbolehkan satu ruangan bersama Lovi.


"Tidak membuat kalian sakit kepala nanti?"


Raihan tergelak saat putranya bertanya serius. Siapa yang tidak tahu dengan kenyataan itu? pertengkaran karena masalah kecil yang sering terjadi diantara Adrian dan kakaknya pasti membuat mansion lebih berwarna.


"Pasti, tapi Vanilla membutuhkan teman,"


"Vanilla sebenarnya ingin ke rumah sakit juga tadi,"


"Sebentar lagi Lovi pulang, Ma. Vanilla tidak perlu ke sini,"


Rena mengangguk lalu pamit dengan Devan dan Lovi yang tengah menemani Auristella tidur. Kemudian mereka beranjak ke rumah Devan untuk menjemput kedua anak kembar itu.


******


"Pernikahan Vanilla akan dilaksanakan dua minggu lagi,"


Vanilla menelan makan malamnya dengan susah payah. Kenikmatan yang sedari tadi dicecapinya langsung berubah menjadi rasa yang pahit.


Ia meletakkan sendok dan garpunya. Perlahan, air matanya pun turun. Menyakitkan sekali ketika Raihan memutuskan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya tanpa sepengetahuan Ia sebagai pemilik kehidupan.


Rena melirik anaknya yang kini menunduk. Kemudian melarikan pandangan pada Raihan.


"Harus secepat itu, Pa? bukankah Papa mengatakan Vanilla masih butuh waktu?" Sela Rena pada Raihan. Ia setuju, tapi ini semua terlalu mengejutkan untuk Vanilla yang bahkan baru tiga kali bertemu dengan Jhico. Ia tahu pasti bagaimana sulitnya untuk menerima keputusan Raihan. Dalam waktu dua minggu, apakah Vanilla bisa melupakan kisah cintanya dengan Renald yang selalu gadis itu banggakan di hadapannya.


Rena pun merasa bersalah karena Ia juga turut andil dalam segala persiapan. Ia tidak menyangka kalau pernikahan itu akan berlangsung lebih cepat dari apa yang Ia duga. Semuanya sudah hampir selesai, namun mendekati hari penting itu, Rena semakin merasa tidak tega pada Vanilla.


"Semakin cepat, semakin baik. Cucu Papa akan bertambah setelah itu,"


******


"Kamu kapan pulang?"


Jhico tengah melepaskan stetoskop-nya dan sedikit terkejut begitu Denaya berjalan mendekatinya.


"Sekarang,"


"Oh sama, aku--"


Jhico mengambil kunci mobil di atas mejanya dengan tergesa lalu mengangkatnya sejenak, Ia melakukan itu sebagai bentuk ucapan selamat tinggal.

__ADS_1


"Aku pulang dulu,"


Jhico tahu apa mau gadis itu. Dan Jhico memilih mundur sebelum Denaya datang kepadanya. Jhico yakin bahwa Denaya ingin mengajaknya untuk pergi ke basement bersama atau bahkan Ia ingin pulang dengan Jhico?


Denaya tersenyum lirih menatap Jhico. Lelaki itu pergi meninggalkan dirinya. Denaya tidak berharap lebih. Ia hanya ingin menjadi teman. Apa kah salah? setelah mereka berpisah, Jhico sangat menghindarinya. Apa lagi saat Denaya bertugas di rumah sakit yang sama. Jarak itu semakin terbentang jauh.


Jhico keluar dari ruangan bertepatan dengan datangnya lelaki yang sering terlihat menjemput Denaya belakangan ini. Entah siapa dia untuk Denaya. Jhico tidak tertarik untuk penasaran apa lagi mencari tahu.


"Katanya sudah menuju basement. Tapi aku tunggu-tunggu, kamu tidak datang juga,"


Denaya mendekati Raven sementara Jhico melewati mereka. Ada yang lebih penting dari sekedar melihat akrabnya mereka. Jujur, ada perasaan iri dalam hatinya. Bukan Ia iri pada Raven karena berhasil menjadi pengganti dirinya di hati Denaya. Melainkan iri dengan cepatnya Denaya mendapatkan pengganti sementara Jhico sedang terjebak dalam perasaannya pada Vanilla yang tidak pernah menyambutnya dengan baik.


"Aku sering melihat dia. Teman kamu ya?"


Denaya tersenyum canggung namun Ia mengangguk juga. Raven sering menjemputnya dan otomatis pertemuannya dengan Jhico pun tidak bisa dihindari.


"Iya, kita satu profesi. Tentunya menjadi teman,"


Denaya segera menggenggam tangan Raven lalu mereka menuju basement untuk pulang. Mereka sama-sama lelah. Dan semoga Raven Tidak membahas itu lebih jauh. Karena sudah Denaya tegaskan bahwa mereka bekerja dalam bidang yang sama dan di lingkungan yang sama juga.


Denaya pun tidak mengerti alasan Raven bertanya demikian. Apakah mungkin karena gerak-gerik kaku antara Ia dan Jhico benar-benar terbaca?


*****


Begitu sampai di apartemen, Jhico disambut oleh Neneknya yang malam ini menginap di apartemen miliknya karena besok pagi harus pergi memastikan cathering yang tempatnya tidak jauh dari apartemen Jhico.


Hawra memang lebih banyak memegang kendali atas semua persiapan untuk pernikahan Jhico dan Vanilla. Di bandingkan dengan Karina, Mamanya sendiri.


Jhico menatap satu persatu undangan yang diletakkan Hawra di atas meja. Semua modelnya sangat menampilkan sisi elegan. Jhico bingung memilihnya. Namun harus Ia yang memilih karena selain Vanilla tidak sempurna dalam menilai penampilan undangan-undangan tersebut, pernikahannya juga akan terlaksana dengan sedikit perbedaan dari pernikahan pada umumnya. Ia dan Vanilla memiliki dua prinsip yang berbeda.


Raihan sudah mengatakan padanya bahwa Vanilla menerima pernikahan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Vanilla melakukan itu karena Ia sudah menyerah untuk memberontak pada Raihan. Sementara Raihan tidak tahu alasan di baliknya. Vanilla juga butuh mata. Dan Jhico sudah berjanji untuk hal itu.


Saat Jhico menjemputnya di kampus dan bertemu dengan Renald, Vanilla sudah lebih dulu mengatakan secara langsung pada Jhico mengenai tujuannya menerima pinangan Jhico.


"Aku tidak bisa lagi menolak permintaan Papa. Aku akan menikah dengan kamu. Tapi tujuan utamaku adalah, Aku sangat ingin melihat lagi. Dan kamu sudah berjanji untuk mewujudkan itu setelah menikah nanti,"


Jhico tersenyum. Pernikahan mereka benar-benar akan terjadi. Semua persiapan yang dia lakukan tidak sia-sia dan Jhico sangat bersyukur akan hal itu.


"Aku akan menepati janji, Nillaku."


"Jangan berharap lebih, Jhico. Sampai kapanpun aku tidak akan benar-benar menerima pernikahan itu,"


Senyum Jhico sirna berganti dengan getirnya manik hitam itu. Vanilla mengalihkan pandangan saat Jhico tidak pernah luput memperhatikannya. Vanilla tidak tahu ada banyak harapan di balik iris hitam legam milik lelaki yang sangat sulit untuk ditebak itu. Kehidupan rumah tangga yang akan berakhir bahagia sudah menjadi impian Jhico sejak dulu. Namun belum apa-apa, Vanilla sudah mematahkan semuanya. Sampai Jhico tidak mampu lagi mengenali perasaan sakit ini. Apakah Ia benar-benar mencintai Vanilla? ini bukan lagi rasa kagum atau sebatas suka. Karena Jhico merasakan sakit ini sangat berbeda dari yang seharusnya dialami.

__ADS_1


"Yang paling menarik untuk Nenek?"


Hawra menunjuk dirinya sendiri. Ia mengerinyit saat Jhico menatapnya, meminta pendapat.


"Nenek perempuan, dan mungkin seleranya sama dengan calon istriku,"


"Kamu ingin Nenek yang memilihnya?"


Jhico mengangguk yakin. Hawra tahu hal yang buruk bahkan terbaik untuk Jhico, cucunya. Jhico tidak bisa mengandalkan siapapun saat ini selain Hawra.


"Nenek tahu kalau Vanilla, calon istriku, buta, dia tidak akan bisa memilih yang paling bagus,"


Bahkan saat mengatakan itu saja, Jhico merasa sengatan aneh menusuk hatinya. Ia tidak terima saat mulutnya sendiri merendahkan Vanilla, gadis yang mampu menarik perhatiannya sejak pertama kali bertemu.


*****


Vanilla menekan tuts piano dengan mata menatap kosong ke depan. Menikmati alunannya yang tercipta secara sembarang namun tetap terdengar indah.


Padahal Vanilla tidak terlalu menekuni alat musik tersebut, Ia hanya pernah mempelajarinya ketika masih duduk di sekolah menengah.


Dulu, piano adalah pelampiasannya ketika sedih, hancur, dan kecewa saat mendapati keluarganya yang retak sejak Ia masih kecil. Masa sekolah Vanilla dan Devan sangat menyakitkan. Tidak ada segelintir manusia di sekitarnya yang peduli dengan Vanilla, sejak mereka tahu kalau Ia merupakan anak dari Istri yang diselingkuhi. Dunia memang tidak pernah hilang kekejamannya. Ia dan Devan bukan buah cinta dari sebuah perselingkuhan Raihan dengan wanita bayarannya. Namun Ia yang dibenci. Terdengar aneh sekaligus menggelitik perut bukan?


Vanilla, Devan, dan Rena dianggap rendah dan tidak mampu memberi kebahagiaan untuk Raihan sehingga lelaki itu mencari kebahagiaan lain di luar sana. Dan menurut dunia, itu adalah hal yang wajar. Sehingga kehidupan Vanilla dan Kakaknya semakin terpuruk. Semuanya seolah bekerja sama untuk mencampakkan hidup mereka.


Kini Raihan menatap putri bungsunya. Ia mengerinyit ketika mendapati Vanilla yang menangis. Ia berdiri tegap di samping Vanilla dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana.


"Apa yang membuatmu sedih, Vanilla? Kamu bisa menerima ini semua, bukan? Cinta? itu bisa kamu rasakan setelah terbiasa hidup bersama suamimu nanti,"


"Pa, bahkan aku belum mengatakan apapun pada Renald,"


"Maka cepat katakan. Tunggu apa lagi? Biar dia juga bisa mendapatkan kebahagiaan yang lain secepatnya,"


Vanilla menggeleng dengan rasa pilu yang begitu menyayat hatinya. Semudah itu Raihan mengatakan demikian. Mereka tengah meyakinkan diri sebelum masuk ke dalam hubungan yang lebih serius, yaitu menjadi sepasang kekasih. Vanilla masih menantikan Renald yang menyatakan cintanya.


Ia yakin sebentar lagi Renald akan menyatakan klaim atas dirinya. Namun ditengah penantian itu, kenapa Raihan malah menciptakan jalan baru untuk hidupnya?


"Dua minggu lagi, Vanilla. Papa beri kamu waktu tidak sebanyak apa yang kamu bayangkan,"


----------


TERIMA KASIH UNTUK SEMUA DUKUNGANNYA.


__ADS_1


__ADS_2