
Vanilla sedang menghafal materi baru untuk esok lusa dan Jhico sudah terkapar di atas di lantai seraya menutup kedua matanya menggunakan lengan.
Jhico benar-benar membantu. Bila ada yang salah, Ia memperbaiki. Sebenarnya Jhico senang melakukan ini karena sama saja Ia kembali belajar lagi walaupun yang dipelajari Vanilla tidak sama dengan pelajarannya semasa kuliah dulu karena jurusan yang mereka ambil berbeda.
Vanilla menyentuh lengan suaminya untuk membangunkan lalu menyuruhnya tidur di atas ranjang yang nyaman itu.
"Jhico, jangan tidur di sini,"
"Hmm..." Ia hanya bergumam, lalu menarik tangan Vanilla untuk Ia peluk.
Vanilla berdecih geli. Jhico seperti Adrian saja kalau sudah seperti ini.
"Jhico, cepat bangun!"
"Apa, Nilla? aku mengantuk. Hafalanmu banyak yang tidak sesuai tadi, jadi aku lelah."
"Kamu hanya memperbaiki. Kenapa lelah?"
Jhico menggeleng pelan. Napasnya kembali teratur. Rupanya Jhico benar-benar mengantuk.
Vanilla akhirnya tidak membangunkan Jhico lagi. Ia kembali sibuk dengan tulisan-tulisan di dalam binder dan juga laptopnya.
*******
"Vanilla, kamu tidak mau kembali pada dunia yang dulu?"
"Huh?"
"Ya, menghabiskan waktu di dalam kelab malam setiap malamnya, lalu menjadi orang yang populer lagi di sosial media,"
"Aku masih populer. Hanya saja semenjak buta, aku malu tampil di depan publik. Mereka banyak yang mencariku, asal kamu tahu." Vanilla menjulurkan lidahnya ke arah Jane.
Setelah kuliah, Jane dan Vanilla memutuskan untuk pergi ke coffee shop lalu ke apartemen Vanilla dan Jhico.
Sekarang mereka tengah menonton serial drama di laptop seraya menikmati makanan ringan yang disiapkan Jhico untuk Vanilla karena Ia tahu istrinya hobi mengemil.
"Kamu belum pernah mempublis pernikahanmu dengan Jhico?"
"Belum, tapi Jhico sudah."
"Oh, ya aku baru ingat. Dia membagikan foto pernikahan kalian di hari kalian menikah. Benar bukan?"
"Ya, kamu yang mengatakannya padaku,"
Jane tidak menyangka Jhico berani mengambil keputusan itu. Memberi tahu pada khalayak umum bahwa Ia telah menikahi seorang gadis buta, Jane pikir itu adalah hal yang memalukan. Mengingat betapa baiknya reputasi Jhico selama ini. Ternyata Jhico tidak keberatan sama sekali. Malah Vanilla yang memilih untuk menyembunyikan.
"Vanilla, semalam Jhico langsung membagikan foto pernikahan kalian di sosial medianya,"
"Kenapa kamu tahu?"
"Aku sudah menjadi pengikutnya setelah Ia berani memintamu untuk menjadi istrinya," Jelas Jane seraya tersenyum lebar. Ia tidak malu mengakui bahwa Ia sudah kagum pada Jhico setelah laki-laki itu dengan gagah datang ke mansion lalu mengutarakan niatnya kepada Raihan serta Rena. Padahal Ia tahu bahwa sebelumnya Vanilla dan Jhico hanya dipertemukan tiga kali.
"Lihatlah, banyak sekali orang-orang yang mendoakan hal baik untuk kalian. Tapi ada juga yang sebaliknya,"
Tiba-tiba Jane berseru hingga membuat Vanilla tersentak. Jane segera menjelajahi ponselnya lalu menunjukkan sesuatu pada Vanilla.
"Aku hampir lupa juga memberi tahumu tentang ini. Dua hari yang lalu, dia memposting wajahmu yang sedang tidur. Oh my god, romantis sekali dia."
__ADS_1
"Ah, aku kira ada hal penting apa sampai kamu riuh seperti tadi,"
"Ini penting! kamu harus tahu bahwa suamimu semanis itu dalam mencintaimu,"
******
"Anakku akan berulang tahun hari minggu nanti. Kalian harus datang ya,"
"Tenang... tidak harus membawa pasangan, Vander." kekeh Fennely ketika melihat wajah Vander yang berubah. Biasanya kalau ada perayaan, mereka selalu membawa pasangan sementara Vander baru saja putus dengan kekasihnya. Dan selama pernikahan Jhico juga belum pernah membawa Vanilla untuk datang ke acara-acara manapun karena Jhico menjaga perasaan Vanilla yang tentu tidak akan nyaman berada ditengah teman-teman Jhico yang baru sekali ditemuinya saat pernikahan mereka.
"Co, datang ya?"
"Ya, kalau aku tidak ada kegiatan lain,"
Fenelly menepuk lengan teman seruangannya seraya mencibir, "Memang sesibuk apa kamu?!"
"Kalau aku membawa Vanilla tidak masalah bukan?"
"Oh, itu lebih baik."
Hubungan Jhico dengan Fenelly, Nares, Denaya, dan Vander sudah membaik setelah kejadian di malam itu. Kalau mereka masih dingin sementara lingkungan pekerjaan mereka sama maka rasanya tidak akan nyaman.
"Wow, jadi sudah tidak malu lagi membawa istri ke acara teman?" goda Denaya. Ada nada canda namun entah mengapa Jhico menangkap maksud yang lain.
Sehingga Ia menyanggah dengan tegas, tidak membenarkan kalimat Denaya yang terdengar aneh di telinga, "Aku tidak pernah malu. Vanilla memiliki kesibukan sendiri. Jadi kalau dia tidak bisa menghadiri sebuah acara bersamaku, tidak masalah. Yang terpenting dia punya waktu untukku di rumah,"
Denaya yang tadi terkekeh langsung diam terbungkam. Tidak menyangka kalau Jhico akan setajam ini menanggapi ucapannya. Apa yang salah? Denaya hanya bergurau tapi perasaan Jhico mungkin terlalu sensitif bila menyangkut sang istri.
*****
"Sekali lagi ya!"
"Kamu tidak mengikuti sosial media Jhico?"
"Tidak, untuk apa?"
"Astaga, dia suamimu. Aneh saja rasanya kalau kalian seperti tidak saling mengenal di sosial media,"
"Apa yang dilihat di sana belum tentu itu yang terjadi. Nyatanya, aku mengenal dia sudah lebih dari satu bulan,"
"Kalau seperti itu, bagaimana dia bisa tahu aktifitasmu? sekarang kamu akan aktif lagi bukan?"
"Ya, aku sudah percaya diri lagi. Dia tidak perlu tahu. Hidup kami berjalan apa adanya saja, Jane."
Sebenarnya tanpa mereka sadari Jhico sudah mengikuti Vanilla di hari pernikahan mereka. Entah darimana Ia mengetahui akun sosial media istrinya. Yang jelas, Jhico sudah bergerak lebih cepat dari apa yang dibayangkan. Setelah mengikuti, Jhico langsung melihat semua foto-foto cantik istrinya. Tidak terhitung berapa banyak pose Vanilla menggunakan pakaian yang sangat aneh di mata Jhico, Vanilla juga terbilang sering foto bersama teman laki-lakinya dengan latar belakang kelab malam yang begitu ramai.
Jhico tidak mengambil kesimpulan yang macam-macam karena prinsipnya selama ini tidak ingin menilai tanpa mengenal terlebih dahulu. Tapi setelah beberapa kali Vanilla mengatakan bahwa masa lalunya kotor, Jhico baru percaya dan Ia tidak peduli sama sekali. Karena yang dinikahinya saat ini bukan lagi Vanilla yang dulu.
"Kamu tahu tidak, aku ini memiliki banyak sekali mantan kekasih. Bahkan ada yang masih sering menghubungi aku sampai saat ini,"
Sejak awal Vanilla sengaja membuat batasan agar Jhico tidak terlalu berharap padanya. Ia mengatakan semua keburukan yang pernah Ia lakukan agar Jhico berpikir ulang sebelum mencintainya terlalu dalam.
"Aku juga bukan laki-laki polos yang belum pernah mengenal cinta. Sama seperti kamu, aku juga punya cerita cinta masa lalu,"
Dengan dewasa Ia menjawab sehingga membuat Vanilla lagi-lagi hampir menyerah untuk membuat suaminya pergi.
"Tapi aku harap setelah menikah, kamu tidak lagi terjebak dalam masa lalu. Berhenti untuk membuatku cemburu,"
__ADS_1
"HEY, KENAPA MELAMUN?!"
"Sial! aku terkejut, Jane."
Tawa Jane melengking setelah melihat bahu sepupunya terlonjak. "Sudah puas berfoto?"
"Sudah, terima kasih Jane yang cantik,"
"Sebagai bayaran, masakkan aku sesuatu. Aku lapar," Gadis itu menepuk-nepuk perutnya yang memang benar terasa lapar. Karena sedari tadi Vanilla hanya menyajikan makanan ringan.
"Kamu menyiapkan snack begitu banyak. Sedang mengidam atau bagaimana?"
"Tidak! jangan bicara yang aneh-aneh, Jane!"
Mereka berjalan memasuki dapur. Jane duduk dia atas pantry memperhatikan Vanilla yang mengeluarkan satu buah telur dari lemari pendingin.
"Dari dulu sampai sekarang hanya memasak telur yang kamu bisa,"
"Hey! kemampuanku sudah bertambah. Sekarang bisa memasak pasta,"
"Ya sudah, buatkan aku pasta juga. Kenapa hanya telur saja?"
"Huh! tamu tidak tahu diri," gumamnya seraya mendengus. Sebenarnya tanpa diminta pun Vanilla memang akan membuat pasta juga. Tapi Jane terlalu tidak sabar sampai mengira bahwa Vanilla hanya ingin memberinya telur. Vanilla tahu sepupunya itu memiliki perut yang bentuknya seperti karet.
*****
"Deniele, aku tidak sengaja melihat balasan pesan dari Vanilla."
"Apa katanya?"
Berusaha menutupi rasa sakitnya, Keynie membacakan kalimat yang dikirim Vanilla sebagai balasan pesan dari suaminya.
"Aku masih kuliah di sana. Deni, jangan mengganggu aku lagi." katanya dengan mata fokus menatap ponsel Deni.
"Coba aku lihat,"
Deni menghentikan kegiatan olahraganya di ruang gym pagi ini. Ia meraih ponselnya dari Keynie yang menemani Ia berolahraga.
Sebelumnya Deni bertanya pada Vanilla mengenai kabar Devan karena akhir-akhir ini, setiap kali Ia mengirim pesan pasti tidak pernah dibalas oleh sahabatnya itu. Beberapa kali Ia ke kantor Devan, tidak pernah bertemu. Padahal Devan tidak menghindar. Dan masalah pesan yang tidak pernah dibalas, sepertinya Devan tahu bahwa pada akhirnya Deni akan bertanya mengenai Vanilla. Lebih baik Ia tidak pedulikan sejak awal.
"Sudah diusir, masih saja menjadi parasit,"
Deni menatap istrinya sangat tajam. Rahangnya mengeras melihat keberanian Keynie dalam mengatakan hal itu.
"Jangan ikut campur, Keynie! aku sudah dekat dengan Vanilla jauh sebelum kamu datang lagi ke hidupku,"
Keynie diam saja tidak membantah. Diberi tahu sekasar apapun akan percuma kalau hati dan pikirannya belum terbuka.
"Biasanya kami sering bertukar kabar tapi akhir-akhir ini sangat jarang. Wajar kalau aku ingin tahu kabar Devan,"
"Bukan Devan yang kamu khawatirkan, tapi adiknya. Aku tahu, Deniele."
"Kalau ya, memang apa masalahnya dengan kamu? tidak perlu takut aku akan melakukan sesuatu. Aku sadar batasan,"
"Kalau sadar batasan, tidak seharusnya kamu mengganggu Vanilla disaat Ia sudah menikah. Aku tahu dia adikmu. Tapi bukan berarti kamu harus seperti ini,"
-------
__ADS_1
Babang tamvan Deni dgn segala keriweuhannya baleekk lageee. MOHON UNTUK MENINGGALKAN JEJAK YAA. BYK BGT YG SUKANYA JD PEMBACA GELAP HEUH😒