
Pagi-pagi sekali Jhico sudah bangun. Ia langsung mandi dan ketika selesai, istrinya juga bangun dari tidur lelap nya setelah semalam sempat menangis lagi karena melihat salah satu postingan teman sesama model nya bahkan satu agensi dengannya memposting foto baby bump di perutnya. Vanilla merasa iri karena temannya bisa menjaga kandungan sampai usia hampir sembilan bulan sementara dirinya tidak.
"Dia mau melahirkan sebentar lagi, Jhi." ujar Vanilla seraya menunjukkan foto itu pada sang suami.
Jhico melirik sebentar. Tahu bahwa foto itu mengganggu, Jhico memutuskan untuk mengambil ponsel Vanilla dan berkata tegas.
"Untuk sementara waktu aku melarang mu untuk berkelana di sosial media,"
Tak hanya mulut, tangan Jhico pun bekerja. Ia uninstall semua sosial media Vanilla. Biar istrinya itu rehat sejenak dari hingar bingar sosial media.
Vanilla hanya bisa menghela napas pelan. Ia tak membantah juga tidak menyetujui. Namun Ia sadar bahwa suaminya melakukan hal itu untuk kebaikan mental nya.
"Setelah dari sini kalau masih sering sedih seperti itu, kita harus konsultasi ke---"
"Tidak! aku tidak mau. Aku tidak gila, Jhico!"
"Siapa yang mengatakan kamu gila, Vanilla? aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja,"
Vanilla diam menatap Jhico dengan kosong. Ia benar-benar tidak ingin konsultasi pada siapapun. Ia hanya ingin pulang ke rumah setelah benar-benar diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Hey, kenapa melamun?"
Vanilla tersentak saat Jhico mengusap surai rambutnya. Ia sedang mengingat perdebatan nya semalam dengan Jhico.
"Tidak melamun,"
"Jhi, aku tidak mau konsultasi kemana pun,"
Jhico tersenyum, mengangguk berat. Ia sudah berjanji pada Vanilla untuk tidak membawa perempuan itu konsultasi ke psikiater. Begitupun Vanilla yang berjanji untuk tidak lagi bersedih, mengingat anaknya yang sudah tidak ada lagi di kandung nya.
"Iya, kalau kamu baik-baik saja, aku tidak akan melakukannya, Vanilla."
"Aku baik-baik saja, aku sehat,"
"Aku hanya khawatir kesehatan psikis mu terganggu. Hidup itu harus maju, Nilla. Jangan melihat yang sudah lalu di belakang mu,"
"Iya, tapi---"
Tok
Tok
Tok
cklek
"Mumu, Pupu, aku datang,"
"Hey, Sayang."
__ADS_1
Sambutan hangat Vanilla membuat Grizelle yang baru datang merasa senang. Karena kemarin saat Ia datang, keadaan Vanilla terlihat tidak sebaik sekarang. Senyum nya masih tipis. Kalau pagi ini, senyum Vanilla sudah lebar sekali.
"Mumu sudah sehat ya? apa sudah boleh pulang?"
"Dokter belum visit, Sayang. Nanti kalau kata dokter sudah boleh pulang, mumu pasti akan pulang. Mumu sangat merindukan rumah," ujar Jhico seraya mencium pipi anaknya dengan gemas.
"Kamu sudah cantik dengan seragam sekolah. Kenapa tidak langsung ke sekolah?"
"Iya, aku sengaja mau datang ke sini dulu untuk menemui Mumu dan Pupu,"
Grizelle datang bersama Karina, nenek nya. Ia akan berangkat sekolah bersama Karina untuk hari ini.
Ia meminta pada Karina agar singgah dulu di rumah sakit sebelum ke sekolah. Tentu saja Karina mengizinkan, sebab Ia juga ingin melihat secara langsung bagaimana kondisi Vanilla.
"Van, maaf ya, Papa belum bisa datang,"
Vanilla tersenyum maklum atas ucapan Karina, Ibu dari suaminya itu. Vanilla juga belum siap untuk bertemu dengan Thanatan usai keguguran yang Ia alami. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Thanatan bila bertemu dengan Ibu yang bodoh macam dirinya.
"Aku berharap anak keduaku laki-laki supaya Papa senang, tapi dia tidak jadi lahir ke dunia," gumam Vanilla.
"Masih ada kesempatan, Vanilla. Jangan berkecil hati,"
"Iya, Ma. Aku sudah melepaskan kesedihanku,"
"Syukurlah, itu yang Mama inginkan,"
"Iya, Mu. Mungkin besok Mumu hamil lagi telus pas lahil laki-laki,"
******
Hari ini Grizelle ada tugas menggambar sekaligus mewarnai dari pengajar nya. Ia memutuskan untuk menggambar seorang perempuan hamil. Meskipun hasil karya nya terbilang buruk, tapi itu tidak mengurangi rasa penasaran Ms Callista sama sekali.
"Kenapa kamu menggambar wanita hamil?"
"Kalena aku akan menjadi wanita hamil nanti," jawabnya bercanda hingga mengundang tawa beberapa teman sekelas yang mendengarnya.
"Hehe, sebenalnya bukan itu alasan nya, Ms Callista," lanjut anak tunggal Jhico dan Vanilla untuk saat ini.
"Lalu apa?"
"Ini gambal mumu dan adikku yang sudah pelgi," jawabnya dengan cara bicara yang belum terlalu baik. Bibirnya melengkung mengumbar senyum namun mata tak bisa berbohong.
Callista terkejut mendengar ucapan anak itu. Ia refleks mengusap kepala Grizelle. "Kamu kakak yang luar biasa. Meskipun sudah pergi, tapi kamu masih mengingatnya,"
"Tentu saja, Ms. Dia adikku, tidak mungkin aku lupa. Dia sudah menghadilkan kebahagiaan sekaligus kesedihan untuk aku, Mumu, Pupu, daaaaan semuanya. Aku senang saat tahu akan memiliki adik, tapi senang itu langsung belubah jadi sedih setelah adikku pelgi. Tapi aku tidak boleh sedih telus 'kan, Ms? nanti Mumu semakin sedih kalau aku sedih,"
Callista nampak berkaca. Ia tidak menyangka setulus ini kasih sayang Grizelle pada Mumu nya. Anak kecil itu tidak ingin Vanilla merasa semakin hancur, bila Ia juga bersedih atas kehilangan adiknya.
"Kenapa bisa pelgi, gyis?"tanya salah satu temannya yang duduk di dekat dirinya.
__ADS_1
"Diambil Tuhan. Aku tidak tahu kenapa Tuhan mengambilnya. Mungkin Tuhan lebih sayang padanya,"
"Itu pasti, Grizelle. Kamu juga sangat disayang oleh Tuhan karena kamu anak yang baik. Bedanya, kamu diberi kesempatan untuk hidup bersama kedua orangtuamu dan merasakan kasih sayang mereka. Sementara adikmu, tidak,"
Grizelle mengangguk setelah Callista bicara seperti itu. Meskipun Ia masih kecil, tapi Ia paham apa yang dibicarakan oleh Callista. Ia memang seberuntung itu.
******
Adrian dan adik nya sudah tiba di sekolah Grizelle. Hari ini mereka sengaja menjemput Grizelle. Mereka datang bersama dengan Lovi. Setelah menjemput, mereka akan mengajak Grizelle pergi sebentar ke pusat perbelanjaan. Mereka berharap hal itu bisa sedikit mengurangi kesedihan Grizelle.
Mommy mereka yang mengatakan bahwa Grizelle dan kedua orangtuanya baru saja kehilangan. Tentu mereka tahu bagaimana perasaan Grizelle sekarang.
Grizelle keluar dari kelasnya sedikit tidak bersemangat karena yang menjemputnya hanya supir dan Rena, begitu kata Pupu nya tadi. Ia rindu sekali dijemput oleh Vanilla atau Jhico. Tapi kondisi sedang tidak memungkinkan. Jhico masih harus mendampingi Vanilla di rumah sakit.
"ICELLE,"
Grizelle menoleh ketika nama nya dipanggil. Matanya langsung berbinar melihat Adrian dan Auristella. Ia segera berlari menghampiri.
"Jangan berlari, Sayang." tegur Lovi dengan lembut.
Grizelle langsung memeluk Adrian dan Auristella. Ia menatap keduanya. "Tidak biasanya datang ke sekolahku. Pasti ingin mengajakku belmain ya? ah, sudah bisa aku tebak. Baiklah, ayo kita belmain,"
"Kata siapa aku ingin mengajakmu bermain? aku ingin mengajakmu mencari uang,"
Lovi mengacak pelan rambut anak laki-lakinya yang telah menggoda Grizelle. Grizelle nampak kebingungan dengan ucapan Adrian.
"Mencali uang? kata Pupu, aku fokus sekolah saja, tidak usah mencali uang. Aku masih kecil,"
Adrian refleks mendorong pipi Grizelle dengan jari telunjuknya, Ia juga tertawa geli. "Aku hanya bercanda, Icelle."
"Lagipula bercanda mu aneh!" sahut Auristella dengan nada kesalnya.
"Ayo, kita masuk ke dalam mobil. Aku akan menculikmu, Icelle," gantian, Auristella yang menggoda Grizelle. Adrian menarik daun telinga adiknya hingga Auristella memekik.
Adrian menarik tangan Grizelle untuk masuk ke dalam mobil. "Tenang saja, kita tidak akan menculikmu. Auris hanya bercanda," ucapnya pada Grizelle.
"Kamu pikil aku pelcaya? mana mungkin aku diculik," sahut Grizelle seraya menjulurkan lidahnya menatap Adrian.
Lovi hanya bisa tersenyum melihat interaksi antara anak dan keponakan nya. Mereka sering bertemu dan tidak pernah berhenti untuk saling mengganggu.
Auristella menyusul masuk ke dalam mobil dengan gerakan cepat karena kakaknya sudah berseru memanggilnya.
"Kamu lama sekali,"
"Aku pakai heels,"
"Siapa yang menyuruhmu memakai itu? kita bukan pergi ke pesta, Auris."
Auristella memang datang memakai sepatu ber-hak cukup tinggi miliknya. Ia hanya ingin mengenakan itu tanpa alasan. Belakangan ini, anak bungsu Lovi dan Devan memang sedang gemar-gemarnya berdandan layaknya seorang princess. Adrian hanya dibuat geleng kepala melihat adiknya seperti itu.
__ADS_1
-----------
Haiiii aku dtg bawa part baru nih. Siapa yg udh nungguin? maap telat bgt up nya :( sehat-sehat untuk aku dan kalian semua❤️