Nillaku

Nillaku
Nillaku 71


__ADS_3

"Nenek boleh temani Vanilla di sana?"


"Memangnya Nenek tidak apa-apa ke sini? Pasti Vanilla senang sekali, tapi aku khawatir Nenek kelelahan,"


Jhico mengangguk saat sebuah bangsal yang didorong oleh dua orang perawat melewatinya dan salah satu dari mereka mohon izin untuk mendahului Jhico.


Jhico meringis saat menyadari kalau pasien yang tengah berbaring di sana sepertinya baru saja mengalami kecelakaan. Walaupun tak terluka parah, namun cukup membuat Jhico prihatin.


"Daripada Nenek hanya sendirian di rumah. Lebih baik datang ke sana. Bisa berbincang dengan kamu dan menghibur Vanilla agar Ia tidak kebosanan,"


"Baiklah, aku tunggu ya, Nek."


Jhico harus kembali ke ruang perawatan Vanilla sebelum istrinya itu bangun. Jhico baru saja mencari sarapan untuk dirinya sendiri. Jhico benar-benar lapar dan tidak mau sakit juga kalau sampai pola makannya tidak teratur. Kalau kondisi tubuhnya sendiri tidak sehat, bagaimana dia bisa menjaga Vanilla dan anak mereka?


******


"Mau pergi kemana, Nek? aku baru datang,"


"Nenek mau ke rumah sakit dulu. Menjenguk Vanilla,"


"Oh mau mengunjungi cucu menantu kesayangan. Ya sudah, silahkan pergi,"


Hawra tidak terlalu mendengarkan kalimat cucunya, Barvi yang kebetulan baru saja datang.


Begitu sampai di depan pintu, kebetulan Fionna datang. Ia segera memeluk Nenek dari sahabatnya itu.


"Maaf aku jadi sering datang ke sini, Nek."


"Justru Nenek senang,"


"Aku baru saja pulang dari berlibur kemarin. Dan aku membawa ini untuk Nenek,"


Fionna menyerahkan dua buah paper bag pada Hawra. "Terima kasih, Fionna." Hawra menerimanya dengan senang hati. Fionna masih mengingatnya kemanapun Ia berlibur. Masih sama seperti dulu. Anak itu selalu peduli dengan Hawra dan Jhico yang sangat jarang berlibur seperti dirinya karena keluarga Jhico lebih sering sibuk dengan pekerjaan.


"Hai, Fionna."


"Oh, hai Barvi." Fionna membalas sapa Barvi dengan canggung. Ia sering bermain bersama Jhico dan semua sepupunya bila kebetulan mereka datang.


Tapi saat masih kecil, Barvi dan Fionna kerap bertengkar karena Barvi selalu mengganggu Jhico. Dan Fionna tidak pernah lelah membela Jhico. Tidak hanya Barvi, semua sepupu Jhico akan dimusuhi juga oleh Fionna bila mereka semua mengganggu Jhico.


Mungkin itulah yang membuat Fionna merasa kaku sekarang. Berbeda dengan Barvi yang tampak sangat hangat menyapanya.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik," jawab Fionna lalu Ia menatap Hawra yang baru saja menyerahkan buah tangan darinya ke maid agar disimpan di dalam.


"Nenek mau pergi kemana?"


"Menjenguk Vanilla,"


"Istri Jhico?"

__ADS_1


"Iya, di sedang dirawat di rumah sakit,"


"Astaga, karena penyakit apa, Nek?"


"Kandungannya melemah, jadi sementara waktu dirawat di sana,"


"Aku baru tahu kalau Vanilla hamil,"


"Memang baru kemarin diperiksa dan dinyatakan hamil oleh dokter,"


Fionna mengangguk.Tiba-tiba saja Ia mau ikut mengunjungi Vanilla yang katanya hamil itu. "Aku boleh ikut Nenek tidak?"


"Boleh, tapi tidak mengganggu waktumu kah?"


"Tidak, Nek. Pekerjaan ku hari ini sudah---"


"Aku juga ikut!" sela Barvi tak ingin kalah. Hawra menatap cucunya itu bingung. Tadi saat ia pamit pergi, Barvi nampak tidak peduli. Setelah Fionna mengajukan diri untuk ikut dirinya ke rumah sakit, Barvi malah melakukan hal sebaliknya.


"Kamu yakin? Nenek tidak mau kamu malah menciptakan perdebatan dengan Jhico nanti,"


Hawra harus mengantisipasi sejak awal. Karena yang sudah-sudah seperti itu. Jhico selau dianggap musuh sehingga diajak berperang mulut terus.


******


"Thanatan, Vanilla benar hamil?"


"Iya, Ayah. Kemarin Vanilla dinyatakan hamil oleh dokter,"


Arlan langsung duduk begitu memasuki ruangan menantunya. "Semoga saja anaknya laki-laki,


"Tapi percuma juga laki-laki kalau otaknya bebal seperti anakmu. Padahal aku ingin sekali dia dan anaknya menjadi seperti aku,"


"Kita bisa menggunakan Vanilla, Ayah. Dia tidak akan menolak apapun yang menjadi keputusan keluarga suaminya. Percayalah padaku,"


"Sekalipun suaminya tidak setuju?" tanya Arlan dengan senyum miring. Ia sudah membayangkan akan seperti apa kerasnya kepala Jhico kalau benar anaknya laki-laki dan sedari awal Ia juga sudah mengatakan kalau anaknya tidak boleh diperlakukan sama seperti dirinya.


Padahal usia kandungan Vanilla baru dua minggu, tetapi kedua lelaki itu sudah memikirkan rencana di masa depan.


********


"Nenek tidak sabar melihat anak kalian,"


"Iya, aku juga, Nek. Rasanya masih sangat lama. Sembilan bulan lagi,"


Hawra menyuapi Vanilla makan siang atas permintaan Vanilla sendiri. Ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya disuapi oleh tangan yang biasa mengurus suaminya sejak kecil itu.


"Pantas saja Jhico selalu suka disuapi Nenek ya. Ternyata tangan nenek ini ada penyedapnya sampai makanan terasa lebih nikmat,"


"Ah kamu bisa saja membuat Nenek terbang,"


Melihat mereka tertawa seperti ini, Jhico bahagia sekali. Interaksi antara nenek dan istrinya tidak kaku walaupun mereka jarang bertemu. Mungkin karena keduanya juga memiliki sifat yang tak berbeda jauh. Bisa dengan mudah mencairkan suasana, membuat orang-orang disekelilingnya merasa bahagia.

__ADS_1


"Kamu sudah lama kembali menjadi tetangga Nenek?"


"Baru dua hari yang lalu. Aku kembali karena kuliahku sudah selesai,"


"Artinya bisa sering bermain lagi dengan Jhico ya? mengenang masa kecil,"


Barvi sibuk mengobrol dengan Fionna. Padahal Fionna terlihat tidak nyaman. Ia ingin berbaur bersama Jhico, Vanilla, dan Hawra tapi Barvi selalu mengangkat topik baru sehingga Fionna hanya berbicara dengannya saja.


"Jhico 'kan sudah pindah, tidak tinggal bersama neneknya lagi,"


"Oh iya, aku lupa."


Bukan lupa, lebih tepatnya tidak peduli. Mau Jhico tinggal di jalanan sekalipun Ia tidak akan mau tahu.


*******


"Biarpun sudah diizinkan pulang, kamu tidak boleh kelelahan ya"


"Iya,"


"Ingat kata dokter, kamu harus istirahat total sampai kondisi kalian normal,"


"Iya,"


"Kalau mau apapun, tinggal katakan padaku,"


"Iya,"


"Jangan 'Iya' terus, Nilla! aku bicara serius,"


Vanilla melotot tidak terima saat suaminya malah menganggap Ia bercanda. "Aku juga serius!"


Jhico mengibas tangannya di depan wajah Vanilla. "Tenang...tenang... jangan marah-marah, tidak boleh. Selain dosa, kasihan anak kita," ujar lelaki yang akan menjadi ayah itu.


Vanilla menutup bagian-bagian tertentu tubuhnya saat Jhico akan membantu untuk membersihkannya dengan kain yang telah dibasahi dengan air hangat.


Jhico berdecak karena sedari tadi Vanilla seperti itu terus. Kapan mereka selesai? sementara sebentar lagi mereka akan pulang.


"Jangan seperti gadis, Vanilla."


Vanilla bersungut seraya memukul lengan suaminya. Jhico meringis sakit. Rupanya sang istri sudah kuat untuk memukul. Kemarin lemahnya bukan main.


"Sampai kapanpun aku akan menjadi gadis,"


"Huh? sekalipun sudah punya anak?"


"Iya lah! kenapa sih tidak yakin begitu? aku bisa merawat diriku supaya bisa seperti gadis lagi. Dengan begitu, kamu tidak akan berpaling 'kan?"


"Hey, kenapa bicara seperti itu? memang aku menuntut kamu untuk melakukannya? aku akan menerima kamu apa adanya. Penuaan adalah hal yang wajar, Nillaku."


"Penuaan?! aku belum tua ya, Jhico! jangan sembarangan kalau bicara!"

__ADS_1


Tawa Jhico meledak dan Ia cepat-cepat meraih wajah istrinya yang merajuk itu. Ia mengusap sudut bibir Vanilla dengan ibu jarinya.


"Kita akan menua. Aku benar 'kan? saat itu tiba, aku tetap menerima kamu. Jangan khawatir aku tidak akan meninggalkan kamu, Nillaku."


__ADS_2