
"Nilla, aku sudah selesai. Handuknya dimana?"
"Oh iya. Handuknya malah aku bawa," gumam Vanilla seraya menepuk keningnya.
Vanilla segera membuka pintu sedikit lalu mengangsurkan handuk itu pada Jhico. Namun tidak ada pergerakan dari Jhico. Handuknya masih tetap Ia pegang.
Ia tidak menoleh ke dalam. Hanya tangannya saja yang masuk ke dalam untuk memberikan handuk.
"Jhico, ini handuknya. Cepat terima. Tanganku pegal ini,"
Jhico menahan tawa. Lagi-lagi Ia ingin mengerjai istrinya. Ia sengaja tidak menerima handuk itu agar Vanilla kesal dan otomatis menatap ke dalam kamar mandi dimana dirinya berada. Ia sudah memakai bathrobe sebenarnya. Tapi sengaja minta handuk untuk menjalankan idenya.
"Jhico, kenapa kamu diam saja? aku lempar handuknya ya?"
"Jangan," cegah Jhico dengan cepat.
"Ya sudah, pegang handuknya. Tadi kamu minta handuk," Vanilla merengek kesal. Ia menunggu hingga beberapa detik, handuk di tangannya tidak berpindah tangan. Ia yakin Jhico sudah selesai mandi dan mendengar setiap kalimatnya karena aliran air pun sudah tidak terdengar lagi.
Vanilla penasaran dengan kegiatan suaminya di dalam. Akhirnya Ia memasukkan sedikit kepalanya ke dalam untuk melihat kesibukan suaminya.
Ia terkejut saat mendapati Jhico berdiri dibalik pintu dengan mengenakan bathrobe. Jhico tak bisa lagi menahan tawanya. Ia membuka pintu lebih lebar dengan tangan yang tidak cedera. Lalu berdiri di hadapan Vanilla yang menatapnya jengkel.
"Jhico! ah kamu mengerjai aku terus,"
"Hahahah kamu lucu. Kalau memberikan sesuatu pada orang harus ditatap, Nillaku. Jangan seperti tadi,"
"Aku memberikan handuk padamu yang baru selesai mandi. Jelas saja aku tidak mau menatap,"
"Jadi yang salah siapa?"
"Kamu lah! sudah pakai bathrobe kenapa malah minta handuk?!"
Jhico benar-benar dibuat semakin bahagia sekarang. Menjahili Vanilla sepertinya akan menjadi kebiasaan baru untuknya karena itu menyenangkan. Vanilla menggemaskan sekali kalau sedang kesal usai dikerjai olehnya.
"Ternyata kamu bisa jahil juga, Co." ujar Karina yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
"Bisa, Ma. Terutama dengan Vanilla. Dia lucu kalau sedang kesal,"
"Nilla, kamu semakin cantik kalau cemberut begitu,"
Jhico menggunakan telunjuknya untuk mengalihkan wajah Vanilla yang enggan menatapnya.
"Jangan merajuk, nanti aku tidak sembuh-sembuh."
"Jangan bicara begitu! kamu harus sembuh! besok sudah mau pulang,"
"Makanya jangan merajuk. Aku hanya sedang mencari hiburan saja tadi. Tidak apa kamu dikerjai asal aku tertawa,"
"Iya, selagi kamu bahagia, tidak masalah."
"Oh manisnya," ujar Karina yang sangat menyukai pemandangan di depannya saat ini.
__ADS_1
"Aku pulang ya,"
"Iya, hati-hati. Sampaikan rinduku pada Griz. Minta pada Griz untuk mendoakan aku supaya hasil pemeriksaan besok baik jadi aku bisa pulang,"
"Setiap saat dia mendoakanmu meskipun masih sangat kecil. Aku yakin karena dia anak yang baik,"
Vanilla segera meraih ponselnya untuk menghubungi supir di mansion agar menjemputnya di rumah sakit.
"Astaga kamu belum pakai baju,"
"Oh iya, lupa."
Vanilla segera mengambil pakaian suaminya di koper kecil lalu memberikannya pada Jhico.
Sebelum beranjak ke kamar mandi, Jhico berbisik dulu di telinga Vanilla,
"Kalau tidak ada siapapun selain kita berdua di sini, aku tidak akan pakai baju di kamar mandi,"
Vanilla langsung mencubit pinggang suaminya. "Kamu kenapa jadi genit begini sih? aku sedikit tidak percaya karena kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya," bisik Vanilla dengan kesal.
Jhico terkekeh kecil sembari menahan perih karena cubitan maut istrinya yang jadi gemar mencubit bila Ia jahili.
"Tidak mungkin lah, Sayang. Aku hanya bercanda. Tapi jangan cubit aku terus. Sumpah, rasanya sakit sekali,"
Vanilla mendegus. Siapa suruh Jhico menjahili dari tadi. Refleknya bekerja terus karena ulah Jhico sendiri. Ia segera mengusap area yang Ia cubit tadi seraya meminta maaf.
"Cepat pakai baju ya,"
*******
"Auris tidak mau makan?"
"Ndak,"
"Ya sudah, tidak usah temani Auris ya Grizelle. Dia tidak mau makan,"
Auristella langsung menatap Grizelle yang berbaring di tempat tidur. Kakek dan neneknya akan makan malam bersama. Ia diajak makan malah tidak mau lepas dari Grizelle.
Saat akan memulai makan malam, Vanilla datang. Ia senang sekali kedatangan Senata dan Lucas. Yang pertama Ia tanyakan adalah Lovi dan Devan.
"Mereka ada acara di kantor Devan,"
"Twins datang 'kan?"
"Tidak, mereka berdua ada kemah di sekolah,"
"Yahh sayang sekali. Auris dimana? tidak ikut juga?"
"Ada di kamarmu bersama Auris dan Bibi."
Vanilla mengangguk kemudian beranjak ke kamarnya untuk menemui sang buah hati yang sudah dapat titipan rindu dari Pupu nya.
__ADS_1
"Auris, kenapa tidak makan? makan dulu, nanti bermain lagi dengan Griz,"
"Ndak au,"
"Kenapa tidak mau? tidak suka dengan makanan nya?"
"Ndak au, ty."
"Au ain ja," lanjut nya.
"Harus makan. Nanti Daddy mu marah dengan Griz karena Griz mengajakmu bermain terus sampai tidak mau makan,"
Membayangkan Grizelle akan dimarahi oleh Devan, Auristella langsung keluar dari kamar dan bergabung dengan kakek dan neneknya di meja makan.
"Anak pintar. Harus menurut kalau disuruh makan ya makan. Tadi Mommy sudah berpesan jadi anak yang baik 'kan?" tanya Senata.
Auristella mengangguk. Sebenarnya tidak mungkin Devan memarahi Grizelle. Hanya saja pikiran polos Auristella mengatakan sebaliknya. Ia tidak mau Grizelle dimarahi Devan kalau Ia tidak makan karena sibuk bermain dengan Grizelle.
****
"Bye, Icell. Byeee,"
Auristella melambai dari dalam mobil yang jendelanya sengaja dibuka oleh Senata. Usai makan malam di mansion, Senata, Lucas, dan Auristella pulang. Auristella dengan berat hati meninggalkan Grizelle. Entah kapan lagi Ia dibawa ke sini. Yang sering bermain ke mansion adalah kedua kakaknya. Dalam seminggu mungkin sampai empat kali ke mansion usai pulang sekolah. Auristella ke mansion kalau kebetulan Devan atau Lovi tidak sibuk saja misalnya akhir pekan. Karena Auristella masih harus ditemani kemanapun. Sementara Andrean dan Adrian bisa ditinggal di mansion oleh supir mereka lalu biasanya minta dijemput oleh Devan setelah Devan pulang bekerja.
Setelah mobil tidak terlihat lagi di pelupuk mata, Vanilla segera membawa anaknya masuk ke dalam.
"Saatnya Griz yang isi perut ya. Setelah itu Mumu. Mumu lapar sekali, Griz."
"Salahmu juga tidak mau makan bersama tadi. Padahal Griz dan Auris 'kan ada yang jaga,"
"Aku diajak main juga oleh Auris, Ma."
"Ya sudah, makanlah. Nanti kamu sakit. Suami mu saja belum sembuh, kamu malah cari penyakit. Bukannya makan di rumah sakit tadi,"
"Sudah makan, tapi aku lapar lagi. Berat badanku jadi tidak kunjung normal kalau begini terus,"
"Badanmu masih bagus, Vanilla. Tidak usah pedulikan itu lah, yang penting sehat,"
Rena heran dengan Vanilla yang sedikit-sedikit mengeluhkan bentuk badan yang Ia anggap sudah tidak sebagus dulu setelah melahirkan Grizelle.
Padahal menurutnya masih bagus dipandang mata. Tapi memang terlihat lebih berisi dari biasanya. Vanilla sudah workout tapi belum terlihat signifikan hasilnya.
"Seharusnya senang bentuk badan berubah. Tandanya kamu sudah benar-benar berkorban untuk menjadi seorang Ibu. Kembalikan saja pelan-pelan. Jangan dijadikan beban pikiran,"
Guysss tiap hari udh up nih. Jgn lupa tinggalkan jejak kalian yaaa. Teken like gampang kan?😂 teror aku jg di komen supaya aku cepet up kalia aja double up sehari kayak Addicted kemaren.
UDAH MAMPIR KE LAPAK ADDICTED BLM? DI SANA LG SEDIKIT MEMANAS GUYSSS😂😂😂
__ADS_1