Nillaku

Nillaku
Nillaku 64


__ADS_3

"Auris mandi dengan Mommy, ayo."


"Aku saja yang mandikan Auris,"


"Huh? kamu yakin?"


Entah dari mana datang keinginan untuk memandikan Auristella. Vanilla hanya ingin melakukannya tanpa alasan.


"Biarkan saja Vanilla yang memandikan Auris, Lov. Vanilla mau belajar menjadi orangtua sebelum memiliki anak sebentar lagi,"


Vanilla melempar tatapan tajam pada kakak semata wayangnya. "Tidak usah banyak bicara kamu! belum tentu juga aku punya anak,"


"Semoga sebentar lagi. Kamu jangan bicara seperti itu. Seharusnya mendoakan hal yang sama seperti aku,"


Jhico sudah selesai membersihkan dirinya. Dan Vanilla sedang menunggu Lovi yang harus menyiapkan perlengkapan mandi sang anak sebelum diserahkan pada Vanilla.


"Bajunya?"


"Nanti aku saja yang memakaikan Auris baju,"


"Okay, baiklah."


Vanilla masuk ke dalam kamarnya. Dan Ia melihat Jhico tengah menata rambutnya di depan cermin lalu menggunakan pengharum untuk tubuhnya.


"Wow Uncle sudah tampan, Auris. Kita belum cantik sama sekali," Vanilla mengajak keponakannya bicara. Auristella terlihat bingung dan takut memasuki kamar Vanilla dan Jhico hal itulah yang membuat Vanilla khawatir Ia menangis.


"Ya Tuhan, semoga tidak ada tangis sebelum mandi," batin Vanilla berharap. Vanilla tahu betul kalau keponakannya itu sering sekali merajuk bahkan menangis jika sudah mau dimandikan. Ada saja drama yang dia buat, sama seperti Adrian sewaktu kecil dulu.


"Kamu akan memandikan Auris? memang bisa, Nillaku?" tanya Jhico ketika melihat Vanilla membawa perlengkapan mandi milik Auristella.


"Bisa, lihat saja nanti. Auris akan cantik dan harum tidak kalah dari kamu,"


Jawaban istrinya membuat Jhico terkekeh. Ia membiarkan sang istri masuk ke kamar mandi bersama Auristella yang digendongnya.


Auristella meraih botol shampo ketika rambutnya sudah di basahi. "Aunty minta shampo-nya sedikit untuk rambutmu," tangannya menjulur ke arah Auristella. Dengan senang hati anak itu menuangkannya di telapak tangan Vanilla lalu sesegera mungkin Vanilla mengusapkan cairan tersebut di kepala sang keponakan.


"Hey jangan didekatkan ke mulut," telunjuk Vanilla bergerak ke kanan ke kiri, memberi tahu agar Auristella menjauhkan botol tersebut dari mulut mungilnya. Sebenarnya inilah yang ditakutkan Vanilla bila Auristella memegang shampo atau perlengkapan mandi yang lainnya. Auristella masih belum mengerti kalau itu semua bahaya untuk tubuhnya. Tetapi kalau dilarang, Ia takut Auristella merajuk. Akhirnya Vanilla pun membiarkan saja Auristella memegang apapun yang dia mau asalkan Vanilla perhatikan terus agar tak masuk ke dalam mulutnya.


Auristella mandi dengan suasana hati yang baik kali ini. Mungkin karena baru pertama kalinya juga dimandikan oleh Vanilla, jadi ada rasa bahagia tersendiri. Biasanya hanya Jane saja Aunty-nya yang sering memandikan Ia di mansion kalau bukan sang Mommy atau kedua neneknya.


*******


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik, ah! kau sombong sekali sekarang. Mentang-mentang sangat sibuk bekerja di klinik sendiri,"


"Yang super sibuk sepertinya kau, Dante. Ayolah, sekali-sekali datang ke klinikku bersama Tiano dan Riyon.

__ADS_1


Seraya menunggu istrinya selesai mandi, Jhico memilih untuk menikmati pemandangan dari balkon kamar mereka yang menghadap langsung ke lautan dimana mereka berenang tadi. Semilir angin membuat Jhico sangat nyaman menyendiri di sana.


Belum lama Ia duduk, ada telepon masuk dari sahabatnya yang sudah jarang berkomunikasi dengannya itu.


"Takut mengganggu pengantin baru,"


"Ck! sudah tujuh bulan masih bisa dikatakan baru?"


"Kalau belum memiliki anak, rasanya akan seperti pengantin baru terus, Co."


"Ah tahu apa kau tentang pengantin baru? nikah saja belum,"


Dante terkekeh menimpali ucapan Jhico. Kemudian Ia berdehem sebelum menjawab, "Aku sedang persiapan, Co."


"Persiapan apa?"


"Lagi mau bicara dengan keluarga. Aku sedang dalam tahap meyakinkan diri sekarang,"


"Wow, aku tertinggal banyak berita tentangmu ya. Siapa yang berhasil membuat kamu berada di tahap meyakinkan diri?"


"Kau kenal, bodoh!"


"Oh Emilly, mantan kekasihmu yang masih suka cari perhatian itu?"


"Bukan mantan lagi. Kau sudah tahu kalau aku dan dia kembali bersatu lagi 'kan?"


"Astaga, mulutmu jahat sekali,"


Jhico terbahak mendengar Dante yang menggerutu tak terima. Sepertinya Dante benar-benar serius. Sampai tidak mau sekali hubungannya dibicarakan yang tidak-tidak padahal Jhico hanya bergurau saja.


"Ya sudah aku tutup teleponnya. Ingat, kalau sudah yakin, segera undang aku ya. Aku akan datang pastinya,"


"Itu harus! dan semoga tidak lama lagi. Doakan saja agar secepatnya,"


"Iya lah, jangan lama-lama. Kalau dia sudah dengan yang lain, kau juga yang sakit hati. Jangan sampai berniat bunuh diri lagi seperti pada saat putus dengan dia,"


"Sialan! aku tidak pernah niat bunuh diri,"


Jhico cepat-cepat mematikan panggilan saat sahabatnya itu memaki. Ia terkekeh pelan seraya menggeleng. Ia senang sekali mendengar kabar tersebut. Semoga saja tidak lama lagi sahabatnya itu melepas masa kesendiriannya.


******


"Aku cemburu melihat mereka semua sefokus itu menatap kamu,"


"Siapa?"


"Mereka! lihat mata-mata itu! ingin ku keluarkan satu persatu,"

__ADS_1


Jhico meringis ngilu saat mendengar ucapan istrinya. Ia baru saja selesai menikmati parasailing bersama Devan, Zio, Akra, dan Jhon.


"Apa yang mereka lihat ya?"


"Perutmu lah!"


Vanilla menjawab sinis dan itu mengundang tawa Jhico. Lelaki itu menarik dagu istrinya yang sedang memangku Auristella untuk Ia tatap dengan jahil.


"Jadi seperti ini rasanya dicemburui?"


"Aku tidak cemburu! hanya saja---"


"Marah-marah karena pasangannya menjadi bahan perhatian orang lain itu merupakan salah satu tanda kalau dia sedang cemburu, Nillaku."


"Memang salah ya?"


"Tidak! terus saja cemburu, aku senang."


Vanilla mendengus dan mengalihkan pandangannya dari Jhico yang sedang menatap ke arahnya dengan gemas sampai-sampai menggigit bibir bawahnya. Dan Vanilla tak kuat melihat itu. Ia juga gemas, gemas ingin menerkam bibir penuh dan merah alami milik suami dokternya yang tampan.


"Astaga, kotor sekali pikiranku! bisa-bisanya ingin mencium Jhico ditempat umum seperti ini," batin Vanilla memaki dirinya sendiri. Mereka sedang mengunjungi watersport yang begitu diidamkan Devan dan semua sepupunya karena di saat masa remaja mereka sering sekali berlibur ke sini untuk menaiki banana boat, flyboard, Parasailing, dan lain-lain. Sementara Jhico tidak pernah mencoba wahana olahraga air bersama keluarganya. Beberapa kali Ia datang ke tempat watersport hanya bersama sahabat-sahabatnya.


"Padahal perutmu tidak begitu sixpack, Jhi. Kenapa mereka sampai seperti itu memperhatikanmu ya?"


"Pesonaku tidak pernah luntur, Nillaku. Sekalipun memiliki perut yang tidak terlalu kotak-kotak, tetap saja berhasil membuat sebagian orang salah fokus,"


Vanilla mencibir suaminya yang berucap dengan percaya diri, "Aku biasa saja melihatnya. Mereka yang terlalu berlebihan,"


"Kamu 'kan sudah biasa melihat tubuhku di apartemen, oh di kamar lebih tepatnya. Kalau mereka mungkin jarang,"


Vanilla meledakkan tawa gelinya. Sampai Auristella menoleh ke belakang karena Vanilla tertawa dibalik punggungnya.


"Pakai handukmu. Itu sudah aku siapkan," ujarnya seraya menunjuk handuk yang terlipat di atas meja di hadapannya.


Jhico lalu mengambilnya dan mengeringkan kepalanya. Ia dan semua sepupu laki-laki istrinya sudah selesai menikmati olahraga air. Saatnya membersihkan diri lalu mereka akan datang ke kebun binatang untuk menghilangkan bad mood anak-anak yang tidak bisa ikut menikmati wahana-wahana yang Ia coba tadi karena usia yang belum cukup.


Setiap pergerakan Jhico diperhatikan oleh sekumpulan gadis cantik yang duduk bersantai di bawah payung pantai tak jauh dari mereka.


Bahkan saat Jhico meneguk air minum pun tenggorokan mereka ikut bergerak. Hal itu membuat Vanilla berdecak sinis, "Segitunya memperhatikan milik orang lain ya. Rasa-rasanya seliar apapun aku dulu, tidak pernah sampai terang-terangan memuja lelaki dengan tatapan yang begitu liar,"


"Vanilla apa kabar dengan hatimu? kebakaran kah?" Jane mendengar semua ucapan Vanilla bahkan ikut memperhatikan. Karena Ia, Vanilla, dan Devira memang duduk bersama. Berbeda dengan Lovi, Nindya, dan Jo yang sedang sibuk berbincang usai berfoto tadi di kursi yang lebih dekat dengan tepi pantai agar lebih mudah mengawasi anak-anak mereka yang sedang bermain pasir.


"Sudah sampai di tahap hangus sepertinya, Jane." sahut Devira yang tak ingin kalah ingin menggoda Vanilla. Jhico senang melihat mereka berdua melakukan itu pada istrinya. Karena terbukti bahwa bukan hanya dirinya saja yang melihat dengan jelas kalau Vanilla sedang cemburu.


"Aku biasa saja. Mereka hanya bisa memperhatikan sekilas, sedangkan aku selamanya. Aku tidak perlu khawatir," Nyatanya kalimat itu sangat tak sesuai dengan isi hatinya saat ini. Rasanya Ia ingin sekali menjambak rambut perempuan-perempuan genit yang dengan berani memuja suaminya dengan tatapan seperti itu.


 

__ADS_1


Aku udh rajin up lg nih. EP INI PUANJANG KAN? Like, vote, komen-nya mana ya? aduww syedih deh kelean irit dukungan :(


__ADS_2