
Salah satu kesenangan bila memiliki keponakam perempuan adalah, bisa dimintai tolong untuk memakaikan masker wajah disaat sedang malas melakukannya tapi tetap mau perawatan.
Seperti yang terjadi sekarang di kamar Jane. Perempuan itu meminta tolong pada Grizelle agar memakaikannya masker di wajah. Itulah sebabnya Ia meminta Grizelle datang ke kamarnya.
Ia tidak sabar mencoba masker yang baru dibelinya bersama Vanilla usai mengantar Grizelle ke sekolah dan perawatn di klinik sebelum pergi ke rumah Rajhan.
"Aku jadi mau juga pakai ini biarrl (biar) cantik," gumam Grizelle yang masih serius membalut seluruh permukaan wajah Auntynya dengan masker.
"Jangan, anak kecil belum boleh pakai ini,"
"Oh begitu ya, Aunty,"
Jane mengangguk masih dengan mata terpejamnya. Sensasi dingin dari masker membuat Ia sangat ingin tidur apalagi Grizelle memakaikannya dengan begitu lembut.
"Ya, nanti kalau usiamu sudah cukup, barulah boleh ikut perawatan seperti ini,"
"Okay, Aunty,"
"Terimakasih ya, sudah mau membantu Aunty,"
Jane membuka matanya dan menatap anak itu dengan hangat, posisinya masih berbaring dan Grizelle duduk menghadap wajahnya.
"Sama-sama, Aunty. Sudah bilang begitu tadi,"
"Ya habisnya kamu baik sekali. Aunty jadi senang,"
"Aku juga senang kalau Aunty senang,"
Berhubung belum bisa menciumnya untuk melampiaskan rasa gemas sebab Ia sedang memakai masker tapi Jane masih bisa mencubit pipi cantik dan menggemaskan milik keponakannya ini yang tak hanya cantik tapi juga baik dan peduli.
"Mumu pernah minta tolong Icelle untuk melakukan ini juga?"
Jane penasaran sekali apakah Vanilla pernah meminta tolong pada anaknya untuk memakaikan masker di wajahnya.
Grizelle menggeleng kemudian Ia menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu mulai bercerita.
"Tidak perrlnah (pernah) kata Mumu, aku tidak bosa. Padahal aku bisa. Ini buktinya. Iya 'kan, Aunty?"
Jane mengangguk membenarkan ucaoan Grizelle. Vanilla rupanya tidak yakin dengan kemampuan Grizelle.
"Sudah hampir selesai ya?"
"Iya, sebentarrl (sebentr) lagi selesai, Aunty,"
Grizelle kambali menekuri kegiatannya dalam membantu Jane mempercantik diri.
"Aunty senang sekali kalau ada yang mau melakukan ini. Aunty malas kalau melakukannya sendiri,"
"Makanya tinggal di rrlumahku (rumahku) saja supaya bisa aku bantu terrlus (terus),"
Jane hampir saja tertawa kalau Grizelle tidak memintanya untuk diam.
"Kalau Aunty terrltawa (tertawa) nanti jadi rrlusak (rusak),"
"Okay, maaf,"
__ADS_1
Jane dibuat patuh oleh anak ini. Benar juga apa yang dikatakan Grizelle, kalau dia tertawa bisa rusak masker yang sudah ada di wajahnya.
"Aunty juga jangan bicarrla (bicara) lagi ya,"
"Okay, Tuan putri,"
"Yang Tuan putrrli (putri) itu Aunty. Tidak ada Tuan putrrli (putri) yang memasangkan maskerrl (masker) di wajah orralng (orang) lain," elak Grizelle yang membuat Jane tertawa geli. Memang dimanapun yang namanya Tuan putri akan selalu dilayani bukan justru melayani.
"Icelle baik sekali sih. Aunty sampai kagum,"
"Jangan kagum, Aunty,"
"Kenapa memangnya?"
Bukannya senang dikagumi, anak itu malah tidak mau dikagumi.
"Ya karrlena (karena) aku manusia,"
Jane mulai tahu arah pembicaraan keponakannnya itu tai Ia ingin nendengar dulu. Ia menunggu Grizelle melanjutkan kalimatnya.
"Aku manusia bukan Tuhan. Jadi aku tidak mau dikagumi," tegas Grizelle kemudian ia terkekeh.
Jane berdecak suka sekali dengan kalimat Grizelle yang begitu merundukkan dirinya. Ia tahu seluruh kebesaran Tuhan yang jelas tidak sebanding dengan dirinya. Oleh sebab itu Ia tidak ingin dikagumi.
"Tapi tetap saja Aunty perlu mengagumi kamu! anak kecil yang tidak terduga dalama egala hal,"
"Hmmm ya, terserrlah (terserah) Aunty saja,"
"Semoga adikmu akan pintar juga seperti kamu ya. Tidak hanya pintar. Tapi baik dan tulus juga,"
"Aku yakin lebih dari aku,"
Grizelle juga bisa marah atau galak tapi sayangnya tak ada pelampiasan untuk dirinya marah atau kesal karena tidak da yang memancingnya. Kalau Auristella beda cerita. Yang ada di rumah ini selalu membahagiakannya.
"Kakak Icelle, ayo ke kamarmu. Pupu sudah menyuruh istirahat,"
Tok
Tok
Tok
Vanilla mengetuk pintu kamar sepupunya agar Grizelle yang di dalam sana mendengar ucapannya dan keluar untuk istirahat di kamarnya sendiri.
"Sebentarrl (sebentar) Mu,"
"Masuk saja, Van Tidak dikunci," suruh Jane pada sepupunya yang langsung dilakukan.
"Ya ampun, ternyata sedang memakaikan masker di wajah Aunty,"
"Iya, Mumu mau juga?"
"Tidak, sayang,"
"Hei kamu jangan meremehkan kemampuan anakmu ya! dia bisa memakaikan masker di wajahku. Lihat sendiri hasilnya. Kenapa kamu tidak mau?"
__ADS_1
"Ya tidak mau saja,"
Vanilla memperhatikan wajah semuanya yang kini sudah selesai dibaluti masker. Pekerjaan anaknya rapih.
"Ayo, Mu. Aku maskerlri (maskeri) juga wajah Mumu,"
"Ayolah,Van. Anakmu sudah membujuk,"
"Kamu harus segera istirahat. Ayo,"
"Haaa tapi aku belum ingin selesai,"
"Ini punya Aunty sudah selesai 'kan?"
"Sudah, Aunty,"
Jane melihat di cermin dan Ia senang sekali karena Grizelle berhasil menyelesaikan perkintaannya dengan baik.
"Ayo, Va,"
"Tidak mau, Jane,"
"Dimana maskermu yang sama dengan punyaku ini? atau kamu bisa pakai punyaku. Tolong ambilkan, Icelle,"
Jane meminta tolong pada keponakannya untuk mengambil jenis masker wajah yang sama untuk Vanilla.
"Astaga, aku tidak mau," Vanilla merengek kesal karena dibujuk-bujuk bahkan terbilang dipaksa. Tidak hanya oleh Jane tapi Grizelle juga.
"Ayo, Mumu. Biarrl (biar) Mumu semakin cantik,"
"Aduh manisnya anakmu ini, Van,"
Jane menghangat mendengar pujian Grizelle untuk Mumunya barusan yang dengan terang-terangan memuji kecantikkan yang dimiliki oleh Vanilla.
Vanilla tak bisa mengelak lagi. Ia segera mempersiapkan diri untuk melakukan perawatan bersama dokter pribadi kecilnya yang dengan senang hati mau membantu merawat kulit Mumunya.
"Aunty, Mumu sekarrlang jarrlang (sekarang jarang) sekali pakai ini,"
"Kenapa, Van?"
Jane tahu kalau sepupunya paling suka merawat diri maka Ia bertanya pada Vanilla alasan Ia jadi jarang melakukan masker wajah yang merupakan salah satu bentuk untuk menjaga kesehatan dan kelembaban kulit.
"Malas saja,"
"Hmm mungkin jarena kamu sedang mengandung ya. Jadi lebih fokus pada kandunganmu sampai akhirnya jadi malas merawat diri,"
"Ya, mungkin,"
"Tapi beruntungnya kulitmu tetap kelihatan sehat,"
"Aku tetap merawat sebenarnya. Hanya saja tidak begitu detail seperti dulu. Mungkin karena libur bekerja juga jadi tidak begitu memperhatikan penampilan. Lihat saja berat badanku sekarang. Kamu pasti terekejut saat bertemu dengnku pertama kali ya? berubah sekali dengan sebelumnya "kan?"
"Iya! terakhir kali aku bertemu kamu, belum seperti sekarang. Tapi itu wajar, Van! kamu sedang mengandung jadi tidak masalah kalau gemuk atau sebagainya,"
"Ya, Jhico juga tidak pernah mempermasalahkan,"
__ADS_1
"Mumu, ssstt diam. Nanti maskerrl (masker)nya rrlusak (rusak),"