
Saat pukul empat pagi, Lovi terjaga dari tidurnya. Ia diam sejenak mengumpulkan nyawanya kemudian menoleh pada suaminya yang kini mengerjapkan mata. Lovi duduk dan menguncir rambutnya yang berantakan. Kemudian Ia beranjak meninggalkan ranjang.
"Lov," gumam Devan yang sudah membuka matanya. Ia menahan lengan istrinya yang akan pergi.
"Kenapa bangun? masih pukul empat. Tidur lagi,"
"Tidak mau, Lov. Aku ingin lari pagi ini,"
"Kondisimu bagaimana? sudah baik-baik saja?"
"Sudah baik bahkan sejak semalam, Lov,"
Lovi mengangguk. Ia membantu Devan yang nyawanya belum sepenuhnya terkumpul untuk berdiri.
"Aku bisa, Lov,"
"Aku bantu, Sayang,"
Lovi tersenyum tetap membantu suaminya beranjak ke kamar mandi meskipun Devan menolak dan mengatakan Ia bisa.
Suaminya di kamar mandi, Lovi meninggalkan kamar menuju dapur. Ia akan membuat sarapan. Setelah itu bersiap pergi ke butiknya.
"Nona, sudah lebih baik?"
"Aku baik-baik saja,"
"Bukankah Nona sakit?"
Lovi menggeleng tersenyum. Ia bingung kenapa maid nya bertanya seperti itu kepadanya.
"Tadi Auris bangun dan ke sini minta dibuatkan susu hangat. Setelah itu Auris tidur lagi. Auris mengatakan sakit. Aku pikir Nona yang sakit," ujar Yuma.
"Daddynya yang sakit semalam. Tapi sekarang sudah baik-baik saja,"
Yuma meringis malu karena rupanya Ia salah menangkap maksud Auristella.
"Anak itu minta dibuatkan susu?"
"Iya, Nona. Grizelle juga. Mereka berdua turun pukul tiga tadi,"
Mulut Lovi membulat. Pagi sekali mereka berdua bangun. Apa mungkin mereka terjaga karena mimpi buruk lalu tiba-tiba menginginkan susu hangat?
*****
"Nillaku, pagi ini aku harus ke klinik pagi-pagi sekali. Aku tidak mengantarmu ke rumah Devan ya?"
"Iya, tidak apa. Tapi kamu sarapan dulu ya,"
Jhico mengangguk kemudian beranjak ke kamar mandi dengan cepat. Ia dibangunkan istrinya untuk sarapan dan bersiap ke rumah Devan tapi Ia baru ingat kalau pagi ini Kenzo yang harusnya praktik tak bisa melaksanakan tugasnya karena ada seminar dan dua dokter lainnya juga. Maka terpaksa Jhico yang harus praktik pagi ini dimana seharusnya Ia praktik nanti pukul dua belas.
Vanilla menunggu suaminya di meja makan seraya berkutat dengan ponselnya. Ia ingin menghubungi Lovi menanyakan apa anaknya sudah bangun atau belum. Tapi Ia takut Lovi sedang sibuk melakukan rutinitasnya sebagai istri dan ibu.
__ADS_1
"Ah lagipula pasti Griz sudah bangun. Dia tahu bahwa dia harus sekolah," gumamnya yang memilih untuk menyimpan rasa rindunya sampai nanti Ia datang ke sana usai sarapan.
*****
Devan memilih sarapan paling akhir sebab Ia ingin lari pagi dulu. Ia kembali ke rumah dengan wajah merah dan keringat yang masih belum kering padahal sudah Ia hapus terus dengan handuk yang tersampir di lehernya.
"Ughh Daddy segar sekali kelihatannya," seru Adrian melihat ayahnya yang sudah berkeringat pagi ini sementara dirinya sudah siap dengan pakaian sekolah.
Adrian, Andrean, Auristella dan Grizelle menyudahi makan pagi mereka lima menit yang lalu dan kini sedang duduk santai di depan meja makan, belum beranjak sama sekali. Sambil mengobrol dengan Lovi.
"Duduk,"
Lovi mengisyaratkan suaminya untuk duduk dan minum yang langsung dilakukan oleh suaminya itu.
"Aku jadi ingin larrli (lari) pagi juga," kekeh Grizelle menatap Devan yang kelihatan bugar sekali.
"Besok ya?" tanya Devan pada anak itu yang langsung dianggukinya. Sepertinya Grizelle lupa kalau esok pagi harus sekolah.
"Besok malam kita--"
"Aku 'kan sudah pulang besok siang," sela Grizelle saat Auristella akan bicara mengenai rencana kegiatannya esok malam.
"Yah...memang sudah tiga hari?"
"Sudah,"
"Hmm...jangan pulang, Icelle. Tinggal di sini saja,"
Grizelle terkekeh pelan. Ia mengusap bahu Auristella sekilas. "Aku harrlus (harus) pulang. Nanti rrlumahku rrlindu (rumahku rindu) dengan aku. Kalian saja yang gantian menginap di rrlumahku (rumahku) ya?"
"Oh iya. Tapi nanti-nanti bisa 'kan?"
"Iya, nanti lagi menginapnya. Memang kalian tidak bosan bertemu terus?" tanya Lovi pada mereka.
"Tidak, Mom," sahut Auristella.
"Okay, Icelle. Lain kali kamu menginap di sini lagi ya. Atau kami yang menginap di rumahmu,"
"Iya, Ian,"
"Hei jangan lupa liburan bersama. Kita sudah merencanakan itu, Icelle," Usai berkata demikian pada Grizelle, Auristella menatap ayahnya.
"Apa, Sayang?" tanya Devan yang merasa anaknya ingin mengatakan sesuatu.
"Kita kapan liburan bersama dengan Icelle, Uncle Jhico dan Aunty Vanilla, Dad?"
"Katamu tunggu adiknya Icelle lahir dulu,"
Auristella menepuk pelan keningnya. "Oh iya, aku lupa,"
"Masih kecil sudah pelupa," cibir Grizelle. Padahal sudah sering bicara mengenai itu tapi masih saja lupa.
__ADS_1
"Aduh, kapan adikmu itu lahir, Icelle? aku tidak sabar,"
"Aku rasa bukan kamu saja yang tidak sabar. Aunty Vanilla dan Uncle Jhico lebih tidak sabar lagi," cetus Andrean menatap adiknya tanpa ekspresi.
"Kamu tidak sabarrl (sabar) juga?" Grizelle bertanya pada si sulung Devan dan Lovi itu. Ia tersenyum kala melihat Andrean mengangguk.
"Ah jadi banyak yang menantikan adikku ya,"
"Tentu saja, Sayang. Keluarga kita jadi ramai," Lovi bahkan terlihat antusias sekali.
Suara seseorang berdehem membuat mereka semua menoleh.
Vanilla menghampiri mereka dengan senyum lebarnya. "Hallo, selamat pagi," sapa wanita yang merupakan calon ibu dari dua anak.
"Pagi, Van. Sudah sarapan?"
"Sudah, Lovi,"
"Mumu, dimana Pupu?"
"Pupu tidak bisa datang ke sini, Sayang,"
"Memang kenapa, Mu?" tanya Grizelle dengan wajah yang merengut sedih.
"Harus praktik pagi di klinik,"
Grizelle membulatkan mulutnya seraya mengangguk. Pantas saja Ayahnya memilih absen mengunjunginya hari ini. Ternyata hrus menjalani kewajibannya sebagai seorang dokter.
"Berkeringat, habis olahraga?" Vanilla menatap kakaknya sinis, Devan rasa adiknya masih menyimpan kesal karena semalam tahu bahwa Ia mabuk.
"Iya, kenapa? wajahmu bisa santai tidak? tidak usah sinis begitu,"
"Tidak sinis. Biasa saja," bantah Vanilla. Meskipun kakaknya mengaku tak lagi menyakiti hati Lovi tapi tetap saja semalam itu Vanilla dibuat cemas oleh Devan.
"Ihh Daddy bisa bertengkar juga dengan Aunty,"
"Bukannya sudah serrling (sering) lihat ya," Grizelle menatap Adrian aneh. Kalau bertemu memang Vanilla dan Devan kerap berdebat tapi tidak seriuh Auristella dengan Adrian, tentu saja.
"Tapi jarang. Tidak seperti aku dan Auris," Adrian mengatakan seperti itu kemudiam terbahak.
"Ya jelas saja tidak seperti kamu dan Auris. Mereka malu dengan kalian. Sudah punya anak masing-masih tapi masih suka berdebat," cetus Lovi dengan senyum meledek ke arah Vanilla dan kakaknya yang merupakan pujaan hatinya itu.
"Iya, tapi suamimu itu terkadang tidak tahu malu. Suka cari ribut,"
Alis Devan bertaut. Mulutnya akan terbuka membalas namun Ia tersenyum melihat keempat anak di hadapannya ini menatap serius ke arahnya dan Vanilla seolah sudah siap menyaksikan pertunjukkan yang akan Ia dan Vanilla persembahkan.
"Tidak lah. Daddy dan Aunty ini saling menyayangi. Kami 'kan hanya dua bersaudara, jadi harus saling menyayangi, saling menjaga. Iya 'kan?"
Devan mendekat pada adiknya dan memeluknya. Vanilla sontak menghindar karena merasa geli dengan tingkah kakaknya itu yang terbilang sangat-sangat jarang bersikap manis padanya bahkan sampai memeluknya.
"Mumu, Uncle barrlu (baru) habis larrli (lari) pagi," Grizelle mengingatkan Ibunya bahwa sang paman baru selesai olahraga dan keringatnya belum hilang sepenuhnya namun sudah memeluk Vanilla.
__ADS_1
Vanilla baru sadar ketika anaknya berujar seperti itu dan Devan berlari menjauh dengan tawanya yang pecah. Ia memaki dalam hati. Beruntung tidak sampai keluar melalui mulut.
"Devan sialan,"