
Oeekk
Oeekk
Oeekk
"Aduh panggilan dari Nona kecil sudah menggema,"
Vanilla yang sedang ke toilet langsung keluar cepat-cepat setelah mendengar anaknya yang tadi tidur siang menangis kencang.
Ia segera menimang Grizelle dengan hati-hati. "Kenapa, sayangku? menangis karena apa? hmm?"
Oeekk
Oeekk
Vanilla memperhatikan anaknya dengan seksama. Biasanya kalau menangis pasti karena haus atau lapar. Ia segera menyajikan sumber makanan Grizelle. Ia mengarahkan dada nya agar di hisap Grizelle tapi Grizelle menolak, Ia tidak menghisapnya dan tangis tetap terdengar.
Vanilla merasa bingung sesaat. Tapi Ia tidak diam saja. Ia memeriksa semua bagian tubuh anaknya. Setelah Ia melihat lengan Grizelle merah, Ia berdecak.
"Dasar serangga terkutuk! gara-gara dia, anakku jadi menangis,"
"Kenapa bisa ada serangga penghisap darah itu sih? biasanya apartemen ini bersih dari serangga itu,"
Ia bicara sendiri seraya mengusap lembut lengan anaknya. Ia meraih obat oles khusus untuk kulit Grizelle agar bekas gigitan serangga penghisap darah itu tidak lama-lama mengotori kulit putrinya.
Vanilla meniup sekali lalu berucap, "Sudah, sudah Mumu obati." ucapnya kemudian menghibur Grizelle.
Putrinya itu masih menangis, sepertinya rasa gatal dan perih di kulitnya masih mengganggu hingga Ia belum kunjung berhenti menangis.
Vanilla menggendong Grizelle seraya menyanyikan nya, tapi tidak bisa membuat Grizelle berhenti menangis. Ia kembali meletakkan Grizelle di ranjang.
Ponsel Vanilla bergetar di atas nakas. Vanilla meraih nya. Ternyata Jhico yang telepon. Ia segera menjawab.
"Hallo, Jhi."
"Kenapa Grizelle menangis?" tanpa menjawab sapa istrinya, Jhico langsung bertanya mengenai penyebab anaknya menangis, sebab suara tangis Grizelle langsung sampai di telinga begitu Vanilla menjawab panggilannya.
"Digigit serangga,"
"Astaga, coba aku lihat."
Jhico mematikan panggilan suara kemudian beralih menjadi panggilan video. Vanilla segera mengarahkan kamera pada kulit Grizelle yang memerah.
"Sudah diberi obat 'kan, Nilla?"
"Sudah,"
Jhico menghela napas sejenak seraya berpikir untuk menghentikan tangis anaknya.
"Gendong, Nilla!" titah nya.
"Sudah tadi, tapi tetap tidak mau berhenti tangisnya,"
"Ssstt sayang. Ini Pupu, jangan menangis. Serangga itu nakal ya? nanti Pupu marahi. Berani sekali dia menyakiti anak Pupu yang cantik ini," ujar Jhico dari telepon. Vanilla sudah menggendong Grizelle lagi. Ia menimang dengan lembut.
Sementara Vanilla menggendong, panggilan masih terhubung. Jhico mendengar anaknya yang belum juga tenang. Vanilla sudah panik sejak tadi sebenarnya. Tapi Ia berusaha baik-baik saja.
"Sayang, berhenti menangis. Nanti Pupu tidak tenang bekerja. Tidur lagi ya. Pupu nyanyikan mau?"
Jhico tidak pernah semanis ini pada siapapun. Hanya Grizelle yang mendengar langsung betapa lembutnya Jhico ketika membujuk dirinya agar tenang. Vanilla merajuk saja tidak pernah Jhico membujuk seperti ini.
__ADS_1
"Princess kecil tidak boleh menangis. Nanti Pupu pulang, langsung Pupu gendong, Pupu nyanyikan. Sekarang tenang ya," Jhico mengatakan itu seraya memberinya sedikit nada. Sehingga terdengar seperti sebuah lagu yang liriknya dibuat sendiri.
Disamping dapat ketenangan dari ayahnya, Grizelle juga mendapat kan ketenangan dari Ibunya. Vanilla tidak henti mengusap pipinya yang memerah karena menangis. Vanilla juga menimang terus tiada henti.
Akhirnya Grizelle berhenti menangis. Vanilla dan Jhico bisa nernapas lega. Jujur, mendengar tangis anak adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh orangtua manapun. Karena rasa sedih yang mereka rasakan sampai juga ke hati orangtua.
Setelah berhenti menangis, Grizelle tidak tidur. Ia justru menatap Vanilla dalam-dalam. "Terima kasih, Sayang, sudah berhenti menangis," bisik Vanilla dengan lembut seraya memberikan senyuman.
Grizelle kembali diletakkan di ranjang. "Suaramu benar-benar ampuh, Jhi. Grizelle diam karena kamu,"
"Tidak, ada kamu juga di sampingnya."
"Tapi sebelum kamu menelpon, aku berusaha untuk membuatnya tenang, Griz malah tidak kunjung tenang."
"Dimana wajahnya? aku hanya melihat langit-langit kamar sekarang,"
Karena sejak tadi Vanilla menggendong anaknya, Vanilla meletakkan ponselnya di atas ranjang dan layarnya menghadap langut-langit kamar. Jhico ingin melihat wajah cantik Grizelle lagi.
"Ini wajahnya habis menangis,"
"Tetap cantik, seperti yang melahirkannya,"
"Halah, ingat anak hey. Sudah punya anak masih saja genit,"
"Genit? aku sedang bicara fakta, Nillaku."
Vanilla hanya berdecak malas mendengar ucapan suami nya. Tapi tak bisa dipungkiri, Ia merasa senang ketika Jhico memujinya.
*****
"Jadi benar kamu melahirkan lebih cepat dari perkiraan?"
"Benar lah! masa bohong,"
"Oh ya, masuk-masuk."
Keynie menegur suaminya yang berlaku tidak sopan ketika bertamu ke apartemen Vanilla. Deni menatap istrinya bingung.
"Kenapa?" tanya Deni tidak mengerti seraya menoleh pada istrinya, tidak jadi melangkah kan kakinya untuk masuk ke unit apartemen Vanilla dan Jhico.
Keynie menggeleng dan kembali menyuruh suaminya untuk melangkah masuk ke dalam apartemen.
"Dimana bayimu?"
"Di kamar, aku buatkan minum dulu untuk kal---"
"Tidak usah, Vanilla. Kami tidak lama. Hanya ingin melihat anak mu," ujar Keynie. Vanilla menatapnya ragu. Keynie mengangguk meyakinkan. Mereka memang tidak bisa lama-lama di apartemen Vanilla.
"Aku bawa Grizelle ke sini dulu,"
Vanilla segera memasuki kamarnya. Tadi Ia meletakkan Grizelle di boks nya karena Ia harus membuka pintu apartemen.
Keynie langsung menatap sosok kecil dalam gendongan Vanilla dengan antusias. "Jadi namanya Grizelle?"
"Ya, Grizelle Larissa,"
"Woaah nama yang cantik. Boleh aku menggendongnya?" tanya Keynie penuh harap. Tentu saja Vanilla mengizinkannya.
Sayangnya saat akan berpindah tangan, Grizelle malah menangis. Ia tidak mau dilepas dari Mumu nya. Akhirnya Keynie terpaksa mengurungkan keinginannya.
"Tidak mau jauh dari Ibu nya ternyata," ucap Keynie.
__ADS_1
"Kenapa lahir prematur, Van?" tanya Deni yang sedari tadi memperhatikan saja.
"Air ketubanku sudah pecah,"
"Astaga, beruntungnya kalian tidak kenapa-napa," Deni cukup terkejut begitu Vanilla mengambil curi lebih cepat dari yang seharusnya dijadwalkan. Jane memberi kabar bahwa Vanilla melahirkan.
"Aku doakan semoga Keynie dan bayi kalian sehat selalu sampai proses bersalin nanti ya,"
"Semoga, terima kasih doa nya, Van." Keynie tersenyum tulus pada Vanilla, perempuan yang dianggap adik oleh suaminya itu.
*****
Jhico membuka pintu apartemen dengan kartu tipis miliknya yang menjadi akses masuk.
Suasana apartemen sangat sunyi. Karena istri dan anaknya biasanya berada di dalam kamar mereka dan juga sedang terlelap. Lebih tepatnya Grizelle yang tidur karena Mumu nya hanya menemani. Vanilla sulit tidur kalau suaminya belum pulang.
Usai mencuci tangan di wastafel, Jhico masuk ke dalam kamar. Ia membuka pintu kamar dengan pelan.
Vanilla langsung menoleh ke pintu. Senyum mengembang di wajah cantik itu. "Seperti biasa, aku tidak mendengar kamu datang,"
"Aku seperti kapas, Nilla. Jadi saat bergerak tidak menimbulkan suara,"
Vanilla tertawa seraya menutup mulutnya agar suara tawa teredam. Ia tidak ingin mengganggu Grizelle yang tengah terlelap.
Jhico mendekati Grizelle dan memandangnya.
"Aku mau cium---"
"Mandi dulu!"
"Ya, aku tahu, Nillaku."
Jhico menatap istrinya jengah. Ia juga tahu kalau sebelum menyentuh Grizelle harus mandi dulu.
"Kalau cium kamu sebelum mandi boleh?"
"Tidak, nanti kuman nya pindah ke Grizelle. saat aku menyentuhnya,"
"Ck!" Jhico berdecak kemudian lelaki itu melangkah ke kamar mandi usai mengambil handuknya.
Menunggu Jhico selesai mandi, Vanilla masih memperhatikan Grizelle dengan seksama. Rasa takjubnya pada anak itu tidak akan pernah hilang.
Ia ingat, belum menyiapkan air putih yang biasa diminum suaminya sehabis pulang bekerja. Ia mengambil air putih di sebuah dispenser yang terletak di sudut kamar.
Jhico tidak pernah lama-lama di kamar mandi apalagi semenjak ada anak. Kecepatan mandi nya semakin di atas rata-rata.
Setelah Ia mandi dan mengenakan baju, Ia bergabung bersama anak dan istrinya. "Kamu mau makan atau minum sesuatu?"
Entah sejak kapan pastinya, Vanilla sudah terbiasa menanyakan itu setiap suaminya pulang bekerja.
Kalau suaminya menginginkan sesuatu, Ia akan turun ke dapur untuk membuatnya. Jhico menggeleng seraya menjawab, "Tidak mau apa-apa."
"Itu air putihnya," ujar Vanilla. Dagu Vanilla mengarah ke gelas Jhico yang tadi Ia letakkan di nakas sebelah ranjang.
"Terima kasih, Nillaku sayang."
Terima kasih untuk kalian yg masih mau baca dan kasih dukungan. Ku sayang keleaan 💙
ADDICTED dan MCH udh up !
__ADS_1