Nillaku

Nillaku
Nillaku 102


__ADS_3

Tidak berselang lama mereka saling bicara di telepon, Jhico sudah datang ke apartemen. Ia keluar dari mobil dan menyapa pihak keamanan yang sudah kenal sekali dengannya.


"Tuan..." sapa lelaki berseragam khusus itu pada Jhico yang langsung mengangguk sopan.


"Sudah selesai kerja, Tuan?"


"Belum, aku ingin menjemput Istriku,"


"Oh ya, silahkan, Tuan."


Jhico segera berjalan menuju lift untuk naik ke lantai empat puluh dua dimana unit apartemen nya berada.


Rupanya Vanilla sudah menunggu di lobi lantai apartemen mereka. Vanilla berseru senang saat suaminya datang. Jhico mengusap kepala Vanilla sejenak dan itu tidak cukup sebagai obat malarindu akibat tidak bertemu beberapa jam lalu, akhirnya Vanilla memeluk lelaki itu sebentar agar rasa rindunya benar-benar tuntas.


"Ayo, kita berangkat."


"Iya, langsung ke klinik ya? karena Kenzo tidak ada di sana,"


Vanilla mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Mereka sampai di lift dan tiba-tiba saja saling menatap. Tawa mereka berderai, merasa apa yang mereka lakukan adalah hal yang aneh.


"Kenapa sih?"


"Entah, kenapa kita tertawa ya?" sahut Jhico seraya mencubit gemas pipi Istrinya yang semakin berisi.


"Hari ini klinik ramai?"


"Tidak juga. Hanya di pagi hari saja tadi,"


"Oh, tadi aku pulang langsung tidur. Pemotretan hanya sebentar," Vanilla menceritakan kegiatannya sejak pagi. Sudah menjadi kebiasaannya sekalipun belum ditanya oleh Jhico.


"Bagus, jangan terlalu kelelahan,"


******


Aurora, teman Vanilla sesama model, dan juga teman Jhico semasa kuliah, baru saja melakukan tes kesehatan untuk nya mencari peruntungan sebagai model di negara lain yang barangkali bisa semakin membuat karir nya cemerlang. Bekerja di negara sendiri belum bisa membuat Aurora merasa puas. Ia ingin melebarkan sayap karir nya sebagai model.


Gadis itu keluar dari klinik Jhico dan kebetulan bertemu dengan Jhico serta istrinya. Aurora lebih dulu menyadari kedatangan mereka.


"Darimana, Co?"


"Menjemput Vanilla. Kamu sakit?" tanya Jhico yang dijawab gelengan oleh Aurora. Jhico bingung dengan adanya Aurora di sini.


"Aku periksa kesehatan lagi untuk melamar menjadi model di luar,"


"Oh bagaimana hasilnya?"


"Aku sehat," jawab nya senang seraya mengangkat sebelah alisnya. Pandangannya kini beralih pada Vanilla. Ia tersenyum menyapa yang dibalas senyum juga oleh Vanilla.


"Hai, Vanilla. Sudah berapa lama kita tidak bertemu?"

__ADS_1


"Terakhir waktu pernikahan Jane. Kamu datang 'kan waktu itu?"


"Ya, aku datang."


Vanilla mengangguk dan hanya menanggapi sebatas itu saja. Ia mengangguk saat Aurora pamit pulang.


"Dia ingin menjadi model internasional ya?" tanya Vanilla pada Jhico. Suaminya menggeleng seraya mengangkat bahu.


"Aku tidak tahu. Mungkin ya, bukan urusanku juga."


"Barangkali dia berbagi cerita denganmu," mendengar nada sindiran dalam kalimat istrinya, Jhico mengangkat satu alisnya. Ia menjawil dagu Vanilla seraya tertawa.


"Jangan mulai,"


"Mulai apa sih?"


Jhico membawa Vanilla ke ruangan nya. Vanilla menatap tempat yang dipakai Jhico untuk bekerja itu. Ia jarang sekali ke sini. Bahkan sepertinya selama hamil belum pernah datang.


"Selalu tertata dengan baik. Kamarku saat masih belum menikah bahkan kalah rapi dengan ruanganmu,"


"Aku sudah sejak kecil terbiasa mandiri karena Mama dan Papaku sibuk masing-masing. Walaupun ada pekerja yang bisa membantu, tapi aku rasa selagi bisa dikerjakan sendiri, tidak perlu mengandalkan orang lain,"


"Kamu menata ini semua sendiri?"


"Ya, siapa lagi? kamu? ck, di suruh membereskan almari pakaian ku saja tidak bisa,"


Jhico terkekeh geli mendengar istrinya yang menggerutu. Ia tak mengelak bahwa dirinya memang jarang sekali membiarkan Vanilla menjalankan tugasnya. Selalu Ia yang melakukan karena Ia adalah tipe orang yang ingin cepat beres dan hasilnya sempurna, sementara Vanilla berkebalikan dengannya mengingat perempuan itu masih dalam tahap belajar.


"Aku tidak ditawari minum ini?"


"Oh iya, lupa. Buat sendiri ya?"


"Okay, dimana letak dapur?"


Jhico membuka pintu ruangannya kemudian menunjuk sebuah ruangan untuk membuat minum atau makanan instan selama di klinik. Letak dapur tidak jauh dari ruangan istirahat para perawat yang bekerja di sana.


Vanilla menatap dapur sebentar. Ini untuk pertama kalinya Ia masuk ke dapur. Biasanya bila Ia datang, tujuannya hanya ruangan sang suami dimana Jhico suka beristirahat.


Di dapur itu ada seorang perawat yang sedang mengeluarkan cangkir dari tempatnya. Ketika Vanilla masuk ke dapur, Ia tidak jadi membuat minuman.


Vanilla cepat-cepat menahannya. "Jangan sungkan begitu. Silahkan lakukan apa yang mau kamu lakukan. Aku ke sini hanya ingin membuat teh,"


"Saya buatkan, Nona."


"Tidak usah, terima kasih. Aku buat sendiri saja,"


Vanilla mempersilahkan perawat itu untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti tadi. Vanilla kurang kenal dengan semua orang yang bekerja di sini karena dia juga jarang sekali datang ke klinik tempat suaminya praktik.


Vanilla dan perawat itu sama-sama membuat minuman. Yang lebih dulu selesai adalah si perawat. Sementara Vanilla, begitu santai mengaduk gula yang baru saja Ia masukkan ke dalam cangkir.

__ADS_1


Ia memiliki inisiatif untuk membuatkan Jhico juga. Sehingga bertambah lama lagi dia berada di dalam dapur sampai Jhico dibuat bingung.


"Apa yang dia lakukan di dapur? lama sekali, jangan-jangan membuat kekacauan seperti waktu pertama kali tinggal di apartemen," gumam Jhico kemudian menghembuskan napas jengah. Namun Jhico memilih untuk tidak menyusul sampai sepuluh menit kemudian Vanilla belum juga datang, maka Ia akan segera datang ke dapur dan berharap Vanilla tidak membuat kekacauan di dapur klinik nya yang selalu rapi dan bersih itu.


Vanilla menghabiskan waktu hampir sepuluh menit hanya untuk membuat dua cangkir teh. Sesantai itu Ia mengerjakan sesuatu, bagaimana Jhico tidak jengah? lebih baik Jhico yang mengerjakan, Jhico selalu berpikir seperti itu. Daripada istrinya yang lamban.


Vanilla membawa dua cangkir teh hangat ke dalam ruangan sang suami yang sudah menunggunya sejak tadi.


Alis Jhico terangkat ketika salah satu cangkir di letakkan Vanilla di depannya saat ini. "Buat aku?"


"Buat bayiku," sahut Vanilla dengan asal. "Tentu saja buatmu," imbuh wanita hamil itu.


"Tumben, kenapa membuatkan aku teh? sedang menginginkan sesuatu?"


Vanilla memicing menatap suaminya yang tersenyum miring. "Kamu selalu menjadi perempuan yang lebih baik bila ada maunya, Nillaku."


"Daripada banyak bicara, lebih baik coba teh buatanku. Jarang sekali aku buatkan teh 'kan?"


"Iya, terima kasih,"


Vanilla meneguk teh nya seraya berdiri. "Sambil duduk minum nya," Jhico memperingati Vanilla. Segera Vanilla berpindah ke kursi yang ada di depan Jhico. Mereka duduk berhadapan sekarang hanya dibatasi oleh meja.


"Jadi bagaimana dengan kerja sama kita?" Vanilla bergurau di sela kebersamaan mereka, layaknya dua orang investor yang sedang membicarakan kerja sama yang terjalin dengan serius.


Tawa Jhico pecah seketika. Ia menggeleng pelan, istrinya selalu punya cara membuat lelah nya hilang.


"Kerja sama yang mana?"


"Kerja sama untuk saling mencintai," jawab Vanilla asal dengan pipi nya yang merona.


"Oh itu sudah berhasil,"


Sepasang suami istri itu bertahan dengan obrolan mereka yang aneh. "Jhi, omong-omong kandunganku sudah mau memasuki lima bulan. Bagaimana kalau saat lima bulan saja kita babymoon?"


"Enam bulan,"


"Ck! kamu dengarkan aku kali ini, please."


"Seharusnya kamu yang dengarkan aku, Nillaku. Yang menjadi suami siapa? aku atau kamu?"


"Kamu,"


"Ya sudah, istri harus mendengarkan ucapan suami selagi itu baik. Bukan begitu?"


"Hffttt,"


---------


Holllaa akyu dtg bawa part baru nih. Masih ada yg baca? coba tinggalkan jejak yaaa. Maaciww❤️🤗

__ADS_1


__ADS_2