Nillaku

Nillaku
Nillaku 392 Giliran Auristella yang menghabiskan waktu bersama Daddy


__ADS_3

"Nanti kita buat dulu kerajaannya, Icelle. Kita buat istana. Setelah itu barulah buat mahkota,"


"Kamu berrlkayal terrlus (bsrkhayal terus) Aurrlis,"


Kedua orangtua Grizelle tertawa begitupun Lovi. Kalau ada Adrian mungkin dia juga akan tertawa dan paling kencang menyoraki adilnya.


sepertinya Grizelle sudah lelah mendengar khayalan kakak sepupunya itu.


"Huh! Icelle. Berkhayal itu tidak diarang,"


"Hmm okay,"


"Kamu di rrlumah (rumah) saja? Ian dan Ean dimana?"


"Bermain golf,"


"Kamu tidak ikut?"


"Tidak, aku tidak bisa-bisa makanya malas,"


"Jadi hanya Ian dan Ean saja,"


"Daddy juga ikut,"


"Oh, ya sudah, kita selesai meetingnya ya,"


"Okay, nanti aku mau berkuda. Ayo, kamu ikut,"


"Tidak mungkin dibolehkan Pupu karrlena (krena) kakiku belum sembuh,"


Auristella menganggukkan kepalanya. Padahal kalau Ia bisa berkuda dengan Grizelle pasti menyenangkan sekali.


"Ya sudah lain kali. Bye, Icelle. Terimakasih ya sudah mau bicara dengan aku,"


"Selamat ya atas pembukaan playground nya,"


"Iya, terlambat kamu mengucapkan selamat,"


"Maaf, aku lupa,"


"Harus datang ke ssna dan bermain denganku kalau sudah sembuh. Okay,"


"Okay! siap, aku akan datang. Bye,"


"Hooo," Auristella menyahuti seperti itu sebelum menyelesaikan panggilan videnya dengan Grizelle.


"Kamu mau berkuda?"


"Iya, tapi semoga jadi karena Daddy ada pekerjaan,"


"Jadilah, Daddy tidak mau membuatmu kecewa sebab dia sudah menyanggupi permintaanmu 'kan?"


Auristella mengangguk. Saat Mommynya menyuruh Ia bersiap, Ia menggeleng.


"Nanti saja kalau Daddy sudah datang. Takutnya tidak jadi,"


Auristella memperhatikan kesibukan Mommynya. Tiba-tiba Ia ingin mencoba apa yang dilakukan Ibunya saat ini.


"Ini untuk acara pernikahan ya, Mom? kapan acaranya?"

__ADS_1


"Masih lama, lima bulan lagi,"


"Hah? tapi sudah dibuat sekarang?"


"Ya, mereka inginnya seperti itu, Sayang,"


"Aku mau coba rancang-rancang juga,"


Lovi memberikn buku berisi lembaran-lembaran putih yang biasa Ia gunakan untuk menggambar desain.


Auristella mulai mencoba di sana. Lovi sempat nemperhatikannya dan bertanya, "Kamu mau menjadi seperti Mommy?"


"Memang bisa, Mom? aku tidak akan bisa," jawab anak itu seraya terkekeh. Sekarang Ia hanya sedang tidak ada kegiatan saja dan Ia bosan bila diam saja atau bermain gane dan menonton.


"Bisa saja. Kalau memang berusaha dan ada bakat,"


"Tapi aku tidak berbakat, Mom,"


"Mommy awalnya juga tidak yakin dengan kemampuan Mommy. Daddy yang mendorong Mommy supaya berani berkarya. Daddy buatkan Mommy butik, sebelumnya Mommy hanya membuat tapi kemudian disimpan karena Mommy rasa hasilnya buruk. Setelah mendapat dukungan Daddy, barulah Mommy berani untuk memperbaiki lalu menunjukkan dan berani juga menjadi seorang perancang busana,"


"Dulu awal-awal Mommy membuat, hasilnya bagaimana? langung bagus?"


"Tidak, Sayang. Seperti yang Mommy katakan tadi, menurut Mommy hasilnya buruk. Tapi seiring berjalannya waktu Mommy semakin belajar, lalu mencoba untuk lebih baik lagi. Sampai akhirnya Mommy melihat kalau karya Mommy sudah bagus, dan berhasil menarik perhatian orang,"


Meskipun sudah menikah dan terbilang memiliki nama, sampai sekarang Lovi masih terus belajar. Menurutnya belajar tidak ada batasan usia. Ia selalu merasa belum puas dengan ilmu yang Ia miliki, maka Ia terus menggali dari orang-orang berpengalaman di sekitarnya.


"Oh berarti awalnya tidak bagus dulu ya, Mom? setelah itu barulah menjadi bagus tapi perlu waktu untuk memperbaiki kualitas,"


"Iya dan Daddy selalu mendukung Mommy. Karena hasilnya buruk menurut Mommy makanya Mommy tidak percaya diri tapi Daddy meyakinkan Mommy bahwa Mommy,"


Auristella terkekeh melihat gambarnya sendiri. "Itu gambar baju apa, Sayang?"


Auristella tertawa dengan ide yang kekuar dari otaknya sendiri.


"Bagus, tepat sekali menjadi perancang baju renang,"


"Haaa Momy mengejekku ya?"


Lovi terkekeh tapi Ia menggeleng. Ia benar-benar serius memuji. Tapi untuk perancang baju renang, Ia bercanda karena menurutnya bisa saja Auristella lebih dari itu.


"Masa perancang baju renang?"


"Memang kenapa? tidak ada salahnya. Mau lebih dari itu juga bisa, Mommy yakin,"


"Aku---"


"Hooooo,"


"Hoooo,"


Aurustella berdecak saat mendengar suara itu. Ia memicing pada ayah dan kakaknya yang ternyata sudah pulang.


Adrian dan Devan sahut menyahut tadi hingga Auristella mencibir mereka. "Seperti sapi saja,"


"Sembarangan! masa menyamakan aku dengan sapi?"


"Kamu mau disamakan dengan apa? lumba-lumba? ah itu terlalu imut untuk kamu yang tidak ada imutnya sama sekali!"


"Hih? kenapa anak ini? kesal kareja tidak diajak jalan-jalan ya?"

__ADS_1


"Aku yang tidak mau! bukan aku tidak diajak!"


"Ssst berisik anak-anakku,"


Devan meletakkan telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan mereka untuk diam.


"Dad, jadi tidak?"


Auristella meletakkan hasil gambarnya di paha kemudian mentap ayahnya.


Saat Adrian ingin mekihat gambarnya, Ia melarang. Pasti akan diejek nanti.


"Jadi apa, Sayang?"


"Jadi berkuda denganku,"


"Oh iya, jadi,"


Meskipun sejujurnya lelah tapi Devan akan memenuhi keinginan putri satu-satunya itu. Pekerjaan akan ia selesaikan nanti.


"Kenapa belum bersiap? mau berkuda pakai baju begitu? apa tidak menyulitkanmu?"


Devan menatap anaknya yang mengenakan dress santai dengan motif bunga berwarna biru yang lembut.


"Aku belum ganti baju, aku takutnya tidak jadi,"


"Jadi, sekarang kamu ganti baju,"


"Okay, Dad,"


Auristella bergegas ke kamarnya sendiri untuk mengganti dres rumahnya dengan t-shirt, celana hitam panjang yang bentuknya pas di kaki, serta sepatu booth nya untuk berkuda. Ia sudah meminta tolong pada pengasuhnya untuk menyiapkan itu semua tadi.


Adrian duduk di dekat Momynya merebahkan kepala di sandaran kursi. Andrean pun demikian.


"Ini punya Auris?"


Adrian akhirnya bisa melihat karya adiknya yang Ia buat tadi. Ia mengamati sebentar dan Mommyanyangntahu bahwa Ia adalah kakak yang jahil maka Lovi langsung berpesan, "Jangan diejek. Itu terbilang bagus,"


"Siapa yang mau mengejek, Mom?"


"Ya barangkali kamu mau mengejeknya karena kamu 'kan suka mencari masalah dengannya,"


Adrian langsung menegakkan tubuhnya. Kemudian menatap Lovi dengan dramatis.


"Mommy tega sekali menuduhku," kata anak itu masih dengan actingnya yang terlihat menyebalkan bukannya malah menarik rasa simpati.


Andrean dan Lovi menatapmya dengan aneh. Andrean menggeleng pelan seraya berlalu.


"Jadi artis saja kamu,"


Lovi tertawa mendengar anak tertuanya yang bergumam sebelum berlalu.


"Kakakmu sudah terlampau pusing melihat kelakuanmu, Ian,"


"Kenapa pusing wahai, Mommy?"


Lovi terbahak mrndengar anaknya bicara begitu. Sekarang Ia dijadikan seolah seorang ratu yang begitu dipuja. Sampai Adrian menangkup tanganya di depan dada dan menunduk ketika bertanya padanya.


"Benar-benar kamu ya. Diam, Ian! Mommy sedang sibuk ini,"

__ADS_1


Adrian terkekeh, kini Ia tidak beracting lagi. Sudah cukup,  Ia meninggalkan Mommynya di balkon dan Ia beranak ke kamarnya sendiri untuk mengganti baju. Devan sudah lebih dulu melakukannya sesaat setelah Auristella pergi, begitupun Andrean yang saat Ia acting tdi memilih ke kamar untuk mengganti bajunya. Daripada menyaksikan sang adik yang aneh dan malah membuat kepalanya pening.


__ADS_2