Nillaku

Nillaku
Nillaku 136


__ADS_3

Vanilla menyiapkan cake yang sudah dibuatnya untuk Jhico. Ia akan ke rumah sakit sekarang karena Rena sudah datang untuk menemani Grizelle sementara dirinya pergi ke rumah sakit menemui sang suami.


"Semoga Jhico suka dengan cake nya. Menurutku hasilnya lumayan. Namanya juga baru pertama kali buat. Dia pasti mengerti perjuangan istrinya," ujar perempuan itu setelah menutup wadah cake.


Ia tersenyum memandang sebentar wadah cake. lalu Ia beranjak ke meja makan. Ia melihat Bibi yang sedang menikmati makanan ringan disalah satu sisi meja makan.


"Bi, aku pergi dulu ya,"


"Iya, hati-hati, Vanilla."


"Okay, terimakasih, Bi."


Vanilla keluar dari unit apartemennya, menyusuri koridor demi koridor. Lalu masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar dimana mobilnya berada.


Ia akan menyetir sendiri. Karena siapa lagi yang harus Ia andalkan? suaminya saja masih terbaring lemah di rumah sakit. Mereka juga tidak ada supir. Selama ini yang membantu Vanilla untuk sampai di suatu tempat hanya Jhico.


******


Lovi sengaja membawa serta ketiga anaknya ke apartemen Vanilla agar mereka bisa menemani dan mengajak Grizelle bermain.


Grizelle menikmati waktunya bersama ketiga sepupunya walaupun tidak ada Vanilla di sampingnya.


Meskipun Ia lebih sering hanya menjadi penonton, tetapi Ia senang sekali. Bahkan sampai tersenyum lebar bila Adrian sudah berulah.


Seperti saat ini dimana Adrian menjahili Auristella. Lovi dan Rena sibuk menonton dan sesekali berbincang. Sementara Adrian dan Auristella bermain. Auristella lebih sering kalah karena anak berusia satu tahun itu tidak mengerti apapun. Adrian yang memimpin permainan dan dia juga yang memutuskan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tentu saja Ia tak akan membiarkan dirinya yang kalah. Karena Auristella kalah, wajahnya jadi sering dicoreng dengan bedak milik Grizelle.


Andrean yang biasanya sigap membela adik bungsunya, kini nampak serius membaca buku cerita milik Grizelle.


Adrian terbahak melihat wajah adiknya yang berantakan. Auristella tidak kesal, malah Ia juga tertawa. Apalagi melihat Grizelle tersenyum, mereka jadi ikut bahagia.


"Griz, kak Auris cantik tidak? lebih cantik begini ya?" tanya Adrian pada adik sepupunya. Grizelle hanya memperhatikan wajah Auristella lamat-lamat.


"Auris cantik, coba kamu bilang begitu," Adrian menyuruh Auristella untuk bicara. Adiknya belum terlalu lancar bicara. Masih sepatah atau dua patah kata saja.


"Auris cantik," ulang Adrian agar adiknya mengikuti. Meskipun Adrian sangat jahil, namun Ia pintar sekali mengajari adiknya agar bisa mengucapkan lebih banyak kata lagi. Selain Devan dan Lovi, Ia juga aktif mengajak Auristella berbicara agar kemampuan bicaranya kian bertambah.


"Awyis tik,"


"Auris cantik. Bukan Awyis tik!" Adrian memperingati adiknya.


"Ndak ica!" sentak Auristella yang membuat Adrian berdecak.


"Bisa! tapi kamu tidak mau berusaha. Nanti kalau Griz yang lebih dulu bisa bicara bagaimana? kamu tidak malu dengan dia?"


Auristella sontak menggeleng polos. Entah dia benar-benar mengerti dengan ucapan kakaknya atau Ia hanya sekedar menggeleng.


"Coba sekai lagi! Auris cantik,"

__ADS_1


"Awyis tantik,"


Adrian menghela napas seraya berucap, "Lumayan lah. Setidaknya kamu sudah bisa mengucap kata 'cantik' walaupun belum sempurna,"


"Griz, benar kan? Auris cantik kalau begini wajahnya?" lagi-lagi Adrian bertanya pada Grizelle.


"Gyiz ndak ica awab,"


"Belum bisa, bukan tidak bisa. Nanti juga bisa, semuanya perlu waktu. Kamu juga belum bisa menjawab semua pertanyaan orang lain 'kan?"


Auristella menganggukkan kepala nya. Mereka bertiga mengalihkan mata pada kedatangan Lovi.


Lovi belum sadar wajah anak bungsunya penuh dengan bedak. Setelah Ia duduk di antara mereka bertiga, barulah Ia membulatkan mata.


"Astaga, Auris. Sayang, ada apa dengan wajahmu?"


Lovi segera menghapus bedak-bedak di wajah cantik anaknya. Meski berantakan, namun Auristella tetap terlihat cantik dan menggemaskan.


"AAAAAA!"


Auristella tidak mau bedak di wajahnya dihapus. Ia berteriak lagi lalu merengek tatkala Mommy nya tetap membersihkan wajahnya.


"Mom, Auris tidak mau wajahnya--"


"Pasti karena kamu 'kan? jujur pada Mommy! kamu yang membuat wajah adikmu jadi begini?" tatapan Lovi benar-benar membuat Adrian mengangguk tanpa mengelak. Memang Ia yang memakaikan bedak di wajah sang adik.


"Tadi kita bermain dan Auris kalah. Jadi dia dihukum,"


"Errghhh," Lovi menggeram gemas atas perilaku anak kedua nya itu. Ini bukan pertama kalinya Adrian menjahili adiknya menggunakan bedak. Namun anehnya Auristella menyukai kejahilan kakaknya itu. Mungkin menurutnya lucu bila wajah penuh dengan coretan bedak.


"Aaaa Mom,"


Auristella berguling-guling karena Ia masih tidak terima wajahnya dibersihkan dari bedak.


Grizelle memperhatikan Auristella bingung. "Auris, tidak malu dilihat Griz seperti itu? masa sudah besar tapi masih merajuk sampai berguling-guling?"


"Mom, Awyis ndak au diapus,"


Andrean baru menyelesaikan bacaannya karena suasana sudah tidak kondusif lagi. Auristella semakin merengek dan Adrian malah tertawa. Akhirnya Andrean yang sedari tadi diam serius membaca, angkat bicara,


"Kamu seperti hantu kalau wajahnya begitu, Auris."


"Biayin!"


"Tidak ada yang mau dekat dengan kamu kalau wajahnya menyeramkan. Grizelle pasti akan takut,"


"Ndak! adi dia ndak akut," bantahnya dengan tegas. Anak sulung itu dibuat berpikir keras agar adiknya tak lagi membahas masalah bedak.

__ADS_1


"Dia takut, tapi karena dia belum bisa bicara, jadi dia--"


"Ndak akut, Ean! dia ndak akut,"


Melihat sepupunya berdebat, Grizelle menangis. Lovi segera menunjukkan jiwa keibuannya. Perempuan itu dengan cepat menenangkan Grizelle.


"Kamu pusing ya melihat mereka berdebat? perdebatan Andrean dengan Auris masih lebih baik dari perdebatan Adrian dan Auris. Mereka lebih berisik lagi kalau berdebat, Griz."


Lovi mengajak keponakannya bicara seraya menimangnya dengan penuh kelembutan.


"Memang harus sabar kalau dekat dengan mereka, Griz. Bukan hanya kamu, Mommy nya saja sering dibuat hampir menyerah menghadapi pertengkaran mereka,"


Andrean, Adrian, dan Auristella diam ketika Mommy mereka bercerita pada Grizelle. Mereka juga saling pandang satu sama lain.


"Yan!"


"Kenapa sih tunjuk-tunjuk aku?!"


Adrian menangkup telunjuk adiknya yang mengarah padanya. Ia tidak terima ketika ditunjuk yang berarti Auristella menyalahkannya.


*******


"Hey, ternyata kalian yang datang. Ayo masuk-masuk,"


Hawra menyambut sahabat kecil cucunya yaitu Fionna dan Dion agar masuk ke dalam rumah.


"Aku mengirimkan pesan untuk Jhico tidak ada balasan," ujar Fionna.


"Iya, aku juga mengirimkan pesan untuknya tidak ada jawaban. Kemana dia, Nek?" sahut Dion.


"Jhico mengalami kecelakaan," jawab Hawra dengan wajah murung.


"Astaga,"


"Sekarang bagaimana kondisinya, Nek?" tanya Fionna penuh khawatir. Pantas saja Ia hubungi tidak kunjung dijawab oleh Jhico. Biasanya sesibuk apapun, Jhico tetap menyempatkan waktu untuk membalas sapa dari teman-teman nya sekalipun hanya melalui pesan singkat.


"Tulang nya yang patah masih dalam tahap pemulihan. Tubuhnya juga masih lemah,"


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?"


Dion mengangguk setelah Fionna mengusulkan ide itu. Ia dan Fionna langsung berpamitan pada Hawra dan segera bergegas ke rumah sakit.


Di dalam perjalanan hanya ada keheningan. Dion sesekali mengajak Fionna bicara namun hanya ditanggapi seadanya oleh Fionna. Dion tahu penyebabnya apa.


"Kamu terlihat khawatir sekali dengan Jhico. Kalau aku yang mengalami hal serupa, kamu akan khawatir juga tidak?"


---------

__ADS_1


SIAPA YG UDAH KANGEN TRIPLE A? KOMEN DI BAWAH YA. SAPA MEREKA BIAR SERING-SERING MUNCUL DI LAPAK NYA DEDEQ GRIZ😆😆


__ADS_2