Nillaku

Nillaku
Nillaku 253 Nay-Nay jahat karena tidak mengizinkan Grizelle minum ice cream


__ADS_3

Grizelle suka sekali dengan beef yang sekarang Ia makan. Ditambah saus pedas sedikit, saus keju juga, kenikmatannya jadi bertambah.


"Hmmm lezat. Nanti sekali-sekali aku minta pada Pupu untuk mengundang mereka," ujarnya seraya menunjuk tiga orang chef yang masih belum selesai memanggang.


"Mumu juga pasti suka,"


Tak pernah bisa melupakan ayah dan ibunya sekalipun pergi berlibur itulah Grizelle.


"Aku mau tambah saus pedasnya,"


Ia akan beranjak namun lengannya ditahan oleh Karina.


"Sudah cukup. Nanti perutmu sakit,"


"Tapi kurang, Nay-Nay,"


Ia cemberut menatap beef di atas piringnya yang sudah kehabisan saus pedas. Sementara saus kejunya maih ada karena memang yang sedari tadi dimakannya adalah yang pedas.


"Kamu ini sama seperti Mumu ya. Suka sekali dengan pedas,"


"Iya, habisnya enak, Nay-Nay. Ada sensasi terbakar di lidahku,"


"Nanti kamu sakit perut. Pedas itu menyiksa,"


Bahunya melemah saat dilarang. Tapi Ia tak ada niat membantah ketika Karina mengingatkannya pada rasa sakit saat diinfus.


"Belum lupa 'kan kalau kamu itu belum lama sembuh?"


"Baiklah, Nay-Nay. Aku tidak akan tuang saus pedasnya ke sini lagi," tunjuknya pada piring yang Ia pegang saat ini.


Karina tersenyum lega. "Pintar cucu Nay-Nay tidak membantah,"


"Nanti juga aku tidak bisa tidurrll (tidur) kalau sakit perrllut (perut). Terrlus (terus) aku tidak di izinkan Pupu liburlan (liburan) lagi dengan Nay-Nay kalau aku sakit,"


"Iya, Sayang. Itu maksud Nay-Nay. Kalau kita tidak diperbolehkan Pupu dan Mumu liburan berdua lagi karena kamu sakit, pasti Nay-Nay sedih,"


Karina membersihkan noda saus keju di sudut bibir Grizelle. Anak itu begitu semangat menyantap. Sampai makannya sedikit berantakan.


"Hah aku kenyang. Tidak bisa bangun ini,"


Grizelle menyingkirkan piring dari atas pangkuannya lalu menepuk-nepuk perutnya pelan.

__ADS_1


"Terrlimakasih (terimakasih) Tuhan sudah memberrlikan (memberikan) aku makanan senikmat ini," ujar anak itu dengan penuh rasa syukur karena Ia masih diberikan kesempatan untuk menikmati makan malam yang luar biasa lezat ini.


Setelah makan, Karina mengambilkan lemon tea hangat untuknya dan Grizelle. Minuman yang tepat untuk diteguk ketika malam hari dengan kondisi yang cukup dingin seperti sekarang ini.


Grizelle meneguknya sekali dan matanya langsung memejam dengan hidung yang berkerut.


"Hah aku tidak mau. Ini masam,"


"Tidak, ada manisnya,"


"Tidak mau, Nay-Nay,"


"Griz mau minum apa?" tanya Karina yang akhirnya tak memaksa Grizelle.


"Itu ada ice cream,"


"Hei, tidak boleh," Karina langsung menggeleng tegas. Kini Ia tahu alasan Grizelle menolak lemon tea yang Ia berikan, karena disaat yang sama mata Grizelle menemukan minuman dingin kesukaannya itu.


Grizelle menunjuk meja dimana penuh dengan ice cream. Melihat beberapa orang sudah mengambilnya, Ia pun jadi ingin.


"Aku mau, Nay-Nay," gumamnya memohon.


Baru juga diingatkan tentang bagaimana rasanya harus dipasang infus sampai dua kai, kini Grizelle sudah mencari penyebab sakitnya lagi. Ia menginginkan ice cream malam-malam dengan kondisi radang yang sebenarnya masih suka datang rasa sakitnya padahal sejak keluar dari rumh sakit, makanan dan minumannya benar-benar dijaga oleh Jhico dan Vanilla, Ia pun tidak membantah. Mungkin bukan tidak, tapi belum.


"Kamu baru sembuh. Sudah Nay-Nay katakan tadi 'kan? ini juga sudah malam. Yang benar saja kamu mau minum itu malam-malam begini?"


"Tapi itu kelihatannya enak, Nay-Nay,"


Karina tetap menggeleng. Ia tak akan terpengaruh dengan raut memohon yang ditampilkan Grizelle saat ini. Untuk sekali saja, Ia harus tega. Demi kebaikan Grizelle juga. Kalau Ia sakit, bukan hanya orangtuanya saja yang cemas, Ia pun demikian ditambah lagi dengan rasa bersalahnya yang membiarkan rasa tidak tega menguasai batinnya.


Grizelle akan berjalan menuju meja tempat ice cream. Namun Karina menahan lengannya. Ia segera menggendong anak itu.


"Nay-Nay tidak mau kamu sakit. Masa sudah malam mau minum ice cream? itu namanya mencari penyebab sakit,"


Grizelle menangis kesal bercampur sedih. Ia bahkan meminta untuk diturunkan oleh neneknya. Ia ingin mencoba ice cream itu. Ia juga berjanji hanya mencicipi sedikit saja. Mana mungkin Karina percaya? sekali dimulai, Grizelle akan keterusan. Ia tahu bagaimana cucunya itu.


"Huwaaa Nay-Nay tega,"


"Biar, memang Nay-Nay tega,"


Karina membawa cucunya ke kamar. Biar Grizelle tidur dan tidak ingat lagi dengan minuman dingin yang menggiurkan itu.

__ADS_1


Ia tidak peduli lagi dengan agenda acara selanjutnya untuk malam ini yang Ia ketahui ada acara doa bersama dan ungkap keinginan dimana semua yang berpartisipasi akan berbaring  menghadap lagit, memejamkan mata dan mengungkapkan semua keinginan atau harapan pada Tuhan.


Begitu tiba di kamar, Karina segera membaringkan Grizelle dan mengunci pintu kamar.


Grizelle masih menangis. Ia beringsut ke tengah ranjang lalu tengkurap, menenggelamkan tangisnya di bantal.


Karina berkacak pinggang menatap cucunya. Ia menggeleng pelan. "Griz...Griz.. kamu seperti dipukul saja oleh Nay-Nay sampai tangisnya begitu,"


Grizelle terisak bahkan punggungnya bergetar hebat. Itu semua hanya karena ice cream.


"Nay-Nay jahat,"


"Katamu Nay-Nay baik, Kakek baik,"


"Tidak jadi, Hanya kakek saja yang baik," ujarnya disela tangis. Suaranya tak begtu jelas tapi Karina bisa mendengarnya.


"Hanya karena ice cream, Griz marah pada Nay-Nay?"


"Iya,"


Karina menahan tawanya. Grizelle kalau sudah merajuk memang benar-benar memancing kekesalan tapi disaat bersamaan Ia juga bisa membuat perut tergelitik.


Karina mendekatinya dan Grizelle segera beringsut menjauh. Anak sulung Jhico itu benar-benar merajuk.


"Griz yang tega pada Nay-Nay. Marah dengan Nay-Nay hanya karena tidak diperbolehkan minum ice cream padahal Griz sendiri tahu kenapa Nay-Nay melarang,"


Grizelle mendengarkan saja tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.


"Kalau Griz sehat tidak habis sakit, dan sekarang ini siang, Nay-Nay tidak akan melarang,"


"Belum dua minggu keluar dari rumah sakit, sudah mau ke sana lagi ya? hm?" tanya Karina dengan lembut. Grizelle terlihat menggeleng pelan namun isak tangisnya masih terdengar.


"Obat untuk radang saja baru habis sebelum kita berlibur. Tapi karena Pupu dan Mumu sangat menyayangi kamu, dan mereka yakin kamu akan baik-baik saja, maka mereka mengizinkan kamu pergi berlibur dengan Nay-Nay,"


"Tapi aku hanya ingin mencoba sedikit saja. Aku ingin tahu rrlasanya (rasanya),"


"Rasanya sama saja dengan ice cream yang sering Griz minum. Rasanya manis," ujar Karina yag malah mengundang rasa kesal Grizelle hadir lagi.


"Aaaa Nay-Nay. Aku tahu rrlasanya (rasanya) manis. Tapi aku tetap mau coba," rengeknya seraya memukul bantal. Sikapnya itu membuat Karina ingin tertawa.


Kalau sudah begini barulah Karina sadar bahwa cucunya memang benar-benar masih anak kecil. Kalau sudah pintar, pengertian, mudah diatur, Ia selalu berpikir Grizelle ini sudah dewasa.

__ADS_1


----


Siapa yg dulunya kek Griz ngambek kl ga dikasi ice cream? angkat kakinya yuk eh maksudnya angkat tangan🙋aku sering nih kek Griz😆😆kalian jg ga?


__ADS_2