
"Icelle, belum datang ya, Mom?"
"Sudah, ada di kamar bersama Auris,"
"Oh aku kira belum datang. Auris dijemput Daddy ya?"
"Iya, Sayang,"
"Kenapa tidak menjemput aku juga? aku dan Ean malah ditinggal,"
"Auris sudah tidak sabar untuk sampai di rumah sementara Ia tidak tahu kalian berdua pulang kapan. Maka terpaksa Daddy segera membawanya pulang. Daddy mau menjemput kalian tapi Daddy tidak sempat lagi,"
Begitu tiba di rumah Adrian langsung menyerang Mommynya dengan beragam pertanyaan.
Ia merasa sedikit kesal setelah tahu Ayahnya tak menjemputnya padahal sebelumnya sang adik di jemput. Ia bertanya pada drivernya tadi.
"Paham 'kan Daddy banyak pekerjaan?"
"Iya, paham, Mom,"
"Biasanya juga kalau dijemput satu, maka dijemput semua,"
Adrian tersenyum lebar meringis. Benar apa yang dikatakan Mommynya. Biasanya kalau salah satu dijemput, maka keduanya juga akan dijemput.
*****
Pekerjaan yang harus diselesaikan dari pagi samping siang hari sudah berhasil Devan selesaikan sebelum Ia menjemput Auristella. Sekarang Ia harus menyelesaikan pekerjaan selanjutnya.
"Tuan, pertemuan dengan Mr Alexander untuk esok hari dimajukan sore ini bisa? pihak mereka meminta seperti itu?"
"Bisa. Jam berapa?"
"Mereka meminta dimajukan pukul empat, Tuan. Tapi kalau Tuan tidak setuju, keputusan berada di tangan Tuan untuk masalah waktu, yang terpenting hari ini,"
"Empat sore," tegasnya yang diangguki patuh oleh sekretaris nya.
"Baik, Tuan,"
Devan menyelesaikan panggilan intercom nya dengan sekretaris. Ia kembali berkutat dengan pekerjaan karena satu jam lagi sudah waktunya Ia bertemu dengan Mr Alexander.
*****
"Ian, Ean, makan dulu. Ini sudah sore,"
"Iya, Mom. Nanti saja,"
Adrian dan Andrean pulang sekolah langsung bermain mobil di halaman. Sementara kedua adik perempuannya masih bertahan di kamar Auristella dan kata Lovi tadi mereka terlelap.
"Ayo makan. Sekarang, bukan nanti,"
"Tadi 'kan sudah makan cathring dari sekolah,"
"Jadi tidak mau makan sekarang?"
"Nanti, Mom,"
__ADS_1
Lovi mengangguk kembali masuk ke dalam rumah. Ia kira kedua putranya belum makan siang. Hari ini kebetulan mereka tak membawa bekal dan biasanya makan cathring dari sekolah. Tapi tak selamanya mereka mau sebab katanya tak selezat masakan Lovi.
Keduanya masih asik dengan dunia mereka sendiri. Adrian sibuk mengacu kecepatan sementara Andrean mengendarai dengan santai saja.
"Awas ya kalau menabrak mobilku," Andrean mengancam adiknya yang berlagak seperti pembalap. Ia khawatir mobilnya ditabrak oleh Adrian.
"Tidak, aku pembalap profesional,"
Andrean merotasikan bola matanya. Seraya bergumam dalam hati, "Mana ada pembalap profesional yang melaju di halaman rumah."
******
"Nilla, bersiap ya. Sepulang aku dari klinik, kita pergi,"
Mendapat telepon dari suaminya yang masih bekerja di klinik sudah membuat Vanilla terkejut karena jarang sekali suaminya mau menelpon di sela jam kerja. Diajak pergi makin membuatnya terkejut.
"Pergi kemana, Jhi?"
"Ya, kita jalan-jalan lalu makan malam di luar,"
Vanilla tersenyum tahu niat terselubung suaminya. "Oh, memanfaatkan kesempatan selama Griz tidak ada ya?"
"Tepat sekali, Nilla," sahut Jhico seraya tertawa. Ia tak malu mengakui bahwa memang saat ini Ia ingin memanfaatkan kesempatan yang ada selama Grizelle tidak ada bersama mereka.
"Jarang kita pergi berdua 'kan?"
"Iya, okay. Aku akan siap sebelum kamu sampai di rumah,"
"Benar ya, Nilla? jangan lama berdandan,"
"Iya, Jhi,"
Jhico mengakhiri panggilan sebab Ia harus kembali bekerja. Sementara Vanilla mencari pakaian yang akan Ia kenakan nanti.
"Aku mau pakai baju apa ya?"
Vanilla kebingungan sendiri menatap isi almarinya. Ia mengusap tengkuknya. "Pakai baju apa? kenapa tidak ada yang bagus menurutku?"
"Tapi kalau tidak ada yang bagus kenapa aku mau memilikinya," Ia bermonolog.
Sekarang Ia mengatakan tidak bagus. Waktu akan membelinya, luar biasa mengagumi sampai-sampai tak akan bisa tidur bila tak jadi dibeli.
"Hah! dasar Vanilla" rutuknya yang merasa bahwa dirinya sendiri sangatlah aneh.
Vanilla meraih salah satu dres non formal dengan motif abstrak miliknya yang seingatnya baru sekali Ia kenakan.
"Ah yang ini saja lah,"
Tak ingin pusing memilih, maka Vanilla memutuskan untuk mengenakan baju yang telah Ia ambil tadi.
"Ini bagus untuk hangout," ujarnya dalam hati. Kemudian melanjutkan lagi seraya tersenyum, "Hangout bersama kekasih."
*****
Devan bersyukur bisa tiba di rumah sebelum makan malam. Kali ini yang menyambutnya lebih ramai lagi karena ada Grizelle.
__ADS_1
"Sudah bermain apa saja tadi?"
"Aku dan Icelle tidur, Dad. Kalau Ian dan Ean entah,"
"Mobil, Dad," sahut Adrian menambahkan apa yang dikatakan adiknya.
"Oh tidur? Daddy kira sibuk bermain setelah pulang sekolah,"
"Kelelahan mungkin ya?"
"Iya, Aunty. Isi baterrlai (baterai) sebelum berrlmain (bermain),"
Devan dan Lovi tersenyum mendengar Grzelle yang mulai terdengar suaranya. Dari awal makan malam, Ia diam saja mungkin karena masih mengumpulkan nyawa usai tidur. Ia dan Auristella pasti belum di meja makan kalau tidak dibangunkan oleh Lovi.
"Dad, besok aku dan Icelle ingin ke rumah Grandpa, boleh?"
"Boleh, kapan? sepulang sekolh?"
"Iya, Dad,"
"Aku juga, Dad,"
"Iya lah, kalau satu ke sana, semuanya harus ke sana. Biar Grandpa senang semua cucunya berkumpul,"
"Kalau ke playground kapan?" tanya Lovi pada mereka bereempat.
Grizelle, Auristella, Andrean, dan Adrian saling melirik untuk menjawab pertanyaan Lovi.
"Terserah Icelle," ujar Andrea yang kali ini membebaskan Grizelle dalam menentukan. Biar Ia dan kedua adiknya mengikiti saja kapan inginnya Grizelle.
Dan nampaknya Auristella serta Adtian juga setuju bila Grizelle yang menentukan. Mereka berdua mengangguk dan menatap Grizelle.
"Icelle kapan mau ke sana?"
"Lusa saja bagaimana?"
"Ya sudah, terserah pda Icelle,"
Ketiganya mengangguk setuju. Tak masalah juga kalau lusa mereka datang ke tempat bermain pemberian kakek mereka. Karena esok waktunya ke rumah Raihan dan Rena.
"Besok jangan nakal di rumah Grandpa ya. Terutama kamu Ian. Beri contoh yang baik pada kedua adikmu,"
"Ya ampu, Dad. Aku terus yang dicurigai akan nakal,"
"Rasanya salah sasaran kalau Daddy mengatakan itu pada Ean,"
"Iya, Ean pendiam. Dia tidak nakal seperti kamu,"
"Oh karena aku tidak pendiam maka dikatakan nakal ya?"
Tangan Adrian sudah mendekat ingin meraih daun telinga adiknya namun Grizelle yang ada di tengahnya dan Auristella, segera mencubit tangannya lebih dulu. Auristella menjulurkan lidahnya karena dibela oleh Grizelle.
"Jangan begitu, Ian," tegur Grizelle dengan halus namun mataya menatap Adrian dengn tajam. Lovi dan Devan menahan tawa mereka menyaksikan Adrian tak berkutik dinasihati seperti itu oleh adik sepupu mereka.
"Nanti kalau Ian dan Aurrlis berrletngkarrl (bertengkar), aku mau pulang saja,"
__ADS_1
"Jangan, Icelle," cegah Adrian. Belum juga menginap, masa sudah mau pulang saja hanya karena Ia dan Auristella terlibat pertengkaran.
"Tidak boleh!" seru Auristella dengan tegas tidak mengizinkan Grizelle untuk pulang sehingga tak jadi bermalam di rumahnya.