
"Dia boleh menganggap Jhico kakaknya, tapi tetap harus ingat siapa dia untuk Jhico. Jhico tentu tidak bisa menjauhinya dengan alasan rasa tidak tega karena dia sakit. Di perlakukan sangat baik oleh Jhico malah melunjak,"
"Thanatan, Kamu harus menjaga perasaan Keyfa. Kamu seharusnya anggap dia seperti cucumu. Tapi memang sulit sih. Kamu saja tidak menganggap kehadiran cucumu 'kan? kamu tidak menyayangi nya,"
"Kalau aku tidak menyayanginya, aku tidak mungkin membelanya sekarang," tukas Jhico tak ingin Istrinya terus-terusan membela Keyfa. Apa Karina tidak menyadari bahwa Keyfa sudah mulai membatasi ruang gerak Grizelle untuk dekat dengan ayahnya?
"Jadi, kamu menyayangi Griz?"
Thanatan enggan menjawab. Mulutnya sudah disetting sedemikian rupa untuk tidak mengakui namun hati berkata lain.
Jhico berjalan mendekati Papa dan Mamanya dengan perasaan jengkel. Keyfa mengatakan padanya bahwa Thanatan tidak sebaik Jhico. Ia dilarang untuk terlalu dekat dengan Jhico.
"Turunkan Keyfa, Jhico. Tanganmu belum sembuh,"
"Dia memang bodoh. Mementingkan orang lain tapi tidak peduli dengan diri sendiri," ujar Thanatan yang semakin kesal saja dengan Jhico yang terlalu baik menurutnya dan juga Keyfa yang tidak tahu kondisi.
Keyfa sudah tahu Jhico sedang cedera tapi masih saja ingin digendong. Vanilla jarang sekali mengizinkan Jhico untuk menggendong Grizelle padahal bobot tubuh Grizelle dengan Keyfa jelas sangat berbeda. Vanilla ingin suaminya cepat sembuh.
"Anakmu saja belum tentu kamu ayomi begitu. Anak orang lain malah---"
Jhico duduk di hadapan ayahnya. Lalu meletakkan Keyfa di kursi sebelahnya. "Pa, jangan mencari masalah dengan anak kecil. Aku sudah biasa Papa perlakukan seperti ini. Tapi Keyfa tidak,"
Thanatan menggeleng heran. Sebesar itu kasih sayang Jhico pada Keyfa. Sampai benar-benar membelanya.
"Pa, sudah-sudah," lerai Karina saat melihat Thanatan akan membalas perkataan sang anak.
"Kasihan Keyfa. Dia sakit, Pa." bisik Karina pada suaminya agar tidak didengar oleh Keyfa yang menenggelamkan kepalanya di atas meja.
"Aku tahu dia sakit. Dia boleh dekat dengan Jhico dan menganggap bahwa Jhico adalah kakaknya. Aku tidak melarang. Tapi menurutku dia sudah keterlaluan. Grizelle saja belum tentu seperti dia saat sudah seusianya nanti,"
__ADS_1
"Aku sangat-sangat menyayangi Grizelle. Grizelle lebih dari segalanya karena dia adalah darah dagingku. Terimakasih Papa sudah peduli dengan Grizelle. Tapi tolong jangan menyakiti hati Keyfa yang aku anggap sebagai adikku," tegas Jhico.
Thanatan mengangguk "Griz lebih dari segalanya, tapi yang Papa lihat justru Keyfa lah yang kamu anggap lebih dari segalanya,"
Keyfa mengangkat kepalanya dari meja. Matanya kian merah, hidungnya pun demikian.
"Kakak dokter, aku ingin pulang,"
Jhico menoleh padanya. Hatinya merasa tidak terima ketika melihat kondisi Keyfa sekarang. Suara anak itu lirih sekali. Keyfa menjadi korban mulut tajam Papa nya. Seharusnya dia bahagia sekarang. Jhico mengajaknya ke sini dengan tujuan agar dia bahagia dan tidak kesepian di rumahnya. Berhubung kalau Keyfa datang ke apartemen, Vivi tidak selalu mengizinkan karena Vivi tidak ingin anaknya sering-sering menganggu Jhico dengan keluarga kecilnya.
"Ayo, Keyfa. Aku antar kamu pulang,"
Jhico berdiri lalu menerima uluran tangan Keyfa. Mereka bergegas menuju mobil untuk meninggalkan suasana meriahnya pesta pernikahan Destira, sepupu Jhico.
"Aku harus memperingatkan orangtuanya juga,"
"Astaga, Thanatan! kamu kenapa sih?! tidak usah terlalu mengekang Jhico bisa tidak? lagipula aku yakin Griz senang memiliki teman seperti Keyfa. Keyfa anak yang baik,"
*******
"Keyfa, maafkan Papa ku ya. Kamu jangan menangis lagi, nanti kondisimu drop,"
"Iya, tidak apa, Kakak dokter. Terimakash sudah mengajakku ke pesta tadi,"
"Maaf tidak bisa membuatmu senang di acara itu,"
"Aku senang. Aku masuk ke dalam rumah ya?"
Jhico mengangguk, mempersilahkan anak itu keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke rumahnya. Tapi sebelum itu, Keyfa sudah melambai pada Jhico sebagai tanda perpisahan.
__ADS_1
Vivi terkejut mendapati anaknya sudah pulang. "Cepat sekali pesta nya,"
"Iya, Bu." suara Keyfa yang lirih saat menjawab membuat Vivi mengerinyit bingung. Ia segera memperhatikan anaknya dengan jarak yang sangat dekat. Ia melihat mata, hidung, dan wajah Keyfa yang seperti habis menangis.
"Kenapa kamu menangis, Keyfa?"
Keyfa segera menggeleng dengan senyuman yang mengatakan bahwa Ia baik-baik saja.
"Aku tidak menangis. Aku baik-baik saja. Tidak mungkin di pesta itu aku menangis,"
********
Tidak hanya Vivi, Vanilla pun merasa terkejut melihat suaminya sudah pulang. Terbilang cukup cepat, waktu yang digunakan Jhico untuk menghadiri sebuah pesta yang digelar oleh sepupu nya.
"Keyfa dimana? tidak kamu bawa ke sini?"
Biasanya bila ada kesempatan bertemu dengan Jhico, Keyfa pasti ingin datang ke apartemen untuk bermain dengan Grizelle.
"Tidak, bagaimana kondisi Griz? aku akan memeriksa nya,"
"Dia sedang tidur,"
Jhico melakukan apa yang Ia ucapkan tadi. Ia memeriksa anaknya dengan hati-hati. "Jhi, sebenarnya kamu terlambat. Aku sudah memanggil dokter ke sini saat kamu pergi tadi,"
------
Pendek yaa? mon map yaa baru bisa nulis sependek itu :( makasii bwt yg msh setia baca dan beri dukungan untuk NiCo fam's
MAMPIR KE LAPAK NYA GRANDPA ICELLE YAA. DI SANA GRANDPA LG KALANG KABUT WKWK
__ADS_1