Nillaku

Nillaku
Nillaku 169


__ADS_3

"Ayo kita ke rumah Papa dan Mama mu, Jhi."


"Langsung pulang ke apartemen saja,"


"Aku ingin ke sana, Jhi. Kenapa sih tidak mau menuruti keinginanku?"


Vanilla dan Jhico memasuki mobil usai memeriksa rumah baru mereka. Vanilla tahu suaminya akan langsung membawanya ke apartemen dan Ia ingin singgah ke rumah orangtua Jhico terlebih dahulu.


"Kamu sudah lama tidak bertemu Nenek. Memang kamu tidak rindu?"


"Hampir setiap hari kami komunikasi melaui telepon,"


"Aku rindu dengan nenek. Sudah lama tidak bertemu,"


Vanilla tetap keras kepala ingin ke rumah masa kecil suaminya. Sebelum Jhico melajukan mobilnya, Vanilla terus memaksa.


"Nilla, aku tidak ingin ke sana."


"Tapi aku ingin. Apa susahnya memenuhi keinginanku?"


Jhico berdecak kesal. Ia menghembuskan napas kasar. "Tapi tidak usah lama di sana," imbuhnya.


Vanilla mengangguk cepat. Akhirnya Jhico memenuhi keinginannya untuk datang membawa Grizelle bertemu dengan kakek dan nenek nya.


*******


Hawra sedang merawat halaman rumah yang sebagian ditumbuhi bunga. Itu kegiatannya setiap hari untuk mengisi waktu pagi dan sore nya.


Setelah dari taman di bagian dalam rumah, Ia pasti merawat tanaman yang ada di halaman sekalian menyapa orang-orang yang bekerja menjaga rumah di luar.


Sementara Ibu nya melakukan kegiatan yang disukainya, Karina seperti biasa sibuk dengan pekerjaan nya berupa laporan-laporan setiap harinya dari berbagai bidang bisnis nya. Sebagai wanita karir, Karina selalu sibuk sama halnya dengan sang suami yang merupakan seorang pengusaha. Sekalipun libur tetap ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan secepatnya.


Karina serius menatap iPad nya yang Ia letakkan di atas meja ruang keluarga. Sementara tangannya sesekali memasukkan makanan ringan ke dalam mulut. Karina suka mengemil kapanpun dan dimanapun itu. Berbanding terbalik dengan suaminya. Di ruang kerja Thantan, tidak ada makanan sama sekali. Ia benar-benar fokus bekerja. Kalau sudah benar-benar lelah dan bosan dengan tumpukan pekerjaan, barulah Ia keluar untuk makan.


Deru mobil yang datang membuat Hawra menghentikan kegiatannya. Ia melirik ke gerbang rumah. Seseorang tengah membuka gerbang yang menjulang megah itu.


Ia kenal dengan mobil yang kini memasuki halaman rumah "Woaahh Jhico datang," seru nya tak menyangka kalau cucunya akan datang di sore hari ini.


Jhico keluar terlebih dahulu dari mobilnya dan berjalan ke bagian samping untuk membantu Vanilla keluar dari mobil.


Vanilla tengah membawa Grizelle yang tidur. Hawra menghampiri cucunya. Matanya membulat saat melihat Vanilla keluar dari mobil dengan menggendong Grizelle.


"Astaga kamu datang membawa Vanilla dan Griz? Nenek senang sekali. Ayo, masuk." tanpa dijelaskan pun Jhico tahu kalau neneknya bahagia atas kedatangan dirinya, Vanilla, dan juga sang buah hati.


Mereka memasuki rumah. Hawra meminta tolong pada maid untuk memanggilkan Karina dan juga menyiapkan sajian untuk Vanilla dan Jhico.

__ADS_1


"Kalian harus makan malam di sini ya. Tidak lama lagi malam datang,"


"Sepertinya kami tidak---"


"Iya, Nek. Aku dan Jhico akan makan malam di sini," sanggah Vanilla sebelum suaminya selesai bicara. Mereka sudah lama tidak datang ke rumah itu dan bertemu dengan Hawra jadi lebih baik mereka di sana sedikit lebih lama. Vanilla mengingkari kesepakatan dirinya dan Jhico tadi dimana Ia setuju ketika Jhico mengatakan mereka tidak akan lama berada di rumah itu.


"Griz sudah boleh dibawa keluar-keluar? bukankah usianya masih sangat kecil?"


"Tiga bulan, Nek. Menurutku sudah bisa dibawa pergi tidak jauh,"


"Jarak rumah ini dengan apartemen mu bukankah sedikit jauh?"


"Tadi kami dari rumah, Nek." ujar Vanilla.


"Oh dari rumah Jhico? tidak biasanya datang ke sana, Jhi. Kamu hampir tidak pernah mengecek rumah itu,"


"Akhir bulan ini rencana nya aku ingin membawa Vanilla, Griz, dan Bibi pindah ke rumah itu, Nek."


"Oh ya? woahh akhirnya pindah ke rumah. Iya lah, lebih baik tinggal di rumah karena pasti lebih nyaman meskipun apartemen juga nyaman. Jadi sudah dalam tahap pembenahan?"


"Sudah hampir selesai. Tinggal mengisi rumah dengan furniture,"


"Selamat menempuh hidup baru kalau begitu,"


"Kalian akan menjalani hidup di rumah baru. Harus beradaptasi lagi seperti orang-orang yang baru menikah,"


Karina menghampiri Jhico, Istri, dan anaknya. Ia tidak menduga anaknya akan datang hari ini.


"Vanilla, Grizelle tidur?"


"Iya, Ma."


"Dibawa ke kamar Jhico saja. Di sana selalu dibersihkan,"


Vanilla menatap suaminya meminta izin. "Biar Griz nyaman, tidur di sana saja,"


Vanilla mengangguk dan berjalan menuju kamar suaminya semasa kecil sampai remaja itu.


Ia meletakkan tubuh Grizelle di ranjang dengan hati-hati agar Ia tidak terbangun. Setelah pendingin ruangan dipastikan hidup dan Ia menyelimuti Grizelle, barulah Ia keluar. Datang ke rumah orangtua suaminya kalau tidak berbincang rasanya ada yang kurang, apalagi Ia jarang sekali datang ke sini.


"Kalian sampai malam di sini ya? kalau perlu menginap,"


"Besok aku kuliah, Ma." ujar Vanilla apa adanya.


"Yah sayang sekali. Padahal Mama ingin Grizelle menginap di sini,"

__ADS_1


"Dimana Thanatan, Karina?"


"Di ruang kerja nya,"


"Panggil! sibuk bekerja terus,"


Hawra bingung dengan menantunya. Di kantor sudah bekerja, di rumah pun seperti itu. Entah kapan waktunya bisa tenang tanpa bekerja.


Karina mematuhi apa yang dikatakan Ibu nya. Ia segera memanggil suaminya agar menyelesaikan pekerjaan. Tidak ada maid yang berani datang ke ruang kerja Thanatan karena lelaki itu selalu ingin fokus tanpa gangguan sedikitpun. Karina saja sering sekali dimarahi oleh Thanatan karena datang ke ruang kerjanya lalu menyuruhnya untuk beristirahat.


"Pa, Jhico datang membawa istri dan anaknya. Temui mereka dulu,"


"Pekerjaan ku belum selesai. Sedikit lagi,"


"Pekerjaan bisa dilanjut nanti. Jhico jarang datang ke sini seharusnya Papa tidak disibukkan dengan pekerjaan seperti ini..."


"Ayo, Pa."


"Karina, jangan mengganggu aku,"


"Kamu bekerja terus. Apa sih yang dicari? uang? sudah banyak uang yang kamu miliki---"


"Tidak usah menasihati orang. Coba lihat dirimu. Kamu juga sibuk bekerja terus 'kan? mencari apa? uang? sudah aku cukupi, apa menurutmu masih kurang?"


Karina terdiam telak setelah suaminya membalas perkataan nya seperti itu. Ia berpikir mencari jawaban.


"Aku mencari kesibukan saja,"


"Mencari kesibukan tidak harus dengan bekerja. Bisa melakukan kegiatan lain. Mengurus rumah contohnya, memasak, menyambut aku pulang bekerja, dan masih banyak lagi. Kamu jarang sekali melakukan itu semua,"


Thanatan menyebutkan kegiatan yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah dilakukan wanita karir yang menjadi istrinya itu.


"Semua itu sudah dikerjakan oleh maid,"


"Ya, aku tahu. Tapi kalau sekali-sekali kamu lakukan tidak ada salahnya 'kan? menyiapkan minum untukku sehabis bekerja saja jarang sekali. Apalagi memasak untukku,"


Karina merasa tertampar dengan ucapan suaminya. Ia baru ingat tugasnya. Selama ini Ia hanya melayani Thanatan kalau memang suaminya itu butuh bantuan. Seperti minta dibuatkan teh hangat ketika pagi. Kalau Thanatan tidak meminta itu padanya, maka tidak Ia lakukan. Memasak pun demikian. Ketidak pekaan Karina itulah yang akhirnya membuat Thanatan malas meminta istrinya melakukan ini dan itu.


"Ya sudah, jadi kamu mau aku bagaimana? berhenti bekerja saja?"


"Terserah, percuma juga aku beri saran. Biasanya kamu tetap pada pilihanmu,"


 --------


Yeayyy selesai. Icelle dtg ke rumah Kakeknya niyy. Kira" temu sama kakek nya gk ya?

__ADS_1


__ADS_2