
"Nilla, Mama dan Papa sudah datang,"
Menunggu kedatangan Mama dan Papanya, Vanilla ternyata terlelap disela obrolannya bersama Jhico.
Rena dan Raihan yang melihat anak mereka tidur dengan posisi duduk di sofa langsung terkekeh menggeleng pelan.
"Biarkan saja, Co," bisik Rena.
"Aku bawa ke kamar dulu ya, Ma, Pa,"
"Iya, kasihan kalau dibiarkan di sini,"
Vanilla tertidur di sofa ruang tamu. Tidak tega dibiarkan terlalu lama di sana.
Saat Jhico mulai meraih tengkuk dan lututnya untuk digendong, Vanila mengerjap bangun dan mengeluarkan erangannya.
"Jhi, kenapa?"
Jhico menoleh terkejut mendapati istrinya yang terjaga. Jhico kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum.
"Aku ingin membawamu ke kamar, Nillaku,"
"Iya, kasihan kalau kamu tidur di sini, Sayang," kata Rena.
Vanilla menatap Mama dan Papanya. "Sudah datang ternyata,"
"Iya, terlalu lama menunggu kami ya?"
Raihan mengacak pelan puncak rambut putrinya. "Sudah makan belum?"
Belum sempat Vanilla menawarkan, Papanya malah bertanya padanya apa sudah makan atau belum.
"Kamu itu jangan terlambat makan,"
"Sudah, Pa. Papa dan Mama sudah makan? ayo makan dulu,"
"Sudah, Van. Kami sudah makan malam,"
Raihan dan Rena duduk di sofa yang bersebrangan dengan Vanilla dan Jhico.
Raihan tampak langsung mengeluarkan kertas-kertas begitu Ia duduk.
Kemudian Ia meletakkan di meja. "Ini punya Griz. Tolong diterima ya,"
Vanilla dan Jhico menatap ragu pada Raihan dan dokumen di meja. Raihan mengangguk meyakinkan mereka agar mau menerima.
"Diterima untuk Griz," katamya sekali lagi yang kali ini diangguki oleh Vanilla dan Jhico.
"Terimakasih, Pa. Ternyata Papa memberikan hak milik tempat itu pada Griz,"
"Ya, sama-sama,"
__ADS_1
"Tadi Griz jadi datang ke rumah," ucap Rena mulai bercerita pada putrinya itu mengenai Grizele yang berkunjung ke rumahnya bersama Lovi dan ketiga sepupunya.
"Iya, Ma. Sempat bicara dengan aku di perjalanan,"
"Iya, kamu sering-seringlah datang ke rumah Mama. Tanpa Griz juga tidak masalah. Mama ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak Mama juga tapi sayang kamu dan Devan jarang datang sendiri. Selalu ke rumah kalau anak kalian yang mau datang,"
Vanilla terkekeh pelan. Sudah sering mendengar keluh Mamanya yang ingin Ia dan Devan sering datang ke rumah.
"Iya, nanti aku sering datang ke sana,"
"Ah kamu hanya bicara saja biar hati Mama senang,"
Vanilla terkekeh mendapati Mamanya yang cemberut. Kelihatan sekali kalau Mamanya itu memang benar-benar menginginkan.
"Tidak, Ma. Nanti aku akan sering datang ke sana,"
"Benar ya? kamu 'kan sudah istirahat dari pekerjaan. Jadi harus sering datang ke rumah Mama,"
Vanilla mengangguk tersenyum. Ia akan berusaha untuk memenuhi keinginan Mamanya.
"Papa dan Mama pulang dulu ya,"
"Sebentar sekali di sini, Pa," Vanilla protes pada ayahnya dan merengek seperti anak kecil.
Raihan, Rena, dan Jhico terkekeh melihat perempuan itu. Sudah akan memiliki dua anak tapi masih menggemaskan saja sikapnya.
"Papa mau istirahat, Sayang,"
Raihan tersenyum mendengar sindiran Vanilla. Anaknya itu terkadang mendengar Mamanya yang mengeluh bahwa Papanya masih bekerja ketika sampai di rumah.
"Tidak, Sayang. Papa mau istirahat,"
"Ya sudah, hati-hati ya, Pa, Ma,"
"Terimakasih Pa, Ma. Hati-hati, selamat beristirahat," ujar Jhico pada kedua orangtua istrinya yang juga menjadi orangtua untuknya.
"Tadi hasil pemeriksaan nya bagaimana?"
Rena hampir lupa menanyakan itu. Ketika mengusap perut Vanilla barulah Ia ingat.
"Sehat, Ma,"
"Ah syukurlah," Rena menghela napas lega. Ia mengecup perut Vanilla sekali.
"Jaga baik-baik ya. Jangan sampai kamu kembali lagi ke rumah sakit, Sayang. Kasihan pada Griz juga,"
"Iya, Ma. Aku juga tidak mau dirawat di sana. Sangat membosankan,"
"Iya, maka jaga kandunganmu dengan baik. Jangan lengah, apapun yang disarankan dokter lakukan dan kalau diberi tahu Jhico jangan membantah. Dengar ya?"
Rena menarik daun telinga anaknya dengan gemas. Ia tahu bahwa Vanilla adalah perempuan yang cukup keras kepala dan tak jarang Ia juga egois. Maka harus sering-sering diberi pengertian dan peringatan.
__ADS_1
****
Lovi membantu Devan keluar dari mobil. Kondisi devan tak seburuk yang Ia pikirkan. Lelaki itu bisa berjalan dan tersenyum padanya mungkin karena efek mabuk sudah mulai hilang.
Auristella dan Grizelle sampai sekarang masih heran kenapa Lovi sampai harus keliar menyambut kedatangan Devan bahkan sampai ikut membantu Devan keluar dari mobil.
"Terimakasih, Yon," ujar Lovi pada lelaki yang menjemput suaminya itu dan syukurnya pulang dalam kondisi baik-baik saja.
"Sama-sama, Nona,"
Lovi dan Devan masuk ke dalam dan kedua anak perempuan bernama Auristella dan Grizelle itu mengikuti dari belakang masih dengan kebingungan yang melanda.
"Sayang, kalian makan lebih dulu saja ya?" ujar Lovi menoleh pada mereka.
Keduanya tak membantah. Mereka mengangguk dan beranjak ke ruang makan. Membiarkan Lovi dan Devan berjalan berlawanan arah dengan mereka.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja, Lov. Hanya pusing dan lesu,"
"Ya sudah, langsung istirahat saja. Biar aku bawakan makan dan kamu makan di kamar ya?"
Devan mengangguk. Meskipun Ia masih kuat berjalan dan segala macam tapi tetap saja kepalanya masih sangat pening, tubuhnya juga lesu.
Auristella dan Grizelle tiba di meja makan dimana Adrian dan kakaknya sudah berada di sana juga.
"Mommy dan Daddy kemana? kita tidak makan malam bersama?" tanya Adrian. Biasanya Lovi sudah berada di meja makan dan biasanya Daddynya akan menyusul. Sekarang hanya ada mereka berempat saja.
"Bukankah Daddy sudah pulang?" tanya Adrian lagi pada adiknya.
"Sudah, tapi sepertinya Daddy sedang sakit jadi begitu sampai di rumah tadi langsung dibantu Mommy berjalan ke kamar,"
"Sakit?" Andrean bertanya dengan alis bertaut yang langsung diangguki oleh Auristella.
"Iya, tadi aku lihat begitu. Daddy tidak seperti biasanya,"
"Kelihatan letih sekali ya sampai jalannya saja dibantu Aunty," kata Grizelle pada Auristella yang mungkin sepemikiran dengannya.
"Ya, Daddy sakit,"
"Aku akan melihatnya,"
"Ean, nanti saja. Mommy menyuruh kita makan lebih dulu,"
Andrean mengangguk mendengar ucapan adik perempuannya. Maka Ia yang tadi beranjak berdiri, memutuskan untuk kembali duduk, menahan rasa keingin tahuannya tentang kondisi Devan saat ini. Jujur hatinya diselimuti khawatir. Menurut cerita Auristella dan Grizelle, sepertinya kondisi Devan lumayan mengkhawatirkan. Biasanya kalau sudah masuk rumah Daddynya itu tetap berusaha terlihat semangat dan riang meskipun Ia tahu bahwa Daddynya sangat lelah atau penat setelah seharian bekerja tapi tidak sampai kelihatan letih bahkan sampai berjalan saja dibantu oleh Mommynya seperti apa yang tadi dikatakan Grizelle maupun Auristella.
"Kita makan saja dulu. Nanti kita hampiri Daddy dan tanya kondisinya,"
"Uncle Devan mungkin ingin langsung beristirahat,"
"Kalau begitu, nanti kita tanya pada Mommy saja,"
__ADS_1