
Grizelle sudah ditangani dan sekarang Ia sedang terlelap. Nanti dokter akan datang lagi untuk memeriksa kondisinya.
Joana setia mendampingi sahabatnya yang masih cemas, Vanilla tidak henti berdoa seraya menatap putrinya yang terbaring di bangsal dengan mata tertutup dan napas teratur.
"Tenang, Van. Griz sudah ditangani, tinggal tunggu hasil selanjutnya,"
"Jhico tidak datang," gumam Vanilla yang membuat Joana reflek mengusap bahu Vanilla. Joana tahu Vanilla sangat sedih sekaligus kesal dengan sikap Jhico yang seolah tidak peduli dengan anaknya.
Sudah ditunggu-tunggu namun Jhico tidak datang juga. Apa dia benar-benar tidak akan datang sesuai dengan pesan Vanilla tadi? padahal Vanilla ingin lelaki itu tetap datang agar hatinya sedikit luluh.
Vanilla menghembuskan napas pelan lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Malam ini benar-benar berat sekali untuk Vanilla. Ia belum pernah merawat bayi yang demam tinggi. Dan suaminya kian memperkeruh suasana hatinya.
******
Bibi tidak mengatakan apapun ketika menyambut Jhico. Ia membiarkan Jhico mencari anak dan istrinya di kamar. Namun Jhico tidak menemukannya.
"Bi, Vanilla dan Griz dimana?"
"Sudah ke rumah sakit," jawab Bibi dengan singkat. Ia juga kesal dengan Jhico yang lamban sekali sampai di apartemen. Wajar saja Vanilla marah sampai menitip pesan seperti itu. Tadi Ia mendengar dari telepon Jhico sedang bersama seseorang bernama Keyfa. Entah siapa Keyfa itu, Bibi tidak kenal tapi sepertinya karena Keyfa lah Jhico bisa datang terlambat.
Jhico masih tidak percaya, Ia mendatangi dapur dan ruang-ruang lain di apartemen. Ia benar-benar tidak menemukan anak dan istrinya.
"Vanilla berpesan, Jhico tidak usah datang ke sana. Urus saja Keyfa,"
Setelah mengatakan itu, Bibi menjauh, meninggalkan Jhico yang sempat membeku beberapa detik. Kemudian Ia berdecak pelan seraya mengacak rambutnya.
Secepat kilat Ia keluar dari apartemen menuju rumah sakit. Ia tidak peduli pesan Vanilla. Ia akan tetap datang meskipun perempuan itu tidak menginginkan kehadirannya. Ia harus berada di sisi buah hatinya yang begitu Ia kasihi.
******
"Kamu pulang saja. Ini sudah malam,"
"Aku akan tetap di sini, menemanimu."
"Aku bisa sendiri, Joana. Kamu harus pulang, kasihan Ibumu sendirian di rumah,"
Joana tetap menolak. Ia harus ada di samping Vanilla yang tengah menghadapi kecemasan seorang diri. Kecuali kalau Jhico datang, Ia bisa saja meninggalkan rumah sakit karena Ia tenang meninggalkan Vanilla dengan suaminya. Tapi sayang, Jhico tidak ada.
"Joana, kamu harus pul--"
Cklek
"Nilla..."
__ADS_1
Vanilla dan Joana menoleh ke pintu yag terbuka sedikit. Jhico segera membuka pintu lebih lebar lagi kemudian Ia memasuki ruangan Grizelle setelah itu menutup pintunya.
Ia cukup terkejut mendapati kehadiran Joana di sana. Ia kalah cepat dengan orang lain yang tidak memiliki status apa-apa dengan Grizelle. Ia sebagai ayah merasa malu dengan Joana yang lebih sigap menemani Grizelle dan juga Vanilla.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Bibi sudah menyampaikan pesanku 'kan?"
Di sisi lain hatinya, Vanilla senang melihat kedatangan Jhico. Namun Ia merasa perlu memberi pelajaran untuk Jhico.
"Nilla, maaf aku terlambat."
"Tidak butuh maaf kamu. Yang aku inginkan hanya jawabanmu. Kenapa datang ke sini? tidak mengurus Keyfa saja? kamu sangat menyayangi dia 'kan?"
"Nilla---"
"Aku menunggu kamu, berharap kamu cepat datang. Tapi sepertinya kebersamaan mu dengan Keyfa belum bisa diakhiri setelah aku memintamu untuk datang,"
Joana memilih untuk undur diri karena pembahasan antara Vanilla dengan Jhico sudah bukan ranah nya lagi.
"Aku pulang ya, Van."
"Iya, terimakasih, Joana. Kamu benar-benar peduli pada Griz," ujar Vanilla seolah menyindir tajam suaminya yang saat ini tengah berjalan ke arah Grizelle. Lelaki itu mencium kening anaknya kemudian menyatukan pipinya dengan pipi buah hatinya.
"Iya, sama-sama, Van. Semoga Griz cepat sembuh,"
Vanilla mengangguk pelan seraya tersenyum dalam hatinya Ia juga berdoa seperti itu sejak tadi.
"Keyfa sudah kamu antar ke rumahnya belum? biasanya begitu,"
Jhico bungkam, Ia tidak ingin semakin membakar emosi istrinya. Biarkan saja Vanilla meluapkan semuanya. Setelah Ia sedikit tenang barulah Jhico akan mencoba untuk meminta maaf lagi.
"Aku ragu dengan kasih sayangmu terhadap Griz. Jangan-jangan kasih sayang untuk Keyfa lebih besar daripada untuk Griz. Padahal yang anakmu siapa? Keyfa atau Griz?"
Jhico tetap diam, tidak ingin menjawab karena Ia tahu jawabannya nanti mungkin akan menimbulkan reaksi yang berlebihan dari Vanilla.
"Jawab aku! yang anakmu Griz atau Keyfa?!"
"Bisa pelankan suaramu?" desis Jhico seraya menatap Istrinya dengan tajam penuh peringatan. Jhico tidak tega bila anaknya harus terbangun karena suara Vanilla.
"Ck! tidak usah sok peduli dengan Griz kalau kenyataannya Keyfa lebih penting bagimu,"
"Kamu bicara hal yang tidak mungkin, Vanilla." kesabaran Jhico mulai menipis. Vanilla menuduhnya lebih mengutamakan Keyfa padahal Ia merasa tidak begitu.
"Kalau aku menunggu kamu datang, bisa jadi Griz sudah tidak bersama kita sekarang,"
__ADS_1
"Jaga ucapanmu!"
"Kamu tidak tahu bagaimana keadaan dia tadi. Kamu sibuk dengan orang lain, sementara anakmu sendiri sedang melawan sakit,"
Vanilla membalas tatapan suaminya tak kalah tajam. Bahkan kedua tangannya mengepal erat. Ingatannya kembali terlempar pada kejadian beberapa saat lalu. Hatinya hancur ketika melihat anaknya sakit dan Ia marah ketika Jhico tidak ikut merasakan apa yang Ia rasakan tadi.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk---"
Vanilla berjalan memasuki kamar mandi lalu menutup pintunya dengan sentakan cukup keras, seolah Ia lupa bahwa anaknya sedang tidur. Vanilla hilang kendali.
BRAKK
Jhico mengusap kasar wajahnya menatap pintu kamar mandi. Vanilla masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, berharap setelah Ia menyentuh air, emosinya meluruh.
*****
"Suamimu masih berada di sana 'kan?"
"Iya, dia masih tidur,"
"Syukurlah, semoga kondisi Griz semakin membaik,"
Pagi ini Joana menanyakan kabar Grizelle. Gadis itu merasa khawatir dengan anak dari sahabatnya. Ia sempat melihat langsung apa yang terjadi pada Grizelle. Suhu tubuhnya sangat tinggi, sampai Vanilla panik, mengkhawatirkan anaknya kejang demam.
"Aku mau datang ke sana melihat Griz,"
"Doakan saja sudah cukup. Aku tahu kesibukanmu,"
Semenjak Vanilla hengkang sejenak dari pekerjaan nya, otomatis Joana sebagai asisten pribadinya pun demikan. Dan sekarang Joana sudah sepenuhnya membantu Ibunya yang menjual waffle.
Vanilla melihat suaminya sudah bangun. Lelaki itu beranjak ke kamar mandi. Semalaman mereka berdua tidur sambil duduk di sisi bangsal Grizelle.
Saat Jhico menyuruhnya untuk tidur di sofa bed, Ia menolak. Ia tidak ingin pisah dari anaknya apalagi sebentar-sebentar Grizelle mencarinya.
Vanilla menutup teleponnya usai bicara dengan Joana yang masih keras kepala ingin datang menjenguk Grizelle. Grizelle sudah bangun. Mata nya yang cantik terbuka lebar dan langsung bertemu tatap dengan Vanilla.
Grizelle melirik sisi kirinya dimana Jhico duduk sejak semalam hingga tadi. Ia mencari Pupu nya.
"Di kamar mandi," jelas Vanilla. Grizelle menggeliat sesaat. Ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka, matanya nampak mencari-cari.
Jhico melangkah mendekati anaknya. "Oh sudah bangun? selamat pagi, sayang."
Vanilla memutar bola matanya ketika sapa itu keluar dari mulut Jhico untuk Grizelle. Tempo hari Ia mendengar Jhico juga menyapa Keyfa dengan kalimat itu. Entah mengapa Ia tidak suka Jhico menyapa Grizelle seperti itu. Akan lebih baik dia diam saja.
__ADS_1
-------
Masih ada yg bangun? jam brp baca Nillaku?