Nillaku

Nillaku
Nillaku 52


__ADS_3

"Mimpi apa aku semalam ya?"


Jhico tersenyum geli dan mendekati Vanilla yang sedang menyajikan sarapan. Di hari pertama Jhico bekerja di kliniknya sendiri, Vanilla ingin mencoba melayani suaminya walaupun hanya dengan sajian yang sederhana dan dibuat dengan cara yang instan.


"Nanti tidak perlu jemput aku. Ada kelas tambahan. Aku yakin kamu sangat sibuk hari ini,"


"Aku bisa meluangkan waktu untukmu," terasa ada yang kurang kalau Ia tidak menjemput istrinya selesai berkegiatan.


"Tapi tidak perlu. Kamu bekerja saja. Ini hari pertama, kamu pasti sangat sibuk,"


"Tergantung pasien yang datang, Nilla."


"Ya, sudah. Terserah kamu saja. Tapi jangan sampai mengganggu pekerjaanmu ya? kalau memang tidak bisa, jangan dipaksakan,"


********


Vanilla memberi tahu pada Joana dengan bangga bahwa yang dibawanya sebagai bekal hari ini adalah masakannya sendiri.


"Aduh, rasanya tidak enak."


"Padahal hanya pasta. Tinggal campur, lalu jadi. Masih tidak enak? aku mau coba,"


Joana menggoda temannya yang kali ini gagal menciptakan rasa yang nikmat di dalam masakannya. Joana mencicipi pasta yang dibuat Vanilla. Keningnya langsung mengerinyit dalam dan matanya pun langsung menyipit.


"Asin sekali, Van. Kamu memberi garamnya berapa sendok? jangan-jangan menggunakan sendok untuk mengambil sayur,"


"Sembarangan! aku tahu sendok takaran untuk garam,"


"Lalu kenapa rasanya begini?"


"Mungkin aku tidak sadar memasukkan garamnya terlalu banyak,"


"Jhico juga kamu bekali ini?"


Vanilla mengangguk pelan. Bahkan dari sarapan pun Jhico sudah menyantapnya. Tapi tidak ada bentuk protes apapun dari suaminya itu.


"Pasti makanan ini dibuangnya,"


"Ah Joana, kamu jahat sekali." Vanilla cemberut mendengar kalimat Joana. Temannya itu malah terbahak kencang.


"Dia menikmatinya tadi pagi," sanggah Vanilla.

__ADS_1


"Astaga, kamu serius?"


"Iya, dia tidak membuangnya, malah habis."


"Lidahnya sudah dibuat kebal oleh cinta,"


********


Aurora akan pergi ke Thailand dan Ia harus membawa surat keterangan sehat yang diminta oleh pihak tempat Ia bekerja.


Aurora memilih untuk mendatangi klinik Jhico guna memeriksa kesehatannya. Selain karena mereka sudah kenal lama, Aurora juga ingin melihat secara langsung bagaimana suasana klinik Jhico.


"Hasilnya semua baik. Kamu tidak perlu khawatir,"


Aurora bisa bernapas lega. Awalnya Ia sempat khawatir dengan hasilnya. Kalau tidak sesuai, maka kerja sama dibatalkan. Persyaratan di dalam pekerjaan Aurora kali ini adalah yang paling berat. Ia akan menjadi model iklan suatu produk pelangsing. Beberapa Minggu sebelumnya Aurora juga dituntut untuk mencoba produk yang akan dipromosikan oleh Aurora sendiri. Mereka tidak ingin Aurora hanya sekedar menjadi bintang iklan. Aurora juga harus merasakan manfaat produk tersebut.


Totalitas perusahaan yang menjalin kerja sama dengan Aurora patut diberi apresiasi. Tidak main-main dalam mengeluarkan produk. Harus benar-benar dibuktikan sendiri manfaatnya oleh pihak yang terkait sebelum konsumen membelinya.


"Terima kasih sudah datang. Dan tetap jaga kesehatan ya,"


Vanilla keluar dari mobil dengan perasaan berbunga padahal hanya ingin bertemu dengan Jhico. Ketika Ia memasuki klinik, Ia melihat Aurora tengah berbincang dengan suaminya. Entah kenapa Vanilla ingin sekali angkat kaki dari tempat itu, tidak jadi menemui suaminya. Tapi Jhico terlanjur melihat keberadaanya. Lelaki itu tersenyum menyapa lalu mengisyaratkan Vanilla untuk mendekat.


"Hai, Vanilla. Kita bertemu lagi,"


"Ada apa kamu datang ke sini?"


Vanilla tidak bisa menyembunyikan nada sinisnya. Jhico sangat menyadari itu sementara Aurora masih saja tersenyum.


Ternyata Vanilla pulang lebih awal dari perkiraan. Oleh sebab itu Ia mengunjungi suaminya. Ia ingin tahu kegiatan Jhico di hari pertama pembukaan klinik itu.


"Aurora periksa kesehatan untuk mendapat surat keterangan sehat. Dia akan ke luar negeri untuk bekerja,"


"Oh, harus menggunakan itu ya? aku baru tahu,"


"Iya, aku juga baru sekarang mendapatkan persyaratan semacam ini. Mungkin karena aku bekerja sama dengan perusahaan produk obat,"


"Semoga lancar pekerjaannya,"


Aurora rasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Ia juga harus segera bersiap sebelum pergi ke negara gajah putih.


Gadis itu bangkit lalu pamit undur diri. Setelah punggung Aurora tidak terlihat lagi di pelupuk matanya, Vanilla juga menyampirkan tas nya. Melihat itu Jhico mengerinyit bingung.

__ADS_1


"Kamu mau pulang? untuk apa datang kalau hanya duduk tidak sampai tiga menit?"


"Kamu sedang bekerja. Aku takut mengganggu, lebih baik pulang lalu istirahat,"


Vanilla akan beranjak, lengannya ditarik oleh Jhico. Alis Jhico menukik ke atas. "Tadi kamu terlihat bahagia memasuki klinik. Sekarang kenapa seperti ini?" Jhico mengusap wajah Vanilla dengan lembut. Vanilla menepisnya pelan.


"Seperti ini bagaimana? aku hanya lelah, tidak mau berlama-lama di sini,"


Jhico menghembuskan napas berusaha mengerti, Ia mengangguk lalu membiarkan Vanilla pergi setelah sebelumnya menyematkan kecupan di kening sang istri.


******


"Vanilla, kita harus pulang sekarang. Kamu jangan gila, Van! Jhico bisa marah nanti,"


"Aku tidak peduli, Joana. Aku sudah biasa melakukan ini,"


Joana merampas botol minuman memabukkan dari tangan Vanilla. Entah ini botol keberapa. Vanilla sudah benar-benar mabuk. Sedari tadi Ia hanya meracau dan memaki dengan nama Jhico yang tak berhenti keluar dari mulutnya.


"Bicarakan baik-baik, Vanilla." Joana berusaha membuat fokus sahabatnya kembali lagi. Tapi tidak bisa. Vanilla sudah hampir tidak sadarkan diri.


Joana segera meraih ponsel Vanilla dari dalam tas temannya itu. Lalu mencari nomor ponsel Jhico dengan tangan gemetar. Sungguh, selama Vanilla menikah, Ia tidak pernah lagi menangani Vanilla yang sedang mabuk. Sekarang Ia kembali dihadapkan dengan situasi yang sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya dulu. Sebelum mengalami kebutaan, hampir setiap hari Vanilla menghabiskan waktu di tempat-tempat seperti ini, Joana selalu mendampingi walaupun Vanilla berkali-kali mengusirnya.


"Jhico, cepat datang! istrimu mabuk berat,"


"Jo--Joana?"


"Iya, Ini aku."


Jhico keluar dari kliniknya dengan langkah terburu. Dirinya belum mempersiapkan diri untuk pulang tetapi panggilan dari Joana memaksanya untuk bertindak cepat.


Ia berusaha mendengarkan dengan baik posisi Vanilla dan Joana saat ini. Lalu melajukan mobilnya ke sana dengan kecepatan yang benar-benar melampaui batas normal.


Sampa di sana, Jhico terasa asing. Ia hampir tidak pernah memasuki tempat yang penuh dengan hingar bingar malam seperti ini. Karena Vanilla, Ia harus melangkahkan kakinya ke dalam.


Joana mengangkat tangannya saat melihat Jhico memasuki kelab. Posisinya dan Vanilla saat ini tidak berada jauh dari pintu masuk, duduk di sebuah sofa yang ada di pojok ruangan.


Jhico segera meraih tubuh Vanilla yang sedari tadi membebani Joana. Jantung Jhico belum berdetak normal. Ia hampir dibuat gila oleh istrinya sendiri.


"Terima kasih, Joana."


-------

__ADS_1


Adooohh apa yg bakal terjadi nih? Jhico marah atau masih berusaha sabaaaarrr? Vanilla baleekk lagi sintingnya wkwwk



__ADS_2