Nillaku

Nillaku
Nillaku 112


__ADS_3

Vanilla membangunkan suaminya. Mungkin karena terlalu kelelahan, Jhico jadi belum bangun sampai sekarang. Tidurnya begitu lelap.


"Jhi, bangun. Kita akan ke garden of morning calm. Jadi tidak?"


"Hmmm jadi,"


"Ya sudah, ayo bangun. Cepatlah! nanti Carrol sudah menunggu di lobi,"


Rencana perjalanan mereka hari ini adalah mengunjungi the garden of morning calm, taman yang memiliki lebih dari lima ribu jenis tanaman yang terbagi dalam beberapa area berbeda dengan tema khusus.


Pada setiap musim di Korea, taman tersebut mengadakan festival sesuai dengan bunga yang tumbuh pada saat itu.


Vanilla tidak menyerah untuk membuat suaminya membuka mata. Biasanya Jhico tidak pernah sulit untuk dibangunkan, tapi kali ini berbeda.


"Jhi, ayo lah." Vanilla merengek seraya menggerakkan lengan suaminya tiada henti. Sesekali Ia mencubit pipi Jhico.


Jhico pun terbangun. Ia ingin diam di hotel seharian penuh, tapi Ia tidak tega bila harus menghapus rencana mereka untuk hari ini.


Jhico terkejut melihat Vanilla yang sudah mandi. Vanilla benar-benar excited bahkan sejak mereka datang ke sini. Sudah beberapa hari di Korea, Vanilla selalu siap terlebih dahulu. Kemarin-kemarin Vanilla dibangunkan oleh Jhico tapi Ia mandi lebih dulu daripada Jhico. Sekarang Ia yang membangunkan Jhico dan sudah mandi juga.


Jhico sudah masuk ke dalam kamar mandi. Saatnya Vanilla memberi kabar pada Mama nya. Setiap pagi Rena selalu menelpon dirinya untuk bertanya mengenai rencana mereka pada hari itu dan selalu berpesan agar mereka selalu baik-baik saja.


"Bagaimana liburanmu? sombong sekali kamu ya. Tidak pernah telepon Papa selama liburan,"


Kali ini yang bicara adalah Raihan. Rena menyerahkan ponselnya pada sang suami.


"Aku pikir Papa sibuk jadi aku selalu menghubungi Mama. Liburanku di sini menyenangkan, Pa."


"Ya, terlihat juga dari foto-foto di sosial media mu,"


"Papa tahu?"


"Tahu lah. Papa juga punya sosial media,"


"Tapi Papa jarang aktif sama dengan Jhico,"


"Ya, kami laki-laki sibuk mencari uang,"


Vanilla terkekeh geli mendengar ucapan Raihan. Setelah menceritakan pengalaman liburan kemarin-kemarin pada Papanya, Vanilla menyelesaikan panggilan mereka.


Jhico juga sudah keluar dari kamar mandi. Ia langsung mengenakan baju nya untuk pergi hari ini yang sudah disiapkan Vanilla.


"Serius, aku senang sekali beberapa hari ini kamu menyiapkan semua perlengkapan ku,"


"Aku sudah katakan, aku harus mulai belajar. Karena sebentar lagi anak kita lahir. Tidak mungkin aku mengandalkan kamu sepenuhnya 'kan?"

__ADS_1


Jhico tersenyum lebar. Ia mengecup pipi Istrinya. Bibirnya yang dingin membuat Vanilla berdecak, Ia segera mengusap pipinya sendiri.


"Kenapa sih? tidak mau dicium suami sendiri?"


"Bukan tidak mau. Tapi dingin,"


"Halah katakan saja kalau kamu itu memang---"


Vanilla menutup mulut suaminya yang berpendapat sembarangan. Tidak mungkin Ia tidak mau diperlakukan seperti itu. Hanya saja Ia terkejut karena tiba-tiba rasa dingin menjalar di pipi nya dan itu karena bibir Jhico yang masih dingin karena baru selesai mandi.


"Ini celana baru ya?" tanya Jhico seraya memperhatikan celana yang sudah Ia kenakan. Rasanya baru kali ini Ia memakai itu.


"Iya, aku membelinya saat belanja bersama Jane. Sudah lama aku beli ini, tapi aku lupa meletakkan nya di almari mu,"


Vanilla memperhatikan penampilan suaminya sekilas. Kemudian Ia berkata, "Sepertinya celana itu terlalu panjang. Ah mungkin kalau di lipat terlihat bagus,"


Vanilla segera merendahkan tubuhnya untuk melipat bagian bawah celana Jhico. Setelah itu, Ia tersenyum. puas melihat suaminya yang terlihat sangat pas dengan style nya hari ini.


"Pesona mu seperti laki-laki yang belum menikah,"


Ucapan Vanilla membuat Jhico tersenyum. Vanilla sudah memujinya pagi-pagi begini. Ia jadi gemas pada Vanilla dan keinginan untuk memeluk Vanilla seharian di atas tempat tidur semakin besar.


"Kita di hotel saja, Nilla. Mau tidak?"


"Tidak mau! kita harus jalan-jalan,"


Carrol sedang melihat-lihat hasil foto di kamera miliknya. Vanilla dan Jhico menghampiri lelaki itu.


"Carrol, maaf kami membuatmu menunggu lama,"


Carrol mengalihkan fokus nya pada sepasang suami istri itu. Ia menggeleng seraya tersenyum hangat.


"Tidak lama. Kita berangkat sekarang?"


"Ya, tidak usah menunggu waktu lama, Carrol. Karena aku sudah tidak sabar untuk foto-foto lagi,"


******


Sebelum berjalan-jalan di taman yang sangat cantik itu, Vanilla, Jhico, dan Carrol sarapan terlebih dahulu.


"Beberapa hari menginap di Korea, menurut kalian Korea bagaimana?" tanya Carrol.


"Aku tidak bisa berkata-kata. Negara yang luar biasa...."


"Pokoknya kita harus kembali lagi ke sini di lain waktu," ucap Vanilla pada suaminya. Ia jatuh hati dengan negeri ginseng itu. Pesona nya luar biasa. Vanilla sampai lupa kalau besok adalah hari kepulangan nya bersama Jhico.

__ADS_1


"Sekali-sekali kau yang datang ke tempat kami, Carrol."


"Ya, lain waktu aku pasti datang ke sana. Menikmati musim dingin di tempat kalian, pasti sama menyenangkan seperti di sini,"


Menyantap minuman dan makanan yang hangat bisa sedikit mengusir dingin yang mereka rasakan saat ini. Seraya berbincang, tidak sadar kalau santapan mereka telah habis. Saatnya berjelajah lagi.


"Ini hari terakhir, kamu harus selalu tersenyum kalau kita berfoto," ujar Vanilla pada Jhico saat mereka keluar dari restoran.


"Aku selalu tersenyum," bantah Jhico. Ia memang tersenyum kalau istrinya minta berfoto tapi kalau sudah kelelahan pasti sulit untuk tetap mempertahankan senyum itu.


Saat ini Vanilla berfoto sendiri. Vanilla menjadikan banyak nya bunga sebagai latar berfoto. Pose nya begitu anggun, selaras dengan bunga-bunga di sana yang menawan.


Jhico sampai dibuat terkagum setiap kali Vanilla bergaya di depan kamera. Ia beruntung memiliki Vanilla.


"Sekarang Jhico sendiri,"


Jhico menghembuskan napas pelan. Ia menggeleng, tapi Vanilla mendorong nya agar mau menjadi model Carrol sekarang.


"Ayo, cepat!"


"Latar nya bunga, Nillaku."


"Memang kenapa? tidak masalah latarnya bunga-bunga, yang terpenting gayamu tidak seperti perempuan. Pasti kamu tetap terlihat keren,"


"Lebih baik kita berdua saja. Jangan aku sendiri,"


Jhico benar-benar tidak percaya diri untuk kali ini karena di belakangnya terdapat banyak bunga. Ia rasa kurang tepat untuk dirinya. Kalau bersama Vanilla, akan terlihat lebih bagus dan tentunya romantis.


"Iya, kalian berdua saja."


Jhico tersenyum puas mendengar saran Carrol. Vanilla tidak lagi menyuruh nya foto sendiri.


Vanilla selalu punya cara agar suaminya tidak kaku di depan kamera. Setelah beberapa kali kamera berkedip, Carrol memperlihatkan hasilnya.


"Wow keren,"


"Kalau ada kamu pasti selalu keren. Kalau hanya aku yang foto pasti tidak keren,"


Vanilla menggeleng saat suaminya bicara seperti itu. Percayalah, Jhico tidak seburuk itu saat difoto. Meskipun terkadang kaku, tetap saja lelaki itu terlihat keren, pesona nya bisa membuat Vanilla semakin jatuh cinta.


 


Selamat pageeee. Selamat beraktifitas semuanya. Sehat-sehat ya untuk kalian. Semoga bahagiađź’™


Hari ini udh baca dua lapak ini👇 blm?

__ADS_1




__ADS_2