Nillaku

Nillaku
Nillaku 339 Jhico datang ke rumah orangtuanya


__ADS_3

"Ya ampun, jadi Icelle tidak pulang ke sini? huwaaa aku kan belum puas melepas rindu dengan Icelle,"


"Ya mau bagaimana, Sayang? Icelle menginap di rumah kakeknya. Kamu tidak boleh seperti itu,"


Lovi mengusap rambut anak perempuannya yang langsung murung begitu tahu dari Vanilla kalau Grizelle tidak menginap lagi di rumahnya melainkan di rumah Kakek dan Nay-Nay nya.


"Nanti bisa ketemu lagi. Kamu seperti beda dunia saja," Adrian berdecak kesal melihat adiknya yang sedih sekali karena Grizelle tidak menginap di rumah mereka lagi.


"Selamat sore semuanya,"


"Ini sudah hampir malam, Daddy," Auristella yang sedang dalam mode kesal semakin kesal setelah Ayahnya yang baru pulang menyapa dengan kalimat 'selamat sore' padahal sudah pukul tujuh malam.


"Iya, selamat sore atau malam," Devan mengoreksi kesalahannya.


"Kenapa murung begitu? bukannya sambut Daddy dengan senyuman. Ini malah merengut,"


Devan duduk di meja makan dan menegak air yang telah disiapkan Lovi.


"Icelle menginap di rumah Kakeknya. Jadi Auris sedih dan kesal,"


"Tidak boleh seperti itu, Auris. Wajar Icelle mau menginap di rumah Kakek dan neneknya. Kamu saja sering menginap di rumah Gandpa 'kan?"


"Iya, tapi Icelle baru sebentar di sini,"


"Nanti menginap lagi, Sayang. Sekarang biarkan Griz dengan Kakek dan neneknya dulu,"


"Lagipula Kakeknya Icelle lagi sakit," Kata Lovi yang membuat Devan menoleh dan bertanya, "Iya?"


Lovi mengangguk pelan. Ia mengambil blazer yang dilepas suaminya dan diletakkan di meja makan loleh suaminya. Bayangkan kalau blazer itu kotor. Meskipun meja makan rajin dibersihkan tetap saja ada noda karena dipakai untuk makan.


"Kasihan Kakeknya Icelle. Pantas Icelle mau menginap di sana,"


"Rencanaku besok mau datang ke sana,"


"Denganku ya? aku juga ingin tahu kondisinya,"


Thanatan dan Karina sudah seperti orangtua juga untuk Devan maupun Lovi. Mengetahui Thanatan sakit, hati mereka tergerak untuk menjenguk.


"Aku mau ikut,"


"Aku juga. Boleh, Dad?"


Auristella dan Adrian mengajukan diri mereka untuk turut serta datang ke rumah Thanatan.


Devan tidak akan melarang. Tentu Ia mengizinkan anak-anaknya datang ke sana.

__ADS_1


"Ean bagaimana? mau tinggal saja di rumah?"


"Ikut, Dad,"


Akhirnya Devan mendengar suara putra sulungnya itu. Ia sengaja bertanya seperti itu walaupun ia tahu jawaban Andrean.


"Ya sudah, Daddy mandi dulu ya,"


"Kapan mau datang ke sana?" tanya Lovi membuat suaminya mengurungkan niat untuk melangkah ke kamarnya.


"Setelah anak-anak pulang sekolah. Besok aku pulang siang,"


Lovi mengangguk. Kemudian suaminya bergegs melakukan ritual mandinya. Sementara ketiga anaknya melanjutkan menyantap makanan ringan di meja makan.


"Aku mau ice cream,"


"Ambilkan aku satu, Auris,"


"Hih gunakan kakimu, Ian. Ambil sendiri,"


Adrian berdecak. Adiknya benar-benar suah sekali dimintai tolong. Padahal Ia minta tolong baik-baik.


"Auris, Ia meminta tolong. Jangan begitu pada kakakmu,"


Mau tidak mau Auristella menganbilkan untuk kakaknya juga. Tidak hanya untuk Adrian saja tapi untuk Andrean juga.


Aristella mendapat nasihat dari Mommynya. Seketika Ia mengangguk patuh. "Iya, Mom,"


"Jangan iya saja. Besok kalau aku minta tolong, marah lagi,"


Auristella tidak menyahuti ucapan Adrian yang masih memperpanjang masalah padahal kurang apalagi? Ia sudah patuh mengambilkan ice cream untuk Adrian.


Auristella memang tidak menyahuti tapi Ia membalasnya dengan perilaku yang begitu memyebalkan bagi Adrian.


Auristella memasukkan ice creamnya ke mulut Adrian hingga Adrian merasa sangat kedinginan dan terkejut. Ia tidak menyangka kalau Auristella akan sejahil itu padanya.


Auristella berdiri saat Adrian akan membalasnya. Auristella mepetakkan cone ice cream di meja dan ia berkacak pinggang seraya tertawa seperti tokoh antagonis dalam sebuah drama.


"HOHOHO," tawanya yang terdengar sangat menyebalkan. Ia seperti itu agar persis seperti monster yang jahat. Tapi entah kenapa dimata Andrean dan Lovi malah menggemaskan karena tidak cocok sekali bila Auristella menjadi monster. Wajahnya kecil dan cantik, tidak ada kejahatan sam sekali yang tersirat di wajah Auristella.


"Ian, Auris. Bisa tenang? tolong jangan berdebat terus,"


lovi sudah hilang kesabaran. Tapi Ia masih bisa menahan untuk tidak berseru memarahi mereka berdua.


Adrian yang sudah niat mengejar Auristella langsung duduk lagi di tempatnya. Auristella juga kembali lagi di kursinya. Sebab Mommyny menyuruh Ia untuk minum ice cream di meja makan saja.

__ADS_1


"Yang tenang seperti Ean. Jadi hidup mommy juga tenang,"


"Tidak bisa, Mom. Susah," sahut Adrian dengan santai. Memang susah baginya untuk tenang atau rukun dengan Auristella. Memang Ia dan Auristella ditakdirkan untuk adu kekuatan terus. Kekuatan jahil siapa yang paling kuat setiap harinya pasti diadu.


"Heran bisa bertolak belakang sekali kamu dengan Ean ya,"


"Manusia berbeda-beda, Mom,"


Lovi mendengkus kasar. Ia juga tahu kalau manusia berbeda-beda. Tapi masalahnya, Andrean dan Adrian ini lahir diwaktu yang berbeda hanya beberapa detik saja dari rahim yang sama. Kenapa semua yang ada pada Andrean dan Adrian begitu bertolak belakang? Berbeda sekali. Mulai dari sifat maupun kebiasaannya.


*****


Jhico sampai di rumahnya langsung mandi. Kemudian ia menyiapkan pakaian Grizelle yang akan Ia bawa ke runah orangtuanya dimana Grizelle berada sekarang.


"Salam untuk Griz, Tuan,"


Nada rindu dengan Grizelle. Selama dua Grizelle menginap di runah Triple A, Nada merasa kehilangan.


Kini Grizelle akan berada di rumah kedua orangtua Jhico. Otomatis rasa rindunya harus diperpanjang.


"Ya, akan disampaikan nanti," kata Jhico pada Nada yang menitipkan salam rindunya untuk Grizelle.


Jhico melajukan mobilnya membelah jalan malam hari menuju kediaman orangtuanya, rumah nasa kecilnya, tempat dimana Ia bernaung dan tumbuh.


Lalu lintas terbilang masih padat meskipun sudah pukul delapan lebih namun lancar hal itu yang membuat Jhico senang karena Ia tidak perlu waktu lama untuk tiba di tempat tujuannya.


Lima belas menit kira-kira, Jhico sampai. Ia segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang seingatnya Ia datangi saat ada perdebatan besar yang terjadi antara dirinya dan sang ayah.


"Hei, Sayang,"


Yang pertama menyambutnya begitu Ia tiba adalah sang nenek, Hawra.


"Nenek, apa kabar?"


"Baik, kamu baik 'kan?"


"Iya, aku baik. Maaf aku baru datang lagi ke sini,"


Jhico melepas pelukan dan menatap neneknya penuh rasa bersalah. Selama ini Ia hanya berkabar dengan Hawra melalui telepon atau pesan saja.


"Tidak apa, Sayang. Nenek mengerti. Oh iya, Griz dan vanila di kamar orangtuamu ya,"


"Iya, aku le sana dulu kalau begitu. Ingin melihat kondisi Papa juga,"


"Iya, sekalian lah beri tahu Papamu kalau sakit sebaiknya istirahat. Bukan malah bersepda dan susah disuruh istirahat. Akibatnya sampai sekarang masih demam,"

__ADS_1


Mungkin Jhico belum tahu kalau Papanya itu masih bisa bersepeda disaat kondisi tidak memungkinkan. Maka Hawra beru tahu saja sekalian. Mengingat Jhico ini dokter dan mungkin bisa memberi pengertian pada Ayahnya dengan caranya sendiri.


__ADS_2