Nillaku

Nillaku
Nillaku 75


__ADS_3

"Astaga, Vanilla. Apa yang terjadi?"


Jhico meletakkan asal goodie bag yang dibawanya ke atas meja. Secepat kilat Ia menghampiri istrinya dan juga Joana yang terperangah bingung menatap Vanilla.


"Kamu melakukan apa pada Vanilla?" tanya Jhico menatap Joana dengan tajam. Joana segera menggeleng. "Aku tidak melakukan apapun. Vanilla menangis karena film yang ditontonnya,"


Jhico segera beralih lagi pada istrinya. Ia membenarkan tatanan rambut Vanilla yang sangat berantakan.


"Nilla, apa yang terjadi? kamu kenapa menangis?"


"Aku--- aku sedih,"


"Iya aku tahu, tapi karena apa? bisa jelaskan padaku?"


Jhico memangku istrinya dan Joana segera mengalihkan matanya. Ia bangkit setelah dirasa tak ada fungsi lagi di sana. Vanilla sudah ada yang menemani. Melihat orang bermesraan membuatnya gigi jari.


"Vanilla, Jhico, Aku pulang ya."


"Kamu tega meninggalkan aku?" tanya Vanilla masih dengan tangisnya. Jhico semakin bingung sekarang. Kata Joana istrinya menangis karena film. Tapi kenapa Joana mau pulang dia juga sedih?


"Aku harus pulang. Ibuku membutuhkan bantuanku. Lagipula sudah ada suamimu,"


"Kamu boleh pulang, Joana."


Joana mengangguk saat Jhico berkata seperti itu. Jhico tidak ingin menghambat kegiatan yang harus dilakukan oleh Joana. Apalagi Ia ingin membantu Ibunya.


"Hati-hati, Joana. Terima kasih sudah menemani Vanilla,"


"Iya, Jhico."


"Vanilla, aku pulang dulu ya,"


"Sering-sering ke sini,"


"Iya, kabari saja kalau kamu butuh teman lagi,"


"Setiap hari aku kesepian kalau Jhico bekerja,"


"Okay, aku usahakan datang setiap hari,"


"YEAAAY TERIMA KASIH, JOANA."

__ADS_1


Jhico membulatkan matanya saat melihat Vanilla bangkit dari pangkuannya dengan gerak cepat lalu memeluk Joana.


"Vanilla, bisa pelan-pelan?! kamu tidak lupa 'kan kalau ada janin dalam perutmu?" Seru Jhico marah membuat Vanilla tersentak. Joana mengusap bahu Vanilla.


"Aku pergi, Jhico jangan bicara terlalu kencang. Bayi kalian bisa terkejut," Joana memperingati diselingi tawa kecil agar Jhico tidak merasa bahwa Ia terlalu mengatur. Joana hanya khawatir bila Jhico lepas kendali walaupun rasanya tidak mungkin karena Jhico adalah laki-laki yang paling pandai mengendalikan semua yang ada dalam dirinya termasuk emosi. Sudah sering dibuktikan.


"Kamu menangis karena film? benar?"


"Iya,"


Jhico membaringkan tubuh Vanilla di atas sofa. Ia ingin menyapa janinnya yang masih sangat kecil itu. Jhico menyingkap long dress rumahan yang dipakai Vanilla. Vanilla segera menahannya.


"Kamu kan pakai celana panjang,"


"Tetap saja malu,"


"Ck! malu terus. Seperti bukan dengan suami sendiri," akhirnya Jhico kembali menegakkan tubuhnya yang tadi sengaja direndahkan agar lebih mudah mengecup perut Vanilla.


"Lagipula dia belum bisa diraba,"


"Tapi aku ingin menyapanya. Memang salah?"


Jhico yang mulai kesal segera bangkit untuk menyiapkan makan siang istrinya, tapi Vanilla cepat-cepat menahannya.


Kalimat istrinya membuat Jhico tersenyum lebar. Ia segera duduk kembali dan mengusap perut Vanilla sebelum disingkapnya baju sang istri.


Rasanya masih sama seperti saat pertama kali ia menyentuhnya. Hatinya bergetar dan selalu terharu. Padahal kehadirannya belum dapat diraba dan dilihat. Ia tak bisa membayangkan akan sebahagia apa saat malaikat kecil itu lahir.


******


"Kamu mau kemana, Deniele?"


"Bertemu dengan Jane untuk membicarakan pekerjaan,"


"Yakin dengan Jane? bukan mendatangi Vanilla?"


"Apa urusannya dengan mu?"


Keynie tersenyum kecil kemudian Ia menggeleng. Dia tidak ada urusan sama sekali memang. Tapi Ia sedang mual-mual dan lemah, ingin sekali terus berada di samping Deni.


"Ya sudah, kamu boleh pergi,"

__ADS_1


"Kamu perlu apa lagi memangnya? semua sudah aku siapkan. Minum dan makanan sudah ada di dekatmu jadi kamu tidak perlu lagi mengambilnya sendiri. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Tapi sepertinya tidak akan terjadi sesuatu, kita baru saja periksa kandunganmu,"


Keynie mengangguk paham. Ia membiarkan Deni keluar dari rumah meninggalkan dirinya yang lagi-lagi merasa hampa. Deni memang lebih perhatian dengan kandungannya kali ini. Tapi tetap saja tidak acuh pada Keynie yang selalu menginginkan Ia di sampingnya. Segala keperluan untuknya memang dilayani dengan baik. Deni melakukan itu tentu karena anaknya.


"Key, kenapa diam di luar? masuk ke dalam,"


"Iya, Ma."


"Deniele, kemana lagi? sudah sore begini,"


"Menemui Jane untuk membahas pekerjaan," Keynie mengulangi ucapan suaminya tadi tanpa dikurangi ataupun ditambahi. Dianna, Mamanya Deni membawa Keynie masuk ke dalam. Lalu menghibur menantunya itu dengan mengajaknya menikmati angin sore di tepi kolam renang.


Dianna sudah bingung bagaimana caranya membuat Deni melihat ke arah Keynie. Deni hanya sayang pada Keynie. Belum mencintainya, begitulah pengakuan Deni. Sayangnya pun entah sebagai apa.


*******


"Kamu tidak tahu kapan Vanilla bisa kembali bekerja?"


"Kenapa tidak bertanya langsung pada suaminya? aku tidak tahu,"


"Kalau tidak ada kepastian seperti ini, lebih baik aku menggunakan model lain untuk menggantikan Vanilla sementara,"


Jane mengendikkan bahunya seraya menjawab, "Terserah. Aku dan Vanilla tidak masalah. Justru aku rasa, itu yang diinginkan Jhico."


"Tapi untuk sementara waktu, Jane. Aku sengaja ingin membicarakan masalah ini denganmu. Kamu berperan sebagai manager Vanilla,"


Jane bersedia bertemu dengan Deni sore ini di sebuah kafe. Tadinya Jane mengatakan tidak bisa karena Ia ada janji pergi berdua bersama kekasihnya. Tapi karena Deni mengatakan ingin membahas pekerjaan, maka Ia tak bisa menolak karena ini berhubungan juga dengan sepupunya.


Jane juga mengajak Richard, kekasihnya untuk turut serta menemaninya menemui Deni. Richard hanya menjadi pendengar yang baik saja diantara kedua orang itu.


"Ya sudah, aku pastikan begitu saja. Aku akan segera mengabari Ganadian untuk memberi tahu bahwa pasangannya di pemotretan yang tertunda itu adalah model lain,"


Jane mengangguk singkat dan mendengkus saat Deni langsung angkat kaki dari hadapannya.


"Tidak ada pamit atau apapun?" kata Richard pada kekasihnya.


"Mungkin dia masih kesal padaku,"


"Kenapa?"


"Aku tidak suka melihat dia terlalu dekat dengan Vanilla. Kamu tahu 'kan Vanilla sudah bersuami dan dia pun sudah memiliki istri. Tapi sikapnya pada Vanilla membuat aku muak,"

__ADS_1


Richard mengangguk paham. Pantas saja tanpa awalan, Deni langsung berbicara pada intinya dan setelah selesai, Ia segera pergi tanpa mengatakan apapun sebagai tanda perpisahan.


"Aku memikirkan istrinya juga. Yang aku perhatikan dia lebih peduli pada Vanilla. Sementara istrinya lebih sering tidak diacuhkan,"


__ADS_2