
Hari ini adalah waktu yang paling diinginkan Vanilla sejak Ia mengalami kebutaan. Dimana mata birunya berangsur bisa kembali digunakan secara sempurna.
Perban Vanilla sudah dilepas. Setelah mengantar Thanatan pulang ke rumah, Jhico langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Bukan hanya Vanilla yang tidak sabar, Jhico pun demikian.
Orang pertama yang dilihat Vanilla tadi adalah Jhico yang setia berdiri di depannya dengan harap-harap cemas, menunggu dokter melepas perban yang menutupi mata Vanilla. Penglihatannya samar karena masih membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih, ini adalah kali pertama Vanilla melihat seorang Jhico, suaminya sendiri.
"Sebelum kita jalan-jalan berdua, bagaimana kalau esok kita bawa Andrean dan Adrian pergi menginap di suatu tempat? tanpa orangtua mereka,"
"Huh? tidak-tidak. Kamu pikir mudah mengurus dua anak itu?"
"Mereka pasti senang melihatmu seperti ini. Kita harus datang menemui mereka, lalu berlibur bersama,"
"Jhico--"
"Saat Papa sakit kemarin, aku izin tidak bekerja untuk beberapa hari. Dan syukurnya, Papa bisa keluar dari rumah sakit lebih cepat daripada bayanganku. Sisa cutiku masih ada dua hari lagi. Lebih baik kita menghilangkan penat dengan berlibur daripada hanya di apartemen,"
*******
Jhico benar-benar membawa Vanilla ke mansion untuk membawa kedua anak kembar itu berlibur bersama mereka. Sebenarnya Jhico belum memilih tempat, mungkin akan mereka bicarakan bersama nanti.
Adrian yang begitu menyukai liburan langsung berjingkat senang saat Jhico menyampaikan niatnya. Sebenarnya sampai saat ini Vanilla masih belum menerima keputusan Jhico. Tapi dengan seribu cara Jhico meyakinkan Vanilla bahwa mereka butuh waktu menenangkan diri.
"Aku anggap liburan ini sebagai hadiah dari Uncle karena aku menang pertandingan dua hari yang lalu,"
Jhico dan Vanilla sama mengerjapkan mata terkejut. Mereka tidak tahu kalau Adrian baru saja bertanding.
"Bertanding apa?"
"Adrian kalah, Aunty. Tapi dia masih berkhayal saja padahal sudah bangun dari tidur," Lovi mengatakannya seraya terkekeh sementara Adrian mencibir. Apa salahnya bermimpi? barangkali suatu saat nanti Ia bisa menjadi pemenang sungguhan. Kekalahan kemarin sangat membekas di dalam ingatan Adrian. Karena mungkin pertandingan tersebut adalah pertama kalinya yang diikuti oleh Adrian.
Adrian berlari kecil menghampiri sebuah lemari kaca yang besar dimana trofi pemberian Devan diletakkan.
Ia menunjukkan benda tersebut pada Jhico dan Vanilla. Mereka berdua kompak meraih trofi dari tangan Adrian lalu menatapnya dengan rasa bangga walaupun seperti kata Lovi bahwa Adrian tidak benar-benar menang.
"Jadi siapa yang mempersembahkan ini untuk Tuan kecil?" Vanilla menggoda keponakannya seraya menjawil dagu anak laki-laki itu.
"Daddy. Aku pemenang di hati Daddy,"
"Dan Mommy juga," tambahnya saat melihat Lovi menunjuk dirinya sendiri.
Lovi tentu meminta persetujuan Devan terlebih dahulu sebelum mengizinkan kedua anaknya dibawa oleh Jhico dan Vanilla. Mengingat Andrean baru saja pulih, Lovi meyakinkan Andrean sekali lagi apakah Ia benar-benar ingin ikut apabila Devan mengizinkan? Tanpa pikir panjang Andrean mengangguk. Siapa yang tidak suka diajak liburan?
*****
"Bye, Auris. Jangan rindu dengan aku ya? aku pergi dulu untuk bersenang-senang,"
Ketika mereka berpamitan, seperti biasa Adrian membuat adiknya merengek. Auristella sedang sibuk bermain dan Adrian yang sudah menggendong ransel kecil di punggung datang menghampirinya. Auristella memperhatikan sang kakak. Sepertinya Ia tahu kalau Adrian dan Andrean akan pergi meninggalkannya. Adrian mengambil kesempatan itu untuk membuat adiknya menangis.
"Kasihan sekali kamu. Tidak bosan di mansion terus? aku berlibur, Auris."
"Adrian, sudah! kamu menyebalkan sekali,"
"Biar, Grandpa. Siapa tahu Uncle dan Aunty berubah pikiran, dengan mengajak Auristella juga,"
__ADS_1
"Ah tidak-tidak. Kalau harus membawa tiga anak kecil, namanya bukan liburan. Aku mengasuh mereka nanti,"
Mereka semua terkekeh. Tidak terbayangkan akan seriuh apa bila Vanilla dan Jhico benar-benar membawa ketiga anak Devan itu. Orangtua mereka justru bisa santai-santai berdua. Sementara Vanilla harus kesulitan mengurus mereka. Vanilla belum pernah membawa anak kecil berlibur bersamanya tanpa orangtua mereka.
"Hati-hati, jangan membuat Uncle dan Aunty sakit kepala. Terutama kamu, Adrian."
"Siap, Daddy!"
Akhirnya mereka menuju apartemen karena Jhico dan Vanilla belum mempersiapkan segala keperluan mereka. Jhico mendapat ide ini sangat dadakan setelah kondisi Vanilla sudah lebih baik.
"Jadi kita kemana?"
"Uncle bertanya? aku kira sudah direncanakan,"
"Tidak, kalian ingin kemana?"
"Indonesia!" Andrean dan Adrian menjawab secara bersamaan. Berhubung mereka belum selesai menjelajahi Indonesia ketika liburan beberapa waktu lalu, rasanya sangat ingin kembali ke sana.
"Tidak ada waktu. Kita hanya berlibur selama dua hari,"
"Ya sudah, terserah Uncle saja mau kemana. Yang terpenting liburan, dan Adrian tidak perlu bayar bukan?"
"Bayar, tentu saja,"
"Hanya Aunty yang mengatakan itu. Uncle tidak,"
"Tidak, Sayang. Tidak mungkin Uncle meminta bayaran,"
"Huh!" Adrian menjulurkan lidahnya pada Vanilla yang menoleh ke kursi tengah, tepatnya untuk melihat reaksi Adrian setelah Jhico mengatakan itu.
"Hm, pelit ya? lalu mainan dan semuanya yang Aunty berikan setiap kali kamu meminta, itu namanya pelit?"
"Biasanya tidak pelit, sekarang pelit,"
"Tadinya Aunty ingin belikan mainan yang banyak. Tapi karena sudah dikatakan pelit, ya sudah, tidak jadi,"
"Tidak-tidak. Aunty baik, baik sekali. Nanti belikan mainan ya?"
******
"Jadi seperti ini apartemen Uncle ya?"
Adrian melihat-lihat sekitar. Kemudian mengikuti Jhico masuk ke dalam kamar. Lelaki itu mulai mengeluarkan pakaian dan perlengkapan lain untuk dibawa.
Sementara Vanilla memilih untuk pergi ke dapur, membuat minuman karena Ia haus. Andrean juga meminta minum tadi.
Saat ini Vanilla lebih mudah melakukan segala hal. Ia sangat bersyukur akan hal itu. Ia tidak perlu lagi meraba sesuatu hanya untuk mengenalinya.
Bukannya membantu packing, Adrian justru mengganggu. Berbeda dengan kakaknya yang menawarkan diri sendiri sebagai asisten untuk Jhico.
"Ini minumnya, Astaga Adrian kamu sedang apa di sana?"
Vanilla membulatkan bola mata saat melihat Adrian berada di bawah ranjang, mengguling-gulingkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku sedang perang, Aunty." serunya.
"Sinting," gumam Andrean melihat kelakuan sang adik.
Jhico terkekeh geli. Adrian sangat menghibur. Baru mengenal Adrian tapi Jhico sudah terbiasa melihat tingkahnya yang aneh. Ia senang memiliki keponakan seperti Adrian dan Andrean. Keduanya memiliki perbedaan yang begitu terlihat sehingga disetiap pertemuan mereka terasa lebih berwarna.
"Uncle, ini ponsel Aunty bukan?"
Tawa Jhico langsung berhenti saat Adrian keluar dan membawa ponsel Vanilla yang Ia sembunyikan di bawah ranjang. Lebih tepatnya Ia lempar, karena terlalu kesal dengan Vanilla. Jangan mengatakan dirinya kekanakan dan berlebihan. Salahkan hatinya yang tidak bisa diam saja saat istrinya lebih intens berkomunikasi dengan laki-laki lain daripada dirinya.
"Iya, itu punya Aunty. Padahal Aunty sudah mencarinya di sana waktu itu, dan Aunty tidak menemukannya. Kenapa sekarang ada ya?" Vanilla bingung. Ia meraih benda tipis tersebut dari tangan Adrian.
"Hih, ada makhluk halus yang sedang mengerjai Aunty mungkin?"
"Ah kamu jangan bicara seperti itu. Aunty sering sendiri di sini, jangan buat Aunty takut."
Adrian sebenarnya asal bicara saja tapi malah membuat tubuh Vanilla tegang.
"Aku menyembunyikannya setelah kamu mencari di sana. Aku yakin, kamu tidak akan kembali mencari di bawah ranjang lagi, jadi aku letakkan saja di sana,"
"Huh? kamu yang menyembunyikan ini?"
"Iya, memang kenapa?" Jhico dengan santai bertanya, Ia memicing pada Vanilla saat gadis itu mencibir.
"Aku mencarinya sampai lelah, Jhico. Kamu tidak ada kegiatan lain sampai-sampai harus menyembunyikan ponselku?"
"Itu pelajaran untukmu, Nillaku. Agar kamu tidak berani lagi menghubungi laki-laki lain. Saat aku periksa ponselmu, banyak sekali panggilan dari Deni dan-- entah siapa namanya, aku lupa."
Jantung Vanilla sudah berdetak tidak beraturan. Pasti Renald. Yang dilihat Jhico pasti nama laki-laki itu. Tapi sebenarnya sudah cukup lama mereka tidak saling menghubungi karena Renald benar-benar sibuk. Vanilla tidak ingin mengganggunya. Yang dilihat Jhico itu adalah riwayat panggilan beberapa waktu lalu.
"Iya, Aunty memang sering berbincang di telepon. Hmm... terutama dengan Uncle Renald. Tapi seingat Adrian itu saat Aunty belum menikah dengan Uncle,"
Vanilla diam-diam menghela napas lega. Ia kira Adrian akan mengatakan sesuatu yang membuat Jhico kesal. Setelah menikah, mereka masih sempat berkomunikasi tapi tidak sesering dulu.
"Oh, laki-laki yang aku temui saat aku menjemputmu?"
Vanilla tidak menjawab. Ia memilih untuk menyibukkan diri. Gadis itu mengambil alih pakaian-pakaiannya yang ada pada Jhico untuk kemudian Ia bereskan sendiri.
"Apa lagi yang harus aku ambilkan, Uncle?"
Jhico menoleh pada Andrean. Ia menggeleng dan menepuk tempat di sebelahnya agar Andrean duduk di sana. Andrean sangat membantunya karena mengambil barang apapun yang diminta Jhico. Seperti parfum dan sisir Jhico, alat-alat mandi, serta pouch milik Vanilla yang berisi produk skincare dan make up- nya.
Jhico kembali fokus pada Vanilla. Rahangnya mengeras saat Vanilla tidak menjawab. Padahal Jhico begitu penasaran. Karena yang pernah dilihatnya, Vanilla dan laki-laki itu sangat dekat. Mungkin dia yang bernama Renald.
"Sebesar apapun perasaanku padamu, kalau kamu berkhianat, bukan tidak mungkin aku membenci kamu,"
"Kamu bicara apa?"
Vanilla menggeram dan mengisyaratkan Jhico untuk tahu tempat karena di sini ada keponakan mereka.
"Tenang... aku masih sanggup menunggu kamu. Aku sudah berusaha setia, maka kamu pun harus begitu. Jangan sia-siakan penantianku. Aku tidak ingin kamu malah mencintai orang lain,"
---------
__ADS_1
Selamat pageee. Ramein komen kuy!