
Adrian menutup panggilan video secara sepihak usai membuat Uncle nya terdiam. Vanilla menghembuskan napas nya lalu melirik Jhico.
"Kalau di depan Adrian, hati-hati dalam bersikap. Dia itu suka sekali menilai hanya dengan sekali melihat. Sekarang dia tahu betul, kamu sangat-sangat menyayangi Keyfa,"
"Memang salah aku menyayangi anak itu?"
"Tidak, Jhi. Tidak sama sekali. Tapi Adrian tahu apa yang seharusnya kamu lakukan. Meskipun kamu sangat menyayangi Keyfa, menurutnya, menegur Keyfa bila salah itu hal yang wajar dan kamu tidak melakukan itu--"
"Kamu menyalahkan aku?"
Jhico berdiri lalu menatap Vanilla dengan kesal. Pikirannya sedang suntuk usai bicara dengan Adrian, dan sekarang Vanilla seolah menyalahkan nya.
Jhico menjauh dari Vanilla dan Vanilla langsung memanggilnya, Ia tidak ingin suaminya salah paham dengan ucapannya.
"Jhi, dengarkan aku dulu. Masa hanya karena Keyfa, kita bertengkar?"
"Jhi---"
"Ini bukan karena Keyfa,"
"Lalu karena siapa? karena keponakan ku? iya?! dia hanya membela Grizelle. Jujur, kalau aku ada dan Keyfa datang, Keyfa memang beberapa kali membuat Grizelle menangis dan tidak nyaman. Tapi aku anggap itu karena Grizelle belum terbiasa dengan kehadiran Keyfa,"
Jhico tidak lagi mendengarkan istrinya. Ia tidak ingin kesal mendengarkan Vanilla dan malah membuat nya tidak bisa mengendalikan emosi.
*******
Keyfa pulang terlebih dahulu sebelum Andrean dan Auristella. Setelah Keyfa pulang, Ia kembali meminta Adrian untuk datang, namun Adrian masih belum ingin datang ke rumahnya.
"Tadi kamu mengatakan kalau tidak ada Keyfa, kamu akan datang,"
"Iya, tapi ini sudah sore. Nanti aku pulangnya jam berapa?"
"Hmm okay, maaf ya, Adrian,"
Lovi memberikan Grizelle kepada Vanilla. Lalu menatap anaknya yang sedang bersandar nyaman pada kakak nya.
"Ayo, Auristella. Kita harus pulang," ajaknya pada anak bungsunya yang terlihat sekali enggan untuk pulang.
"Nanti, Mom."
"Tidak bisa, Adrian juga pasti sudah menunggu Mommy di rumah,"
"Huh,"
__ADS_1
Mau tidak mau Ia menuruti ucapan Mommy nya. Lovi segera meletakkan nya ke dalam stroller lalu Andrean lah yang mendorong stroller nya.
"Ndak oleh, Ean."
"Tidak boleh apa?"
Auristella menunjuk tangan kakaknya agar tidak memegang stroller. Ia tidak ingin Andrean yang mendorong stroller.
"Mommy saja yang mendorong?"
"Yup,"
Akhirnya Andrean menyingkir. Setelah Lovi berpamitan pada Vanilla, Lovi segera membawa kedua anaknya meninggalkan rumah adik iparnya.
*******
Vanilla mempersilahkan beberapa orang yang membawa salah satu furniture untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia baru saja membeli satu perlengkapan rumah dan saat ini sudah diantar.
Setelah Ia tanda tangan sebagai bukti bahwa barang pesanan nya sudah tiba dan tanpa cacat sedikitpun, Ia mengucapkan terimakasih pada mereka. Kemudian mereka pergi.
"Nilla..."
Vanilla menoleh saat dipanggil oleh suaminya yang berdiri di tangga. "Ya? kenapa, Jhi?"
"Huh? kamu yakin?"
"Iya, aku sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kamu tidak usah khawatir,"
"Okay,"
Vanilla yakin suaminya sudah mempertimbangkan semuanya. Maka Ia tak bisa mencegah. Yang terpenting, Ia sudah mendengar langsung dari mulut Jhico bahwa Jhico merasa sudah yakin.
"Aku juga ingin tugasmu merawat Griz dibantu oleh seseorang,"
"Sudah ada Bibi yang membantuku,"
"Bibi menyelesaikan pekerjaan di rumah ini. Dan kamu butuh orang lagi untuk membantu kamu merawat Griz karena kamu sudah mulai kuliah dan aku kembali bekerja,"
"Tapi--tapi----aku masih sanggup, Jhi."
"Iya, aku tahu, Nillaku...."
"Tapi aku tidak ingin kamu terlalu hectic dengan kegiatan kamu,"
__ADS_1
"Aku---"
"Nilla, aku mohon. Supaya semuanya tetap baik-baik saja. Aku tidak bisa seratus persen membantu kamu merawat Griz saat kamu harus meninggalkan Griz untuk kuliah,"
"Jujur, aku tidak yakin bila harus meninggalkan Griz bersama dengan pengasuhnya nanti,"
"Aku pun begitu. Jadi bagaimana menurutmu?"
"Aku akan bicara dengan Mama. Aku tidak kuliah setiap hari. Mungkin Mama bisa membantuku,"
"Tapi aku tetap ingin membawa pengasuh untuk Griz ke rumah ini,"
"Okay, dia akan membantu aku. Tapi kalau aku sedang tidak berada di rumah, Griz tidak bisa aku biarkan hanya bersamanya. Aku akan meminta bantuan Mama juga untuk menemani Griz,"
"Iya, aku setuju."
"Dia hanya membantu aku, Jhi. Bukan menggantikan aku sebagai Ibu dari Griz,"
Jhico merangkum wajah Istrinya, "Hey, siapa yang ingin menggantikan kamu? kamu tetap Ibu dari Griz tapi kamu juga butuh seseorang untuk merawat Griz ketika kamu harus melakukan kegiatan lain yang juga penting untuk kamu,"
Jhico mendekati bibir istrinya. Saat akan menyatu, suara deheman membuat mereka terkesiap.
"Maaf, Jhico, Vanilla. Griz sudah bangun,"
"Hah? Bibi tahu?"
"Iya, tadi dia menangis sebentar dan Bibi langsung menghampirinya. Memang kalian berdua tidak dengar?"
"Oh--ti--tidak, Bi. Terimakasih,"
Vanilla tidak bisa menutupi rasa canggungnya setelah dipergoki oleh Bibi hampir melakukan penyatuan bibir dengan Jhico.
Vanilla benar-benar merasa malu. Rona merah di pipi nya langsung terlihat namun sayangnya Jhico tidak sempat melihat itu karena Istrinya itu sudah berjalan menuju kamar.
"Tumben," gumam Bibi yang membuat Jhico mengerinyit.
"Tumben apa, Bi?"
"Biasanya kalian selalu tahu tempat,"
Jhico terkekeh ketika Bibi meledeknya. Ia juga tidak tahu kenapa Ia tidak bisa menahan dirinya. Melihat bibir Vanilla yang tadi sedikit mengerucut karena sepertinya masih keberatan dengan keputusannya, Ia merasa gemas dan tidak kuat menahan keinginan nya untuk menyatukan bibir mereka.
__ADS_1
Aku up di jam pocong lg nih 00.35. Kalian baca nya jam brp?