Nillaku

Nillaku
Nillaku 103


__ADS_3

"Aku mau makan,"


"Makan apa?"


"Makan angin,"


"Aku bertanya serius, Nilla."


"Hmm maksudku mau minum ice cream,"


"Hah? di sini tidak ada ice cream,"


"Nanti setelah dari klinik kita cari dulu,"


"Di apartemen bukannya masih ada ice cream sisa dari yang kamu beli waktu itu?"


"Tidak ada, sudah aku habiskan semuanya."


"Kamu makan sekaligus?" mata Jhico membulat terkejut. Vanilla berdecak dan memutar matanya jengah.


"Tidak lah,"


"Aku kira dimakan sekaligus,"


"Kamu tidak ada camilan apapun di sini?"


"Kamu mau apa? biar aku carikan sebentar,"


"Ah tidak usah kalau kamu harus mencari dulu,"


"Lapar?"


"Tidak juga, hanya bosan saja. Inginnya mengunyah sesuatu,"


Vanilla bangkit untuk duduk di sofa yang berada di dekat jendela. Ia menatap langit yang cerah hari ini.


Ia sedikit menyesal sebenarnya datang ke sini karena pasti akan membosankan. Tapi Ia ingin sekali tadi.


drrtt


drrtt


"Hallo, Keyfa?"


Vanilla menoleh saat mendengar suaminya menjawab panggilan seseorang. Keyfa, anak perempuan itu lagi.


"Besok aku harus periksa. Kakak dokter jangan lupa doakan aku ya,"


"Selalu, Sayang. Ingat, jangan pernah menyerah ya,"


"Sekarang kakak dokter sedang bekerja?"


"Hmm tidak, eh iya."


"Tidak atau iya?"


"Aku berada di klinik, tapi sedang tidak ada pasien,"


"Oh okay, aku sudahi ya. Selamat bekerja, kakak dokter,"


"Ya, terima kasih, Keyfa."

__ADS_1


******


Baru tiba di apartemen, Jhico dan Vanilla mendapat telepon dari Karina bahwa Hawra, nenek Jhico kembali dilarikan ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya menurun.


Tanpa menunggu waktu lama, Jhico langsung bergegas ke rumah sakit. Ia baru menjejakkan kaki di apartemen, belum mandi dan berganti baju usai bekerja.


"Aku mau ikut,"


"Jangan, kamu di apartemen saja. istirahat, aku tidak mau kamu kelelahan,"


"Jhi, aku mau ikut! aku perlu lihat kondisi Nenek juga,"


Karena Vanilla keras kepala akhirnya Vanilla juga ikut bersama Jhico ke rumah sakit. Ia tidak ingin berdiam di apartemen sementara wanita tua yang sangat disayangi suaminya itu sedang terbaring lemah di rumah sakit. Vanilla ingin tahu kondisi neneknya juga.


Hawra mengalami demam tinggi sejak beberapa hari lalu. Bila diajak ke rumah sakit, Ia selalu menolak. Sampai akhirnya tumbang beberapa saat lalu. Dan yang selalu dia ingat ketika sakit adalah Jhico yang dari dulu setia mendampingi nya.


Usai diberikan obat penurun demam oleh perawat, Hawra terlelap di atas bangsal rumah sakit.


Karina dan Thanatan dengan setia menemani. Karina mengusap kening ibunya dengan sayang. Sementara Thanatan duduk dengan tenang di sofa.


Dinata dan Qany cucu kesayangan Arlan, mantan suami Hawra, sudah menampakkan batang hidung mereka. Sementara Jhico sebagai cucu yang paling dekat dengan Hawra malah belum datang. Hal itulah yang membuat Thanatan bicara pedas pada istrinya.


"Anakmu belum datang. Padahal nenek nya sakit,"


"Dia sedang di perjalanan sepertinya,"


Hawra membuka mata karena suara mereka sedikit mengganggu dirinya. Dinata dan istrinya yang bernama Qany tersenyum menyapa nya.


"Nek, kenapa bisa sakit?"


"Nenek sakit terus," kalimat itu membuat Karina menatap keponakannya, Dinata dengan mata memicing.


"Siapa yang mau sakit? kalau boleh memilih, Ibuku juga tidak mau sakit," sahut Karina dengan nada yang terdengar kesal sekali.


Tok


Tok


Tok


Cklek


"Nek, bagaimana keadaanmu?"


Jhico sampai melepas genggaman tangannya dari Vanilla karena ingin cepat-cepat menghampiri sang nenek dan Vanilla sedang menutup pintu ruang perawatan Hawra.


"Nenek senang sekali kamu datang,"


Mendengar kalimat Hawra yang sarat akan makna, Dinata tersenyum miring. "Kau kan cucu kesayangannya, kenapa terlambat datang? karena sibuk mengurus istrimu yang tidak becus itu ya?"


Mendengar kalimat itu, rahang Jhico mengeras. Mata tajam lelaki itu berkilat emosi. Siapapun boleh mengatakan hal buruk tentangnya, tapi kalau sudah menyangkut pautkan Vanilla, maka Ia tidak akan terima.


Vanilla hanya diam tidak menanggapi dan menghindari sakit hati. Tidak penting meladeni sepupu suaminya yang sinting itu. Ingin rasanya Vanilla membalas dengan makian mengingat seberapa kejam perangai nya dulu.


Tapi ucapan Dinata membuatnya berpikir, ternyata keburukannya selama ini yang tidak bisa melakukan apapun untuk suami, sudah diketahui semua orang. Bahkan keluarga Jhico yang jarang sekali bertemu dengannya tahu akan hal itu. Sejujurnya Vanilla merasa malu sekarang.


"Nenek sudah minum obat?"


"Sudah, Nenek sudah tidur juga."


"Aku akan menginap di sini. Menemani Nenek,"

__ADS_1


"Seperti biasa ya?" tanya Hawra dengan raut senang. Jhico mengangguk dengan senyum nya.


Dinata menatap interaksi antara sepupu dan neneknya dengan pandangan sinis. "Aku dan Qany pulang dulu, Paman, Bibi. Cucu kesayangan nya sudah datang,"


Dinata yang kurang ajar segera membawa istrinya keluar dari ruangan tanpa berpamitan pada Hawra. Bukannya memeluk dan memberi dukungan agar cepat sembuh, Ia malah bicara hal yang bisa menyakiti hati Hawra.


"Papa dan Mama kalau mau pulang, pulang saja. Aku yang akan menjaga Nenek,"


"Bagaimana dengan kandungan mu, Vanilla?"


Thanatan tidak menanggapi ucapan sang anak. Ia malah beralih pada menantu nya yang sedari tadi diam, memperhatikan Hawra.


"Kandunganku baik-baik saja, Pa."


"Sudah diperiksa lagi?"


Diam-diam Vanilla menghela napas pelan. Kalau sudah membahas kandungan, pasti pembahasan akan berujung pada hal itu. Thanatan tahu bahwa Ia dan Jhico akan melakukan pemeriksaan lagi untuk memastikan jenis kelamin dan sampai sekarang Thanatan masih menginginkan cucunya yang pertama berjenis kelamin laki-laki.


"Belum, rencana nya nanti sebelum babymoon,"


"Kalian ingin babymoon? kapan?" Karina menyambar ucapan Vanilla dengan cepat.


"Iya, Ma. Kata Jhico, tunggu usia kandunganku tujuh bulan. Aku minta ke Korea,"


"Oh masih lama. Tapi memang sebaiknya diusia segitu. Karena kondisi nya sudah jauh lebih kuat, apalagi kalian akan melakukan perjalanan jauh,"


Thanatan dan Karina di rumah sakit sampai malam. Hawra sudah menyuruh mereka untuk pulang tapi entah mengapa mereka masih nyaman berada di sana padahal tidak ada yang dilakukan. Mengobrol pun tidak. Jhico dan istrinya sibuk bermain game seraya berbincang dengan Hawra, sementara Thanatan dan Karina sibuk dengan ponsel mereka yang tidak jauh urusannya dengan pekerjaan.


"Aku menginap saja di sini," ujar Karina. Hawra menggeleng, Ia kasihan juga pada putrinya. Karina sudah lelah bekerja tadi. Seharusnya Ia istirahat. Usia nya juga sudah tidak lagi muda pasti saat ini badannya terasa letih sekali.


"Aku pulang. Di sini sudah lama," ujar Thanatan.


"Dari tadi Ibu sudah suruh kamu pulang. Kenapa tidak pulang saja? tidak ada yang menyuruhmu untuk berdiam di sini,"


Jhico yang setia berada di samping neneknya mengusap punggung tangan sang nenek yang nampak kesal dengan Thanatan, sama seperti dengan Dinata tadi.


"Karina pulang saja,"


"Mama pulang saja. Biar aku yang menjaga Nenek,"


"Vanilla bagaimana?"


"Nanti Vanilla akan aku antar sebentar---"


"Aku mau di sini juga menjaga Nenek," ucapan Vanilla membuat alis Jhico terangkat. Kemudian lelaki itu menggeleng tak mengizinkan.


"Kamu harus pulang. Aku bisa menjaga Nenek di sini,"


"Vanilla, kamu sedang hamil." Hawra berkata seperti itu untuk memperingati Vanilla yang ingin berdiam di sini padahal dia butuh istirahat yang banyak bukan malah mengurus dirinya yang sedang sakit ini. Sedari tadi Vanilla begitu peduli. Yang menyuapinya makan dan minum obat pasti Vanilla.


Thanatan sedang menunggu keputusan yang bulat apakah istrinya akan ikut pulang bersamanya atau tidak.


Ayah dari Jhico itu sudah memegang kunci mobilnya seraya menatap istrinya yang nampak bimbang.


"Ya sudah, aku dan Thanatan pulang dulu, Bu."


Akhirnya malam ini hanya Vanilla dan Jhico yang menemani Hawra. Biarpun lelah, Jhico tetap ingin berada di samping neneknya. Sementara kedua orangtuanya pun lelah dan Ia tidak tega bila harus melihat mereka diam juga di sini. Senyaman apapun ruangan Hawra ini, lebih nyaman istirahat di rumah.


---------


Halloo apa kabar semua? sehat-sehat terus untuk kalian yaaa. Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak🙏🤗

__ADS_1


Udh mampir ke sini?👇 kalo blm, mampir kuy.



__ADS_2