Nillaku

Nillaku
Nillaku 247 Tidak bermaksud untuk membuat kesal, hanya sekedar bercerita.


__ADS_3

Grizelle terbangun ketika hari masih gelap. Ia kelelahan sehabis dari rumah Raihan dan Rena. Begitu pulang, Ia langsung terlelap.


Dan Ia bangun pukul berapa ini? Ia mengerjapkan matanya, kemudian menatap arloji yang melekat pada dinding.


"Enghh? balrru (baru) jam empat?"


"Hah! masih lama,"


Anak itu kembali berbaring di ranjangnya. Kemudian menatap langit-langit dengan mata yang masih sulit terbuka sempurna.


"Kata Pupu semalam, aku diantarl (diantar) ke lrumah (rumah) Nay-Nay jam tujuh,"


Grizelle sudah tidak sabaran untuk pergi berlibur dengan Karina.


Grizelle berbaring miring memeluk bonekanya, "Tidurl (tidur) lagi lah," gumam anak itu kembali memejamkan mata.


Napasnya mulai teratur karena memang sesungguhnya Ia masih mengantuk maka cepat sekali tertidur lagi.


Grizelle cukup lama berada di rumah Raihan dan Rena. Ia bermain sepuasnya di sana kemudian berenang, hingga merasa kelelahan sampai akhirnya ketika dalam perjalanan menuju rumah, Ia sudah tertidur pulas.


*****


Thanatan meraih ponselnya yang berbunyi. Sengaja Ia mengatur alarm agar membangunkan dirinya pukul lima pagi. Sebab Ia ada pertemuan pukul setengah tujuh nanti. Ia harus lebih cepat bangun dan bersiap daripada hari biasanya.


Ia mematikan dering alarm itu kemudian beranjak. Ia duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Kemudian langsung bergegas ke kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Ia keluar dari sana dan bersiap seorang diri sementara istrinya masih bergelung dalam selimut.


Saat Ia tengah mengancingkan kemejanya, Ia melirik ponsel Karina yang layarnya menyala kemudian menampilkan agenda hari ini.


-Berlibur dengan cucuku-


Membaca agenda tersebut, Thanatan mendengus seraya menatap istrinya.


"Pergi jam berapa mereka? kenapa Karina masih tidur,"


Thanatan menarik selimut yang membalut istrinya. Ia mengguncang lengan Karina. Istrinya itu langsung berdecak karena merasa terganggu. Ia meraih selimutnya lagi namun ditarik kemudian oleh Thanatan.


"Kamu mau pergi dengan Griz jam berapa?"


"Erghh! Thanatan aku masih mengantuk ini. Diam dulu!" erang Karina kesal.


Thanatan kemudian mengambil arlojinya untuk dilingkari ke pergelangan tangannya. Lagi, Ia membangunkan istrinya yang memang tidur malam sebab bekerja. Apalagi?


"Karina, kamu akan berlibur dengan Griz 'kan? kalian pergi jam berapa? pagi tidak? sekarang sudah hampir lima tiga puluh,"


Thanatan mengguncang lengan istrinya lagi yang membuat Karina akhirnya bangun.

__ADS_1


Karina menatap marah pada suaminya. "Kenapa sih? kamu tahu 'kan kemarin aku tidur malam karena harus melihat laporan dari cabang kafe---"


"Salahmu sendiri yang tidur malam padahal akan berlibur,"


Karina mengerjap beberapa saat sampai akhirnya Ia sadar. Ia menepuk keningnya pelan.


"Oh iya, hari ini aku akan pergi dengan Griz,"


"Dari tadi aku mengatakan itu. Kamu tidak dengar?!" terlalu kesal dengan istrinya yang sulit dibanguni lalu marah-marah padahal niatnya baik untuk mengingatkan. 


"Beruntung kamu bangunkan,"


Thanatan mencibir istrinya yang kini tersenyum, beranjak dari ranjang.


"Griz yang datang ke sini. Tapi aku 'kan harus sudah siap biar nanti langsung berangkat,"


"Berangkat jam berapa?"


"Delapan, perjanjian dengan teman-temanku begitu. Kami bertemu di jalan cepat nanti lalu pergi bersama ke resort dimana kami akan menginap,"


Karina bergegas membersihkan dirinya. Sementara Thanatan tengah memeriksa pekerjaan nya sebentar di sofa kamar. Istrinya selesai bersiap, Ia sudah selesai juga memastikan bahwa semua dokumen yang harus Ia bawa sudah benar-benar siap.


"Ayo, sarapan,"


Thanatan mengangguk. Mereka berdua bergegas ke ruang makan untuk sarapan.


"Woaahh cucuku sudah datang ternyata. Kamu bangun jam berapa?"


"Hmm jam---sepelrtinya hampirl (sepertinya hampir) setengah enam,"


Sekarang sudah hampir pukul tujuh. Grizelle melakukan semuanya serba cepat. Ia dibangunkan oleh Vanilla. Langsung mandi, kemudian sarapan sereal yang sudah dibuat Vanilla dan langsung pergi. Grizelle selalu semangat kalau ingin berlibur.


"Van...ayo sarapan." Sapa dan ajak Karina pada Vanilla yang langsung tersenyum.


"Sudah sarapan di rumah, Ma,"


Karina dan Thanatan segera bergabung, namun tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Thanatan.


"Kakek mau bekerlja (bekerja) ya?"


Thanatan mengangguk singkat. Grizelle mengangguk, otak cerdasnya mencari topik obrolan lain yang bisa membuat kakeknya bicara padanya.


"Kakek nanti jadi sendlrian (sendirian) di lrumah(rumah) ya?" canda Grizelle yang hanya ditanggapi dengan lirikan dari Thanatan dan yang membuat Grizelle senang adalah, Kakeknya tersenyum sedikit padanya.


"Kamu sudah mulai bisa bicara R," ujar Thanatan. Grizelle bersorak dalam hati. Akhirnya sang kakek tak dingin lagi. Suara kakeknya mulai keluar untuk mengajaknya bicara pagi ini.


"Iya, diajarrli (diajari) Glrandpa,"

__ADS_1


Deg


Gerakan mulut Thanatan yang sedang mengunyah makanan langsung memelan begitu mendengar jawaban cucunya.


Raihan membantu tumbuh kembang cucunya hingga berubah lebih baik dan kenapa Ia merasa---iri?


Apa karena Ia tak bisa seperti Raihan? Thanatan menggeleng pelan. Ia marah pada dirinya sendiri yang menjadi seperti ini, merasa kalah dan bersalah.


"Griz sudah sarapan belum?"


"Sudah, Nay-Nay. Aku makan serleal (sereal) yang dibuat Mumu,"


"Sudah kenyang? nanti kita langsung berenang di waterpark yang ada di resort nya,"


Grizelle mengangguk yakin, Ia mengusap perutnya menjawab, "Sudah kenyang."


"Dan aku sudah siap berlenang (berenang) lagi,"


"Berenang lagi?"


"Iya, kemarllin (kemarin) aku sudah berlenang (berenang) di rlumah (ruma) Grlandpa,"


"Oh, nanti berenang lagi? memang tidak bosan?"


"Tidak, Nay-nay. Aku suka berrlenang (berenang),"


"Sudah, jangan bicara dulu di meja makan," tegur Thanatan yang langsung membuat Grizelle bungkam.


Ia merasakan perubahan suasana hati kakeknya. Tadi, Thanatan sudah sempat hangat padanya. Tersenyum, bahkan mengajaknya bicara walaupun hanya dengan satu kalimat. Tapi sekarang, tiba-tiba saja berubah.


Vanilla yang sedari tadi diam, memilih untuk melirik anaknya yang tampak kuat, tidak sedih atau tersinggung sama sekali. Bahkan Ia dengan santai mengayun-ayun kakinya yang tergelantung di bawah kursi.


Vanilla menggenggam tangan Grizelle hingga anak itu menoleh padanya. Grizelle tersenyum yang membuat hati Vanilla pilu. Selalu seperti ini. Grizelle selalu merasa baik-baik saja ketika kakeknya bicara tegas padanya tanpa senyum dan nada memohon pengertian sedikitpun.


Vanilla tersenyum membalas putri kecilnya. Kemudian Ia mengusap kepala Grizelle dengan lembut yang diam-diam, diperhatikan oleh Thanatan.


"Sudah yakin mau berlibur?" tanya Thanatan yang entah mengapa merasa perlu untuk mencairkan suasana yang tadi sempat Ia buat tegang.


"Yakin, Kakek," Grizelle mengangguk dan dengan yakin dia menjawab.


"Memang sudah sepenuhnya sembuh?"


"Sudah, bahkan aku sudah sekolah. Kemarrlin (kemarin) aku mulai sekolah lalu dijemput Grlanpda (Grandpa) dan diajak ke rlumah (rumah) Grlandpa. Aku lihat-lihat ikan milik Grlandpa, kalau kucingnya sedang disekolahi. Terlus (terus) aku minta buaya pada Grrlandpa (Grandpa). Katanya boleh, nanti disiapkan dulu tempat tinggal dan semuanya,"


-----


Griz nih polos bgt. Dia cerita aja niatnya tp gk tau kl ceritanya itu bisa bikin Thanatan badmood wkwkk. Lg napa ya si kakek bgtu? dia gk bisa kek Raihan kali ya. Mkanya bgtu😆

__ADS_1


__ADS_2