Nillaku

Nillaku
Nillaku 185


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini kadar gula darah Thanatan meningkat hingga mengharuskan Ia beristirahat di rumah.


Namun hanya Karina dan Hawra saja yang mengetahui hal itu, tidak dengan Jhico. Saat Jhico menelpon Hawra, Hawra ingin menceritakan kondisi Thanatan pada Jhico, namun Thanatan tidak menginginkan hal itu.


Saat Ia sakit, Jhico memang jarang mengetahui nya karena komunikasi antara mereka berdua yang kurang baik. Jhico tahu bahwa Papanya sakit biasanya dari Karina atau Hawra, dan Jhico akan datang ke rumah untuk melihat kondisi Papa nya.


"Memang kenapa kalau Jhico tahu kamu sakit?"


"Untuk apa? biarkan dia fokus dengan hidupnya sendiri, begitupun aku. Memang biasanya seperti itu 'kan?"


Hawra mendengus menyaksikan sikap Thanatan yang masih saja menyebalkan dimata semua orang.


"Ibu kira setelah Griz besar, hubungan kalian jauh lebih baik,"


"Ini sudah jauh lebih baik, Ibu. Menurutku seperti itu,"


"Seharusnya kalian saling terbuka, jalin komunikasi yang baik. Seperti orangtua pada anaknya di luar sana. Orangtua sering-sering menelpon anaknya yang tidak tinggal bersama, lalu bertanya mengenai kabarnya. Apalagi sekarang kamu sudah memiliki cucu, orang yang harus kamu perhatikan bertambah,"


Karina datang membawa makan dan minum untuk suaminya. Ia meminta Thanatan untuk duduk.


Karina membantu Thanatan untuk makan. "Ini terlalu asin, Karina."


"Maaf, mau aku buatkan lagi? atau kamu---"


"Tidak usah,"


Thanatan meminta pada Karina agar menyuapinya satu kali lagi. Setelah itu Ia meminum obat.


"Ibu keluar dulu,"


Karina dan Thanatan mengangguk, mempersilahkan Hawra untuk keluar, meninggalkan mereka.


"Tadi Ibu bicara apa?" tanya Karina setelah Hawra menutup pintu.


"Biasa, tentang cucunya,"


"Ada apa dengan Jhico?"


"Aku tidak mau Anak itu tahu tentang keadaan ku sekarang, tapi sepertinya Ibu kurang setuju dengan keputusan ku itu,"


"Kamu sudah berapa hari di rumah? kondisi mu memang benar-benar parah kali ini, Pa. Biasanya kamu tetap bekerja meskipun di rumah. Sejak beberapa hari lalu kamu hanya diam saja di kamar,"


Selama ini bila Thanatan sakit, lelaki itu tidak pernah absen bekerja, walaupun bekerja di rumah. Tapi sakit yang Ia alami kali ini, benar-benar membuatnya tidak berdaya. Untuk berdiri saja sulit, apalagi berpikir mengenai rumitnya hal-hal tentang perusahaan.


******


"Mu, kita ke lumah (rumah) Glandpa ya?"

__ADS_1


"Memang Griz ingin sekali ke sana?"


Grizelle mengangguk cepat. Itu yang Ia inginkan sejak bertemu dengan Auristella tadi. Sepupunya itu mengatakan akan ke rumah Raihan selesai mereka makan bersama tadi.


"Jangan sekarang ya, Griz? Kamu tidak lelah? Mumu saja lelah, ingin istirahat,"


"Ya sudah kalau Mumu lelah, kita tidak usah ke sana,"


Vanilla tersenyum atas pengertian anaknya. Tidak hanya lelah, Vanilla juga sedikit khawatir bila ke sana tanpa Jhico, entah kenapa Ia tidak begitu banyak memiliki nyali untuk mempertemukan Grizelle dengan kakek nya. Ia takut melihat berbagai reaksi yang ditunjukkan Thanatan ketika bertemu Grizelle, mengingat Thanatan belum terlalu menerima kehadiran cucunya yang tidak terlahir sebagai laki-laki yang Ia harapkan bisa menjadi penerusnya.


******


"Griz kenapa murung di sana?"


Jhico baru pulang bekerja dan Ia menemukan anaknya duduk sendirian di sofa menghadap televisi yang menyala.


Jhico meletakkan snelly yang Ia sampirkan di lengannya ke atas meja. Lalu Ia duduk di samping anaknya.


"Kenapa, Sayang? Mumu dimana?"


"Aku ingin ke rumah Glandpa Thanatan tapi Mumu melalang (melarang). Mumu lelah katanya, padahal tadi kita hanya datang ke fashion show,"


Jhico mengusap kepala anaknya dengan lembut lalu Ia beranjak. Grizelle menahan tangan nya.


"Pupu mau kemana? aku belum selesai belcelita (bercerita),"


"Tadi kata Mumu, Glanpa tidak akan pelnah (pernah) menolak diajak bermain olehku kalau aku punya saudala laki-laki. Memang benal (benar), Pu?"


"Hah? hmm--tidak, Griz. Grandpa mau bila diajak bermain dengan Griz sekarang, sekalipun Griz tidak punya saudara laki-laki,"


"Tapi tidak selalu mau, Pu."


"Iya, karena Grandpa juga punya kesibukan saat Griz mengajaknya bermain atau bercanda,"


"Tapi Glandpa Lai (Rai) tidak begitu,"


Jhico menghembuskan napas berat. Grizelle sudah bisa membandingkan apa yang Ia lihat. Dan jujur saja Ia merasa sakit ketika secara tidak langsung Grizelle menganggap Papanya tidak sebaik Raihan, Papa Vanilla yang tidak pernah absen memperhatikan Grizelle.


"Jangan dengarkan ucapan Mumu,"


"Tapi aku ingin juga punya saudala (saudara) laki-laki,"


"Minta pada Mumu ya? karena Mumu yang mengandung,"


Jhico pusing sendiri mendengar permintaan anaknya yang polos itu. Kalau Ia bisa request pada Tuhan, sudah Ia lakukan sejak dulu. Vanilla belum ingin punya anak lagi, salah satu alasannya karena Ia khawatir atas reaksi keluarga Jhico bila seandainya yang lahir nanti adalah perempuan lagi. Vanilla setakut itu ketika membayangkan anak keduanya diperlakukan bisa saja lebih parah dari Grizelle mengingat dia anak kedua dan lahir dengan jenis kelamin yang belum tentu sesuai harapan.


Jhico memasuki kamarnya, sementara Grizelle masih bertahan di posisinya tadi. Vanilla yang baru saja selesai workout menyapa nya.

__ADS_1


"Anakmu di bawah sedih, kamu malah sibuk di sini,"


"Aku 'kan olahraga, itu kegiatan rutin aku. Memang Griz kenapa?"


Vanilla sedikit kesal ketika suaminya berkata seperti tadi. Padahal Jhico juga tahu kegiatan dia setiap sore, kenapa sekarang seolah protes dan menyambungkan kegiatannya itu dengan kesedihan Grizelle.


"Kenapa tidak kamu penuhi keinginan Griz?"


"Keinginan apa? beli kuteks? astaga, aku lupa. Sebentar, aku pesan dulu---"


"Bukan, dia ingin datang ke rumah Papaku,"


Vanilla berdecak pelan,"Aku tidak berani membawanya ke sana sendirian, tanpa kamu,"


"Memang kenapa sih? Mama, Papa, dan nenek ku bukan harimau yang bisa menjadikan kamu dan Grizelle sebagai santapan. Kenapa tidak berani?"


"Ya---ya, intinya aku tidak mau hanya berdua dengan Griz saat datang ke sana. Kamu harus ikut,"


"Nilla, kamu tidak bisa seperti itu. Papaku sudah jauh lebih baik terhadap Griz, seharusnya kamu membiasakan Griz dekat dengan Papaku. Bukan malah tidak mengizinkan Griz bertemu---"


"Jhi--"


"Diam! dengarkan aku bicara sampai selesai," sanggah Jhico dengan cepat ketika Istrinya akan memotong pembicaraan nya.


"Mungkin Griz senang dan merasa nyaman di dekat Papa dan aku lihat Papa juga begitu, walaupun memang tidak bisa dipungkiri Papa masih terlihat dingin dengan Griz, tapi aku bisa menyaksikan sendiri bahwa Papa semakin menerima Griz dengan tangan terbuka,"


Vanilla menempatkan dirinya di atas ranjang. Ia melirik suaminya yang kini melepas kemeja sambil berjalan ke walk in closet. Jhico mengambil satu celana pendek dan juga kaus setelah itu bergegas ke kamar mandi.


Vanilla memilih untuk menghampiri anaknya yang ternyata masih duduk sendirian, tidak menikmati tayangan di televisi yang tersaji di hadapannya. Grizelle melipat kedua kakinya lalu menunduk.


"Griz, masih ingin ke rumah Grandpa?"


"Tidak, Mumu 'kan lelah."


"Ayo, kalau Griz tetap ingin ke sana. Mumu tidak lelah lagi,"


Vanilla merasa bersalah pada anaknya apalagi setelah ditegur dengan tegas oleh Jhico. Ia sudah menolak permintaan sederhana dari putri semata wayang nya.


"Aku mau ke sana dengan Pupu saja, tidak apa. Pupu pasti mau,"


Grizelle segera bergegas ke kamar orangtuanya, meninggalkan Vanilla yang duduk terdiam menatap punggung anaknya yang sudah menjauh.


"Aku jadi serba salah,"


---------


 

__ADS_1


Addicted udah Up. Kalian udh baca blm?


__ADS_2