Nillaku

Nillaku
Nillaku 16


__ADS_3

Lampu swarovski bertebaran memberikan cahaya terbaiknya diantara meriahnya pesta pernikahan Vanilla dan Jhico. Usai mengucap janji suci untuk sehidup semati, acara berlangsung sampai malam.


Semua tamu mengucapkan harapan yang baik untuk pernikahan kedua insan manusia yang bertemu dengan jalan cerita unik tersebut.


Senyum kebahagiaan begitu jelas terpatri di wajah seluruh manusia yang datang. Semua keluarga berbahagia atas bersatunya diri mereka. Ini adalah pernikahan penutup di keluarga Vidyatmaka, dan juga pernikahan satu-satunya dari keturunan Thanatan. Oleh sebab itu tidak ada kata selain 'terbaik' yang harus ditampilkan.


Lagu-lagu romantis mengiringi keindahan malam ini. Meriahnya pesta dan kebersamaan di dalamnya begitu kental akan perasaan bahagia dan haru. Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Vanilla sepanjang berlangsungnya acara.


Gadis itu tersenyum, menyambut segala doa baik dari para tamu. Namun terselip perasaan sedih, tidak terima, dan juga gagal. Ia gagal menjadikan Renald berada di posisi terpenting dalam hidupnya.


"Kamu begitu pintar menjadi orang yang jahat, Jhico. Bahagia di atas kesedihanku. Bagus sekali," kalimat yang sejak tadi berusaha ditahan akhirnya keluar juga menusuk relung hati suaminya.


Ia tahu Jhico bahagia. Karena mulut laki-laki itu tidak henti mengatakannya sejak tadi. Seraya menggenggam erat jemari Vanilla, Jhico selalu mengungkapkan betapa senangnya Ia malam ini dan betapa beruntungnya Ia memiliki Vanilla.


"Kamu harus bahagia. Jangan jadikan aku orang jahat di sini,"


"Bagaimana aku akan bahagia sementara bukan kamu yang aku harapkan?"


Jhico menyunggingkan senyum pilu. Lagi, Vanilla membuatnya terluka. Tidak menyangka gadis itu akan semenyedihkan ini setelah menikah dengannya. Apakah ini yang dirasakan Vanilla saat Ia memaksa Vanilla untuk menjadi istrinya? Jhico sedih saat melihat gadis yang Ia harap bisa dibuat bahagia justru menolak untuk itu.


Denaya bersama seorang laki-laki menghampiri Jhico dan istrinya. Mereka baru saja datang setelah Denaya menyelesaikan tugasnya di rumah sakit hari ini.


"Selamat berbahagia. Semoga pernikahan kalian diberkati,"


Vanilla mengangguk setelah sebelumnya Ia kembali menggunakan topeng, berpura-pura menjadi gadis yang paling beruntung untuk hari ini.


"Terima kasih,"


Vanilla masih ingat dengan suaranya. Sosok yang pernah menganggap Vanilla tidak lebih dari seorang gadis buta, yang tidak pantas diraih oleh Jhico.


Jhico membiarkan Denaya dan kekasihnya itu pergi setelah keduanya menampilkan kebahagiaan yang sama di hadapannya.


"Kenapa bukan dia yang menikah denganmu?"


Jhico sontak menoleh, menatap Vanilla yang kini mengangkat alisnya. Jhico selalu kesulitan untuk menebak isi pikiran gadis di sebelahnya ini.


"Apa yang kamu bicarakan, Nillaku? aku benar-benar tidak mengerti,"


"Dia mantan kekasihmu bukan?"


Jhico memundurkan kepalanya terkejut. Ia yang tadinya ingin mengecup pelipis Vanilla langsung dibuat membeku.

__ADS_1


"Dia menganggap aku tidak pantas menjadi pendampingmu. Jadi...ya... aku rasa dia adalah masa lalumu yang masih belum lepas dari memory manis kalian,"


Ada makna sindiran dan nadanya begitu sinis. Namun anehnya Jhico malah terkekeh. Ia bahkan melakukan keinginannya yang sempat tertunda tadi.


Nilla-nya terlihat seperti gadis yang cemburu ketika sosok di masa lalu suaminya menunjukkan eksistensinya.


Vanilla segera menghapus jejak bibir Jhico di pelipisnya. Ia menggeram kesal, Tidak terima. Ia seperti lupa dengan statusnya sekarang. Dimana Jhico bisa dengan bebas menyentuh apapun bagian dari dalam dirinya.


"Apa yang dia katakan?"


Vanilla segera menghela bahunya enggan untuk menjelaskan lebih detail. Kalimat meremehkan dari Denaya membuat Vanilla berusaha keras untuk melupakannya secepat mungkin. Karena itu bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Vanilla tidak ingin dirinya menjadi tidak percaya diri dan depresi seperti sebelumnya.


Konsep pernikahan ini memang santai walaupun kesan formalnya tetap terasa. Terlihat dari bebasnya para tamu undangan untuk berkumpul, dan melakukan sesuatu asal tetap dalam aturan. Hal itu membuat Jhico dengan bebas juga membawa Vanilla ke tengah-tengah rekan kerja dan para sahabatnya.


Vanilla sempat tidak ingin mengikutinya. Ia lebih memilih untuk bergabung dengan keluarga besarnya. Namun Jhico bersikeras untuk membawa Vanilla berkenalan dengan orang-orang di lingkungannya selain keluarga. Vanilla bertemu dengan sahabatnya hanya sekali saat ulang tahun Tiano dan itupun hanya menghabiskan waktu yang cukup singkat.


"Rencananya ingin punya anak berapa?" pertanyaan pertama yang menyambut kedatangan mereka. Pertanyaan itu sangat wajar untuk pengantin yang baru menikah seperti mereka. Namun untuk Vanilla ini tidaklah ada dalam benaknya. Ia menikah saja sudah membuatnya terasa dibebani. Apa lagi dengan memiliki anak?


"Lelucon macam apa itu?"


Semuanya sontak menoleh pada Vanilla. Vanilla menjadi gadis tidak berperasaan lagi untuk saat ini. Ia tidak peduli betapa kesal, hancur, dan terlukanya Jhico setelah mendengar kalimatnya.


"Kami tidak akan membuat rencana untuk itu. Berapapun yang diberikan Tuhan, kami akan bersyukur," Tukas Jhico setelah Ia berhasil mengendalikan emosinya. Ia tidak menduga Vanilla akan mengatakan itu di depan teman-temannya. Sungguh itu tidak seharusnya dikatakan oleh seorang gadis yang sudah menikah. Memiliki anak bukanlah sebuah lelucon. Dan mereka hanya ingin tahu apakah ada dalam benak Jhico dan Vanilla untuk menargetkan jumlah anak. Ternyata reaksi Vanilla benar-benar membuat orang ambigu.


Sehingga tidak salah bukan kalau Dante bertanya, "Kamu belum siap memilikinya?"


Tanpa ragu Vanilla menggeleng. Inilah yang seharusnya dianggap lelucon. Mereka tidak percaya kalau Vanilla belum siap. Sehingga mereka tertawa.


"Kamu begitu menyayangi keponakanmu. Yakin belum siap untuk memilikinya?"


"Oh bukan belum. Tapi tidak akan mau,"


******


Tengah malam semua orang yang menghadiri pesta pernikahan anak tunggal Thanatan dan anak bungsu Raihan itu meninggalkan ballroom hotel.


Tak terkecuali para keluarga besar yang langsung memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat sebelum esok pagi meninggalkan hotel dan kembali pada kesibukan.


Vanilla diapit oleh kedua keponakannya yang begitu tampan dengan balutan jas berwarna silver, sama seperti milik Devan dan kakek mereka.


Sepanjang acara berlangsung Vanilla benar-benar dikuasai oleh Jhico yang sudah menjadi uncle mereka.

__ADS_1


"Adrian tidur dengan Aunty boleh?"


Pertanyaannya polos dan maksudnya benar-benar tersampaikan, tapi berhasil mengundang tawa. Sampai Jane terbahak begitu geli.


"Boleh, Adrian." jawabannya membuat Raihan menoleh pada keponakannya itu untuk menatap tajam.


Kakek tiga cucu itu tidak mungkin membiarkan siapapun mengganggu kebahagiaan Vanilla. Di kamar berdua malam ini adalah waktu dan tempat yang begitu tepat untuk Vanilla dan Jhico semakin mengenal dan terbuka satu sama lain agar masing-masing bisa menyesuaikan atau belajar untuk memahami. Apapun yang mereka lakukan di dalam, tidak ada salahnya. Dan justru itulah yang diharapkannya. Agar bukan Devan saja yang memberikannya penerus.


"Tidak, Adrian. Aunty sudah ada Uncle untuk menemaninya tidur. Kamu tidur dengan Daddy dan Mommy,"


Adrian mengerucutkan bibirnya begitu sang Daddy memutus harapannya dengan tegas. Ia semakin merapatkan genggaman tangannya pada Vanilla. Membiarkan Jhico mengikuti mereka bertiga.


Mereka berpisah di persimpangan koridor. Kamar Vanilla bersama Jhico cukup diasingkan entah apa maksudnya. Raihan dan Rena yang menginginkan dan Jhico hanya bertugas untuk menerima serta memastikan sekali lagi.


"Bye, Aunty. Besok pagi jangan terlambat bangun, ya. Sebelum pulang kita harus bermain dulu di taman,"


Jhico sampai menelan ludah dibuat anak yang gagal menjadi bungsu itu. Padahal tidak ada yang salah dengan kalimat Adrian. Ah, otaknya terlalu berekspektasi lebih.


Mereka benar-benar berpisah setelah saling melambai. Jhico segera meletakkan tangannya di bahu Vanilla lalu mereka berjalan menuju kamar. Vanilla berusaha melepaskan karena tidak nyaman. Namun Jhico yang sudah lebih egois semenjak memilikinya tetap pada keinginannya. Ia merasa tidak ada yang salah dengan apa yang Ia lakukan. Vanilla harus terbiasa bila perlakukan seperti ini. Dan lagi Jhico tidak menyakitinya bukan?


Setelah memastikan kondisi pintu terkunci dengan baik, Jhico membalik tubuhnya dan menggiring langkah Vanilla yang beberapa saat lalu menunggunya mengunci pintu, menuju kamar.


"Mau aku bantu?"


Padahal sedari tadi Jhico sudah membantunya melepaskan segala perlengkapan dari tubuhnya yang membuat Ia terlihat semakin cantik.


Sekarang Jhico menawarkan diri untuk membantunya mandi. Sudah sinting laki-laki ini. Ia pikir Vanilla seperti gadis kebanyakan yang menikah secara normal ? mungkin mereka akan dengan senang hati menerima tawaran itu.


"Tidak perlu. Aku tidak butuh bantuanmu lagi. Yang tadi sudah cukup,"


Jhico menyunggingkan senyumnya. Ia mengacak pelan rambut Vanilla lalu membiarkan gadis itu berkutat dengan kegiatan membersihkan tubuhnya.


Jhico memilih untuk membuka pintu balkon yang berada di balik sleding door kamar hotelnya. Kemudian Ia duduk di tepi ranjang untuk menikmati udara Manhattan malam ini.


Musim saat ini benar-benar mendukung keberlangsungan acara. Ia bersyukur karena tamunya tidak ada yang kesulitan untuk sampai di ballroom hotel. Semuanya terasa dipermudah oleh Tuhan, dan Jhico harap itu sebuah pertanda bahwa pernikahannya direstui oleh penciptanya.


"Aku bahagia. Dan aku harap ini akan selamanya,"


----------


UYEAYYY NIKAH. SYAPA YG SYENAANGGG?? INI UDH AKU TUNGGU JG WKWK. COBA ABSEN YG NUNGGU SIAPA AJAAA? KOMEN YANG BUANYYAAKK YAA. VOTE DAN LIKE NYA JGN LUPA ;)

__ADS_1



__ADS_2