
"Griz, hadiah ulang tahun apa yang paling istimewa di ulang tahun kamu beberapa hari lalu?"
Grizelle bergumam seraya mengingat-ingat banyaknya hadiah yang kemarin diterimanya dari semua orang yang hadir di pesta ulang tahunnya.
"Semuanya istimewa menurrlutku (menurutku),"
"Tidak mungkin semuanya. Pasti ada yang paling istimewa. Iya 'kan?"
Teman sekolah Grizelle masih mencecar Grizelle dengan pertanyaan itu membuat Grizelle bingung harus menjawab seperti apa lagi. Padahal baginya semua memang istimewa.
"Semua istimewa. Benarrl (benar) aku tidak bohong,"
"Yang paling istimewa?"
Grizelle menghembuskan napas pelan. "Baiklah aku jawab. Yang paling-paling istimewa itu darrli (dari) Mumu dan Pupu. Tapi semuanya istimewa," Ia menekankan sekali lagi di akhir kalimatnya. Yang sangat istimewa tentu dari kedua orangtuanya namun itu tidak berarti pemberian dari yang lain tidak istimewa.
"Sama denganku. Hadiah dari Mommy dan Daddy ku adalah yang paling istimewa di hari ulang tahunku,"
Grizelle mengangguk pelan. Beberapa menit mereka mengisi waktu istirahat dengan melanjutkan lukisan yang belum selesai di buku lukis.
Sampai akhirnya Grizelle ingat bahwa Ia ingin mengajak teman-teman sekolahnya bermain ke playground pemberian sang kakek.
"Kalau aku ajak ke playground di dekat sekolah kita yang barrlu (baru) buka itu, mau tidak?"
"Mau lah, Griz. Aku penasaran sekali. Sepertinya sudah dibuka ya? aku lihat sudah ada pengunjungnya,"
"Iya, kapan kita ke sana?"
"Terserah padamu, Griz. Kamu yang akan mengajak kami,"
Grizelle mulai memperkirakan waktu yang tepat untuk mengajak teman-teman sekolahnya untuk datang dan bermain di sana. Kalau hari ini, Ia akan datang ke rumah Raihan dan Rena bersama ketiga kakak sepupunya. Esok giliran Ia dan ketiga kakak sepupunya yang berkunjung ke area bermain itu.
"Nanti aku berrli (beri) tahu waktu yang tepat ya,"
Grizelle harus minta pendapat ibu dan ayahnya dulu sebelum mengambil keputusan.
*****
__ADS_1
Vanilla mendapat kiriman pesan dari suaminya yang merupakan tangkapan layar yang menampilkan pesan dari Raihan untuk Jhico.
"Playground milik Grizelle tolong diambil alih oleh kamu dan Vanilla ya, selagi Ia belum bisa diandalkan untuk memegangnya," Vanilla membaca isi pesan ayahnya dengan pelan. Kemudian Ia bisa melihat balasan pesan dari suaminya untuk Raihan.
"Mohon maaf sebelumnya, Pa. Griz hanya perlu tempatnya saja untuk bermain. Aku rasa hal-hal selebihnya tidak pantas bila aku dan Vanilla yang mengambil alih,"
Jhico tahu maksud ayah keduanyanya itu. Raihan ingin hasil dari sana diurus oleh Ia ataupun Vanilla. Begitupun dengan pengembangan tempatnya.
Vanilla mengerinyitkan keningnya. Ia tahu akan berakhir seperti ini. Papanya itu sangat menyayangi cucu-cucunya. Tak akan diberikan hanya berupa fasilitasnya saja melainkan diserahkan sepenuhnya pada Grizelle tapi berhubung Grizelle masih kecil, maka Raihan ingin agar Vanilla maupun Jhico yang mengambil alih untuk sementara waktu.
Vanilla memutuskan untuk menghubungi ayahnya, lelaki cinta pertamanya itu. Langsung dijawab dan itu membuat Vanilla menghela napas lega.
"Pa, sedang sibuk ya?"
"Kebetulan ini di restauran akan makan siang. Ada apa, Vanilla?"
"Pa, aku mau membicarakan soal playground yang Papa berikan untuk Griz. Aku rasa, apa yang dikatakan Jhico benar, Pa. Griz hanya perlu tempat atau fasilitasnya saja. Papa tidak perlu menyerahkan itu semua pada---"
"Itu memang dibuat untuk Grizelle. Seluruhnya, Vanilla. Itu akan menjadi asetnya di masa depan,"
Raihan di seberang sana tersenyum tipis mendengar ucapan Vanilla. Ia mengangguk tatkala seorang waitres membawakan menu makan siang yang telah Ia pesan. Ia belum bisa langsung menyantap makan siangnya sebab masih harus menyelesaikan pembicaraannya bersama sang putri.
"Vanilla, itu memang untuk Grizelle. Sekali lagi Papa tekankan, itu bukan punya Papa. Lagipula untuk apa Papa yang memegang nya? tidak usah lah. Papa ini sudah tidak muda lagi. Apa yang Papa punya pada akhirnya akan turun pada anak keturunan Papa. Lagipula untuk Triple A juga sudah ada. Papa berusaha berlaku adil. Apa lagi yang menjadi pertimbangan kamu?"
Vanilla menggigit bibir bawahnya merasa hatinya terharu. Ia merasa tak pantas mendapatkan itu semua. Sudah cukup apa yang diberikan Raihan selama ini untuknya ataupun Grizelle sebagai putrinya.
Itu semua hasil kerja keras Raihan. Papanya itu bekerja dari pagi sampai malam tak kenal lelah tapi hasilnya selalu berujung untuk anak dan cucunya.
"Sudah ya. Papa mau makan siang dulu,"
"Pa..."
"Vanilla, tolong dengarkan Papa. Kalau kamu terima, itu artinya kamu menghargai pemberian Papa. Jadi, kamu harus menerimanya ya? nanti akan Papa berikan berkas-berkasnya pada Jhico. Mungkin malam ini Papa akan datang ke rumah kalian. Mau bertemu dengan Icelle, si cantiknya Papa,"
"Grizelle di rumah Devan, Pa. Dia mau menginap di sana tiga hari katanya,"
"Oh ya ampun. Benar begitu? karena triple A sudah pulang?"
__ADS_1
"Iya, dan aku dengar juga setelah pulang sekolah nanti mereka akan ke rumah Papa diantar oleh Lovi,"
"Kamu tidak datang juga ke rumah Papa?"
"Maaf, Pa. Aku harus periksa kandungan nanti sore. Seharusnya siang ini tapi dokter belum bisa dan diundur sore. Aku akan pergi dengan Jhicp,"
"Iya, tidak apa. Semoga kamu dan cucuku yang satu itu selalu sehat ya. Erghh tidak sabar menyambut kehadirannya,"
Vanilla tersenyum hangat mendengar ayahnya bicara seperti itu. Sambutan yang luar biasa dari Raihan yang sebenarnya sudah punya empat cucu tapi masih saja antusias menyambut kelahiran anak keduanya ini atau cucu kelima untuk Raihan.
"Ya sudah, Selamat makan siang ya, Pa. Terimakasih atas semuanya,"
"Iya, Sayang,"
*****
Grizelle di jemput oleh driver hari ini, seperti biasa kalau Pupu atau Mumu tidak bisa menjemput.
"Jangan lupa antarrl (antar) aku ke rrlumah trrliple A (rumah triple A). Jangan ke rrlumahku (rumahku), ya,"
"Siap, Nona cantik,"
Grizelle mengangguk dan mengucapkan terimakasih setelah peringatannya sudah mendapat tanggapan dari lelaki yang membawanya saat ini dari sekolah. Bisa saja drivernya lupa maka Ia ingatkan dengan sopan.
"Sudah makan?" tanya anak itu pada drivernya yang biasa Ia panggil Mr. Jun.
"Sudah, Griz sudah?"
"Sudah, aku dibawakan sandwich oleh Mumu,"
Meskipun Grizelle berangkat sekolah dari kediaman kakaknya tapi Vanilla tetap membawakan bekal makan siang untuk anaknya itu ketika mengunjungi rumah Devan tadi pagi sekalian membawa baju dan buku sekolah Grizelle.
"Aku tidak bawa bekal darrli (dari) Aunty Lovi. Karrlena (karena) ada bekal darrli (dari) Mumu. Dan sekarrlang (sekarang) aku laparrl (lapar) lagi. Seharrlusnya (seharusnya) tadi aku bawa saja bekal yang disiapkan Aunty Lovi ya. Tapi tadi pagi aku pikirrl (pikir) aku akan merrrlasa terrlalu (merasa terlalu) kenyang, maka aku menolak,"
"Nanti sampai di sana pasti ditawarkan makan oleh Aunty Lovi nya Griz. Tenang saja,"
Grizelle mengangguk seraya mengusap perutnya. Ia bergumam dalam hati, "Sabarrl (sabar) ya perrlut (perut). Nanti kita makan. Lagipula kamu ini kenapa sudah laparrl (lapar) lagi sih? kan sudah makan tadi. Erghh!" Diam-diam Grizelle mengungkapkan kekesalannya pada perutnya yang cepat sekali merasa lapar padahal di sekolah Ia sudah makan. Mungkin karena hanya sandwich bekalnya dan tadi pagipun Ia sarapan lebih sedikit dari biasanya karena entah mengapa tidak begitu nafsu dan lapar.
__ADS_1