
Kehangatan di pagi yang cerah menyelimuti keluarga kecil Jhico yang sejak semalam sudah berkumpul. Ya, Grizelle sudah diperbolehkan pulang.
Vanilla dan Jhico tak henti bersyukur karena putri mereka tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk tinggal di dalam inkubator. Setelah dipastikan oleh dokter kondisi nya baik-baik saja, semalam Grizelle diperbolehkan pulang.
Vanilla sudah bangun sejak dini hari tadi karena Grizelle yang sebentar-sebentar merengek haus. Dan Ia sempat tertidur beberapa menit sebelum akhirnya sekarang Ia kembali dibangunkan oleh Grizelle dan Jhico.
Jhico menatap istrinya yang tengah menyusui Grizelle. Mata Vanilla merah, pertanda Ia masih sangat mengantuk. Tapi Ia terpaksa membangunkan Vanilla karena Ia tidak ingin Grizelle kelaparan dan kehausan.
Vanilla juga selalu memberinya pesan agar tidak perlu sungkan membangunkan dirinya bila Jhico mendengar rengekan Grizelle lebih dulu. Vanilla senang menjalani perannya sebagai Ibu.
Hisapan di dadanya melemah. Vanilla merunduk, putrinya kembali terlelap. Padahal rencananya Ia akan membersihkan tubuh Grizelle habis menyusui.
"Yahh Griz tidur lagi, Nilla."
"Ya, tapi biar saja. Dia masih mengantuk,"
Vanilla menatap suaminya yang sedang bersiap di depan cermin. Pakaian kerja Jhico sudah Ia siapkan setelah pulang dari rumah sakit semalam. Mulai sekarang semua keperluan Jhico dan Grizelle adalah tanggung jawabnya. Sebisa mungkin Ia tidak meninggalkan kewajibannya sebagai istri meskipun sudah ada Grizelle yang tentunya akan menyita sebagian besar perhatian Vanilla.
"Aku pergi dulu ya," ujar Jhico seraya berbalik dari cermin. Ia sudah siap untuk berangkat ke klinik sekarang.
Jhico juga pamit pada putrinya. Ia membelai pipi halus kemerahan Grizelle agar tak mengganggu tidur lelap princess kecilnya itu. Jhico mencium pelan bibir mengerucut milik putri pertamanya.
Kemudian lelaki itu beralih pada Vanilla. Jhico mengecup pipi kanan dan kiri, dagu, kening, juga bibir perempuan itu.
"Sekarang aku jadi yang ke dua ya," keluh Vanilla pura-pura merajuk.
Jhico terkekeh mendengar itu. Ia rasa semua orangtua akan seperti itu kalau sudah punya anak. Pasangan jadi nomor dua. Sementara anak adalah yang utama untuk mendapat perhatian serta kasih sayang.
"Hati-hati, Pupu."
Alis Jhico terangkat mendengar panggilan itu kembali keluar dari bibir manis istrinya.
"Jadi Mumu dan Pupu?"
"Iya, imut 'kan?"
"Ya, terserah padamu. Asal jangan yang aneh-aneh nanti anakku jadi ikutan aneh juga,"
"Itu tidak aneh!"
"Iya, aku tidak mengatakan panggilan itu aneh. Aku hanya---"
"Sssstt jangan berdebat sekarang! anakku sedang tidur,"
Vanilla meletakkan telunjuknya di bibir lalu menatap suaminya yang mengerinyitkan kening protes.
"Anak kita. Bukan anak kamu sendiri," koreksi lelaki itu. Agaknya kurang enak didengar kalau Vanilla hanya mengatakan bahwa Grizelle itu anaknya. Lalu peran dia apa? apakah Vanilla lupa tanpa dirinya yang bercocok tanam, tidak mungkin Grizelle hadir di tengah-tengah mereka sekarang.
******
__ADS_1
Saat Jhico tiba di klinik, semua pegawai di klinik baik perawat maupun bagian kebersihan memberikan bingkisan untuk Grizelle. Kenzo pun demikian.
Jhico tersenyum, Ia tidak menyangka orang di sekelilingnya yang bukan keluarga sepeduli ini pada anak pertamanya.
"Terima kasih ya. Tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian,"
"Sama-sama, Dokter. Semoga Grizelle tumbuh menjadi anak yang diharapkan oleh Dokter dan Nona Vanilla,"
Harapan dan doa mereka semua memiliki inti yang sama. Mereka semua ingin Grizelle menjadi anak yang baik dan tentunya sesuai dengan harapan Vanilla juga Jhico sejak Ia tumbuh di dalam rahim Vanilla.
Kenzo masuk ke dalam ruangan Jhico untuk memberikan kado sekaligus meledek temannya itu.
"Jadi, setelah ini ada rencana tambah anak berapa?"
"Sinting! baru juga lahir. Masa sudah memikirkan tambah anak,"
"HAHAHAHAH," Tawa Kenzo menguar kencang memenuhi tiap sudut ruangan Jhico.
******
Semenjak memiliki cucu, Karina jadi sering menghubungi Vanilla untuk tahu kabar cucunya.
Setelah keluar dari toko bakery nya, Karina masuk ke dalam mobil dan langsung menghubungi Vanilla.
"Hallo, Van."
"Hallo, Ma."
"Ada, sedang bermain bersamaku."
Vanilla mengarahkan kamera nya pada wajah sang anak. Karina menahan gemas setelah melihat cucunya itu. Terakhir bertemu saat hari kepulangan Grizelle dari rumah sakit. Ia sudah rindu dengan boneka hidup milik Vanilla dan Jhico itu.
"Tumben tidak tidur. Biasanya setiap Mama telepon, Grizelle tidur,"
Vanilla terkekeh. Grizelle nampak menggeliat lucu. Tangannya menutupi mata sejenak, pose yang digemari anak baru lahir.
"Wah sepertinya sudah mengantuk itu,"
"Baru bangun padahal, Ma. Sedang menunggu Pupu nya pulang ini,"
"Oh Jhico belum pulang? tumben sekali,"
"Tadi memang datang ke klinik sudah siang, Ma. Karena Grizelle tidak mau lepas dari Pupu nya. Aku gendong, Grizelle malah menangis. Ketika Jhico yang gendong, dia tenang lalu tertidur. Saat dia tidur barulah Jhico berangkat. Jhico bilang menjelang malam dia pulang," jelas Vanilla pada Mama mertuanya. Ia baru saja menceritakan drama yang terjadi sebelum suaminya berangkat kerja.
Hari ini Jhico terpaksa datang tidak sesuai jam kerjanya karena sang anak yang begitu manja. Kemarin saat hari pertama Grizelle di apartemen, dia membiarkan Jhico bekerja dengan tenang. Berbeda dengan hari ini.
"Anak pertama perempuan sudah menunjukkan eksistensi nya, manja-manja dengan Pupu. Ya, Sayang?" Karina mengajak Grizelle bicara seraya terkekeh kecil.
"Dia menguasai Jhico juga, Ma."
__ADS_1
"Menguasai bagaimana?"
"Kalau tidur harus selalu dipeluk Jhico. Aku jadi tersingkirkan,"
"HAHAHAHA,"
Karina menertawakan Vanilla yang saat ini merengut, menyampaikan semua perilaku anaknya yang masih berusia beberapa hari itu. Belum apa-apa Grizelle sudah menguasai Jhico hingga tidak ada waktu sama sekali untuk Vanilla manja dengan Jhico seperti saat hamil dulu.
"Sekarang gilirannya Grizelle, Van. Kamu 'kan sudah puas dimanja Jhico,"
"Iya, Ma. Aku berusaha mengerti," jawab Vanilla dengan senyumnya.
"Ya sudah, Mama tutup teleponnya. Kecup jauh untuk Grizelle,"
"Ya, Ma. Mama sedang di jalan?"
"Iya, mau pulang."
"Okay, hati-hati, Ma."
"Ya, Van. Bye,"
******
Tengah malam seperti biasa Grizelle membangunkan kedua orangtuanya karena haus. Jhico yang lebih dulu mendengar, langsung bangun dari tidurnya. Sementara Vanilla masih pulas.
Jhico segera membangunkan istrinya. Ia mengusap lengan Vanilla. "Nilla, Grizelle haus."
Vanilla segera membuka matanya. Terkadang Ia kalah tanggap dengan Jhico. Suaminya itu lebih cepat bangun ketika mendengar rengekan anaknya.
"Sudah dari tadi Griz merengek?"
"Tidak," jawab lelaki itu seraya menatap Vanilla yang sedang meraih anaknya lalu diletakkan di atas pangkuan.
"Aku bangun terlambat lagi ya?"
"Tidak, Nillaku. Lagipula wajar kalau kamu bangunnya lebih lama daripada aku karena kamu mengantuk sekali. Aku tahu itu,"
Jhico menghilangkan rasa bersalah Vanilla. Ia cepat bangun karena tidurnya cukup. Sementara Vanilla tidak. Jadi ketika ada kesempatan untuk tidur biar sebentar pasti Vanilla pulas sekali.
Sebentar-sebentar Vanilla harus bangun ketika Grizelle merasa haus. Sementara Jhico dari pukul delapan malam sudah tidur dan tidak terlalu sering bangun, seperti Vanilla.
Haee haee haeee apa kabar manteman onlenku? sehat selalu untuk kalian💙 makasih yaaa udh baca dan kasih dukungan🙏🤗
MCH DAN ADDICTED UP !
__ADS_1