Nillaku

Nillaku
Nillaku 291 Teguran tegas dari Devan


__ADS_3

Setelah panggilannya terputus dengan kakeknya, Raihan, Auristella mengembalikan ponsel pada ayahnya.


"Kalian ini benar-benar ya. Pasti Grandpa jadi merasa bersalah. Lagipula kenapa harus merasa iri dengan Griz? dia itu saudara kalian,"


Auristella dan Adrian mendapat teguran dari ayah mereka. Keduanya hanya bisa menunduk sementara Adrean yang sedari tadi fokus membaca buku langsung menoleh pada ayahnya sejenak dan ikut mendengarkan apa yang dikatakan Devan.


"Aku tidak iri pada Icelle, Dad," gumam Auristella yang membuat Devan menghela napas.


"Kalau bukan iri apa namanya? kamu meminta pada Grandpa agar diberikan playground juga sama seperti Grizelle. Itu iri, Auris," nada bicara Devan masih tegas seperti sebelumnya.


"Dan kamu, selalu saja tidak bisa dewasa. Seharusnya tidak perlu ikut bicara seperti itu pada Grandpa,"


Devan beralih pada anak laki-lakinya yang kedua. Devan harus memberi tahu mereka bagaimana sebenarnya perasaan iri itu. Kalau dalam hal kebaikan contoh saja iri pada prestasi orang lain untuk dijadikan motivasi, itu tidak masalah.


Namun yang mereka lakukan tadi adalah menginginkan hal serupa dengan saudara sendiri. Padahal mereka lahir lebih dulu, dan menurut Devan tentu yang didapat dari Raihan juga lebih banyak mereka daripada Grizelle. Ia yang tak enak hati pada Papanya.


"Maaf, Dad,"


"Aku minta maaf, Dad,"


Adrian dan adiknya kompak meminta maaf pada ayah mereka. Keduanya masih tertunduk diam. Kalau Devan sudah bicara, mereka tak bisa berkutik.


"Jangan diulangi. Kalian bertiga itu harus saling menyayangi dengan Grizelle dan adik-adiknya nanti. Kalian itu bersaudara. Jangan pernah memiliki rasa iri atau sebagainya pada orang lain apalagi saudara. Semua orang itu sudah punya porsinya masing-masing. Jangan menuntut hal yang tidak ada,"


Adrian dan Auristella mengangguk pelan. Kemudian Devan meninggalkan kamarnya dimana ketiga anaknya berada sekarang.


Ia bertemu dengan Lovi, Istrinya yang akan memasuki kamar. Lovi mengangkat alisnya melihat wajah Devan yang datar dan dingin namun ada amarah juga di matanya.


"Kenapa? anak-anak dimana?"


"Di dalam," jawab Devan seraya mengarahkan dagunya ke pintu kamarnya.


"Kamu kenapa sih? wajahmu aneh,"


Devan masih terbawa dengan rasa kesalnya pada kedua anaknya tadi sehingga ekspresi wajahnya belum kembali.


"Aneh bagaimana?"


"Habis marah ya?" tebak Lovi yang langsung diangguki oleh suaminya.


"Marah pada anak-anak? karena apa?"

__ADS_1


Devan menghela napas. Ia bersandar pada dinding di samping pintu kamar lalu menatap istrinya.


"Grizelle ulang tahun mendapat playground dari Papa. Lalu, Auris dan Adrian protes menginginkan hal yang sama sampai mengatakan bahwa Papa tidak adil, Papa jahat. Aku kesal saja mendengarnya. Mereka itu sudah lebih dewasa daripada Griz. Kenapa juga harus merasa iri dengan Griz?"


Lovi mengusap bahunya pelan. "Ian dan Auris seperti itu?"


Devan terang mengangguk. Kalau anak pertamanya, sejak tadi diam saja bergelut dengan buku.


"Ya maklum, mereka terlalu dimanja juga oleh kamu dan keluarga. Jadi seperti itulah mereka,"


"Tidak juga, Lov," bantah Devan. Ia merasa selama ini wajar saja dalam memperlakukan ketiga anaknya dan Ia rasa kedua orangtuanya juga. Didikannya tegas. Kalau salah, maka ditegur. Kalau benar, maka dibela.


"Ya sudah, jangan marah lagi. Aku takut melihat wajahmu yang seperti itu. Teringat dulu," Lovi mengatakannya seraya terkekeh. Devan dengan raut bersalah menatapnya kemudian mengusap pipinya dengan lembut.


"Maaf, ya,"


Lovi mengangguk tersenyum. Ia beranjak masuk ke dalam kamar sementara suaminya pergi entah kemana, sepertinya ruang kerja. Karena selain kamar, itu tempat kedua yang sering didatangi Devan setiap saatnya.


"Sayang, sedang apa kalian?"


Seolah tak tahu apapun, Lovi masuk menyapa ketiga putra dan putrinya.


"Ean baca apa?" Lovi menyapa anak tertuanya dulu. Andrean langsung mengangkat buku yang sedang dibacanya.


"Oh, itu buku cerita?" tanya Lovi memastikan usai membaca judulnya.


Andrean mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Lovi beralih pada kedua anaknya yang lain.


"Kalau yang dua ini kenapa tidak menjawab pertanyaan Mommy ya?"


"Aku sedang memeluk boneka, Mom,"


"Aku menonton ini, Mom,"


Auristella dan Adrian menjawab langsung setelah ditegur oleh Mommynya.


Auristella bangkit dari posisi sebelumnya. Ia duduk dan meminta Mommy nya untuk duduk di dekatnya.


"Mom, aku tidak akan seperti tadi lagi. Katakan pada Daddy, aku minta maaf," ujar anak itu dengan lirih. Padahal sebelumnya Ia sudah meminta maaf, tapi Ia merasa ayahnya itu masih menyimpan rasa marah.


"Sudah minta maaf pada Daddy?"

__ADS_1


Auristella mengangguk. Lovi bertanya pada Adrian dan anak lelakinya itu juga mengangguk.


"Katakan pada Daddy jangan marah lagi ya, Mom," pinta Adrian mengalihkan tatapannya dari televisi.


"Iya, Daddy juga tidak akan marah lagi kalau kalian tidak buat kesalahan,"


"Sudah meminta maaf pada Grandpa?" tanya Lovi tidak kuat untuk terus berpura-pura belum tahu. Ia harus membujuk anaknya agar meminta maaf pada Raihan.


Auristella dan Adrian kompak menggeleng. Lovi segera menyerahkan ponselnya pada Airistella.


"Kalian berdua harus meminta maaf pada Grandpa juga. Barangkali ucapan kalian tadi menyinggung perasaan Grandpa,"


*****


Suasana disekitar penginapan yang akan ditempati Jhico dan keluarganya kali ini memang benar-benar seperti di hutan, tepi kota. Damai dan tenang, tanpa keramaian aktivitas yang biasa mereka saksikan ketika di tengah kota.


"Kita tinggal di sini saja, Pu,"


Jhico terkekeh seraya mengacak lembut puncak kepala anaknya yang tampak kagum dengan suasana di sekitar mereka.


Usai meletakkan barang, Jhico membebaskan orang-orang yang ikut dengannya untuk melakukan apapun mencari kesenangan mereka. Entah itu menyendiri di dalam kamar atau berkeliling di sekitar penginapan seperti apa yang Ia dan Grizelle lakukan saat ini. Mereka berdua pergi tanpa Vanilla yang memilih untuk beristirahat sebab Ia merasa lelah sekalipun sejak dalam perjalanan hanya diam di dalam mobil saja. Dan di mobil pun ia lebih banyak tidur daripada menyaksikan setiap momen di luar jendela mobil.


Grizelle mengayun-ayunkan tangan ayahnya yang menggenggam tangannya.


"Pu, kita tidak boleh tinggal di sini ya?"


Grizelle terlihat nyaman sekali berada di sana sampai Ia berkeinginan untuk tinggal saja di sana bukan hanya sekedar berlibur.


"Tidak, Sayang. Di sini hanya untuk menginap sementara saja,"


"Oh, padahal aku ingin sekali tinggal di sini,"


"Ini tepat untuk tempat tinggal masa tua ya? suasana nya tenang, sunyi, dan membuat kita merasa nyaman,"


"Iya, benarrl (benar), Pu. Saat aku tua nanti, aku ingin tinggal di tempat sepeerlti (seperti) ini,"


"Semoga keinginan Griz terwujud ya. Tapi bukankah Griz tidak mau dewasa apalagi tua? Griz sendiri yang mengatakan kalau Griz inginnya menjadi anak kecil saja terus,"


Grizelle terkekeh memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang menggemaskan. Ia baru ingat ucapan yang sering keluar dari mulutnya itu ketika kedua orangtuanya mulai membicarakan dirinya dan masa depannya.


"Kalau sendainya aku menjadi tua, aku mau tinggal di sini, Pu. Begitu maksudku,"

__ADS_1


__ADS_2