
Grizelle beranjak turun dari kursi kabinet yang Ia duduki kemudian berdiri di hadapan lemari pendingin besar berisi ice cream.
Ia menoleh pada Neneknya yang sedang menikmati minuman dingin di kursi kabinet sembari menggulir layar ponsel.
"Nay-Nay, aku boleh minta lagi ice creamnya?"
Karina melepas pandangan dari layar datar gadgetnya kemudian menatap penuh pada cucunya yang meminta ice cream untuk ketiga kalinya dengan raut memohon.
"Boleh, tapi ini yang terakhir ya,"
"Yeaayyy telimakasih, Nay-Nay,"
Dengan semangat Ia membuka lemari pendingin itu kemudian Ia bingung karena letak ice cream di atas sementara tinggi badannya tak cukup.
"Nay-Nay, aku susah ambilnya," keluh anak perempuan itu dengan suara lirih.
Karina terkekeh, Ia juga baru ingat kalau Grizelle tak akan bisa mencapai letak ice cream yang disimpannya.
Karina beranjak mengambilkannya untuk Grizelle. Tapi sebelum itu, Ia bertanya dulu, "Griz mau yang rasa apa? yang cup atau cone?"
"Hmm sebenalnya mau semuanya,"
Anak itu bercanda saat melihat Karina menggeleng, Ia terkekeh, "Aku mau yang cup saja,"
"Rasa apa, Sayang?"
"Pear,"
"Ini?"
"Iya, satu saja,"
"Memang satu perjanjiannya,"
Grizelle tersenyum lebar. Ia menerima ice cream yang diulurkan sang nenek kemudian membuka kemasannya dengan semangat.
"Ice cream banyak sekali. Aku sampai bingung mau yang mana. Aku bawa ke lumah ya, Nay-Nay?"
"Boleh, asal Pupu tidak marah,"
Mengingat Jhico tidak akan mengizinkan, Grizelle murung. Pasti semua minuman dingin itu akan berakhir di tempat sampah kalau Jhico melihatnya.
"Kamu itu sensitif. Makanya Pupu sangat menjaga apa yang kamu konsumsi. Pupu tidak mau kamu sakit,"
__ADS_1
"Iya, lolipop dan cokelat yang dibelikan Aunty Jo saja balu aku makan satu, sisanya dimakan Pupu dan dibuang," ceritanya pada Karina. Siapapun tahu anak kecil termasuk Grizelle suka sekali dengan makanan atau minuman yang manis. Tapi Jhico tidak ingin anaknya berlebihan dalam mengonsumsi itu.
Bahkan Jhico tak segan menegur tegas Vanilla yang Ia anggap membiarkan Grizelle menghabiskan dua buah cokelat yang dibeli Vanilla untuk dinikmati oleh dirinya sendiri dikala suntuk mengerjakan tugas atau pekerjaan.
"Kamu tahu Griz sudah pintar sekali menutup dan membuka lemari pendingin. Jangan simpan itu di sana. Tahu sendiri anaknya baru sembuh,"
Vanilla hanya bisa diam kalau Jhico sudah menegur seperti itu. Ia mengaku salah. Grizelle baru sembuh dari penyakit influenza karena terlalu banyak menyantap diam-diam ice cream miliknya yang disimpan di lemari pendingin. Lalu tak jera, Vanilla kembali menyimpan cokelat di sana. Grizelle menemukannya, tanpa menunggu waktu lama anak itu menghabiskan dua sekaligus di kamarnya sendiri. Jhico tidak memarahi anaknya hanya menasihati karena memang yang salah Vanilla. Grizelle tidak akan seperti itu kalau di depan matanya tidak ada ice cream ataupun cokelat.
Vanilla yang gemar menyantap ice cream dan cokelat ketika merasa suntuk, terpaksa hanya bisa mengandalkan makanan ringan saja karena tidak ingin membuat masalah. Grizelle kelelahan saja bisa sakit, perubahan cuaca saja bisa menyebabkan Grizelle sakit juga, apalagi bila sudah kelebihan mengonsumsi makan atau minum manis-manis seperti itu.
"Nanti minum air hangat ya,"
"Iya, Nay-Nay,"
*******
Vanilla kembali memasuki mobilnya dengan perasaan tidak menentu. Tadi, Ia sudah sempat menginjak rumah Karina dan Thanatan.
Namun ucapan Thanatan yang seolah sengaja menyambutnya, benar-benar membuat perasaan Vanilla tergoncang.
"Astaga, Jhico akan memiliki anak kedua?"
"Ya, tapi meninggal karena Ibunya yang sibuk berkarir. Bahkan kehadirannya pun tidak disadari oleh Ibunya itu,"
"Cucu keduaku meninggal bahkan disaat kami semua tidak tahu mengenai kehadirannya. Vanilla, entah darimana otak perempuan itu dibuat. Vanilla, perempuan itu sudah membunuh anaknya,"
Baru kali ini Ia mendengar secara langsung ungkapan kekesalan Thanatan karena Ia keguguran. Salahnya, ini semua salahnya. Ia pembunuh. Begitu kata Thanatan.
"Tapi itu kejadian yang tidak disengaja. Siapa sih yang ingin kehilangan anak?"
Vanilla masih di posisinya saat satu suara lain terdengar membelanya dan ia tidak tahu suara milik siapakah itu.
"Dan setelah anaknya meninggal pun, dia masih sibuk dengan dunianya sendiri. Bodoh, bukan?"
Ucapan itulah yang berhasil menendang Vanilla keluar dari rumah itu, berlari menuju mobilnya.
"Aku sudah berubah. Aku tidak sibuk dengan duniaku lagi. Apa Papa tidak bisa melihat itu?" batin Vanilla disela isak tangisnya. Dulu, Ia memang sibuk bekerja sampai bisa dibilang Grizelle kurang diperhatikannya. Tapi sekarang tidak lagi. Ia bekerja secukupnya. Bahkan sering berada di rumah. Sekalipun managernya mengatakan Ia kehilangan banyak kesempatan untuk lebih memajukan karirnya, Tapi vanilla tidak masalah sama sekali karena Ia sadar bahwa selama ini sudah cukup. Ia bekerja dengan baik dan profesional sebagai seorang model atau entertainer sementara untuk menjadi Ibu dan istri, nilainya nol besar.
****
"Hey, kalian sedang apa? woahh menikmati yang dingin-dingin ya?"
Grizelle dengan semangat meminta Hawra untuk duduk di sampingnya. Rupanya Hawra sudah bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Oma, bagaimana tidulnya? aku tidak belisik 'kan? iya, aku dali tadi belsama Nay-Nay di sini,"
Grizelle tidak berisik mengganggu Hawra yang sedang beristirahat. Padahal kalaupun berisik Hawra tidak mempermasalahkan. Jarang-jarang Grizelle datang ke rumah itu.
"Oma, Kakek sudah datang dali Jepang,"
Alis Hawra terangkat, "Oh ya?"
Kemudian Hawra beralih pada putrinya, "Suamimu sudah pulang?"
"Iya, sudah, Ibu. Dia sedang berbicara dengan Theo, rekan kerjanya, di ruang tamu,"
"Oh kabar mengejutkan,"
"Bagaimana saat kakek melihatmu? dia senang?"
Grizelle mengangguk cepat seraya mengulum bibirnya yang kotor karena ice cream.
"Senang, Oma. Aku datang tidak mungkin Kakek tidak senang," ujar anak itu. Meskipun Ia tidak tahu bagaimana seharusnya ekspresi sang kakek ketika senang, tapi Ia anggap saja teguran kakeknya tadi adalah bentuk rasa senang karena Ia sudah datang berkunjung.
"Hmm...tapi kalau aku datang ke lumah Glandpa Laihan aku selalu digendong dan dicium telus begitu sampai. Tapi, kenapa tadi Kakek tidak begitu ya?" Tanpa mengeluarkan suara, disela mulutnya menyecap rasa ice cream, hati Grizelle bertanya-tanya kenapa penyambutan kedua kakeknya terhadap kedatangannya berbeda?
*******
Jhico melepas snelly dari tubuhnya kemudian menatap arloji di pergelangan tangannya. Istrinya dan anak mereka pasti masih berada di rumah kedua orangtuanya.
"Lebih baik aku ke sana saja. Aku ingin bertemu Nenek,"
Meskipun tadi Vanilla mengatakan bahwa dirinya yang akan menjemput Grizelle, tapi Ia akan datang ke rumah orangtuanya untuk menjemput Vanilla dan Grizelle yang Ia yakini masih berada di sana.
Ayahnya juga tidak ada. Pasti suasananya akan berbeda dari yang biasanya. Tidak akan ada perang dingin atau saling mendiami selain berdebat.
"Nanti Kenzo ada acara dengan keluarganya jadi harus pulang lebih cepat. Damian hanya berjaga sendiri karena Basta sakit. Jadi, klinik ditutup sebelum jam oprasional berakhir ya,"
Dua dari tiga dokter yang membantunya di klinik itu sedang ada keperluan masing-masing. Kenzo dengan keluarganya sementara Basta yang harus memulihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum kembali mulai bekerja. Tersisa Damian yang tidak mungkin Ia biarkan berjaga terlalu lama. Selalu seperti itu kebijakan yang Ia berikan bila memang situasi tidak mendukung untuk klinik terus dibuka sampai jam oprasional berakhir.
"Baik, Dokter,"
Ia pamit pada perawat yang mendiami meja resepsionis, "Iya, Dokter. Hati-hati di jalan. Salam untuk Grizelle,"
Jhico mengangguk tersenyum, kemudian melangkah keluar menuju mobilnya. Jalanan sore ini lumayan lengang. Jhico mengendarai kendaraannya dengan tenang, membelah lalu lintas tanpa ada ego untuk sampai lebih cepat dari pengendara yang lain.
"Nanti sebelum pulang, ajak Vanilla dan Grizelle makan malam dulu lah," gumamnya tersenyum. Sudah lama juga mereka tidak makan malam bersama di luar rumah. Pasti Grizelle akan dengan antusias menyetujui ajakannya.
__ADS_1
-----
Aku double up. Mau komen nya yg banyak yaa plissss :) Biar aku semangat gitu guys hehehe. Makasih yaa untuk semua dukungannya🙏