
Apa yang dibeli tadi, sudah dipersiapkan Vanilla sebagai bingkisan yang akan dibawa sang putri ketika menghadiri acara tersebut.
Vanilla menyuruh anaknya agar tidak tidur terlalu malam menunggu ayahnya yang sibuk menangani banyak pasien hingga malam belum pulang. Esok Grizelle harus sekolah dan Ia ingin menunggu Jhico sampai pulang. Tidak mungkin Vanilla biarkan karena Ia khawatir dengan kondisi kesehatan Grizelle nantinya bila tidur harus larut malam sebab kepulangan Jhico tidak tentu waktunya.
Akhirnya setelah menemani Grizelle di kamarnya sampai terlelap, Vanilla yang belum mengantuk atau lebih tepatnya menahan kantuk sebab tidak tenang bila suaminya belum tiba di rumah, memutuskan untuk menyiapkan bingkisan untuk Evelyn dan juga dress yang akan dikenakan Grizelle esok ketika hadir ke perayaan ulang tahun Evelyn. Kebetulan acaranya sore. Grizelle harus sekolah dulu. Setelah pulang sekolah dan beristirahat sebentar barulah Ia bersiap.
"Griz jadi atau tidak mengenakan dress yang baru dibeli ini," gumam Vanilla bingung memandang dress baru milik Grizelle yang tadi Ia pilihkan serta kumpulan dress Grizelle yang ada di dalam almari gadis kecil itu.
"Tapi kalau Griz mau pakai yang baru, belum dilaundry,"
Vanilla mengusap keningnya. Ia segera menghubungi jasa laundry khusus dress yang selalu Ia gunakan jasanya agar memjemput dress baru milik anaknya malam ini juga dan Ia minta tolong agar esok siang sudah selesai dikerjakan.
Sekalipun semua pakaian yang ada dalam butik tersebut kelihatan bersih dan selalu ada trik khusus untuk membersihkan tiap waktunya, tapi Vanilla akan lebih tenang kalau sudah dilaundry sehingga apapun dres yang dipilih putrinya, sudah siap untuk dikenakan.
*****
"Mumu,"
"Hei, rupanya sudah bangun,"
Vanilla mengusap lembut rambut putrinya yang setelah bangun tidur menjadi berantakan. Wajahnya masih khas bangun tidur.
"Biasanya tunggu Mumu yang bangunkan,"
"Semalam Pupu pulang malam ya? jam berrlapa (berapa), Mu?"
"Sepuluh, Sayang,"
"Woahh malam juga,"
"Iya, beruntungnya Griz tidak menunggu Pupu sampai datang. Kalau Griz menunggu, bisa dipastikan Griz tidak akan bisa bangun sepagi ini,"
Grizelle memperhatikan meja makan yang tengah dihidangi oleh Ariella dan Bibi sementara Mumunya masih sibuk mematangkan masakannya.
Ia membaringkan kepalanya di meja dengan kedua tangan sebagai penumpu.
"Mumu," panggilnya lagi dengan suara manja.
"Apa, Sayang? mau sarapan sekarang? atau mandi dulu? tidak lupa 'kan kalau hari ini sekolah?"
Grizelle mengangguk, tentu tidak lupa karena semalam pun Ia diingatkan oleh Ibunya sebab Ia yang masih keras kepala ingin menunggu Jhico sampai di rumah.
"Aku masih mengantuk,"
"Ya sudah, tidur sebentar nanti Mumu bangunkan,"
Memang saat ini Grizelle bangun lebih cepat hampir empat puluh menit dari waktu biasanya Ia bangun yaitu lima tiga puluh.
Melihat Grizelle yang benar-benar terlelap lagi, Bibi memberi tahu pada Vanilla yang membuat Vanilla langsung menoleh kemudian terkekeh kecil.
"Siapa yang minta dia bangun jam segini,"
__ADS_1
"Mungkin mimpi buruk,"
"Iya, mungkin,"
*****
Grizelle melambai pada pengemudi mobil utusan ayahnya, setelah Ia sampai di sekolahnya.
Anak itu langsung berlari menuju kelasnya sendiri. Lagi-lagi Ia menjadi siswa yang paling cepat datang. Merasa bosan menunggu teman-temannya datang, Grizelle menggambar-gambar asal bukunya. Kemudian Ia beri tulisan. Dan semua yang Ia buat itu selalu berhubungan dengan kedua orangtuanya dan calon adiknya.
Setelah menggambar keluarga, Ia membuat pantai sesuka hatinya.
"Aku cocok menjadi designerrl (designer) ini," batinnya seraya terkekeh memperhatikan gambar pantai saja masih berantakan.
"Eh kenapa designerrl (designer) bukan-bukan, tapi pelukis,"
Tak lama ada temannya yang datang. Mereka saling bertegur sapa. Lalu teman Grizelle minta bantuan pada Grizelle agar membantunya dalam memahami materi yang dipelajari.
"Griz, selalu datangnya cepat. Kamu rajin sekali. Pasti bsngunnya dini hari ya?"
"Aku tidak bisa bangun dini hari. Tadi bangun lebih pagi sedikit darrli (dari) biasanya saja, aku mengantuk sekali,"
"Oh ya? woah keren kamu, Grizelle,"
*****
Karina mengerinyit saat melihat suaminya pulang siang hari menuju sore.
"Aku pulang malam terus dikomentari, pulang cepat pun begitu. Entah apa yang membuat mulutmu berhenti komentar," cibirnya yang mengundang tawa Karina.
"Oh marah rupanya?"
"Tidak, aku menganggap suaramu itu angin,"
Karina seketika berdecak. Kenapa Ia harus disamakan dengan angin? padahal banyak persamaan yang bisa dipakai.
"Erghh dasar mulut pedas, jahat," sindirnya terang-terangan bahkan sampai menoleh pada suaminya itu yang nampak tak peduli melepas suit nya kemudian disusul arloji tangan.
"Ada undangan selain untuk Grizelle. Kamu sudah tahu 'kan?"
"Memang kamu sudah beri tahu aku?"
Thanatan diam sebentar berusaha mengingat-ingat apakah Ia sudah memberi tahu tentang itu pada istrinya atau malah belum.
"Belum! kamu tidak mengatakan apapun padaku. Memang undangan apa?"
"Ulang tahun pernikahan rekan kerjaku,"
"Oh acaranya hari ini?"
"Ya, malam,"
__ADS_1
"Ya sudah kamu saja yang hadir. Aku akan pergi dengan Griz,"
"Kemana?"
"Menghadiri undangan rekan kerjamu juga! kenapa jadi amnesia begini?"
"Ck! aku lupa,"
"Makanya jangan ingat file-file pekerjaan saja,"
Lagi, telinga Thanatan mendengar istrinya mencibir. Ah sudah biasa. Bahkan yang lebih tajam sudah sering dan itu pasti berhubungan dengan Grizelle ataupun Jhico.
Ia bingung kenapa Karina tidak berkaca dulu sebelum mengatakan bahwa mulutnya pedas dan jahat? Ia rasa, Karina juga sama saja.
"Segarkan pikiranmu itu dengan libur bekerja beberapa hari supaya tidak suntuk,"
Thanatan menatap istrinya tajam ketika dinasihati seperti itu. Merasa bahwa kalimatnya tidak diterima, Karina hanya bisa menghembuskan napas berat.
"Aku ikut," gumam Thanatan sebelum beranjak ke kamar mandi.
"Dia bicara apa tadi? tidak terdengar jelas,"
Karina mengusap telinganya yang gagal menangkap kalimat dari mulut Thanatan.
"Siapkan bajuku!" Thanatan memberi perintah dari dalam kamar mandi.
"Bukankah acaranya malam? kamu rajin sekali mau datang sekarang,"
"Siapa bilang aku menghadiri acara ulang tahun pernikahan itu sekarang?"
Karina mendekati pintu kamar mandi lalu mengetuk pintunya seraya berucap.
"Oh kamu hanya minta disiapkan pakaian untuk nanti ya?"
Thanatan tak mengatakan apapu lagi. Karina melanjutkan,
"Baiklah, berhubung aku akan pergi dengan Griz, maka akan aku siapkan sekarang."
Sembari mengikat rambutnya menjadi satu, Karina bergegas ke walk in closet untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan sang suami.
Tak butuh waktu lama, Ia sudah berhasil menemukan pakaian yang tepat.
Thanatan keluar dari kamar mandi dan Karina langsung bertanya tentang ucapannya sebelum ke kamar mandi tadi.
"Aku akan pergi juga dengan kamu dan Griz,"
"Oh, berubah pikiran, Tuan?" tanya Karina dengan senyumnya yang dimana terlihat menyebalkan di mata Thanatan.
"Kamu mau menemani Grizelle ternyata? ah aku senang mendengarnya,"
"Biar sekalian pergi ke acara selanjutnya,"
__ADS_1
"Griz diajak juga? lalu aku ikut?"